Indonesia
NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JERAT MANIS DI PAVILIUN ANGIN SEGAR

Paviliun Angin Segar berdiri megah di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke alun-alun barat ibu kota. Tempat ini terkenal sebagai tempat berkumpulnya para pejabat tinggi dan jenderal militer yang ingin menikmati teh terbaik jauh dari kebisingan pasar. Siang itu, seluruh lantai teratas paviliun telah dikosongkan. Li Feng telah menyewa seluruh tempat tersebut demi memastikan tidak ada mata-mata asing yang mengganggu pertemuannya dengan sang putri bangsawan barat.

Li Feng duduk di dekat pagar pembatas kayu, jemarinya mengetuk-ngetuk meja giok dengan tidak sabar. Di atas meja, telah tersaji teh kuil naga yang sangat langka serta sekotak kue salju yang manis. Pria itu sesekali merapikan jubah sutra birunya, memastikan penampilannya tampak sesempurna mungkin. Setelah kejadian di perjamuan malam lalu, bayangan wajah Gu Rulan terus menghantui pikirannya.

"Nona Gu Rulan telah tiba," bisik pelayan pribadi Li Feng yang berjaga di tangga.

Li Feng langsung berdiri tegak, wajahnya mengulas senyuman paling menawan yang ia miliki. Dari arah tangga, Rulan melangkah masuk dengan keanggunan yang mendebarkan. Hari ini, ia mengenakan gaun sutra berwarna hijau muda pucat, sewarna dengan daun teratai di awal musim semi. Rambutnya disanggul setengah, dihiasi sebatang tusuk konde giok sederhana pemberian Long Junwei yang melambangkan kekayaan yang bersahaja.

"Jenderal Li, maaf membuat Anda menunggu lama," ucap Rulan sembari membungkuk hormat dengan gerakan yang sangat halus.

"Sama sekali tidak, Nona Gu. Menunggu wanita secantik Anda adalah sebuah kehormatan," balas Li Feng dengan suara bariton yang lembut. Ia mengulurkan tangannya, mempersilakan Rulan duduk di kursi seberangnya. "Silakan duduk. Aku telah menyiapkan teh terbaik yang baru dikirim dari wilayah selatan minggu ini."

Rulan duduk, ia meletakkan kipas lipatnya di atas meja. Matanya yang jernih menatap cangkir teh yang mengepulkan uap wangi, lalu beralih menatap lurus ke dalam manik mata Li Feng. Di balik tatapan lembutnya, Rulan sedang membaca ambisi yang bergejolak di dalam diri pria di hadapannya.

"Kebaikan Jenderal Li membuat saya merasa sangat tersanjung. Sebagai orang baru di ibu kota, saya benar-benar membutuhkan bimbingan dari seseorang yang memiliki pengaruh besar seperti Anda," tutur Rulan, sengaja memberikan pujian yang halus untuk membelai ego Li Feng.

Li Feng terkekeh bangga, dadanya membusung sedikit. "Ibu kota ini dipenuhi oleh serigala berbulu domba, Nona Gu. Keluarga Gu membawa kekayaan yang sangat besar, dan tanpa perlindungan militer yang tepat, faksi-faksi serakah di istana akan segera mencabik-cabik jalur perdagangan Anda. Namun, jika Anda bekerja sama denganku... aku menjamin tidak akan ada satu pejabat pun yang berani menyentuh selembar sutra milik Anda."

Rulan berpura-pura terkesan, matanya sedikit membelalak lembut. "Saya telah mendengar reputasi hebat keluarga Jenderal Li dalam memimpin pasukan. Namun, kudengar Jenderal Li akan segera melangsungkan pernikahan dengan Putri Ketiga Shen Meili. Bukankah mengurusi jalur perdagangan barat akan menyita waktu berharga Anda bersama sang putri?"

Mendengar nama Shen Meili, raut wajah Li Feng sempat mengeras sesaat sebelum kembali mencair. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, merendahkan suaranya agar terdengar lebih intim. "Pernikahan dengan Putri Ketiga... hanyalah sebuah kewajiban politik demi kedamaian istana, Nona Gu. Meili adalah wanita yang dibesarkan dalam kemewahan, dia tidak memahami kerasnya dunia militer atau pentingnya strategi logistik seperti yang kita bicarakan saat ini. Bagiku, rekan kerja sama yang cerdas seperti Anda jauh lebih berharga daripada ratusan putri manja."

Rulan menahan rasa jijik yang bergejolak di perutnya. Kewajiban politik? Setahun lalu kau mengatakan pernikahan dengannya akan membawamu ke puncak kekuasaan, dan sekarang kau menyebutnya beban manja di hadapan wanita lain, batin Rulan sinis.

"Saya mengerti," Rulan tersenyum tipis, membuka kipasnya untuk menyembunyikan kilat dingin di matanya. "Jika demikian, saya membawa sesuatu yang mungkin bisa menjadi tanda awal ketulusan kerja sama kita."

Rulan memberi isyarat kepada Xiaoyu yang berdiri di belakangnya. Xiaoyu segera maju dan meletakkan sebuah kotak kayu hitam kecil bertatahkan perak di atas meja. Rulan membuka kotak tersebut dengan ujung jarinya, memperlihatkan sebuah gulungan perkamen kulit domba yang sudah tua dan stempel resmi berwarna merah darah.

Li Feng mengernyitkan dahi, menatap gulungan itu dengan penuh rasa ingin tahu. "Ini adalah...?"

"Ini adalah peta rute rahasia melewati Lembah Tengkorak di perbatasan barat, lengkap dengan hak monopoli pasokan tiga ribu kuda perang berdarah murni setiap tahunnya," jelas Rulan dengan nada santai, seolah-olah apa yang diputuskannya bukanlah sesuatu yang bisa mengubah peta kekuatan militer kekaisaran.

"Selama ini, faksi militer lain harus membayar pajak tiga kali lipat kepada suku barat untuk melewati jalur ini. Namun, dengan stempel keluarga Gu ini, pasukan Anda bisa melewatinya tanpa biaya, dan tiga ribu kuda perang itu akan langsung dikirim ke barak keluarga Li."

Napas Li Feng seketika memburu. Matanya melebar menatap gulungan di dalam kotak seolah-olah itu adalah tumpukan emas paling berharga di dunia. Tiga ribu kuda perang berdarah murni tanpa biaya pajak! Dengan aset militer sebesar itu, pasukan pribadinya akan menjadi kavaleri paling mematikan di seluruh Kekaisaran Han. Bahkan kaisar sendiri harus berpikir dua kali sebelum berani mengusik keluarganya.

"Nona Gu... ini... ini adalah hadiah yang terlalu besar," ucap Li Feng, suaranya sedikit bergetar karena kegembiraan yang luar biasa. Tangannya bergerak perlahan, ingin menyentuh gulungan itu, namun Rulan dengan anggun menutup kembali kotak kayu tersebut sebelum jemari Li Feng mencapainya.

Plak.

Suara ketukan halus kotak yang menutup membuat Li Feng tersentak dari keserakahannya. Ia mendongak, menatap Rulan yang kini menatapnya dengan senyuman misterius.

"Tentu saja, ini adalah bisnis, Jenderal Li," ucap Rulan dengan nada menggoda yang halus. "Peta dan monopoli ini baru akan sah menjadi milik Anda setelah kontrak kerja sama resmi kita ditandatangani di hadapan Menteri Keuangan bulan depan. Sebelum itu terjadi, saya hanya ingin memastikan bahwa Jenderal Li benar-benar bisa menjaga keamanan kafilah dagang saya dari gangguan... termasuk gangguan emosional dari pihak-pihak tertentu."

Li Feng langsung menangkap maksud Rulan. "Pihak tertentu" yang dimaksud tidak lain adalah Shen Meili yang meradang semalam. Dengan tegas, Li Feng mengepalkan tangannya di atas meja. "Anda tidak perlu khawatir, Rulan. Aku secara pribadi yang akan menangani Meili. Dia tidak akan berani mengusikmu atau bisnismu sedikit pun. Mulai hari ini, siapa pun yang menjadi musuhmu, adalah musuh dari seluruh pasukan Jenderal Li."

"Saya sangat memegang kata-kata Anda, Jenderal," Rulan mengangkat cangkir tehnya, menawarkan penghormatan yang disambut Li Feng dengan binar mata yang dipenuhi ambisi gila.

Umpan manis berupa kekuasaan militer mutlak telah tertelan sepenuhnya oleh Li Feng. Pria itu kini telah meletakkan satu kakinya di dalam perangkap jebakan yang dirancang oleh Rulan dan Long Junwei. Yang tidak diketahui oleh Li Feng adalah bahwa rute rahasia di Lembah Tengkorak tersebut sebenarnya berada di bawah pengawasan ketat Pasukan Bayangan milik Long Junwei. Begitu pasukan Li Feng memasuki jalur tersebut, mereka tidak sedang menjemput kuda perang, melainkan berjalan menuju tempat pembantaian rahasia yang akan memotong sebelah sayap kekuatan militernya.

 

Sementara itu, di dalam Paviliun Merah di kediaman Putri Ketiga, suasana tampak hancur berantakan. Guci-guci porselen mahal kiriman dari wilayah selatan pecah berkeping-keping di lantai akibat amukan Shen Meili sejak semalam. Para pelayan pribadinya berlutut gemetar di sudut ruangan, tidak berani mengangkat kepala mereka sedikit pun.

"Kurang ajar! Wanita jalang dari barat itu berani mempermalukanku di depan umum!" teriak Shen Meili, napasnya memburu dengan wajah yang memerah padam karena murka. "Dan Li Feng... berani-beraninya dia membelanya dan mengusirku dari perjamuan?!"

"Yang Mulia Putri, harap tenang," ucap seorang kasim tua kepercayaan Permaisuri yang baru saja masuk ke dalam ruangan. "Kemarahan hanya akan merusak kecantikan Anda dan membuat musuh tertawa. Saya baru saja menerima laporan dari mata-mata kita di luar."

Shen Meili menoleh dengan cepat, matanya berkilat penuh dendam. "Apa? Apakah mereka sudah menemukan kelemahan wanita jalang bermarga Gu itu?"

Kasim tua itu membungkuk rendah. "Mata-mata kita melihat bahwa siang ini, Jenderal Muda Li Feng mengosongkan seluruh lantai teratas Paviliun Angin Segar hanya untuk mengadakan pertemuan empat mata dengan Gu Rulan. Mereka terlihat sangat dekat, dan Jenderal Li bahkan mengabaikan tugas militernya demi menemani wanita itu minum teh."

Mendengar laporan itu, pekikan kemarahan Shen Meili kembali menggema di seluruh paviliun. Rasa cemburu yang membakar hatinya kini bercampur dengan ketakutan mendalam bahwa posisi dan aliansi politiknya sedang terancam direbut.

"Li Feng... kau berani mengkhianatiku demi wanita asing itu?!" Shen Meili mencengkeram saputangan suteranya hingga robek. Wajahnya yang semula cantik kini terdistorsi oleh kedengkian yang amat sangat. "Jika Li Feng tidak bisa menjaga kesetiaannya, maka aku sendiri yang akan melenyapkan penghalang itu. Panggil ketua dari Faksi Belati Beracun. Aku ingin kepala Gu Rulan diserahkan kepadaku sebelum festival pertengahan musim gugur tiba!"

"Tapi Yang Mulia, dia adalah tamu kehormatan faksi netral, jika terjadi sesuatu di ibu kota..."

"Aku tidak peduli!" potong Shen Meili dengan kejam. "Di Kekaisaran Han ini, siapa pun yang berani merebut apa yang menjadi milikku, hanya memiliki satu jalan keluar... yaitu kematian!"

Di balik bayang-bayang pilar Paviliun Merah, seekor burung merpati kecil dengan pita hitam di kakinya terbang melesat keluar menembus langit siang, membawa pesan rahasia mengenai perintah pembunuhan yang baru saja dikeluarkan oleh Shen Meili. Di ujung kota, di sebuah kediaman tersembunyi, Long Junwei menerima pesan tersebut dengan senyuman dingin yang terukir di wajahnya yang tegas.

Bidak-bidak catur di atas papan kini bergerak persis seperti yang ia dan Rulan prediksikan. Kemarahan Shen Meili yang membabi buta akan menjadi pemicu hancurnya faksi Perdana Menteri dari dalam.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!