Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.Kecanggungan
Senja yang hangat perlahan berganti menjadi malam yang tenang di kediaman Danuartha. Setelah puas bermain di taman belakang hingga pakaian mereka sedikit kotor oleh rumput, Aira menuntun Elano ke lantai atas untuk mandi dan berganti pakaian tidur.
Sementara itu, Arka kembali ke kamar utama untuk membersihkan diri dan menyegarkan badannya setelah seharian bergelut dengan kesibukan kantor.
Pukul tujuh malam, aroma harum sup ayam kampung dan tumis sayuran segar yang dimasak Aira bersama Bi Inah memenuhiruang makan. Aira yang sudah mengenakan gaun tidur kasual berlengan panjang berwarna merah muda lembut sibuk menata mangkuk dan piring di atas meja kayu mahoni.
Derap langkah kaki yang tegap terdengar mendekat. Arka melangkah masuk ke ruang makan, tampak sangat santai namun tetap menawan dengan celana rumahan abu-abu dan kaos polo hitam yang mencetak jelas dada bidang serta otot tangannya.
Melihat Aira yang sedang meletakkan sendok, mata hitam Arka seketika memancarkan pendar hangat. Pria berusia 39 tahun itu tidak melangkah menuju kursinya di ujung meja, melainkan berjalan lurus mendekati Aira dari belakang.
Tanpa peringatan, sepasang lengan kokoh Arka melingkari pinggang Aira, menarik tubuh molek gadis itu merapat ke dada hangatnya. Arka menyandarkan dagunya di bahu Aira, membenamkan wajahnya di leher istrinya seraya menghirup aroma harum terapi yang selalu membuatnya tenang.
"Mas Arka..." Aira tersentak kaget, refleks memegang lengan Arka yang melingkar di perutnya. Wajahnya seketika memanas.
"Mas, ini di ruang makan. Nanti Bi Inah atau Mas Elano lihat..."
"Biarkan saja," gumam Arka dengan suara serak yang begitu rendah di dekat telinga Aira.
Bukannya melepaskan, Arka justru memiringkan kepalanya dan mendaratkan kecupan-kecupan lembut di sepanjang garis leher dan rahang Aira. "Saya cuma mau memeluk istri saya. Masak apa malam ini, hm?"
Aira memejamkan matanya sejenak, merasakan sensasi menggelitik dan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Perlakuan Arka yang makin hari makin terang-terangan menunjukkan rasa sayangnya selalu sukses membuat jantung Aira berdebar tak karuan.
"M-masak sup ayam..." jawab Aira terbata-bata, mencoba bergeser pelan. "Mas, lepas dulu... nanti supnya dingin."
Arka terkekeh rendah—suara tawa khas yang sangat memabukkan.
Pria itu perlahan membalikkan tubuh Aira agar menghadapnya. Manik mata hitam Arka menatap lurus ke dalam iris mata cokelat Aira yang jernih dan sedikit malu-malu.
Jemari besar Arka terangkat, merapikan anak rambut yang menutupi dahi Aira, lalu menyusuri pipi gadis itu yang merona merah.
"Kamu makin cantik kalau lagi malu begini," bisik Arka penuh romantisme yang intens. Pria itu menundukkan kepalanya, hendak mendaratkan ciuman di bibir Aira yang sedikit terbuka.
Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan—
"PAPA! MAMA AIRA!"
Suara nyaring Elano menggelegar dari arah pintu masuk ruang makan. Bocah empat tahun itu berdiri tegap dengan piyama bergambar dinosaurus, kedua tangannya disedekapkan di dada, dan bibir kecilnya maju beberapa sentimeter karena cemberut berat.
Aira tersentak kaget luar biasa. Dengan wajah yang merah padam bagaikan kepiting rebus, Aira buru-buru mendorong dada Arka dan mundur dua langkah hingga punggungnya menabrak tepi meja makan.
"M-mas Elano!" panggil Aira panik, membenarkan posisi baju dan rambutnya dengan tangan gemetar karena malu yang tak tertahankan.
Sementara itu, Arka hanya menghembuskan napas pelan, sedikit merasa terganggu karena momen indahnya terputus. Pria itu menoleh menatap putranya dengan raut wajah yang tetap tenang tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Elano melangkah lebar-lebar menyeberangi ruang makan dengan menghentakkan kaki kecilnya. Bocah itu langsung menyusup ke tengah-tengah antara Arka dan Aira, mendorong paha Arka dengan tangan mungilnya agar Papanya menjauh dari Aira.
"Papa nggak boleh cium-cium Mama Aira terus!" protes Elano dengan nada suara bersungut-sungut. Matanya yang bulat menatap Arka dengan kilatan cemburu yang sangat menggemaskan.
"Mama Aira itu Mamanya Elano! Papa tidak boleh monopoli!"
Arka menaikkan sebelah alisnya, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap anak laki-lakinya itu.
"Elano, Papa itu suaminya Mama Aira. Jadi Papa berhak meluk dan cium Mama kapan saja."
"Nggak boleh!" seru Elano pantang menyerah. Ia berbalik dan memeluk erat kedua kaki Aira, menyandarkan kepalanya di paha Aira.
"Mama Aira punya Elano! Tadi sore Papa sudah pangku Mama, sekarang giliran Elano yang mau dipeluk Mama Aira!"
Melihat tingkah anak dan ayah di hadapannya, rasa malu Aira mendadak bercampur dengan rasa geli yang menggelitik dada. Aira berlutut di depan Elano, merangkul tubuh kecil bocah itu dan mengusap punggungnya dengan penuh kehangatan.
"Mas Elano... jangan marah ya," tutur Aira lembut, menyapu poni rambut Elano yang sedikit berantakan. Wajah Aira masih agak merona, tetapi senyum manisnya terukir tulus.
"Mama Aira punya Mas Elano kok. Mama sayang banget sama Mas Elano."
Elano mendongak, menatap Aira dengan mata berbinar. "Beneran, Ma? Mama lebih sayang Elano daripada Papa?"
Sebelum Aira sempat menjawab, Arka ikut berlutut di samping Aira. Pria jangkung itu melingkarkan lengan kirinya di pinggang Aira dan lengan kanannya merangkul bahu Elano, menarik ibu dan anak itu ke dalam satu dekapan besar yang hangat.
"Mama Aira sayang sama kita berdua," potong Arka tegas, lalu mengecup pipi Elano gemas hingga bocah itu terpekik geli.
"Tapi kalau urusan peluk dan cium, Papa tetap pemenangnya."
"Ih, Papa jahat! Pipi Elano basah!" jerit Elano sambil tertawa riang di dalam pelukan Arka.
Aira yang berada di dalam dekapan kokoh Arka hanya bisa menggelengkan kepala seraya tertawa halus. Rasa canggung dan malu yang sempat menyergapnya perlahan sirna, berganti dengan kebahagiaan murni yang memenuhi relung hatinya. Rumah yang dulu terasa kaku dan dingin ini kini dipenuhi oleh kehangatan dan gelombang kasih sayang yang tak terbatas.
Setelah makan malam yang diwarnai perdebatan kecil nan menggemaskan antara Arka dan Elano mengenai siapa yang berhak duduk di sebelah Aira, waktu tidur Elano pun tiba.
Aira menemani bocah itu di kamarnya, membacakan dua buah buku cerita hingga Elano tertidur lelap dengan napas yang teratur.
Aira menarik selimut hingga sebatas dada Elano, mengecup kening anak itu dengan lembut, lalu berjalan jinjit keluar dari kamar.
Saat Aira melangkah menyusuri koridor yang mulai sepi menuju kamar tidur utama, ia mendapati pintu ruang kerja Arka sedikit terbuka. Cahaya lampu keemasan membias keluar ke lorong.
Aira melangkah mendekat dan mengintip pelan. Di dalam sana, Arka sedang duduk di kursi kerjanya. Pria itu sudah mematikan komputer, namun matanya menatap sebuah bingkai foto kecil di atas mejanya—foto mereka bertiga saat jalan-jalan di taman tempo hari. Senyuman tipis yang sangat tulus dan hangat terukir di bibir pria berusia 39 tahun itu.
Dada Aira berdesir hangat. Ia mengetuk pintu kayu itu pelan.
"Mas Arka... belum tidur?" tanya Aira lembut.
Arka mendongak. Begitu melihat kehadiran Aira di ambang pintu, binar matanya seketika berubah makin intens. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, mengulurkan sebelah tangannya ke udara.
"Kemari," panggil Arka dengan suara seraknya yang amat memikat.
Aira melangkah masuk, menutup pintu ruang kerja rapat-rapat, lalu berjalan mendekati meja kerja Arka. Sebelum Aira sempat berdiri tegap di samping kursi, Arka meraih pergelangan tangan Aira dan menariknya pelan.
Wush.
Aira terpekik pelan saat tubuhnya ditarik hingga terduduk mulus di atas pangkuan Arka. Lengan kokoh Arka langsung melingkari pinggang Aira secara instan, mengunci gadis itu agar tidak bisa kabur.
"M-mas Arka!" bisik Aira panik, wajahnya seketika memerah kembali. Tangannya Reflex memegang bahu lebar Arka. "Ini di ruang kerja..."
"Tidak ada siapa-siapa di sini, Aira," kata Arka tenang, membenamkan wajahnya di dada Aira sejenak sebelum mendongak menatap mata istrinya. "Elano sudah tidur?"
"S-sudah... baru saja nyenyak," sahut Aira dengan napas yang agak memburu akibat jarak wajah mereka yang terlalu dekat.
Arka mengusap pinggang Aira dengan jemarinya yang hangat, menyalurkan sentuhan protektif yang membuat seluruh tubuh Aira meremang.
"Maaf soal yang di ruang makan tadi. Saya bikin kamu malu di depan Elano."
Aira menundukkan pandangannya, meremas kemeja polo Arka di bagian bahu. "Mas Arka sih... Mas Arka sekarang jadi suka banget tiba-tiba peluk dan cium Aira di mana saja. Aira kan belum terbiasa, Mas. Apalagi kalau ada Elano atau Bi Inah... Aira rasanya mau sembunyi di bawah meja."
Arka terkekeh rendah, suara tawanya bergema halus di dada bidangnya yang menempel pada tubuh Aira. Arka mengangkat tangan kanannya, mengusap dagu Aira dan menaikkannya sedikit agar mata mereka kembali bertemu.
"Saya bertahun-tahun hidup dalam keheningan dan dingin, Aira," desah Arka dengan nada suara yang begitu dalam, sarat akan ketulusan yang telanjang.
"Sekarang, setelah saya memiliki kamu sebagai istri saya yang sah... saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu, memelukmu, dan memastikan kamu benar-benar ada di samping saya."
Kata-kata Arka yang jujur dan sarat akan pengakuan cinta itu membuat dinding pertahanan Aira runtuh sepenuhnya. Rasa malu yang melingkupinya perlahan mencair, berganti dengan rasa kasih sayang yang membuncah luar biasa pada pria matang di hadapannya ini.
Aira tersenyum sangat manis. Jemari halusnya terangkat, mengusap pipi dan rahang Arka yang tegas dengan penuh kelembutan.
"Aira tahu, Mas..." bisik Aira tulus, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru.
"Aira juga senang banget kalau Mas Arka seperti ini. Tapi... kalau di depan Elano, Mas Arka pelan-pelan ya? Kasihan anak itu, dia kan masih kecil dan merasa Mamanya direbut."
Arka menyunggingkan senyum menawan, menggenggam tangan Aira yang berada di pipinya lalu mengecup telapak tangan itu dengan penuh pengabdian.
"Saya akan mencoba menahan diri di depan Elano. Tapi kalau kita sedang berdua saja di dalam kamar... jangan harap saya akan melepaskanmu."
Wajah Aira kembali memerah mendengar godaan bernada posesif dari suaminya. Sebelum Aira sempat membalas, Arka memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajah mereka.
Bibir Arka mendarat di bibir Aira, menyatukan mereka dalam sebuah ciuman yang amat dalam, hangat, dan penuh dengan gelombang hasrat cinta yang murni. Aira memejamkan matanya, melingkarkan kedua tangannya di leher Arka, membalas ciuman pria itu dengan seluruh kepasrahan dan rasa cinta yang ia miliki.
Di dalam ruang kerja yang hening dan hangat itu, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kelam, tidak ada lagi ketakutan akan ancaman luar, dan tidak ada lagi batasan kertas kontrak bernilai dua miliar rupiah.
Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang telah menyatu dalam ikatan cinta sejati—siap mengarungi perjalanan panjang kehidupan rumah tangga mereka bersama putra tercinta.
_Bersambung