Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni yang memuakkan

Malam itu Naya dan Azarin memutuskan untuk curhat bersama dan saling tukar cerita dari hati ke hati satu sama lain.

Sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 malam. Azarin lantas bangun, memasukkan handphone ke dalam tas.

"Nay, aku pulang dulu yah."

Naya ikut bangkit seraya mengangguk kecil. Ia rapihkan kantung kresek yang berjejer di atas meja, membawanya menuju dapur untuk dimasukkan ke dalam kulkas. Sementara Azarin berjalan ke kamar untuk menggendong Mia, hendak membawanya pulang.

Mereka berdua berpapasan di pintu kamar dan dapur yang saling berdampingan.

"Nay, aku pulang dulu."

Temannya mengangguk seraya tersenyum tipis, ia tepuk bahu Azarin lembut.

"Makasih banyak yahh udah dengerin curhatan ku, Rin."

Azarin balas menepuk bahu Naya pelan, "Kaya sama siapa aja?"

Ia pun berpamitan pada pemilik rumah, menggendong Mia yang terlelap kembali, sementara satu tangannya membawa kantung kresek besar.

"Mau aku bantu ngga? Kek nya ribet banget." tanya Naya.

Azarin meringis kecil saat tangannya terasa kebas megang ini itu. Ia tatap Naya seraya menjatuhkan kantung kresek itu di depan sahabatnya.

"Titip lah yah, berat banget."

Naya terkekeh, "Ya berat lah, anak mu aja bobotnya dah berapa."

Azarin tertawa kecil, "Bener juga."

Akhirnya ia hanya membawa Mia pulang, sementara belanjaannya yang lain ditinggal di rumah Naya.

Azarin berjalan menyusuri 3 rumah menuju blok kontrakan miliknya. Baru saja membuka pintu, handphone miliknya berdering.

Kening Azarin mengerut. Ia membawa Mia lebih dulu ke kamar. Membaringkannya pelan, lalu keluar dari sana untuk mengangkat telefon.

Azarin tutup kamar putrinya pelan, "Hallo, tante. Ada apa?"

"Azarin...Dean Azarin!"

Bola mata Azarin berubah kosong. Dadanya berdegup kencang. Tubuh yang semula baik-baik saja langsung meremang.

"Ma-Mas Dean kenapa, tante?" lirihnya gemetar.

Terdengar tangis Nyonya Diana melengking dibalik telefon. Ia juga mendengar suara seperti mesin monitor berdenting.

"Dean kecelakaan, Azarin!"

Tubuh wanita langsung mematung, ambruk seketika, tatapannya berubah kosong, mulai berkaca-kaca.

Azarin tutup mulutnya agar tidak bersuara, berjalan cepat menuju pintu keluar.

Azarin berlari menuju rumah Naya saat itu juga. Ia gebrak pintu kontrakan Naya cepat. Temannya yang hendak membaringkan tubuh pun jadi urung. Berjalan sedikit tergesa menuju pintu utama.

"Azarin kamu kenap—"

"Naya aku bisa titip Mia lagi?!" seru Azarin menangis gemetaran.

Naya yang semula ngantuk pun langsung hilang. Bola matanya melebar, ikut panik.

"Kenapa kenapa?!"

Azarin tutup mulutnya yang ingin berteriak, menangis tertahan.

"Mas Dean! Mas Dean hiks. Mas Dean kecelakaan!"

Membola langsung bola mata Naya. Padahal baru tadi Azarin bercerita tentang Dean yang begitu perhatian padanya. Sekarang takdir seolah mengolok kembali.

Naya segera keluar dari kontrakan. Berlari menuju kontrakan Azarin untuk membawa Mia kembali ke kontrakan Naya.

"Dah soal Mia kamu gaperlu khawatir, Azarin. Tapi kamu gapapa pergi ke rumah sakit jam segini sendirian?" tanya Naya tampak cemas.

Azarin mengangguk antusias, "Gapapa, Nay. Aku pergi dulu." yang langsung diangguki oleh temannya itu.

Naya tatap pias Azarin yang kembali berlari ke kontrakannya. Mungkin tetangga kontrakan ada yang melongok dari jendela karena kepo dengan kehebohan mereka sedari tadi. Apa lagi 3 rumah yang diapit rumah Azarin dan Naya.

Azarin segera mengeluarkan motor beat dari dalam kontrakan. Bersiap menuju rumah sakit. Baru saja meng-stater motor, bensin malah habis. Azarin pukul stang motor kesal.

"Arghhh! Kenapa disaat genting kaya gini malah abis sih!"

Ia pun terpaksa mendorong motor hingga ke warung yang masih buka. Untung saja tinggal di perkotaan, jadi mudah mencari warung buka.

"Mang beli bensin satu liter!"

Sang penjual segera keluar, ia ambil botol eceran yang tertata di rak bensin samping jalan, membuka jok motor Azarin untuk mengisi bensin motornya.

"Berapa mang?"

"Lima belas ribu, neng."

Azarin melotot, pergerakan tangannya merogoh tas terhenti, "Buset mahal banget!"

"Ya gimana neng, sekarang ambil bensin di pom dipersulit. Untuk aja masih bisa ke beli."

Naya menghela nafas panjang, mau protes, tapi perkotaan. Kalau di tempat nenek buyutnya di kampung dulu paling 12 ribu. Pun kayaknya sekarang naik jadi 13 ribu.

Tanpa fikir panjang lagi, Azarin langsung melajukan motornya bak menantang maut, membelah jalan besar yang masih tampak ramai di jam segitu.

Dadanya berkecamuk seraya menatap fokus ke jalanan. Satu belokan lagi, ia akan melihat puncak gedung rumah sakit Dharma Medika.

"Itu dia!"

Tanpa fikir panjang Azarin langsung menuju ke dalam, handphone nya tak pernah lepas di telinga, masih menghubungi Nyonya Diana.

Sesampainya di sana, Dean sudah di pindah dari ruang ICU ke ruang rawat.

"Tante!"

Azarin segera berlari ke dalam. Mendengar calon menantunya masuk wanita itu lantas menoleh, berlari memeluk Azarin erat.

"Hikss....Dean Azarin...!" serunya sesegukan.

Azarin tatap Dean yang masih tergeletak di atas brangkar. Mengelus bahu Nyonya Diana lembut.

"Tenanglah, Tante. Mas Dean pasti siuman." hiburnya menenangkan.

Akhirnya Azarin menginap semalaman di samping ranjang Dean, menunggunya siuman. Sampai esok harinya pria itu mulai muncul tanda-tanda siuman.

"Papa....!"

Azarin dan Nyonya Diana terbangun dari tidurnya subuh-subuh hari saat Mia, putri mereka berlari ke arah brangkar. Bersama Naya yang menggandeng tangan Azril di samping.

"Miaa..." lirih Azarin, meraih tubuh putrinya yang menangis, mengangkat dan mendudukkannya di pangkuan.

Sementara Nyonya Diana bangkit perlahan dari tidurnya, mengucek matanya perlahan. Melihat ada orang lain datang wanita tua itu segera berdiri, menyambutnya dengan ramah.

"Ini teman kamu, Azarin?" tanya Nyonya Diana tersenyum sumringah.

Azarin mengangguk kecil, "Iya tante, namanya Naya."

"Salam, Tante." Naya cium tangan Nyonya Diana hormat.

Nyonya Diana mengangguk kecil. Lalu hal yang mengejutkan terjadi. Saat tiba-tiba pintu ruangan Dean terbuka, dan memunculkan dua orang pria yang tak lain adalah Fajar dan Gani.

Mereka berdua terkejut bersamaan melihat mantan suami masing-masing masuk. Begitu juga dengan Fajar dan Gani.

"Akhirnya kamu datang juga, Fajar, Gani." seru Nyonya Diana berlari ke arah mereka berdua memeluknya erat.

Bengong langsung Naya dan Azarin disitu.

"Sejak kapan Nyonya Diana dekat dengan mereka berdua?!"

Naya segera menarik Azril ke dalam pelukannya. Begitu juga dengan Azarin. Mereka berdua langsung waspada dengan dua pejantan di ujung sana.

Nyonya Diana berbalik seraya menarik tangan dua orang yang belum lama ini dekat dengan putranya.

"Azarin, Naya, kenalin ini Fajar sama Gani, temannya Dean. Mereka sering berkunjung ke rumah Tante lho. Hihi."

Fajar tatap wajah Azarin ragu-ragu, terkekeh kikuk. Begitu juga dengan Gani yang langsung disambut delikan sengit Naya.

"Ha-hallo." sapa pria itu merunduk.

Nyonya Diana tidak tau saja. Mereka lebih dari sekedar saling mengenal, dan cukup rumit hubungannya.

Nyonya Diana hanya tau Fajar dan Gani adalah teman kuliah Dean dulu. Sebatas itu. Terus lost contact saat Dean ke luar negeri. Barulah beberapa bulan lalu mereka bertiga sering berkumpul dan bertemu.

Azarin dan Naya putar bola mata kompak. Berdecih sinis. Membuat Gani dan Fajar makin kikuk lagi, merunduk menghindari tatapan mata dengan dua betina ganas di depan sana.

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!