Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Malam semakin larut di Istana Utama Valdoria. Lorong-lorong batu yang biasanya megah kini tampak semakin remang, hanya diterangi oleh nyala lilin pada obor dinding yang meliuk-liuk tertiup angin malam. Suasana begitu hening dan mencekam, hanya menyisakan gema langkah kaki Eliana yang berjalan pelan menyusuri koridor lantai bawah setelah menyelesaikan tugas pembersihan terakhirnya.
Saat melintasi celah pilar dekat taman dalam, telinga Eliana menangkap suara bisik-bisik yang tergesa-gesa dari dua orang pengawal penjaga malam.
"Kau melihatnya juga kan tadi?" bisik salah satu pengawal dengan suara amat rendah. "Ada bayangan serba hitam yang mengendap-endap dari arah semak-semak menuju paviliun barat."
"Ssst! Jangan keras-keras! Paling cuma kucing atau angin malam. Jangan cari masalah, sebentar lagi pergantian shift," sahut pengawal satunya acuh tak acuh sebelum mereka berdua melangkah menjauh.
Eliana membeku di tempatnya. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara tak beraturan.
"Orang asing mengendap-endap di paviliun...?" gumam Eliana dalam hati, matanya membelalak lebar saat memori tentang alur novel Tahta & Darah Valdoria mendadak melintas begitu terang di ingatan lamanya.
DEG!
Darah di tubuh Eliana rasanya membeku seketika.
"Gila! Ini babak penyerangan rahasia!" jerit Eliana di dalam batinnya, kepanikan luar biasa mendadak menguasai seluruh kesadarannya. "Hari ini... tepat di malam pertengahan bulan, bakal ada pembunuh bayaran suruhan Perdana Menteri Oberon yang berhasil menyusup ke kamar Pangeran Lucien! Di alur aslinya, Lucien memang gak mati, tapi perutnya ditusuk belati beracun! Sejak insiden penusukan malam ini, fisik Lucien bakal melemah drastis sampai Pesta Dansa Musim Panas nanti!"
Eliana berdiri terpaku di tengah remang koridor, meremas jemarinya yang mendadak dingin dan gemetar. Perang batin yang dahsyat berkecamuk di dalam kepalanya.
"Apa yang harus gue lakukan?!" pikirnya dengan napas yang mulai memburu. "Bukankah tadi siang gue udah janji sama diri sendiri buat gak ikut campur? Gue kan cuma pelayan figuran yang mau kabur dan selamatin diri sendiri! Tapi... tapi kalau malam ini perutnya ditusuk dan racun itu masuk ke tubuhnya, Lucien gak bakal punya peluang sama sekali buat ngebongkar kebusukan mereka!"
Eliana melirik jam dinding kuno berukir tembaga yang tertempel di dinding pilar koridor.
Jarum panjang dan pendek hampir bertumpuk tegak lurus di angka dua belas.
Pukul 11.50 malam.
"Sialan! Waktunya cuma tinggal 10 menit lagi!" umpat Eliana setengah berbisik, wajahnya pucat pasi.
Rasa kemanusiaan dan keprihatinannya pada bernasib malang sang Pangeran Mahkota akhirnya memutus habis niat egoisnya untuk kabur. Tanpa memikirkan risiko bahwa ia bisa saja ikut terbunuh atau dituduh macam-macam, Eliana memutar tubuhnya secepat kilat.
Ia menyibakkan rok gaun pelayannya, lalu mulai berlari kencang menerobos kegelapan koridor istana. Suara tapak sepatunya beradu keras dengan lantai marmer, bergolak cepat menuju kamar utama sang Pangeran Mahkota sebelum takdir berdarah itu terlaksana.
Napas Eliana memburu hebat saat kakinya yang gemetar akhirnya mencapai ujung koridor lantai atas. Di hadapannya berdiri pintu ganda mahoni yang megah pintu kamar pribadi Pangeran Mahkota. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Eliana mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu dengan gestur panik yang tertahan.
TOK! TOK! TOK!
"Pangeran... Pangeran, tolong buka!" bisik Eliana dengan suara gemetar, matanya terus melirik liar ke sekeliling lorong yang sepi.
Pintu tebal itu perlahan terdorong ke dalam. Lucien berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja longgar dengan kancing atas yang terbuka. Alisnya bertaut tajam melihat pelayan cantiknya berdiri napas terengah-engah di depan kamarnya pada tengah malam begini.
"Eliana? Apa yang kau—"
Belum sempat Lucien menyelesaikan kalimatnya, Eliana bergerak secepat kilat. Ia menjangkau wajah sang Pangeran, menyumbat mulut Lucien rapat-rapat dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggunakan seluruh berat tubuhnya untuk mendorong pria tegap itu mundur masuk ke dalam kamar.
"Sssshhh! Diam, Pangeran! Jangan bersuara sedikit pun kalau mau selamat!" bisik Eliana panik setengah mati.
Lucien membelalak syok atas kelakuan lancang pelayannya, namun sebelum ia sempat menghempaskan tangan Eliana, suara batin gadis itu meledak di kepala Lucien dengan kepanikan yang luar biasa hebat.
"Gila! Gila! Pembunuhnya udah di dekat jendela! Waktunya gak sempat lagi!"
Eliana melepas tangannya dari mulut Lucien, lalu berlari tergesa-gesa menuju tempat tidur kanopi yang mewah. Dengan cekatan, ia menumpuk beberapa bantal empuk di balik selimut tebal, membentuk siluet tubuh manusia yang sedang tertidur lelap.
Dari balik saku apronnya, Eliana mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan merah pekat selai buah atau pewarna sirup yang sempat ia sambar dari dapur tadi lalu menyiramkannya secara acak di balik lipatan selimut dan bantal.
Lucien menatap tindakan aneh Eliana dengan kening berkerut dalam. "Apa yang sedang kau lakukan—"
"Sini!" cicit Eliana memotong ucapan Lucien.
Dengan nekat, Eliana mencengkeram lengan tegap Lucien dan menariknya paksa menuju balik tirai beludru tebal di sudut ruangan yang gelap. Mereka berdiri begitu rapat di dalam ceruk remang-remang tersebut. Dada Eliana menempel lekat pada dada Lucien, dan tanpa sadar, tangan Eliana yang gemetar mencengkeram erat pinggang kemeja sang Pangeran demi menahan diri agar tidak ambruk karena takut.
"Kau—" desis Lucien dengan rahang mengetat, menatap gadis di pelukannya dari jarak beberapa sentimeter. Sensasi hangat dan napas memburu Eliana yang menyapu lehernya membuat tubuh Lucien mendadak menegang.
KLEK.
Suara engsel jendela berbunyi amat pelan.
Lucien seketika mematung. Tatapannya mendadak berubah sangat dingin dan tajam saat melihat tirai jendela raksasa tersingkap.
Dari balik kegelapan malam, seorang pria tinggi berbadan kurus mengenakan pakaian serba hitam dan masker penutup wajah menyusup masuk tanpa suara. Pria asing itu memegang sebilah belati panjang berukir racun yang berkilat keperakan di bawah sinar bulan.
Pembunuh bayaran itu melangkah tanpa suara bagaikan bayangan, mendekati tempat tidur kanopi. Melihat sosok 'pria' yang sedang tertidur lelap di balik selimut tebal, pembunuh itu tidak membuang waktu.
TSAKKK!
Dengan kejam dan presisi mematikan, pembunuh itu menancapkan belatinya tepat ke arah perut 'pangeran' di balik selimut!
TSAKKK!
Tusukan kedua mendarat lebih dalam. Cairan merah pekat yang disiapkan Eliana menyerap cepat ke kain sprei putih, menciptakan ilusi darah segar yang sangat meyakinkan. Pembunuh itu mengamati 'darah' yang merembes sejenak, yakin bahwa racun mematikan di belatinya telah berhasil menembus tubuh target.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sang pembunuh berbalik cepat, melompati ambang jendela, dan menghilang kembali ke dalam kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak.
Di balik tirai beludru, Eliana memejamkan matanya rapat-rapat, menyembunyikan wajahnya di dada Lucien sambil menahan napas sampai wajahnya memerah. Sementara Lucien... menatap kasur yang baru saja dihantam dua tusukan membunuh itu dengan napas tertahan dan gejolak emosi yang amat dahsyat di dalam dadanya.