Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali
POV Paolo
Kedatangan mereka tidaklah diam-diam.
Dan memang tak mungkin begitu.
Ketika seorang Dom melintasi perbatasan bersama keluarganya, bersama rombongannya, bersama anak buahnya... dunia merasakannya.
Aku mengatur semuanya secara pribadi.
Penyambutan harus setara martabatnya.
Bukan sekadar demi hormat.
Melainkan karena ini menyiratkan jauh lebih dari sekadar kunjungan.
Ini adalah pertemuan kembali sedarah.
Ini adalah aliansi yang tak terucap.
Ini adalah sejarah yang sedang ditulis ulang.
Mobil-mobil tiba berurutan.
Megah.
Kokoh.
Terukur.
Anak buah turun lebih dulu, sebagaimana mestinya.
Tatapan waspada.
Sikap tegap.
Terlatih.
Kemudian...
Dia.
Harald dan Astrid Hansen Ragnar
Harald Hansen Ragnar.
Tinggi.
Berwibawa.
Dengan kehadiran yang tak perlu upaya untuk mendominasi.
Di sisinya...
Astrid Hansen Ragnar.
Tampak lebih rapuh, tetapi dengan tatapan yang menyimpan bertahun-tahun kepedihan... dan, saat itu, harapan.
Tak jauh di belakang...
Alef Hansen Ragnar.
Tatapannya menyapu segalanya.
Awas.
Melindungi.
Tajam.
Seorang lelaki yang membawa dahaga akan keadilan yang sama dengan ayahnya.
Kami menyambut mereka di pintu masuk.
Aku, ayahku Ricardo Salvatore, ibuku Carmela Rigone, dan Pietro Salvatore.
Hormat mengenali hormat.
Dan di sana... tak ada ruang untuk kesalahan.
"Selamat datang di Italia," ucap ayahku, mantap.
Harald mengangguk.
"Kehormatan bagiku."
Keduanya saling menyapa sebagai setara.
Sebagai pemimpin.
Sebagai lelaki yang tahu persis bobot dari apa yang sedang terjadi.
Lalu ia menatapku.
Lurus.
Dalam.
"Kaulah lelaki yang menemukan putriku."
Itu bukan pertanyaan.
Kubalas tatapannya.
"Ya."
Jeda.
"Dan lelaki yang mencintainya."
Keheningan yang menyusul tidaklah bermusuhan.
Melainkan menilai.
Ia mempelajariku.
Menimbang.
Mengukur setiap perinci.
Lalu ia mengangguk.
"Mari masuk."
Kami menuntun semuanya ke dalam mansion.
Suasananya terkendali.
Tetapi sarat tekanan.
Kami tahu momen terpenting masih akan tiba.
Di ruang kerja, tinggal kami saja.
Dia, istrinya, putranya... dan aku.
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Ia belum tahu."
Astrid menekap dadanya.
Harald mengernyit.
"Maksudmu?"
"Kupikir... momen ini... seharusnya menjadi milik kalian."
Jeda.
"Bahwa kebenaran itu semestinya datang dari mereka yang tak pernah berhenti mencarinya."
Hening.
Ia menatapku beberapa detik.
Lalu...
Mengangguk.
"Kau lelaki terhormat."
Astrid, dengan mata berkaca-kaca, menambahkan:
"Terima kasih."
Aku hanya mengangguk pelan.
"Akan kubawa ia kemari."
Aku keluar dari ruang kerja.
Dan setiap langkah terasa kian berat.
Karena aku tahu...
Sejak saat itu...
Tak ada lagi yang akan sama seperti dulu.
Kutemui Maria Cecília.
Ia tersenyum saat melihatku.
Seperti selalu ia lakukan.
Tanpa tahu.
Tanpa membayangkan.
Dadaku terasa sesak.
"Ikut aku."
Ia tak bertanya.
Ia hanya percaya.
Seperti ia selalu percaya.
Ketika kami tiba di depan pintu...
Aku berhenti.
Kutatap ia.
"Yang akan kaulihat sekarang... akan mengubah segalanya."
Ia mengernyitkan kening sedikit.
"Paolo..."
Aku hanya menggenggam tangannya.
Lalu kubuka pintu itu.
Ia masuk.
Aku tetap di luar.
Karena momen itu...
Bukan milikku.
Melainkan milik mereka.
Kututup pintu.
Dan kubiarkan takdir menempuh jalan yang memang sejak semula telah tertulis.
POV Maria Cecília
Ketika aku masuk ke ruangan itu...
Tubuhku berhenti.
Harfiah.
Aku tak sanggup melangkah barang selangkah lagi.
Aku tak bisa bernapas dengan benar.
Aku tak bisa mengerti.
Tetapi... aku merasakannya.
Sesuatu di dalam diriku... bereaksi.
Lelaki itu menatapku.
Seolah menyaksikan sesuatu yang telah lama hilang.
Matanya... berbinar.
Wanita di sisinya sudah menangis.
Dan aku... tak tahu mengapa.
Saat itulah ia bicara.
Suara rendah.
Nyaris bisikan.
"Ia serupa benar denganmu, sayang... sewaktu kau seusia ini."
Aku tak paham.
Tetapi jantungku... berdegup kencang.
Ia mendekat.
Perlahan.
Seolah takut aku akan lenyap.
Dan, tanpa meminta izin...
Ia memelukku.
Erat.
Putus asa.
Dan aku...
Aku membalasnya.
Tanpa tahu mengapa.
Tanpa mengerti.
Tetapi... merasakannya.
Wanita itu datang menyusul.
Menangis.
Memelukku.
Seolah aku adalah segalanya.
Seolah aku... miliknya.
"Putriku..."
Ucapnya.
Dan itu...
Itu meruntuhkanku.
"Tidak..." suaraku tersendat, "ini tak..."
Tetapi ia mulai bicara.
Dengan tenang.
Dengan pedih.
Dengan kebenaran.
Ia menceritakan semuanya.
Penculikan itu.
Norwegia.
Namaku.
Ingrid.
Kisah hidupku.
Kehidupanku... sebelum segala yang kuingat.
Dan aku menangis.
Sebagaimana tak pernah kutangisi seumur hidupku.
Seolah seluruh kepedihan yang kusimpan... akhirnya menemukan alasannya.
Kupeluk mereka.
Keduanya.
Erat-erat.
Dengan segenap kebutuhan.
Dengan segala yang kupunya.
"Putriku..."
"Gadis kecilku..."
Kata-kata itu datang dari segala penjuru.
Dan, untuk pertama kalinya...
Aku tak sendirian.
Pintu terbuka.
Dan ia masuk.
Alef Hansen Ragnar.
Ia terhenti saat melihatku.
Matanya berkaca-kaca.
Lalu...
Ia menghampiri kami.
Dan memelukku.
"Aku mencarimu... begitu lama..."
Suaranya tersendat.
Dan aku hanya sanggup memeluknya lebih erat.
Aku bahagia.
Dengan cara yang tak pernah kurasakan.
Utuh.
Seolah sebagian dari diriku... akhirnya kembali.
Dan, pada momen itu...
Aku mengerti.
Semuanya.
Aku tak dibuang.
Aku diambil.
Dicuri.
Direnggut.
Oleh orang-orang keji.
Oleh kejahatan.
Oleh dendam.
Tetapi... aku selamat.
Setelah beberapa saat...
Aku menatap ayahku.
Ya.
Ayahku.
Dan aku tersenyum, meski dengan air mata.
"Aku punya seseorang..."
Ia menatapku lekat-lekat.
"Aku mencintainya."
Hening.
Ia tak ragu.
Tak bertanya.
Tak menyangsikan.
"Kalau begitu, kuberikan restuku."
Suaranya mantap.
Penuh kebanggaan.
"Dan aku ingin lebih akrab mengenal lelaki yang telah menaklukkan putriku."
Aku tersenyum.
Dengan sungguh-sungguh.
Sebagaimana tak pernah sebelumnya.
Dan begitulah...
Kami melewatkan sisa hari itu bersama.
Berbincang.
Tertawa.
Menangis.
Saling mengenal.
Menebus waktu yang hilang.
Dan, untuk pertama kalinya dalam hidupku...
Aku tahu persis siapa diriku.
Dan, yang lebih penting...
Aku tahu aku tak lagi sendirian.