Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Bohong
Suzan menuntun Alvaro masuk ke dalam rumah keluarga Hartanto. Namun rupanya Alvaro masih saja belum mau bicara apapun padanya sepanjang perjalanan dari mall tadi. Mukanya masih menunjukan kemarahan dan bibirnya pun masih manyun.
"Nyonya, sini biar saya bawakan belanjaannya ke kamar..." bi Marti menghampiri Suzan.
"Iya bi Marti, makasih ya..." sahut Suzan sambil menyerahkan paper bag berisi barang belanjaan.
Suzan menoleh ke arah Alvaro.
"Sayang... Kamu makan siang dulu ya..." ucap Suzan karena jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Nggak mau...!'' seru Alvaro.
"Bisa nggak, Alvaro kalau ngomong nggak usah teriak- teriak seperti itu...? Mami nggak tuli sayang, bicaranya biasa saja..." ucap Suzan mencoba menasehati sang putra.
''Biarin...!'' Alvaro kembali membentak Suzan.
Suzan mengeha nafas.
"Kamu masih marah...? Marah sama mami...? Iya...? Memangnya mami salah apa sama kamu...?" tanya Suzan yang mulai habis kesabaran.
"Valo kesal sama mami...! Varo masih mau main...! Mami sama papi bohong...! Mami bilang papi akan main sama Varo... Tapi mami bohong...! Papi juga bohong...! Trus Varo sudah dapat teman baru, Arsya dan om Bintang, tapi mami malah suruh Varo pulang...! Varo benci sama mami...!" Alvaro kembali marah.
"Nyonya... Den Alvaro kenapa...?" sus Yuni yang mendengar Alvaro teriak- teriak segera menghampiri.
Begitu juga dengan nyonya Hartanto, dia keluar dari kamarnya.
"Ada apa ini ribut- ribut...?'' tanya nyonya Hartanto.
Dan bersamaan dengan itu, Bagas pun datang. Iya, setelah Suzan dan Alvaro pergi dengan taksi on line, Bagas mengikuti mereka dengan mobilnya.
"Sayang...Alvaro masih marah...?'' tanya Bagas pada Suzan.
Suzan menoleh sekilas ke arah Bagas. Namun dia enggan menjawab pertanyaannya.
"Ini ada apa...? Alvaro kenapa...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Ini semua gara- gara mas Bagas mah..." jawab Suzan dengan ketus sambil melirik ke arah Bagas yang berdiri di sampingnya.
"Varo benci sama papi...! Papi tukang bohong...!" Alvaro langsung lari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Den Varo..." sus Yeni mengejar Alvaro.
"Lihat mas... ! lihat...!'' Suzan menunjuk Alvaro sambil menatap kesal ke arah Bagas.
"Ini ada apa sih...? Tadi kalian bertiga pergi bareng- bareng, terlihat senang mau jalan- jalan ke mall. Tapi pulangnya malah pada ribut. Ada apa...? Apa yang terjadi...? Alvaro kenapa...? '' tanya nyonya Hartanto menatap Suzan dan Bagas secara bergantian.
Suzan melirik ke arah Bagas. Bagas menghela nafas, lalu dia menjelaskan kepada sang mama kenapa Alvaro bisa ngambek.
"Ya ampun..." nyonya Hartanto menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Bagas sudah menawarkan Alvaro untuk main lagi setelah makan siang, tapi dianya nggak mau mah, malah minta pulang..." Bagas membela diri.
"Ya jelas nggak mau lah mas... Alvaro sudah terlanjur kecewa nungguin kamu terlalu lama..." sahut Suzan.
Bagas menghela nafas, dan Bagas diam karena sudah kehabisan kata- kata.
"Mas... Memangnya kamu ketemu sama siapa sih , sampai- sampai kamu lupa kalau tujuan kamu ke mall itu untuk mengajak Alvaro main bersama...?'' tanya Suzan penuh selidik.
Iya, Suzan merasa heran saja kenapa Bagas bisa sampai lupa menemani Alvaro. Suzan jadi curiga kalau sang suami menyembunyikan sesuatu darinya.
"Itu te...teman... Ehm... Teman saat kuliah dulu, kamu nggak kenal sama dia. Aku saja sudah bertahun- tahun baru ketemu dia lagi. Dia baru pulang dari Belanda dan kebetulan dia mau ngopi di cafe, jadi dia ngajak aku gabung..." lagi- lagi mulai mengarang bebas.
Namun Suzan menangkap sesuatu yang lain dari ekspresi wajah Bagas. Iya, Suzan menangkap adanya ketidakjujuran di sana. Tentu saja Suzan bisa merasakan itu, karena jelas sekali Bagas terlihat gugup saat menjawab pertanyaan Suzan.
Namun Suzan tidak mau untuk terus menginterograsi Bagas, walaupun dia yakin sang suami sedang berbohong. Suzan pun memilih pergi untuk menyusul Alvaro di kamarnya karena enggan bicara lagi dengan Bagas.
"Bagas..." bisik nyonya Hartanto namun dia terlihat kesal.
"Jujur sama mama, kamu tadi habis ketemuan sama siapa....?" tanya nyonya Hartanto.
"Apa sih mah... Tadi kan Bagas sudah dijelaskan kalau Bagas abis ketemuan sama teman kuliah Bagas..." jawab Bagas.
"Jangan bohong kamu... Mama tahu kamu sedang bohong..." sahut nyonya Hartanto.
"Bohong apa sih mah..." Bagas mengelak.
Nyonya Hartanto menoleh ke lantai atas untuk memastikan bahwa Suzan tidak melihat ataupun mendengar percakapan mereka.
"Kamu pasti habis menemui Casandra kan...? Hah...? Jujur sama mama..." bisik nyonya Hartanto namun terdengar tegas.
"Mama ini ngomong apa sih..." Bagas tetap tidak mau mengaku.
"Mengaku saja... ! Mama tahu kok kamu sedang bohong..." ucap nyonya Hartanto yang yakin bahwa sang putra tidak bicara yang sebenarnya.
Bagas mengusap wajahnya dengan kasar. Iya, Bagas sepertinya tidak bisa mengelak lagi.
"Gila kamu ya Bagas, cari mati kamu, bisa- bisanya kamu menemui perempuan itu, di saat kamu sedang jalan dengan istri dan anak kamu..." nyonya Hartanto yang sangat yakin kalau orang yang ditemui oleh Bagas adalah Casandra.
Bagas menghela nafas.
"Bagas nggak tahu kalau Casandra mau datang ke sana mah, dia tiba- tiba muncul, lalu dia minta Bagas untuk menemuinya..." ucap Bagas akhirnya berkata jujur.
"Kamu benar- benar sudah kehilangan akal Bagas. Kamu rela meninggalkan anak kamu, demi menemui perempuan itu..." sahut nyonya Hartanto sambil mencengkeram lengan Bagas.
"Kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan Alvaro. Kamu lihat kan tadi, dia sangat marah..." sambung nyonya Hartanto begitu kesal dengan Bagas.
Lagi- lagi Bagas menghela nafas.
"Dan bukan hanya Alvaro yang marah, istrimu juga marah kan tadi..." lanjut nyonya Hartanto.
"Kamu lihat tadi bagaimana ekspresi wajah Suzan, mama lihat dia seperti tidak percaya dengan karangan cerita kamu tadi..." ucap Nyonya Hartanto.
"Dengar Bagas, istrimu itu bukan orang bodoh. Dia tidak mudah untuk dibohongi. Jangan sampai dia mencurigai kamu dan akhirnya hubungan kamu dan perempuan itu diketahui oleh Suzan. Bisa kacau Bagas..." sambung nyonya Hartanto.
Lagi- lagi Bagas mengusap wajahnya dengan kasar. Iya, apa yang dikatakan oleh sang mama memang benar. Suzan memang bukan orang yang mudah untuk dibohongi. Dia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi jika dirasa dia tidak yakin dengan pernyataan yang dia dengar.
"Sebelum hubungan gelap kamu dengan perempuan itu terbongkar, sebaiknya kamu jauhi dia. Jangan berhubungan lagi dengannya. Pikirkan masa depan keluarga kecil kamu Bagas...." ucap Nyonya Hartanto.
Namun bukannya menanggapi perkataan sang mama, Bagas malah pergi dan naik ke tangga menuju kamarnya.
"Bagas...! Kamu dengar mama tidak...'' panggil nyonya Hartanto namun Bagas tidak menghiraukannya.
"Dasar anak ini...." nyonya Haryanto kesal.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu di dapur para asisten rumah tangga keluarga Hartanto yaitu, bi Ati, Marni dan Siti kepo dengan apa yang dibicarakan oleh kedua majikannya di ruang tengah . Namun mereka hanya bisa menguping dari dapur dan tentu saja mereka tidak mendapat jawaban atas rasa penasaran mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama mereka...? Kok bisa den Alvaro marah- marah begitu, sebelumnya dia nggak pernah lho bersikap seperti itu sama maminya...?" tanya bi Marti.
"Iya, kok bisa den Alvaro marah sampai teriak- teriak begitu sama maminya. Duh kasih nyonya Suzan..." sahut Siti.
"Ya namanya juga anak kecil, kalau ngambek ya begitu..." jawab bi Ati.
"Itu pasti gara- gara tuan Bagas... Buktinya tadi nyonya Suzan dan den Alvaro pulang duluan naik taksi. Pasti tuan Bagas yang membuat kesalahan lebih dulu..." ucap Siti.
"Iya, bener... Tadi kalian dengar kan , den Varo bilang apa,...? Dia bilang papi bohong... Tidak salah lagi, pasti tuan Bagas yang membuat den Varo ngambek..." sahut Marti.
"Apa yang kalian lakukan...! Saya menggaji kalian bukan untuk bergosip, tapi untuk kerja...!" tiba- tiba nyonya Hartanto masuk ke dapur dan marah pada ketiga asisten rumah tangganya.
"Ma...maaf nyonya...." bi Ati, Siti dan Marti kaget dengan kedatangan sang majikan dan langsung memarahi mereka.
"Jangan berani bergosip di rumah saya, kalau kalian tidak ingin saya pecat...!" ucap nyonya Hartanto dengan tegas.
"Ba...baik nyonya.... Kami minta maaf..." sahut Bi Ati, Siti dan Marti.
"Ati..."
"Iya nyonya...."
"Buatkan saya teh hangat, dan antar ke kamar saya..." ucap nyonya Hartanto.
"Baik nyonya..." jawab bi Ati.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Bagas yang hendak masuk ke kamar Alvaro menghentikan langkahnya begitu melihat Suzan keluar dari sana.
"Kamu mau apa mas...?'' tanya Suzan sambil menatap lekat wajah Bagas.
"Aku mau bicara sama Alvaro..." jawab Bagas.
"Nggak usah, Alvaro sudah tidur..." jawab Suzan dengan ketus.
Bagas menghela nafas. Iya, Bagas nampak kesal karena semua orang bersikap ketus padanya. Dari mulai Alvaro, sang mama dan juga Suzan.
"Jawab dengan jujur mas, siapa orang yang kamu temui setelah kamu dari toilet...?'' tanya Suzan.
"Apa sih sayang, kan tadi aku sudah jelaskan sama kamu, kalau aku tadi nggak sengaja ketemu sama teman kuliah, dan dia ngajak aku ngopi bareng..." jawab Bagas.
"Tolong jawab jujur mas...." sahut Suzan yang masih terus menatap sang suami.
"Sayang... Maksud kamu apa sih...?'' tanya Bagas.
"Aku merasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu bohong mas...!'' jawab Suzan mulai emosi.
"Maksud kamu apa...? Bohong apa...?" tanya Bagas.
"Kamu pikir aku bodoh mas, dari cara kamu menjawab pertanyaanku saja sudah ketahuan kalau kamu tidak bicara dengan jujur..." jawab Suzan.
"Jadi maksud kamu, kamu curiga, aku berbuat macam- macam...?'' Bagas merasa tidak terima dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Suzan.
"Aku nggak ngerti, kok bisa sih kamu berpikiran seperti itu, kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri...?'' sambung Bagas akhirnya kesal juga pada Suzan.
"Kalau sama suami sendiri saja kamu tidak percaya, lalu kamu mau percaya sama siapa...? hah...?'' Bagas semakin kesal.
Suzan masih diam sambil menatap wajah sang suami.
"Kenapa kamu marah mas...? Kalau kamu memang jujur, ya udah nggak usah marah...." akhirnya Suzan membuka suara.
"Hah...?'' Bagas terkekeh.
"Jadi maksud kamu, aku harus diam saja saat kamu menuduhku bohong...? Begitu...?'' ucap Bagas sambil menggeleng- gelangkan kepalanya.
"Aku nggak menuduh, tapi aku tidak percaya dengan apa yang kamu ucapkan..." sahut Suzan.
"Oh, jadi kamu nggak percaya...? Trus mau kamu apa...? Apa kamu mau mencurigaiku seperti waktu itu...? Atau mungkin kamu akan memata- mataiku dengan memasang aplikasi pelacak di ponselku seperti waktu itu....?" tanya Bagas sambil tersenyum sinis pada Suzan.
Suzan kembali diam. Iya, Suzan tidak menyangka jika sang suami tahu kalau dia pernah memasang aplikasi pelacak di ponselnya untuk memata- matai Bagas, pada saat itu.
"Memangnya aku kurang jujur apa sama kamu...? Setiap hari kita berangkat dan pulang kantor bareng kamu. Ke mana pun aku pergi, aku selalu pamit sama kamu, dan aku selalu pergi bersama dengan Fikri. Tapi kamu masih curiga sama aku. Dan bahkan saat kita pergi bertiga, kamu juga mencurigai aku, dan tidak percaya dengan apa yang sudah aku jelaskan. Mau kamu apa sih....?'' Bagas nampak kesal sekali.
"Mas... Aku...
"Sudahlah, terserah kamu, kamu mau percaya sama aku ataupun tidak, itu hak kamu..." sahut Bagas tanpa memberikan kesempatan Suzan untuk bicara.
Dan bersamaan dengan itu ponsel Bagas berdering menandakan pesan masuk.
"Baby... Kamu di mana...? katanya mau ke aparteman...aku sudah lama nunggu lho... Cepetan ke sini...." pesan dari Casandra.
Bagas kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya setelah membaca pesan dari Casandra.
"Aku pergi dulu, orang bengkel sudah menungguku..." ucap Bagas kemudian pergi begitu saja dari hadapan Suzan.
Iya, pagi tadi sebelum pergi ke mall, Bagas memang sudah bilang pada Suzan bahwa setelah pulang dari mall, dia akan pergi ke bengkel milik temannya.
Suzan menghela nafas sambil menatap kepergian Bagas. Kemudian Suzan mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu di sana dan mengirimkan pada seseorang.
"Apa kamu bisa ikuti suami saya sekarang....? Suamiku pergi ke bengkel langganannya, nanti saya kirimi alamat bengkelnya. Aku curiga suamiku tidak pergi ke bengkel itu,tapi ke tempat lain..." Suzan mengirim pesan ke nomor Tomi.
Bersambung...