Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyamanan Baru
**
Rafa tidak pernah merasa sesial ini seumur hidup. Pertama, tadi pagi saat berangkat ke kantor, mobilnya tiba-tiba mogok. Kedua, malam ini dia lembur terus saat pulang malah turun hujan. Rafa memang pulang naik taxi, tetapi dari area kantor ke parkiran tetap saja basah walau sudah berlari.
Terakhir, dari area luar apartemen, Rafa masih harus berlari lagi untuk masuk. Saat membuka pintu, keadaan apartemen sudah sepi. Mungkin, Felisa dan Elvan sudah tidur karena ini memang sudah jam 9 malam.
Kruyukkk
"Lapar banget, tapi gak tega bangunin dia."
Setelah sekian lama, akhirnya Rafa kembali merasakan menyiapkan makan malam sendiri. Dulu saat mereka belum menikah, Felisa selalu menyiapkan makan malam walau wanita itu tidak pernah menemaninya.
Setelah menikah sebulan yang lalu, Rafa memang tidak pernah lembur lagi dan malam ini saat pertama kalinya lembur lagi, Felisa sepertinya lupa menyiapkan makan malam. Mungkin, mengurusi anaknya yang nakal itu pasti sangat melelahkan.
Malam ini, Rafa memutuskan untuk memasak mie. Sudah lama juga setelah ada pasangan, Rafa tidak pernah makan mie yang sangat ciri khas jomblo itu.
"Kamu masak? Ya ampun!" terdengar pekikan Felisa. "Maaf, aku ketiduran habis Maghrib bareng Elvan jadi belum masak."
"Gak papa, kamu hari ini pasti capek karena tadi ada pemotretan," balas Rafa menyempatkan berbalik untuk tersenyum, lalu kembali untuk memasak mie.
Felisa akhirnya kembali berkarya lagi, tapi tidak mengambil terlalu banyak job. Dia juga sekarang bekerja karena memang hobi, bukan untuk mencari uang untuk memenuhi hidupnya dan Elvan seperti dulu. Sekarang, sudah ada Rafa yang mengambil tugas itu. Sekali Felisa bekerja selalu tidak lebih dari 5 jam sehari, Elvan selalu dititipkan di rumah neneknya, yaitu Mama Rafa.
"Biar aku yang masak, kamu tunggu di sana." Felisa menggulung rambutnya, sedikit mendorong Rafa. "Gak usah makan mie, biar aku masak nasi goreng!"
Rafa tidak membantah, dia menyingkir memilih duduk di meja makan menunggu Felisa. Pandangannya entah kenapa malah jatuh ke perpotongan leher Felisa. Rafa meneguk ludah, entah kenapa dirinya merasa panas tiba-tiba.
Setelah menikah, skinship mereka tidak lebih dari pegangan tangan dan cium kening itu juga sekali. Pernikahan mereka tidak seperti umumnya, yang terjerat oleh ikatan cinta tapi hanya ada ikatan anak. Tidak seintim itu.
"Baju kamu sepertinya basah, ganti baju dulu sana terus keringin rambut sama handuk!"
"Ok, kapten!" Sejauh ini dirinya dan Elvan tidak pernah diberikan kesempatan menolak, karena semua titah Felisa harus segera dituruti. Kalau tidak, wanita itu bisa mengomel sepanjang masa.
"Kebiasaan," cibir Felisa, saat melihat Rafa sudah masuk ke kamar.
"Ini coklat hangat."
Rafa menoleh, tersenyum tipis. "Makasih."
"Ini udah jam 10 malam, kamu belum tidur? Bukannya tadi lembur? Kok, masih kerja?" Felisa sudah duduk di samping Rafa, yang masih sibuk lagi dengan laptop.
"Cuman ngirim lewat email doang ke Bos." Rafa masih sibuk mengetik di laptop. "Selesai!"
Lelaki itu merenggangkan tangan. Setelah itu, meminum coklat hangat dari Felisa tadi. Walaupun, hubungan mereka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi, tetap saja mereka selalu dilanda kebingungan saat berada disituasi berdua seperti ini. Biasanya, Elvan yang selalu bisa mencairkan suasana canggung di antara mereka. Jika terpaksa hanya berdua, ya seperti ini saling diam.
Psttt
Tiba-tiba mati lampu. Felisa seketika panik langsung teringat Elvan karena anak itu takut gelap dan akan menangis kencang jika sadar berada di tempat gelap sendirian. Felisa sudah berdiri bersiap melangkah, namun karena gelap dia malah tersandung kaki meja, seketika membuatnya oleng dan langsung terjatuh.
"Aw!" ringis Rafa. Iya Rafa, karena saat jatuh Felisa sama sekali tidak merasakan sakit dan malah merasa empuk karena jatuh di atas tubuh Rafa.
"Aduh, maaf!" Ditengah kegelapan Felisa makin panik.
"Hati-hati." Rafa ikut bangkit, membantu Felisa yang akan berdiri. Tapi, seolah takdir memang sedang mempermainkan mereka. Kali ini, Rafa yang malah terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Kebetulan, saat akan jatuh tangannya sedang membantu Felisa yang akan berdiri, jadi otomatis saat jatuh tangannya juga spontan menarik Felisa hingga keduanya kali ini kembali terjatuh. Lebih tepatnya, bukan menarik tapi mendorong hingga kali ini Rafa terjatuh tepat berada di atas Felisa yang berbaring di lantai.
"Aw, sakit!" Felisa meringis. "Balas dendam, yah?"
"Enggak!" sanggah Rafa cepat. "Enggak! Sorry tadi juga kesandung."
Sesaat di tengah kegelapan, didalam situasi seperti itu mereka kembali sama-sama terdiam. Beberapa menit setelahnya, mereka berdua sama-sama tertawa akan kecerobohan mereka malam ini.
Beberapa saat setelah puas tertawa, Felisa akan bangkit dan otomatis Rafa juga ikut bangkit. Tiba-tiba, lampu sudah kembali menyala disaat kondisi mereka masih saling menindih setengah bangun.
Tatapan keduanya kembali bertemu. Felisa dengan cepat memutus itu, sedikit mendorong pelan tubuh Rafa yang setengah duduk karena dia akan bangun. Anehnya, Rafa sama sekali tidak bergerak saat Felisa mendorongnya. Felisa yang penasaran, kembali melihat ke arah Rafa yang masih asyik melihatnya.
"Ayo, bangun," gumam Felisa yang salah tingkah karena terus diperhatikan Rafa.
"Boleh, gak?" Rafa malah balik melontarkan pertanyaan yang membuat Felisa bingung.
"Boleh, apa?"
Rafa tersenyum tipis. "Cium."
"Hah?" Felisa masih terkejut, saat Rafa sudah mendekatkan wajahnya cepat dan sesuatu yang kenyal sudah membungkam bibir Felisa.
Felisa melihat Rafa yang menutup mata, menikmati perpagutan bibir mereka. Tanpa sadar, Felisa juga otomatis langsung ikut memejamkan mata dan membalas lumatan Rafa. Awalnya lumatan itu terasa lembut, tapi lama-lama Felisa merasakan Rafa yang semakin menaikkan ke-instenan ciuman mereka. Lumatannya terasa lebih terburu-buru, menuntut seolah lapar, Felisa sampai kewalahan mengimbanginya.
Entah berapa lama, Felisa sudah merasa butuh untuk bernapas. Kemudian, dia sedikit mendorong tubuh Rafa yang akhirnya berhasil membuat lelaki itu sedikit menjauhkan bibir mereka. Felisa buru-buru meraup oksigen sebanyak mungkin, sementara Rafa masih menatapnya intens.
"Udah?" tanya Rafa yang membuat Felisa jadi gugup lagi karena masih ditatap se-intens itu.
"Udah, apa?" Entah kenapa, Felisa malah tidak bisa berpikir.
"Napasnya."
Belum sempat Felisa menjawab, bibirnya kembali dibungkam oleh bibir Rafa. Bahkan, kali ini Felisa merasakan tubuhnya terangkat dan kembali duduk di suatu yang empuk. Felisa membuka mata, terkejut saat melihat dirinya sudah duduk di pangkuan Rafa di sofa.
Seakan Rafa tidak membiarkan Felisa hilang fokus, lelaki itu menggigit kecil bibir bawah Felisa. Memasukan lidahnya ke mulut wanita itu.
Entah berapa lama mereka berciuman, tapi Felisa sudah merasakan bibirnya kebas. Felisa bisa bernafas lega, saat Rafa sudah menjauhkan bibirnya tapi sedetik kemudian Felisa langsung merasakan lehernya dikecupi. Saat melihat kebawah, Felisa melihat Rafa sedang menciumi lehernya.
"Eughh ...."
Felisa buru-buru menutup mulutnya, barusan dia kenapa? Bisa-bisanya dia tiba-tiba bersuara seperti itu, sungguh memalukan!
"Lanjut kamar, yuk!" Rafa sudah mendongak, menatap Felisa dengan tatapan sayu. Felisa bahkan sampai meneguk ludah melihatnya.
Ka-kamar, ma-au apa?"
Rafa hanya tersenyum tipis, tanpa menjawab apapun langsung menggendong Felisa di depan yang langsung membuat wanita refleks memeluk leher Rafa karena takut jatuh.
"Turun, ini kita--- emmmm ...."
Rafa tidak membiarkan Felisa protes karena langsung membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya lagi. Sepanjang perjalanan menuju kamar tamu, disi oleh suara decakan saling mengecap. Rafa membuka pelan pintu, membaringkan tubuh Felisa di kasur dan dia berbaring di atasnya dengan masih saling berbagi pugutan.
Ditengah pugutan itu, tangan Rafa sudah membuka satu persatu kancing piyama baju Felisa tanpa wanita itu sadari. Setelah berhasil sepenuhnya terbuka, langsung menenggelamkan kepalanya di area dada Felisa.
Felisa meneguk ludah, dia masih mencerna apa yang saat ini sedang...
Felisa, membuatnya kembali melihat ke arah dia. Rafa menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Felisa.
"Mau buat adiknya Elvan," bisik Rafa yang mampu membuat sekujur tubuh Felisa merinding.
Setelahnya, bibir mereka kembali saling bertemu untuk berbagi pugutan. Dalam hitungan menit, seakan kembali bisa merasakan sesuatu yang memasuki dirinya seperti malam itu yang sempat dia lupakan rasanya. Rafa kembali mempunyai kuasa penuh atas tubuhnya.
"Mama ... Papa ... huwaaa!!!"
Brak bruk brak bruk
"Huwa! Aku dibuang!!"
"Mama diculik! Papa diculik alien!"
Dua sejoli yang masih tertidur saling berpelukan dibawah selimut, seketika langsung terbangun saat mendengar suara tangisan.
Felisa lebih dulu sadar, buru-buru melepaskan pelukannya di tubuh Rafa. Felisa semakin panik, saat mendengar suara tangisan Elvan yang semakin kencang. Wanita itu berdiri, bersiap berlari sampai panggilan Rafa menghentikannya.
"Yakin, mau menemui Elvan kaya gitu?"
"Apa, sih?" Felisa berniat mengabaikan karena Elvan yang menangis di luar lebih penting.
"Ya ampun, masa mau ketemu anak bugil!" teriak Rafa tak habis pikir melihat Felisa yang sudah akan membuka pintu.
Teguran Rafa, seketika menghentikan gerakan Felisa. Dirinya langsung menunduk, seketika meneguk ludah malu saat melihat dirinya benar-benar telanjang. Felisa buru-buru berjongkok, masih membelakangi Rafa, menundukan kepala di lipatan lutut.
Sekarang, Felisa bingung harus bagaimana? Suara tangisan Elvan semakin membuat dia khawatir, pasti anak itu ketakutan karena saat bangun tidak ada siapa-siapa. Tapi, berbalik ke arah Rafa mengambil baju dengan telanjang seperti ini, itu juga sangat memalukan.
"Kenapa malah jongkok disitu?"
Entah, kenapa Felisa merasakan suara Rafa sangat dekat. Tiba-tiba, Felisa merasakan sebuah tangan meraih wajahnya, sebuah kaos sudah masuk ke tubuhnya oleh Rafa. Sedang lelaki itu, hanya memakai celana pendek, masih setengah membungkuk di depannya.
"Masa, gitu aja malu? Padahal, aku sudah melihat semuanya semalam."
Felisa rasanya, ingin menenggelamkan dirinya di dasar samudera karena malu.
Rafa hanya tersenyum, mendekatkan wajahnya untuk kembali bisa meraih bibir manis wanita di depannya.
Cup
"Huwa!! Papa! Mama!"
Felisa langsung mendorong Rafa, saat kembali mendengar suara tangisan Elvan. Terburu-buru keluar menghampiri Elvan, dengan hanya memakai kaos kebesaran yang sepertinya milik Rafa.
"Gak kebayang, kalau anak gue masih bayi. Ini aja udah TK, ganggu mulu," gumam Rafa yang ikut menyusul Felisa untuk menemui anak cengengnya.
Elvan, sudah dititipkan di rumah Alexa, karena anak itu yang tadi mau bermain dengan Cio saat dijemput pulang dari TK.
Setelah malam itu, malam-malam panas lainnya kembali terulang. Kecanggungan yang diawal sebelumnya selalu Rafa rasakan, sekarang telah hilang entah kemana.
Rafa selalu punya cara untuk mengajak Felisa 'melakukannya'. Wanita tidak pernah meminta terlebih dahulu, tapi tidak pernah menolak saat Rafa mengajaknya.
Waktu berlalu lebih cepat, tapi kali ini lebih baik bagi pasangan suami-istri itu. Berbulan-bulan telah terlewat, tak terasa sudah 5 bulan lebih mereka bersama dalam satu ikatan pernikahan. Sebulan lagi, Elvan sudah naik dari TK A, mau lanjut ke TK B.
Hari ini, Rafa menjemput Felisa di tempat kerjanya di sebuah gedung yang merupakan tempat pemotretan yang kebetulan dekat dari kantornya.
Setelah menanyakan ruangan pemotretan kepada salah satu orang di sana, Rafa mengetuk pelan sebuah pintu lalu masuk. Di sana, banyak orang-orang yang sedang sibuk dengan aktifitasnya. Banyak peralatan kamera, serta kabel dimana-mana.
Rafa melihat Felisa yang sedang di tengah set, dengan sebuah gaun pendek berwarna merah. Dandanan wanita itu terlihat panas, dengan lipstick merah dan rambut yang dibuat ikal berantakan. Rafa perlahan mendekat, sampai Felisa melihatnya lalu melambaikan tangan, dibalas Rafa senyuman kecil.
"Ya Tuhan! Demi malaikat, Tuhan telah mengabulkan do'a kita!" teriak seorang lelaki yang menatap Rafa berbinar.
"Kamu udah datang?" tanya Felisa yang kembali fokus melihat Rafa.
"Belum selesai?" Rafa merapikan rambut Felisa yang benar-benar dibuat berantakan, tapi anehnya malah terlihat sexi. Rafa buru-buru menggelengkan kepala, jangan sampai dia buat 'sesuatu' dengan Felisa di sini seperti yang selalu dilakukan di rumah.
"Kayaknya masih lama, soalnya model cowoknya tiba-tiba kecelakaan dijalan dan gak bisa datang. Para kru, lagi cari model pengganti. Kalau lama, pulang duluan aja. Nanti, aku pulang naik taxi."
Rafa mengangguk. "Ok, aku nunggu di sofa ujung sana."
Rafa mengusap kepala Felisa, lalu berjalan menuju sudut Sofa. Dari sini, semua kegiatan di sini bisa terlihat jelas. Rafa juga bisa melihat Felisa yang sedang berbicara dengan beberapa kru. Anehnya, saat berbicara wanita itu melirik ke arahnya. Setelah berbicara itu, Felisa terlihat berjalan menuju ke arahnya?
"Rafa?" panggil Felisa terlihat ragu.
Rafa menaikan alisnya. "Kenapa?"
"Mau gak, kamu jadi model cowoknya?"
"Hah, apa?"
##