Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Bayangan di Ujung Jurang

Udara dingin yang menusuk tulang tiba-tiba berhembus kencang, menerbangkan helai rambut Lin Meiying yang basah oleh keringat dingin. Di hadapannya, pria asing berwajah paruh baya dengan parut tipis di pelipis itu berdiri tegak, memancarkan aura ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri seketika. Lorong gang sempit di sisi gedung tua itu mendadak terasa begitu menyesakkan, seolah dinding-dinding beton di kiri dan kanan mereka merapat untuk mengurungnya dalam perangkap mematikan. Jantung Meiying berdegup kencang menghantam tulang rusuknya, menciptakan irama panik yang menderu-deru di dalam telinganya.

Ia baru saja mengira bahwa bayangan mantel hitam di depannya akan membawa pada sosok yang selama ini ia rindukan—pada kehangatan aroma mahoni milik Lu Jingyan atau kenangan tentang mendiang suaminya, Chen Guowei. Namun, kenyataan pahit menyergapnya dengan kejam; sosok itu bukanlah pelindungnya, melainkan pion asing dari sisa-sisa bayangan kelam masa lalu yang belum sepenuhnya musnah. Jemarinya yang menggenggam kantong kertas berisi buku novel pertamanya bergetar hebat, sementara matanya menatap tajam amplop cokelat berstempel rahasia yang terulur di hadapannya.

"Siapa sebenarnya kalian?" suara Meiying bergetar keras, berusaha mempertahankan sisa-sisa keberaniannya di tengah kepungan rasa takut yang melumpuhkan. Ia melangkah mundur setengah langkah, menolak untuk menerima amplop tersebut. "Aku tidak kenal dengan siapa pun yang kalian sebut sebagai tuan besar. Pergi dari sini, atau aku akan berteriak memanggil petugas keamanan!"

Pria berparut tipis itu mendengus sinis, senyuman dingin terukir di bibirnya yang kering. Tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya mendengar ancaman Meiying. Ia melangkah maju perlahan, mempersempit jarak di antara mereka, membuat bau apak bercampur aroma besi tua semakin pekat tercium di udara sempit itu. Gerakan pria tersebut sangat terkontrol, menyiratkan pengalaman bertahun-tahun dalam dunia intrik korporasi yang kejam dan tidak kenal ampun.

"Berteriaklah sekeras yang kau bisa, Nyonya Meiying," ujar pria itu dengan nada suara serak yang merendah, bernada mengancam namun tenang. "Di lorong belakang gedung arsip tua ini, suara tangisan atau teriakan putus asa tidak akan pernah sampai ke telinga siapa pun. Terutama tidak kepada pelindung setiamu—Sekretaris Han atau bayangan direktur muda yang selama ini mengira dirinya telah membersihkan seluruh kotoran keluarga Lu."

Mendengar nama Lu Group dan Sekretaris Han disebut secara terbuka, mata Meiying membelalak lebar. Aliran darahnya mendadak terasa dingin. Jadi, orang-orang ini tahu segalanya tentang kehidupannya, tentang yayasan perwalian, tentang rumah kontrakannya, dan tentang perlindungan rahasia yang ia terima selama ini. Rasa amarah bercampur ketakutan bergejolak hebat di dalam dadanya; kehidupan damai yang baru saja ia bangun bersama putrinya ternyata masih diintai oleh duri-duri beracun yang belum tercabut sampai ke akar-akarnya.

"Apa mau kalian?" desis Meiying tajam, menepis rasa gentarnya dengan sorot mata penuh perlawanan. Sebagai seorang wanita yang telah kehilangan segalanya lalu bangkit kembali melalui goresan pena, ia tidak lagi bersedia direndahkan atau diancam begitu saja. "Jika kalian mengira aku bisa diintimidasi dengan amplop murahan ini untuk merusak nama baikku atau menjatuhkan yayasan, kalian salah besar!"

Pria paruh baya itu tidak langsung menjawab. Ia membuka amplop cokelat tersebut sedikit, memperlihatkan tumpukan lembaran foto lama dan dokumen cetak digital yang memuat potret masa lalu Chen Guowei, bersama dengan catatan investigasi rahasia mengenai kecelakaan kerja di proyek lantai 35 setahun lalu. Dokumen-dokumen itu bukan sekadar salinan biasa, melainkan arsip asli yang memuat tanda tangan rahasia para petinggi dewan komisaris senior yang belum sempat terseret ke dalam kasus penangkapan Zhao Tianming dan Haryanto.

"Kau pikir kejatuhan Zhao Tianming dan Haryanto sudah menyelesaikan segalanya?" pria itu tertawa pelan, suara tawanya terdengar hampa dan mengerikan di dinding lorong. "Mereka berdua hanyalah pion-pion kecil yang dikorbankan untuk menyelamatkan kepala utama. Tuan besar kami di balik layar adalah orang yang merancang seluruh fondasi kekuasaan keluarga Lu sejak puluhan tahun lalu. Dan sekarang, melalui penerbitan buku novel best-seller pertamamu yang berjudul Bayang-Bayang Mahoni, kau secara tidak sadar telah membuka kembali kotak Pandora yang berisi rahasia kematian suamimu."

Meiying tertegun hebat. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Novelnya—Bayang-Bayang Mahoni—yang baru saja dipajang di etalase toko buku pagi ini ternyata memuat detail-detail investigasi fiksi yang sangat mirip dengan kenyataan kelam pembunuhan Guowei. Pihak musuh lama mengira bahwa novel itu adalah bentuk ancaman terbuka atau pesan terselubung yang sengaja dikirimkan oleh faksi internal Lu Group untuk menyerang mereka kembali.

"Aku menulis cerita itu murni dari imajinasi dan kepedihanku sendiri!" sergah Meiying tegas, suaranya meninggi mencerminkan gejolak emosi yang tak tertahankan. "Aku bukan ancaman bagi kalian! Pergilah!"

"Bagi kami, kau adalah saksi hidup yang memegang kunci kebenaran terakhir," potong pria berparut itu cepat, tatapannya menajam. Ia melemparkan amplop cokelat itu tepat ke kaki Meiying. "Tuan besar kami memberikan dua pilihan mutlak kepada Anda, Nyonya Lin Meiying. Pertama, tandatangani surat pernyataan di dalam amplop ini yang menyatakan bahwa seluruh isi novel Anda adalah fiktif belaka dan hentikan peredaran buku tersebut secara sukarela. Atau pilihan kedua... saksikan bagaimana putri kecilmu, Chen Anqi, mengalami kecelakaan tragis di gerbang sekolahnya sore ini."

Ancaman itu menghantam jiwa Meiying bagaikan sambaran petir di siang bolong. Seluruh darah di tubuhnya seolah tersedot turun ke lantai. Menyebut nama putrinya—Anqi—sebagai alat pemerasan adalah garis merah terlarang yang membangkitkan insting keibuan paling buas di dalam diri Meiying. Seketika itu pula, rasa takutnya lenyap sepenuhnya, digantikan oleh amarah membara yang membakar setiap sel saraf di tubuhnya. Ia menolak tunduk pada teror rendahan seperti itu.

Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Meiying membungkuk cepat, bukan untuk mengambil amplop itu, melainkan untuk meraih sebuah pecahan batu bata merah yang tergeletak di dekat tumpukan sampah lorong. Dengan napas memburu dan air mata kemarahan yang menggenang di pelupuk matanya, ia bangkit berdiri, menatap tajam pria berparut tipis itu tanpa secercah pun rasa gentar.

"Jika kalian berani menyentuh sehelai rambut Anqi..." suara Meiying bergetar dahsyat, namun mengandung ketegasan mutlak yang membuat pria asing itu sedikit terkesiap mundur, "aku akan memastikan seluruh dunia mengetahui kebusukan kalian, bahkan jika aku harus membakar diri di depan gerbang menara Lu Group!"

Pria paruh baya itu menyipitkan matanya, terkejut melihat keberanian luar biasa yang ditunjukkan oleh wanita yang sebelumnya tampak rapuh. Ia memberi isyarat kepada dua orang pengawal bertubuh kekar yang sejak tadi bersembunyi di balik tikungan lorong untuk segera maju dan meringsek menangkap Meiying.

Dalam hitungan detik, kedua pria berbadan besar itu melangkah cepat menerjang ke arah Meiying, mengabaikan perlawanannya. Meiying meronta hebat, memukul dan menendang dengan sisa tenaga yang ia miliki, namun tenaganya tentu tidak sebanding dengan dua preman profesional tersebut. Kantong kertas berisi buku novel pertamanya terlepas dari genggamannya, jatuh berserakan di atas lantai semen yang kotor, sementara salah satu pengawal mencengkeram kedua lengan Meiying dengan kasar ke belakang tubuhnya.

"Lepaskan aku! Bajingan!" teriak Meiying histeris, meronta-ronta sekuat tenaga hingga napasnya sesak.

Pria berparut tipis itu berjalan mendekat, mengambil amplop dokumen dari lantai, lalu tersenyum dingin sambil mengeluarkan sebatang jarum suntik kecil dari dalam saku mantelnya. "Maafkan kami, Nyonya Meiying. Ketegaranmu sangat mengagumkan, tapi dunia ini tidak pernah ramah pada orang-orang yang terlalu tahu banyak."

Jarum suntik itu berkilau di bawah temaram cahaya redup lorong. Meiying membelalakkan matanya ngeri saat melihat ujung jarum tersebut mendekat ke arah lengannya. Ia berteriak sekuat tenaga, memanggil nama putrinya di dalam hatinya yang paling dalam, merelakan takdir jika memang hari ini adalah batas akhir hidupnya.

Tiba-tiba, sebelum jarum itu sempat menembus kulit lengannya, suara dentuman keras yang memekakkan telinga bergemuruh dari arah luar lorong gang.

Brak!

Dinding bata di sisi kiri lorong mendadak jebol dalam satu hantaman brutal. Kepulan debu beton dan serpihan batu beterbangan memenuhi udara. Dari balik kabut debu yang pekat, sesosok bayangan tinggi berjas hitam legam melangkah masuk dengan kecepatan kilat. Aroma khas parfum mahoni yang sangat pekat dan familier langsung menghantam indra penciuman Meiying, memenuhi seluruh ruang sempit tersebut.

Belum sempat pria berparut tipis itu menyadari apa yang terjadi, bayangan berjas hitam itu sudah menerjang maju. Dalam satu gerakan tangan yang sangat cepat dan terlatih, pria misterius tersebut melayangkan tendangan telak ke dada pengawal yang mencengkeram Meiying, membuat tubuh pria berbadan besar itu terpental jauh menabrak dinding beton hingga pingsan seketika.

Pengawal kedua yang memegang jarum suntik mencoba berbalik menyerang, namun pergelangan tangannya dipelintir dengan kekuatan brutal hingga jarum itu terlepas dan patah berkeping-keping di lantai. Pria itu mengerang kesakitan sebelum sebuah hantaman siku telak di rahangnya membuatnya jatuh terkapar tak berdaya.

Pria berparut tipis itu terperanjat ketakutan, wajahnya pucat pasi. Ia mundur terbirit-birit hingga terjatuh terduduk di atas tumpukan sampah, menatap sosok pria berjas hitam yang kini berdiri tegak di hadapannya.

Melalui sisa-sisa kabut debu yang perlahan menipis, Lin Meiying yang terduduk lemas di lantai mengangkat kepalanya dengan napas tersenggap-senggap. Matanya membelalak lebar, menatap punggung tegap pria berjas hitam yang berdiri melindunginya. Di bawah temaram cahaya pagi, postur tubuh itu, garis rahang yang tegas, dan aroma mahoni yang memenuhi udara... semuanya teramat sangat nyata, menghancurkan seluruh benteng logika yang selama ini ia bangun.

Pria berjas hitam itu perlahan membalikkan tubuhnya. Ia berlutut satu kaki di hadapan Meiying, menatap wanita itu dengan sorot mata yang basah oleh genangan air mata dan cinta yang teramat dalam.

"Kau... tidak apa-apa?" suara berat dan serak itu berbisik lembut, memanggil namanya dengan intonasi yang hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini—pria yang seharusnya telah tiada di bawah reruntuhan besi setahun lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!