Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pintu utama terbuka lebar. Ricki berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat jauh lebih tegang daripada ketika Amira terakhir melihatnya.

Matanya langsung mencari seseorang. Begitu menemukan Amira, langkahnya terhenti.

Amira berdiri tidak jauh dari Kaizar. Pemandangan itu membuat dada Ricki terasa sesak. Perempuan yang selama tiga tahun selalu menyambut kedatangannya dengan senyum kini hanya memandangnya dengan tatapan tenang.

"Mira."

Amira tidak menjawab.

Ricki melangkah mendekat. "Aku ingin bicara denganmu."

Amira melirik Kaizar sekilas, lalu kembali menatap Ricki.

"Tentang apa?"

"Aku dengar kau benar-benar dibawa ke sini."

"Memangnya kenapa?"

Ricki terdiam. Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan kedatangannya. Semalam, setelah mengetahui Amira menerima perjodohan itu, pikirannya tidak tenang. Ia terus membayangkan Amira tinggal di rumah pria yang bahkan tidak dikenalnya.

Pria yang menurut semua orang berbahaya. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja." Jawaban itu terlalu sederhana.

Ricki menatap wajah Amira, seolah mencari tanda bahwa perempuan itu sedang berbohong.

"Kau yakin?"

Amira mengangguk. "Yakin."

Ricki mendekat satu langkah. "Mira, kalau kau tidak nyaman, kau tidak harus bertahan di sini."

Kalimat itu membuat Amira tersenyum hambar. "Kemarin kamu juga yang menyuruhku menerima keadaan."

"Aku tidak bermaksud begitu."

"Tapi itulah yang terjadi."

Ricki menundukkan kepala. "Aku cuma tidak ingin kau mengambil keputusan saat sedang terluka."

"Aku sudah terlalu sering mengambil keputusan berdasarkan keinginan orang lain."

Amira menatapnya lurus. "Kali ini aku ingin menjalani hidupku sendiri."

Ricki tidak bisa berbuat apa-apa, sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa dirinya masih peduli. Ingin mengatakan bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar berhenti memikirkan Amira. Tetapi semua kalimat itu terasa terlambat.

Di sisi lain, Kaizar sejak tadi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memperhatikan keduanya. Semakin lama Ricki berdiri di hadapan Amira, semakin tidak nyaman perasaan yang muncul di dalam dirinya.

Ketika Ricki tersenyum kepada Amira, rahang Kaizar mengeras dan saat Ricki bertanya apakah Amira sudah sarapan, entah kenapa Kaizar merasa terganggu. Bahkan saat Ricki memanggilnya dengan nama yang begitu akrab—

"Mira."

Kaizar merasa ingin menyela. Perasaan itu datang begitu saja. Tanpa alasan yang masuk akal. Padahal ia baru mengenal Amira. Mereka bahkan belum menikah. Lalu mengapa ia merasa seolah-olah keberadaan laki-laki itu mengusiknya?

Ricki kembali menatap Amira. "Aku bisa membawamu pulang kalau kau mau."

Amira menggeleng. "Aku tidak mau pulang."

Jawaban itu membuat Ricki terpaku."Karena dia?"

Ricki melirik Kaizar lalu Amira ikut menoleh.

"Karena aku sendiri yang memilih untuk tetap di sini."

Kaizar menatap Amira. Ada sesuatu dalam jawaban perempuan itu yang membuat dadanya terasa sedikit lega. Ia sendiri tidak mengerti kenapa.

Sementara Ricki menarik napas panjang. "Kalau begitu... aku pergi."

Amira hanya mengangguk. "Silakan."

Ricki menatapnya beberapa detik. Seolah masih berharap perempuan itu akan menahannya. Tetapi Amira tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya Ricki berbalik. Sebelum melangkah keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.

Tatapannya bertemu dengan Kaizar.Tidak ada kata-kata di antara keduanya. Tetapi ada sesuatu yang terasa seperti peringatan. Kaizar hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Pintu utama akhirnya tertutup. Dan Ricki pergi dengan penyesalannya

Entah kenapa... melihat pria tadi Kaizar justru merasa semakin kesal. Ia memutar kursi rodanya menuju ruang makan.

Sementara Amira mengikutinya. "Kamu marah?"

"Tidak." Jawabannya terlalu cepat.

Amira mengernyit. "Kelihatannya marah."

"Aku tidak marah."

"Kalau begitu kenapa wajahmu seperti orang yang sedang marah?"

Kaizar menatapnya. "Aku memang seperti ini."

Amira hampir tertawa. "Baiklah."

Akhirnya Amira duduk di kursinya. Kaizar pun juga ikut duduk di tempatnya. Pagi ini sarapan sudah tersedia di atas meja, tetapi Kaizar tidak langsung menyentuhnya.

Pikirannya masih tertuju pada Ricki. Laki-laki itu mengenal Amira selama tiga tahun. Tahu apa yang disukainya, kebiasaannya dan tahu bagaimana membuatnya tersenyum, sedangkan dirinya baru semalam dan semua itu mengganggu pikirannya.

Kaizar mengusap wajahnya dengan tangan yang masih bisa digerakkan bebas.

Apa-apaan ini?

Ia bahkan belum mengenal perempuan itu dengan baik. Kenapa kehadiran seorang pria dari masa lalunya bisa membuat suasana hatinya berubah?

Kaizar mengambil gelas di hadapannya. Tangannya berhenti sebelum menyentuh bibir gelas.

"Benar-benar mengganggu."

Amira menoleh. "Siapa?"

Kaizar baru sadar ia mengucapkannya keras-keras. "Tidak ada."

Amira memandangnya beberapa detik. "Kalau memang kamu marah padaku bilang?"

"Enggak, aku gak marah padamu, hanya saja..." Kaizar tidak melanjutkan ucapannya.

Sementara Amira hanya menatap wajah pria dingin itu, entah kenapa melihat Kaizar uring-uringan sudut bibirnya mulai terangkat tipis.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Tidak sampai satu jam kemudian, mobil Ganjar berhenti di depan rumah Kaizar. Ia turun dengan wajah penuh kemarahan. Menurutnya, Amira sudah keterlaluan. Sudah dijodohkan dengan Kaizar, masih saja bertemu dengan Ricki.

Ganjar masuk tanpa banyak basa-basi. “Aku ingin bertemu Amira.”

Seorang pengurus rumah menatapnya ragu. “Tuan, apakah Anda sudah membuat janji?”

“Aku ayahnya.”

Belum sempat perempuan itu menjawab, suara roda kursi terdengar dari arah ruang tengah.

Kaizar muncul. Tatapannya langsung jatuh kepada pria yang sudah dikenalnya itu.

“Tuan Wijaya.”

Ganjar sedikit mengangkat dagu. “Tuan Kaizar.”

Mereka bukan orang asing. Ganjar sudah beberapa kali bertemu dengan Kaizar dalam urusan bisnis keluarga Abraham, terlebih sejak pembicaraan mengenai perjodohan Amira dimulai.

Kaizar menghentikan kursi rodanya beberapa meter di hadapan Ganjar.

“Ada keperluan apa?”

“Aku datang untuk menemui Amira.”

“Untuk apa?”

Ganjar menahan kesal. “Ada masalah yang harus saya selesaikan dengan anak saya.”

Kaizar menatapnya beberapa detik. “Masalah apa?”

“Amira bertemu dengan Ricki.”

Nada suara Ganjar meninggi. “Saya ingin tahu kenapa dia masih menemui pria itu setelah menerima perjodohan dengan Anda.”

Kaizar diam. Ada sesuatu dalam dadanya yang kembali terasa panas. Kali ini bukan sekadar rasa terganggu. Ia marah bukan kepada Amira. Melainkan kepada pria yang berdiri di hadapannya.

“Anda datang ke rumah saya untuk memarahi calon istri saya?”

Ganjar terdiam. “Saya ayahnya."

"Lalu, apa anda bisa seenaknya datang ke rumahku? Amira sudah lama menanggung luka karena perbuatan anda."

Ganjar menatapnya tidak percaya.

“Jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak Anda ketahui.”

“Saya tahu cukup banyak,” jawab Kaizar tenang. “Termasuk alasan Anda menjodohkan Amira dengan saya.”

Ia maju sedikit dengan kursi rodanya. Tatapan Kaizar berubah tajam. “Ketika keluarga Anda menyerahkan putrinya kepada saya demi menyelamatkan bisnis, kalian tidak memikirkan nama baiknya.”

Ganjar membeku. “Jangan ikut campur urusan keluarga saya.”

“Justru sejak Anda menyerahkan Amira kepada saya, urusan itu sudah sampai di depan pintu rumah saya.”

Kaizar berhenti tepat di hadapan Ganjar. “Dan selama dia berada di sini, tidak ada seorang pun yang datang untuk memperlakukannya seperti barang yang bisa dipindahkan sesuka hati.”

Wajah Ganjar memerah. “Saya hanya ingin menegurnya!”

“Kalau begitu, pulang.”

Kaizar menatapnya tanpa berkedip. “Di rumah saya, Anda tidak berhak membentak Amira.”

Ganjar terdiam. Untuk kali ini ia menyadari bahwa pria yang selama ini ia dengar begitu kejam itu bukan orang yang bisa ia tekan seperti Amira.

Dan di lantai atas... Amira berdiri membeku.

Ia mendengar semuanya hatinya bergetar cukup hebat bukan karena sedih akan tetapi selama hidup ada seseorang yang berdiri di hadapannya ketika ayahnya datang untuk menyalahkannya.

Bukan karena kasihan tapi Kaizar melakukannya karena satu alasan sederhana.

Amira adalah orang yang berada di rumahnya.

Dan entah mengapa, alasan sederhana itu terasa begitu berarti.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!