Indonesia
NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sesampainya di halaman rumah kayu yang asri itu, suara deru motor Dayang langsung disambut derap langkah kecil dari dalam.

Bintang berlari keluar dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.

"Mbak Dayang! Mas Bima!" seru Bintang kegirangan saat melihat mereka berdua turun dari motor.

Mata kecil Bintang langsung berbinar menatap tas belanjaan yang ditenteng Rimba.

Tanpa ragu, adik kecil itu mendekat dan mengintip reaches isinya.

"Wah! Baju baru buat Mas Bima ya?" goda Bintang seraya melirik kakaknya dengan tatapan jahil.

"Cie, Mbak Dayang perhatian banget! Ini mah fix Mas Bima mau diangkat jadi calon kakak ipar baru Bintang, ya kan?"

"Bintang! Ngomong apa sih, kecil-kecil sudah pinter menggoda!" seru Dayang dengan pipi yang mendadak merona merah.

Ia menyenggol pelan bahu adiknya untuk menutupi rasa malu, walau sebuah senyum bahagia tak mampu disembunyikan dari bibirnya.

Rimba yang menyaksikan interaksi hangat kakak-beradik itu hanya bisa menyunggingkan senyum tipis.

Namun di balik senyuman itu, dada sang CEO bagai dihantam kepedihan yang teramat mendalam.

Setiap kata "kakak ipar" dan tatapan penuh harapan dari Bintang terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya.

Besok, semua hangat ini akan berganti menjadi kebingungan dan kepedihan saat sosok 'Bima' menghilang selamanya.

Sore menjelang malam, Rimba memilih untuk tidak berdiam diri.

Mengetahui ini adalah malam terakhirnya di rumah kayu tersebut, pria itu memutuskan untuk memberikan perlindungan dan bantuan terakhir yang sanggup ia perbuat sebagai kuli.

Rimba mengambil kotak perkakas tua peninggalan almarhum ayah Dayang.

Ia memperbaiki engsel pintu dapur yang melenceng dan sering macet, memaku kembali papan dinding luar yang renggang, serta pergi ke halaman samping untuk membelah tumpukan kayu bakar menggunakan kapak hingga menumpuk rapi di dekat dapur.

Keringat bercucuran membasahi kaos barunya, namun Rimba terus mengayunkan kapak dengan tekun.

Setiap paku yang ia tancapkan dan setiap kayu yang ia belah adalah wujud rasa cinta dan penyesalan bisunya untuk Dayang—sebuah peninggalan sederhana agar hidup gadis itu sedikit lebih mudah saat ia tak lagi ada di sisinya.

Dari balik pintu dapur, Dayang berdiri memperhatikan punggung tegap Rimba yang bekerja keras di bawah temaram lampu teras.

Senyum hangat mengembang di paras ayunya, tanpa menyadari bahwa pria yang sangat ia percayai itu sedang menghitung detik-detik menuju perpisahan.

Malam merambat semakin larut di atas rumah kayu yang bersahaja.

Suasana berubah begitu sunyi, hanya dihiasi derik jangkrik dan embusan angin malam yang membawa aroma tanah basah.

Sinar rembulan yang keperakan menerobos sela-sela dedaunan pohon mangga, menyoroti teras depan tempat Rimba sedang duduk sendirian di bangku kayu.

Langkah kaki tanpa alas terdengar pelan mendekat.

Dayang keluar membawa dua cangkir teh hangat yang masih berasap.

Ia mendudukkan dirinya tepat di samping Rimba, menyodorkan salah satu cangkir, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Belum tidur, Mas Bima?" tanya Dayang pelan, matanya menatap pendar rembulan di langit malam.

Rimba menerima cangkir itu, menyesapnya sedikit sebelum menggeleng halus.

"Belum, Mbak. Masih menikmati angin malam."

Dayang memutar tubuhnya menghadap Rimba. Di bawah temaram cahaya bulan, paras ayu gadis pasar itu tampak begitu murni tanpa polesan.

Guratan lelah dan luka kecil di pipinya tak sedikit pun mengikis pesonanya.

"Mas Bima," panggil Dayang halus, suaranya sarat akan emosi yang tertahan.

"Aku mau terima kasih banyak. Untuk semuanya. Dari cara Mas Bima melindungiku, bantu angkut ikan, masak bekal subuh, sampai perbaiki pintu dan kayu bakar malam ini."

Dayang menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap jemari tegap Rimba.

"Jujur, sejak almarhum Bapak sama Ibu meninggal, aku selalu merasa berjuang sendirian. Tapi sejak ada Mas Bima di sini, aku merasa punya sandaran. Aku punya harapan besar, Mas. Aku ingin Mas Bima terus bersamaku di sini. Kita bangun dan besarkan usaha di Pasar Matahari ini sama-sama."

Kata-kata tulus yang meluncur dari bibir Dayang menghantam dada Rimba hingga terasa sesak.

Pengakuan jujur dan harapan murni itu bagai pedang bermata dua yang menghujam jantung sang CEO Suryo Group.

Sebelum Rimba sempat merangkai kata balasan, Dayang bergerak maju.

Tatapan matanya yang syahdu mengunci pandangan Rimba.

Dengan gerakan yang penuh keberanian dan ketulusan, Dayang mendekatkan bibirnya, menyentuhkan kelopak bibirnya ke bibir Rimba secara lembut.

Rimba tertegun sejenak. Sentuhan hangat itu meluluhkan seluruh pertahanan logis di dalam kepalanya.

Rasa bersalah, kerinduan, dan rasa cinta yang bergolak hebat di dadanya menyatu menjadi satu.

Tanpa sanggup menahannya lagi, Rimba menyambut dan membalas ciuman manis itu dengan kehangatan yang amat dalam, mengusap pelan pipi Dayang dengan jemari tegapnya.

Di tengah hanyutnya Momen tersebut, benteng pertahanan jiwa Rimba runtuh.

Dorongan kuat berteriak di dalam batinnya untuk membuka seluruh kebohongan ini—Dayang, aku ini Rimba! Aku CEO Suryo Group yang hampir menghancurkan lapakmu!

Namun saat bibir mereka terlepas dan ia menatap langsung ke dalam bola mata Dayang yang bening penuh kepercayaan murni, Rimba menahan lidahnya mati-matian.

Ia tahu, mengakui identitasnya saat ini di bawah sinar bulan hanya akan meremukkan hati Dayang seketika, menghancurkan ketulusan malam ini dengan rasa dikhianati yang teramat kejam.

Biarlah rasa perih itu ia tanggung sendiri besok saat ia menghilang.

Dayang yang merasakan dalam dan hangatnya balasan dari pria di hadapannya, menyunggingkan senyum paling indah yang pernah Rimba lihat.

Gadis itu lalu memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Rimba, memeluknya dengan semakin erat.

Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang CEO, menyerap setiap detik kehangatan orang yang ia percayai sebagai 'Bima'.

Rimba memejamkan matanya rapat-rapat, merengkuh tubuh Dayang dalam pelukan protektif terakhirnya, membiarkan kehangatan malam itu menjadi kenangan terindah sekaligus tersulit dalam hidupnya.

Pagi subuh yang dingin menyelimuti perjalanan mereka menuju Pasar Matahari.

Di sepanjang jalan di atas sepeda motor, Dayang bersandar hangat di punggung Rimba, menyerap sisa-sisa kebahagiaan dari momen di teras rumah semalam.

Namun bagi Rimba, setiap meter jalan yang mereka tempuh terasa bagai hitungan mundur menuju perpisahan yang tak terhindarkan.

Setibanya di area pelelangan, aroma amis air laut dan riuk pikuk pasar subuh langsung menyapa.

Tanpa menunggu aba-aba, Rimba menyingsingkan lengan kaos barunya.

Ia melangkah tegap menuju pikap Bang Jaka, meraih keranjang-keranjang kayu berisikan puluhan kilogram ikan kakap merah dan pecahan es batu.

Dengan gerakan mantap yang sudah lihai, Rimba mengangkat beban berat itu ke atas bahunya sendirian.

Pria itu mengangkut keranjang ikan menuju lapak Dayang, menatanya dengan sangat rapi dan cekatan di atas meja seng.

Ia memastikan seluruh pasokan ikan segar itu tertata sempurna, persis seperti yang selalu ia lakukan—memberikan hasil kerja terbaiknya untuk terakhir kali.

Dayang memperhatikan setiap gerak-gerik Bima dari balik meja lapak.

Senyum bahagia tak pernah lepas dari paras ayunya, membayangkan masa depan usaha pasar mereka yang akan dijalani bersama pria serba bisa ini.

Sementara itu, dari sudut lorong pasar yang temaram, Dio sudah tampak berdiri menanti dengan kemeja rapi dan mobil hitam yang bersiap untuk membawa sang CEO kembali ke dunianya.

Kedatangan Dio dengan langkah tegap dan setelan kemeja rapi langsung menyedot perhatian di depan lapak ikan Dayang.

Pria itu menyapa dengan menganggukkan kepala secara profesionalisme tinggi, menyadari penuh bahwa misi vital perusahaan—sekaligus misi penyamaran sang CEO—telah mencapai titik tuntas sepenuhnya.

Dayang merogoh tas kainnya, mengambil map tebal bersampul rapi yang sudah terisi tanda tangan resminya beserta stempel kesepakatan dengan Bang Jaka.

"Ini berkas perjanjian kerja samanya," ujar Dayang mantap seraya menyerahkan map tersebut di atas meja seng.

"Seluruh klausul penyesuaian kuota dan kepastian harga nelayan lokal sudah disetujui. Tolong pastikan bos rimbamu itu menepati janji di dalamnya."

Dio menerima berkas tersebut dengan kedua tangannya, menghormati kesepakatan bernilai strategis bagi Pabrik Merah Suryo Group itu.

"Terima kasih banyak, Mbak Dayang," sahut Dio tegas.

"Manajemen kami sangat menghargai kepercayaan dari Mbak Dayang dan jaringan nelayan di sini."

Sebagai syarat dan komitmen awal dari pembelian pasokan ikan segar skala besar tersebut, Dio merogoh tas kerjanya.

Ia mengeluarkan amplop berisi pembayaran uang muka (down payment) tunai yang sah untuk mengamankan seluruh pasokan ikan kakap dan tenggiri kualitas terbaik milik Dayang hari ini.

"Ini uang pembayaran untuk seluruh pasokan ikan hari ini sesuai draf awal, Mbak Dayang," terang Dio seraya menyodorkan uang tersebut secara transparan.

Dayang menerimanya dengan binar mata yang lega dan rasa syukur yang amat mendalam.

Arus kas usahanya kini terjamin kuat, dan masa depan Bintang tampak makin cerah di depan mata.

Namun di belakang tempat Dayang berdiri, Rimba menatap momen penyerahan berkas dan uang tersebut dengan mata yang meredup perih.

Langkahnya tertahan di balik tumpukan keranjang es.

Tugasnya telah usai. Suryo Group telah selamat, dan Dayang telah terlindungi.

Kini tiba saatnya sang CEO menghilang untuk selamanya, membiarkan 'Bima' menjadi jejak kenangan bisu di Pasar Matahari.

Dayang membalik-balik lembaran uang tunai di tangannya dengan binar mata bahagia.

Rasa syukur yang amat mendalam membuncah di dadanya.

Tepat di saat yang sama, seorang pelanggan langganan datang menghampiri lapak untuk membeli beberapa kilogram ikan kakap.

"Nduk Dayang, tolong timbangkan kakap merahnya dua kilo ya!" seru pembeli itu.

"Eh, iya Bu! Siap!" jawab Dayang ceria.

Dengan cekatan ia mengambil ikan dan menaruhnya di atas timbangan, perhatiannya sepenuhnya tersedot oleh kesibukan melayani pembeli pertama pagi itu.

Di belakang lapak, Rimba memanfaatkan kelengahan tersebut.

Ia berdiri mematung sejenak, menatap punggung Dayang dengan tatapan yang dipenuhi kerinduan, kehangatan, dan kepedihan yang menyayat dada.

Pria itu menyentuh dadanya pelan, menyerap setiap sudut paras ayu Dayang di dalam ingatannya untuk yang terakhir kali.

Selamat tinggal, Dayang. Terima kasih untuk semuanya, batin Rimba seraya memejamkan mata rapat-rapat.

Tanpa mengeluarkannya satu kata pun, Rimba melangkah mundur perlahan.

Ia menyusup ke lorong sepi di antara tumpukan keranjang kayu bekas, membelakangi keriuhan Pasar Matahari yang mulai riuh.

Langkah kakinya yang biasa tegap kini terasa amat berat.

Di ujung lorong pasar yang lengang, sedan hitam bermutu tinggi milik Dio sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus.

Dio yang berjalan memutar mendahului telah membukakan pintu penumpang belakang dengan sikap sangat hormat.

Rimba melangkah masuk ke dalam mobil. Begitu pintu ditutup rapat, kekedapan udara di dalam kabin mewah itu seketika memutus total aroma amis air laut dan riuk pikuk pelelangan ikan.

Kaos polos usang yang membalut tubuhnya terasa asing, berganti dengan dinginnya udara pendingin mobil kelas atas.

"Kita berangkat sekarang, Pak Rimba?" tanya Dio pelan dari kursi kemudi, menatap sang CEO melalui spion tengah.

Rimba menyandarkan kepalanya pada kursi kulit yang empuk.

Matanya menatap keluar jendela yang gelap, memperhatikan bayangan Pasar Matahari yang perlahan menjauh seiring sedan hitam itu bergulir meninggalkan pelelangan.

"Jalan, Dio," perintah Rimba dengan suara berat dan dingin—suara Rimba Suryo sang CEO yang telah kembali.

Sementara itu di lapak ikan, Dayang yang baru saja selesai membungkus pesanan pembeli menoleh ke belakang dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Mas Bima, tolong ambilkan keranjang es yang—"

Kalimat Dayang terhenti seketika. Area belakang lapak yang biasanya diisi oleh sosok tegap pria itu kini kosong melompong.

Hanya tersisa sapu lidi yang bersandar di dinding dan keranjang ikan yang sudah tertata rapi.

"Mas Bima?" panggil Dayang, keningnya berkerut heran.

Ia melangkah ke belakang lapak, menengok ke kanan dan ke kiri.

"Mas Bima! Kamu di mana?"

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Yang tersisa hanyalah hembusan angin pagi pasar dan rasa cemas yang perlahan mulai menyusup liar di dada Dayang.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!