Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kopi dengan Masa Lalu

Hari pertemuan dengan Fajar tiba lebih cepat dari yang Kirana harapkan. Ia berdiri di depan cermin kamarnya berkali-kali, mengganti pakaian tiga kali sebelum akhirnya memutuskan mengenakan sesuatu yang sederhana namun rapi—bukan untuk mengesankan siapa pun, hanya agar ia merasa cukup percaya diri menghadapi percakapan yang sudah lama tertunda ini.

Kedai kopi yang dipilih Fajar terletak di pusat kota, tempat yang cukup ramai namun masih memungkinkan percakapan pribadi. Kirana tiba lebih dulu, memilih meja di sudut yang agak tersembunyi, jantungnya berdebar kencang menunggu kedatangan pria yang dulu pernah menjadi calon suaminya.

Fajar muncul beberapa menit kemudian, penampilannya jauh berbeda dari yang Kirana ingat—lebih matang, mengenakan setelan bisnis kasual yang mencerminkan kariernya sebagai konsultan investasi. Namun senyumnya, saat melihat Kirana, masih sama seperti dulu—hangat, meski kini tersimpan sesuatu yang lebih kompleks di baliknya.

"Kirana," sapanya, duduk di seberang meja. "Kau terlihat... berbeda. Dalam artian baik."

"Kamu juga," Kirana menjawab, mencoba tersenyum meski gugup. "Terima kasih sudah mau bertemu."

"Aku yang seharusnya berterima kasih," Fajar menjawab, memesan kopi sebelum melanjutkan. "Aku sudah lama ingin bicara denganmu, sejak kau menghilang begitu saja delapan tahun lalu."

Kalimat itu, meski diucapkan tanpa nada menuduh, tetap menohok Kirana. "Aku minta maaf soal itu, Fajar. Cara aku mengakhiri semuanya waktu itu sangat tidak adil bagimu."

Fajar menghela napas, menatap cangkir kopinya yang baru datang. "Aku marah waktu itu, jujur saja. Berbulan-bulan aku mencoba menghubungimu, mencari tahu apa yang terjadi, tapi kau seperti menghilang dari muka bumi. Butuh waktu lama bagiku untuk akhirnya menerima bahwa kau memang tidak ingin ditemukan."

"Itu bukan soal kamu," Kirana mencoba menjelaskan, suaranya bergetar. "Waktu itu, aku baru saja tahu rahasia besar keluargaku, dan aku terlalu hancur untuk memikirkan siapa pun selain diriku sendiri. Aku tahu itu egois, tapi aku benar-benar tidak sanggup menghadapi apa pun yang berhubungan dengan kota ini, termasuk hubungan kita."

Fajar mengangguk pelan, mencerna penjelasan itu. "Aku dengar sedikit soal keluargamu dari beberapa kenalan bisnis di sini. Soal ayahmu yang sakit, soal... kakak baru yang muncul."

Kirana sedikit terkejut mendengar Fajar sudah tahu soal Denis. "Berita cepat sekali menyebar."

"Kota ini tidak sebesar itu," Fajar tersenyum tipis. "Dan mengingat pekerjaanku, aku cukup sering mendengar gosip seputar bisnis keluarga-keluarga di sini."

Percakapan mereka mengalir dengan lebih ringan setelahnya, membicarakan berbagai hal—bagaimana karier masing-masing berkembang, perubahan yang terjadi di kota selama delapan tahun terakhir, hingga kenangan-kenangan lama yang kini terasa lebih seperti nostalgia dibanding luka.

"Aku senang kita bisa bicara seperti ini," Kirana akhirnya berkata, merasakan beban bersalah yang selama ini ia pikul mulai sedikit berkurang. "Aku merasa aku berhutang penjelasan padamu sejak lama."

"Aku menghargai itu," Fajar menjawab tulus. "Meski jujur saja, ada bagian dari diriku yang berharap ini bisa lebih dari sekadar penutupan."

Kata-kata itu membuat Kirana terdiam, tidak yakin harus merespons apa. "Fajar, aku—"

"Aku tahu," Fajar cepat memotong, mengangkat tangan. "Aku dengar kau sudah dekat dengan seseorang. Dokter yang menangani ayahmu, kalau tidak salah."

Kirana mengangguk, sedikit heran betapa banyak yang sudah diketahui Fajar. "Raka. Kami teman masa kecil yang baru bertemu lagi."

"Aku senang untukmu," Fajar berkata, meski matanya menunjukkan sesuatu yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kata-katanya. "Kau pantas bahagia, Kirana. Setelah semua yang kau lalui."

Mereka melanjutkan percakapan sejenak sebelum akhirnya Fajar melirik jam tangannya. "Aku ada pertemuan bisnis sebentar lagi. Tapi aku senang kita akhirnya bisa bicara seperti ini."

"Aku juga," Kirana tersenyum tulus. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk menjelaskan, meski terlambat delapan tahun."

Sebelum beranjak, Fajar ragu sejenak. "Kirana, boleh aku bertanya sesuatu? Perusahaan tempatku bekerja sedang meninjau beberapa peluang investasi di kota ini. Kebetulan, nama PT Wijaya Sejahtera muncul sebagai salah satu kandidat menarik. Apa kau tahu banyak soal kondisi bisnis keluargamu saat ini?"

Pertanyaan itu, meski terdengar profesional, membuat kewaspadaan Kirana tiba-tiba muncul. "Kenapa kau bertanya itu?"

"Hanya rasa ingin tahu profesional," Fajar menjawab cepat, meski Kirana menangkap sedikit keraguan di nada suaranya. "Lupakan saja, ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan bisnis. Aku hanya senang bisa bertemu denganmu lagi, Kirana."

Mereka berpisah dengan janji samar untuk mungkin bertemu lagi di lain waktu, meski Kirana pulang dengan pikiran yang lebih kacau dari sebelum pertemuan itu dimulai—bukan hanya karena perasaan campur aduk soal Fajar, tapi juga karena pertanyaan terakhirnya soal perusahaan keluarga yang entah kenapa terasa tidak sepenuhnya kebetulan.

Di perjalanan pulang, Kirana tidak bisa mengabaikan firasat bahwa kemunculan Fajar kembali dalam hidupnya mungkin bukan sekadar kebetulan sentimental semata, melainkan berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih rumit dan berpotensi berbahaya bagi keluarganya.

Ia menyetir dengan pikiran yang melayang jauh, mengulang kembali setiap kalimat yang diucapkan Fajar, mencoba mencari petunjuk apakah pertanyaannya soal perusahaan keluarga hanya rasa ingin tahu biasa atau sesuatu yang lebih terencana. Semakin ia memikirkannya, semakin banyak detail kecil yang terasa janggal—caranya Fajar tampak sudah tahu banyak soal situasi keluarga Kirana, caranya ia menyebut nama PT Wijaya Sejahtera dengan begitu spesifik seolah sudah mempelajarinya sebelumnya.

Sesampainya di rumah, Kirana duduk sebentar di mobil sebelum masuk, mencoba menenangkan pikirannya. Ia tahu ia perlu bicara dengan Sari secepatnya, namun juga menyadari bahwa mengungkapkan kecurigaan ini berarti harus menjelaskan seluruh pertemuannya dengan Fajar, termasuk sisi personal yang masih terasa canggung untuk dibicarakan secara terbuka.

Malam itu, sebelum tidur, ia membuka kembali percakapannya dengan Fajar di ponsel, membaca ulang setiap kalimat dengan lebih cermat. Ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—bagaimana Fajar begitu santai menyebut nama perusahaan keluarganya di tengah percakapan yang seharusnya personal, seolah topik itu sudah lama ia siapkan untuk ditanyakan pada momen yang tepat.

Kirana menutup ponselnya, memutuskan untuk menunggu sampai pagi sebelum membicarakan kekhawatirannya dengan Sari, berharap tidur semalam bisa memberinya perspektif yang lebih jernih untuk menghadapi apa pun yang mungkin sedang berkembang di balik kemunculan kembali Fajar dalam hidupnya.

Namun tidur malam itu tidak sepenuhnya mudah baginya. Ia terjaga beberapa kali, pikirannya terus memutar kembali setiap detail pertemuan tadi—cara Fajar tersenyum saat menyebut nama perusahaan, jeda kecil sebelum ia mengoreksi ucapannya sendiri, semua terasa seperti kepingan puzzle yang belum sepenuhnya tersusun.

Ia juga tidak bisa mengabaikan perasaan bersalah yang menyelinap setiap kali memikirkan reaksi Raka jika mengetahui ia telah bertemu Fajar tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Bukan karena ada yang disembunyikan dengan sengaja, melainkan karena situasinya berkembang begitu cepat sehingga ia belum sempat menemukan momen yang tepat untuk bercerita.

Menjelang subuh, ia akhirnya memutuskan bahwa esok pagi, ia akan bicara dengan Sari terlebih dahulu untuk memastikan kecurigaannya beralasan, sebelum memutuskan bagaimana dan kapan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Raka.

---

*Bersambung ke Bab 28...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!