JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Perlindungan di Balik Dinding Markas
Deru knalpot rombongan motor gede milik faksi Black Cobra perlahan-lahan mulai meredup dan mati total seiring dengan bergesernya gerbang besi luar markas utama yang menutup rapat dari dalam. Eksan melompat turun dari atas jok motor gede hitam pekat kesayangannya dengan sedikit meringis kasar, menahan rasa perih luar biasa yang mendadak kembali membakar ulu hati dan perut bagian kirinya. Aksi patroli konfrontasi taktik di sepanjang garis perbatasan jembatan layang menghadapi faksi White Tiger tadi pagi rupanya telah memeras habis sisa-sisa tenaga fisiknya yang belum pulih total pasca operasi darurat kemarin subuh.
Tanpa memedulikan tatapan penuh rasa hormat sekaligus cemas dari Raka dan belasan anak buah intinya di halaman gudang kontainer, Eksan melangkah tegas menaiki satu per satu anak tangga besi menuju kamar atas markas. Fokus utama seluruh indra kehidupannya saat ini hanya tertuju pada satu nama pasti: memastikan bahwa gadis sekolah polos yang ia sembunyikan di dalam sarangnya tetap aman tanpa ada kekurangan suatu apa pun.
Pintu kayu kamar atas terbuka secara perlahan, menampilkan sosok Nasya yang seketika langsung bangkit berdiri tegak dari tepi kasur empuk kain hitam dengan wajah yang dipenuhi oleh kecemasan mendalam. Begitu sepasang mata jernihnya menangkap sosok Eksan melangkah masuk ke dalam kamar dalam kondisi seragam sekolah yang kotor oleh debu jalanan namun tidak ada bekas luka baru di tubuh tampannya, Nasya secara refleks langsung mengembuskan napas panjang penuh rasa lega yang mendalam.
"Kau... kau sudah kembali dengan selamat, Eksan?" cicit Nasya dengan nada suara yang sangat lembut dan menciut ketakutan, menatap lekat-lekat sepasang mata elang pemuda di hadapannya yang selalu berhasil mengunci seluruh pergerakan tubuh ringkih nya.
Eksan tidak langsung menjawab pertanyaan cemas tersebut. Ia menutup pintu kamar kayu rapat-rapat, memutar slot kunci ganda dengan gerakan tangan yang sangat mantap dan lihai, lalu berjalan mendekati kursi kerja dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman luar kawasan industri tua. Pemuda tegap itu menghembuskan napas berat yang terasa panas dari tenggorokannya sebelum akhirnya melepaskan jaket kulit hitam kebanggaannya dan menyampirkan secara santai di sandaran kursi kayu yang tua.
Nasya yang melihat kain kaos hitam polos Eksan kembali menyisakan noda merah segar yang merembes samar di bagian perut kirinya langsung melangkah maju mendekat tanpa memedulikan lagi rasa canggung atau takutnya. "Eksan, lukamu kembali berdarah dengan sangat banyak. Kau benar-benar nekat membawa puluhan motor ke perbatasan dalam kondisi tubuh yang sebenarnya masih dipenuhi oleh balutan perban tebal seperti ini!" seru Nasya dengan nada panik, jemari mungilnya segera meraih kotak P3K dari atas laci lemari pakaian tua milik markas.
Eksan melirik ke arah Nasya dengan sepasang mata elangnya yang pekat dan dalam. Bukannya menolak atau bersikap ketus, pemuda posesif itu justru hanya diam mematung saat Nasya dengan gerakan cekatan mulai berlutut di atas lantai semen tepat di hadapan tubuh tegapnya, bersiap untuk membersihkan noda darah segar di perut kirinya menggunakan kain kasa steril dan cairan antiseptik dari dalam kotak obat.
"Sudah aku katakan kepadamu berkali-kali sejak semalam, jangan pernah menunjukkan kepanikan yang berlebihan di hadapanku, Gadis Kecil," bisik Eksan dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan serak menahan perih, namun memancarkan getaran kelembutan yang sangat asing bagi jiwanya yang terbiasa hidup keras dan kejam di atas aspal jalanan kota. "Aksi pertempuran taktik di garis perbatasan jembatan layang tadi pagi hanyalah sebuah gertakan murah dari faksi kita untuk menciutkan nyali White Tiger agar mereka semua tidak akan pernah berani menyentuh keselamatan nyawamu seujung kuku pun."
Nasya seketika menghentikan gerakan tangan mungilnya yang sedang mengoleskan cairan obat merah di atas luka robek perut Eksan. Sepasang mata jernihnya mendongak menatap langsung masuk ke dalam manik mata elang pekat milik Eksan yang sedari tadi mengunci seluruh pandangannya tanpa ada celah sedikit pun. "Tapi kau mengorbankan keselamatan tubuhmu sendiri demi itu semua, Eksan... Jika jahitan lukamu sampai lepas total dan kau sampai tidak bisa bangkit berdiri lagi dari tempat tidur ini, lalu... lalu bagaimana dengan nasib hidupku nanti?" tanya Nasya dengan jujur dari lubuk hatinya yang terdalam, setetes air mata cemas perlahan kembali meluncur membasahi pipi polosnya yang merona alami.
Mendengar bait pertanyaan tulus bercampur kepasrahan jiwa yang diucapkan oleh wanitanya, ada sebuah getaran hangat yang mendadak merayap kuat di dada bidang Eksan. Selama hidupnya di dalam dunia gang jalanan yang hitam dan kejam sejak kecil, tidak pernah ada satu orang pun di dunia ini yang peduli apakah dia akan terbangun esok hari dengan selamat atau mati terkapar bersimbah darah di atas aspal jalanan sepi. Di mata dunia luar, Eksan adalah sosok monster kejam yang tak kenal ampun, namun tangisan tulus dari gadis sekolah di hadapannya ini mendadak membuat seluruh pertahanan dinding es di jiwanya runtuh tak bersisa dalam sekejap.
Eksan mengulurkan tangan kanannya yang besar dan kasar, lalu jemari besarnya dengan sangat lembut mencengkeram erat pergelangan tangan mungil Nasya, menarik tubuh ringkih gadis itu ke depan secara paksa hingga jarak wajah mereka kembali terkunci rapat hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Hawa panas dari deru napas Eksan yang sedikit terserang demam tinggi menerpa permukaan kulit wajah Nasya, seketika memicu debaran jantung di dalam rongga dada gadis itu.
"Kau bertanya bagaimana nasib hidupmu jika aku sampai mati terkapar di jalanan, hah?" tanya Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh dengan penekanan posesif yang sangat kuat membelenggu jiwa jalang mereka. "Dengar baik-baik kalimatku ini, Nasya. Justru karena aku tidak akan pernah membiarkan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa merebut dari tanganku, aku bersumpah demi nama besar Black Cobra akan tetap terus berdiri tegak di atas aspal kota ini sebagai perisai hidupmu sampai titik darah penghabisan."
Cengkeraman tangan Eksan di pergelangan tangan mungil Nasya semakin mengerat kuat secara perlahan namun pasti, seolah sedang mengunci mati seluruh takdir hidup mereka berdua dalam satu lingkaran hitam yang takkan pernah bisa terpatahkan oleh siapa pun dari dunia luar sana.
"Kau sudah resmi terikat mati denganku sejak malam pertama kau merawat luka-lukaku di teras rumah kecilmu," ucap Eksan dengan nada suara rendah yang sarat akan ancaman rasa kepemilikan yang mutlak dan absolut. "Jadi, berhentilah mengkhawatirkan Hal-hal bodoh yang tidak perlu terjadi. Tetaplah berada di dalam kamar terisolasi ini di bawah perlindungan penuh dari tanganku. Karena selama faksi Black Cobra masih memegang kendali penuh atas jalannya hukum di jalanan kota ini, tidak akan ada satu ekor macan putih pun dari wilayah utara yang memiliki kekuatan cukup besar untuk menjangkau atau menyentuh wilayah terlarang milik seorang Eksan Prasetya."
Nasya tertegun membeku mendengar deklarasi perlindungan posesif yang begitu angkuh namun memancarkan rasa aman yang sangat mendalam bagi jiwanya yang terancam bahaya. Wajah polosnya kembali merona merah pekat hingga ke ujung telinga akibat kedekatan fisik mereka yang begitu intim di sudut ruangan. Dengan perasaan yang campur aduk antara pasrah pada takdir kegelapan dan rasa haru yang mendalam, Nasya akhirnya memilih untuk mengangguk pelan sekali, menyerahkan seluruh sisa takdir roda hidupnya ke dalam cengkeraman erat sang berandal tertinggi.
Di luar dinding gudang kontainer markas besar Black Cobra, sisa-sisa kabut pagi perlahan-lahan mulai menghilang di bawah terik sinar matahari siang yang kian menghangat. Namun di seberang distrik kota yang jauh, faksi White Tiger dilaporkan mulai mengumpulkan seluruh sekutu inti mereka untuk mempersiapkan sebuah serangan balas dendam yang jauh lebih besar, brutal, dan berdarah. Badai perang terakhir yang akan menentukan siapa sesungguhnya penguasa tunggal di atas aspal jalanan kota ini kini sedang menghitung mundur waktunya, sementara di dalam kamar atas yang temaram, sang raja berandal tetap memeluk erat wilayah terlarangnya dengan penuh obsesi yang takkan pernah bisa dilepaskan oleh siapa pun.