Indonesia
NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Just Stay

"Anak Papa sudah bangun, hmm?"

Ara yang masih dikelilingi teman-temannya dan Bara, segera turun dari ranjang begitu melihat Papanya. Ia bergegas menghampiri pria itu, lalu memeluknya erat.

"Aku kangen Papa. Sama Mama juga."

"Kita juga kangen sama Ara. Akhirnya anak Papa bangun juga setelah dua minggu tidur terus."

Ara melepaskan pelukannya, lalu menatap Papanya dengan bingung.

"Pah?"

"Ada apa?"

"Kenapa Vano ada di sini?"

Mereka semua kembali menoleh ke arah Ara. Lagi-lagi, tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami sikap aneh gadis itu.

"Bukannya Vano memang teman kamu? Papa kenal dia juga karena kamu, Ara. Papa bahkan kaget waktu tahu ternyata dia anak teman bisnis Papa. Kenapa sekarang kamu malah bertanya seperti itu, hmm?"

Situasi ini benar-benar bikin aku bingung.

Ara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Semua orang tampak mengenal Vano, seolah-olah keberadaan laki-laki itu memang sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak lama.

"Vano itu jahat, Pah. Dia pernah bilang kalau Bara nggak sakit parah, dia mau melukai Bara buat mendapatkan aku."

Bara yang mendengar perkataan Ara langsung terkejut. Pasalnya, ia juga baru mengenal Vano setelah terbangun. Ia mengira Vano memang teman Ara yang selama ini tidak pernah ia kenal, terlebih karena Papa Vano merupakan rekan bisnis Papanya Ara. Dalam ingatannya, Ara juga tidak pernah sekalipun membicarakan Vano ketika mereka masih bersama.

Papa Ara mengernyitkan dahi.

"Memangnya Bara sakit apa sih, Ara? Suami kamu terlihat sehat-sehat saja. Nggak sopan kalau kamu berbicara seperti itu tentang Vano."

"Loh, bukannya Bara sakit leuㅡ"

"Sayang?"

Bara buru-buru menyela.

"Kamu bicara apa, sih? Aku sehat-sehat aja. Aku nggak punya penyakit apa-apa."

Ara membeku.

Ia benar-benar terkejut mendengar pengakuan Bara. Tadi Papanya juga mengatakan bahwa Bara adalah suaminya. Bukankah mereka hanya menikah di masa lalu? Atau... apakah pernikahan mereka ternyata tetap berlanjut sampai masa depan?

Ara menelan ludah. Ia mulai menyadari bahwa dirinya memang sudah kembali ke masa depan. Hanya saja, masa depan yang kini ia lihat tidak sama dengan masa depan yang selama ini ia ingat.

Di masa lalu, Bara pergi untuk selama-lamanya. Namun sekarang, laki-laki itu berdiri tepat di hadapannya.

Hidup.

Sehat.

Dan bahkan menjadi suaminya.

Apakah Bara benar-benar sudah sembuh? Lalu bagaimana dengan Vano? Apakah dia memang bukan orang jahat seperti yang kukenal?

"Ra, maaf deh kalau kehadiran gue malah bikin lo kayak gini. Mending gue balik aja. Lo bisa hubungi gue kapan pun kalau lo butuh."

Vano berpamitan kepada yang lainnya, lalu tersenyum ke arah Ara. Namun, senyuman itu terasa aneh. Sangat aneh. Senyuman yang pernah Ara lihat sebelumnya.

Aku nggak salah. Emang ada yang aneh dari dia. Kenapa aku malah temenan sama dia? Terus... sekarang aku ada di tahun berapa?

"Sayang, mendingan kamu istirahat lagi aja. Mau aku temenin?"

Ara hanya mengangguk. Ia kembali duduk di ranjang, kemudian memeluk Bara yang masih berdiri di sampingnya dengan erat.

Ia benar-benar bersyukur. Jika ternyata Bara masih hidup di masa depan, kenyataan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya lega.

"Bara, tolong jaga Ara dengan baik, ya. Papa sama Mama masih ada urusan di luar."

"Iya, Pah."

Ara kembali mengedipkan mata. Bara memanggil Papanya dengan sebutan Papa. Apakah mereka memang benar-benar sudah menikah di masa depan? Dan apakah pernikahan mereka bahkan sudah diterima oleh kedua orang tuanya?

Biru yang sedari tadi memperhatikan Ara akhirnya angkat bicara.

"Adek gue bengong mulu, tuh. Lo tenangin atau gimana, gitu. Kalau dia tahu hal yang lainnya, pasti bakal tambah kaget."

"Ra, omongan lo dari tadi aneh banget, sumpah. Lo mimpi apaan selama sebulan tidur, sih?"

"Gue nggak mimㅡ"

Ara terdiam.

"Ah, entahlah. Mimpi gue aneh banget pokoknya, Vin. Sampai gue ngerasa semua itu nyata."

"Mungkin efek kecelakaan kali. Awalnya Bara pas bangun juga sama kayak lo. Plonga-plongo, nggak ngerti apa-apa."

Yuvin mengangkat bahu.

"Ternyata kalian sama-sama kehilangan sebagian ingatan. What a perfect couple."

Bara juga kehilangan ingatan? Kecurigaan Ara semakin besar.

"Guys, bisa tinggalin gue sama Bara sebentar, nggak? Ada yang mau gue omongin sama dia."

"Oke."

Yohan langsung berdiri.

"Guys, kita diusir sama pengantin baru, nih. Mending kita balik aja. Lagian udah ada suaminya juga di sini. Kita yang masih single bisa apa? Cuma bisa iri lihat mereka mesra-mesraan."

Mulut Yohan memang benar-benar tidak bisa berhenti. Perkataannya malah membuat yang lain mengangguk setuju. Pada akhirnya, mereka meninggalkan kamar.

Hmm... tidak semuanya. Masih ada Biru di sana.

"Abang?"

"Apa, sayang?"

"Bisa keluar sebentar nggak? Kalau perlu, musnah aja sana. Abang nggak peka banget jadi orang!"

"Ngegas mulu."

Biru mendengus kesal karena permainan gimnya terganggu.

"Iya, iya. Abang keluar."

Ia pun meninggalkan Ara dan Bara yang kini hanya saling menatap.

"Bara?"

"Iya, sayang?"

"Ini tahun berapa?"

"2027."

"Hah?"

Bara langsung mengernyitkan dahi.

"Kamu kenapa sih, sayang? Apa perlu aku panggilin dokter lagi?"

"Aku nggak amnesia, Bara."

Ara menarik napas panjang.

"Tapi kenapa aku bisa kelempar jauh ke tahun 2027 kayak gini?"

Tatapan Bara seketika berubah.

Ara... please. Aku lagi nggak mau membahas kejadian masa lalu itu sekarang. Emangnya kamu nggak senang melihat aku ada di sini? Emangnya kamu nggak senang kalau aku kembali?

Namun, Bara hanya tersenyum kecil.

"Mungkin itu cuma mimpi kamu aja. Mending kamu istirahat lagi sekarang. Aku bakal nemenin kamu di sini."

"Bara, akuㅡ"

Ara menggigit bibirnya.

"Aku cuma masih belum percaya sama apa yang aku alami sekarang. Aku takut kalau ini cuma mimpi. Dan sewaktu aku bangun nanti, kamu benar-benar udah nggak ada di sisiku lagi."

"Maksudmu gimana sih, sayang?"

Bara duduk di sampingnya.

"Kamu lihat sendiri, kan? Aku ada di hadapan kamu sekarang. Kamu nggak lagi mimpi."

"Ini benar-benar bukan mimpi, kan?"

Suara Ara mulai bergetar.

"Kamu benar-benar masih hidup, kan? Kamu nggak sakit leukemia, kan?"

Ara menatap wajah Bara dengan mata berkaca-kaca.

"Aku nggak mau kehilangan kamu lagi untuk yang ketiga kalinya. Udah cukup yang pertama kamu bikin aku terpuruk. Terus yang kedua... kamu pergi, tapi malah nyuruh aku buat senyum."

Air mata Ara akhirnya jatuh.

"Rasanya sakit banget, Bara. Hatiku benar-benar hancur waktu melihat kamu pergi."

Bara hanya bisa menghela napas pelan. Ia kemudian menarik Ara ke dalam pelukannya.

"Maafin aku."

Tangannya mengusap punggung Ara perlahan.

"Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi."

Bara terdiam sejenak.

Sepertinya aku masih harus merahasiakan soal kehamilanmu juga. Aku takut membuatmu semakin terkejut.

"Istriku nggak boleh nangis terus kayak gini."

Bara melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata di pipi Ara.

"Aku benar-benar nggak punya penyakit, sayang. Aku sehat."

Ia kemudian berdiri dan sedikit menegakkan tubuhnya.

"Coba kamu lihat. Badanku aja kekar kayak gini."

Ara menatap tubuh Bara dengan tatapan datar. Kemudian ia mengangguk sambil mengusap sisa air matanya.

Ia lega. Sungguh sangat lega. Tuhan ternyata benar-benar mengabulkan doanya. Dan kini Bara benar-benar ada di sampingnya.

Tidak masalah jika Bara tidak tahu bahwa dirinya pernah kembali ke masa lalu demi dirinya. Tidak masalah pula jika masa depan berubah drastis seperti ini. Bagi Ara, melihat Bara masih hidup saja sudah cukup untuk membuatnya bahagia.

"Bara."

"Hmm?"

"Terima kasih."

"Terima kasih untuk apa?"

"Karena kamu udah hadir dalam kehidupanku."

Ara tersenyum kecil.

"Pasti selama ini tingkahku masih sering bikin kamu kesel karena aku kayak anak kecil, kan? Terima kasih juga karena kamu udah betah menghadapi sikapku yang terkadang uring-uringan dan nggak jelas."

Jangan ngomong kayak gitu. Bagiku, kamu adalah wanita paling kuat yang pernah aku temui. Seharusnya aku yang bersyukur karena bisa memiliki kamu. Terima kasih banyak karena kamu sudah mau merawat aku dengan tulus sebelumnya. Bahkan kamu nggak pernah meninggalkanku ketika kondisiku sudah sangat parah.

Bara menatap Ara lama.

Istriku... sebenarnya aku pun masih bingung dengan semua ini. Tapi sepertinya kehamilanmu adalah hadiah yang diberikan Tuhan untuk kita. Jadi, ketika nanti aku bilang kamu hamil, jangan kaget, ya. Aku sayang kamu.

"Gak apa-apa, sayang."

Bara tersenyum.

"Aku terima semua sikap kamu. Dan aku juga udah terbiasa."

Ia kemudian memberikan kecupan lembut di kening Ara.

"Bara."

"Hmm?"

"Tiba-tiba aja aku pengen makan es krim."

Ara menatapnya dengan wajah memelas.

"Tolong beliin, dong."

"Mau es krim, hmm?"

Bara tertawa kecil.

"Ya udah, aku belikan sebentar. Mau es krim rasa apa, sayang?"

"Aku ingin es krim rasa barbeque."

Bara terdiam.

"Hah? Memangnya ada?"

"Gak tahu."

Ara mengangkat bahu.

"Intinya aku pengen rasa itu. Cepat beliin!"

"Iya, iya. Aku belikan sebentar."

Bara berdiri.

"Kamu istirahat aja. Jangan ke mana-mana."

Ia pun keluar dari kamar. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Bara berhenti dan memijat pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pusing. Hal itu membuat perhatian Biru yang sedang duduk di luar kamar langsung teralih kepadanya.

"Kenapa?"

Biru menatap Bara.

"Si Ara mulai ngidam yang aneh-aneh?"

Biru terkekeh.

"Rasain!"

"Sialan!"

Bara mendengus.

"Bang, tolong jaga Ara sebentar. Aku mau beli es krim dulu."

Bara kembali memijat kepalanya sambil berjalan menjauh.

Kalau udah mulai ngidam begini, kayaknya aku bakal dibuat repot ke depannya.

Ia tersenyum kecil.

Sabar. Apa pun akan kulakukan demi istri tercinta.

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!