Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Para tamu mulai berdiri dan berbaur satu sama lain sambil menikmati minuman dari meja prasmanan.
"Aku perlu ke toilet sebentar," bisik Anya pada Kenji.
"Aku minta dua pengawal untuk mengantarmu ke sana," jawab Kenji bersiap memanggil anak buahnya.
"Tidak perlu, toiletnya hanya di ujung lorong sana, aku bisa sendiri."
Kenji menatap Anya sebentar lalu akhirnya mengangguk pelan.
"Jangan lama-lama, dan jangan berbicara dengan siapa pun yang tidak kau kenal."
"Aku janji," ucap Anya sambil berdiri dari kursinya.
Anya berjalan menyusuri lorong menuju toilet wanita dengan langkah cepat.
Dia hanya ingin menjauh sebentar dari keramaian dan tatapan menilai para tamu di aula tadi.
Setelah membasuh wajahnya sedikit di wastafel, Anya melangkah keluar dari toilet.
Namun langkahnya langsung terhenti saat seorang pria gempal tiba-tiba menghadang jalannya di tengah lorong.
"Tunggu dulu, wajahmu ini sangat tidak asing."
Pria gempal itu mengenakan kemeja sutra mencolok dan menatap Anya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Anya memundurkan langkahnya karena merasa tidak nyaman dengan tatapan pria ini.
"Maaf, sepertinya Anda salah orang, Tuan," ucap Anya sopan mencoba mencari jalan memutar.
Pria itu malah melangkah maju dan menghalangi jalan Anya sepenuhnya.
Srek.
"Aku tidak mungkin salah, kau ini putrinya si Herman kan?"
Jantung Anya seketika berdetak jauh lebih cepat mendengar nama ayahnya disebut.
"Si pecundang yang kabur membawa uang taruhan dari kasinoku dua minggu lalu."
Anya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat untuk menahan rasa takutnya.
"Aku tidak tahu apa yang Anda bicarakan, permisi," ucap Anya mencoba menerobos lewat samping.
Tapi pria gempal itu dengan cepat mencengkeram lengan kanan Anya dengan sangat kasar.
Grep.
"Lepaskan tanganku!" desis Anya sambil meronta kesakitan.
"Kau pikir kau bisa lari begitu saja setelah ayahmu menipuku ratusan juta?" bentak pria itu marah.
"Aku dengar kau sekarang jadi mainan barunya Tuan Muda Kenji, pantas saja gayamu jadi sangat sombong."
Pria itu mencengkeram lengan Anya semakin kuat hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Ayahmu berutang padaku, jadi tubuhmu ini bisa jadi bayaran yang pas malam ini."
Pria itu menarik lengan Anya dengan paksa mendekat ke arah tubuhnya yang bau alkohol.
[Peringatan Kritis: Bahaya fisik terdeteksi.]
[Opsi 1: Berteriak minta tolong sekencang mungkin.]
[Opsi 2: Tendang selangkangan pria ini dan lari.]
Anya baru saja akan mengangkat lututnya untuk melakukan opsi kedua.
Namun sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram kerah belakang kemeja pria gempal itu.
Sret.
Pria gempal itu ditarik mundur dengan sangat kasar hingga cengkeramannya di lengan Anya terlepas.
Bruk.
Pria itu terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh ke lantai lorong.
"Siapa bajingan yang berani menarikku?" teriak pria itu penuh amarah sambil membalikkan badannya.
Teriakan pria itu langsung tertahan di tenggorokannya seketika.
Kenji berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap dan mengerikan.
Aura membunuh memancar sangat kuat dari tubuh pria bersetelan jas abu-abu itu.
"T-Tuan Muda Kenji," gagap pria gempal itu dengan wajah yang langsung memucat.
Kenji melangkah maju dengan sangat pelan, namun setiap langkahnya memancarkan teror yang nyata.
Tap. Tap.
Kenji berhenti tepat di depan pria gempal yang kini tubuhnya mulai gemetar ketakutan itu.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh barang milikku, Rudi?"
Suara Kenji terdengar sangat pelan dan datar, namun mematikan.
"M-maafkan saya Tuan Muda, saya hanya menagih utang ayah gadis ini pada kasino saya," bela pria bernama Rudi itu.
"Saya tidak tahu kalau dia benar-benar wanita Anda."
Kenji melirik sekilas ke arah lengan kanan Anya yang kini memerah akibat cengkeraman kasar Rudi tadi.
Rahang Kenji mengeras dan matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.
"Gadis ini adalah calon istriku, Nyonya masa depan klan Bratadikara."
Kenji menarik sepucuk pistol berwarna perak dari balik jasnya dalam gerakan yang sangat cepat.
Klak.
Pistol itu kini tertodong tepat di tengah kening Rudi.
"Dan kau baru saja mengotori kulitnya dengan tangan kotormu itu."
Rudi langsung jatuh berlutut di lantai lorong sambil menangis memohon ampun.
Bruk.
"Tolong ampuni saya Tuan Muda, saya benar-benar khilaf."
"Saya akan menghapus semua utang ayah gadis itu detik ini juga."
Rudi menyatukan kedua telapak tangannya memohon di depan ujung pistol Kenji.
Beberapa tamu yang berada di ujung lorong mulai berkerumun melihat keributan itu, tapi tidak ada satupun yang berani melerai.
Mereka semua tahu betapa gilanya seorang Kenji Bratadikara jika sudah marah.
Anya menelan ludah dengan susah payah melihat kejadian mengerikan di depannya ini.
Dia tahu Kenji kejam, tapi melihat pria itu menodongkan senjata di tempat umum benar-benar membuatnya syok.
[Peringatan: Jika Kenji menembak, reputasinya di depan publik akan hancur.]
Anya segera menyadari maksud dari misi sistemnya tadi.
Dia tidak boleh membiarkan Kenji membuat kekacauan berdarah di acara penting ini hanya karena dirinya.
Anya melangkah maju dan menyentuh lengan kanan Kenji yang sedang memegang pistol.
"Kenji, sudah cukup," bisik Anya dengan suara yang sengaja dibuat sangat lembut.
Kenji tidak menoleh, matanya masih menatap tajam ke arah Rudi yang menangis di lantai.
"Dia melukaimu," jawab Kenji dingin tanpa menurunkan senjatanya.
Anya mengusap lengan jas Kenji dengan pelan mencoba menenangkan pria itu.
"Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Jangan kotori tanganmu dengan darah orang rendahan seperti dia di acara semegah ini."
Anya menatap wajah samping Kenji dengan tatapan memohon.
"Itu hanya akan menjatuhkan harga dirimu sebagai ketua klan."
Kalimat terakhir Anya sepertinya berhasil menembus kewarasan Kenji yang hampir hilang karena marah.
Pria itu akhirnya menoleh dan menatap mata Anya yang dipenuhi kekhawatiran.
Kenji menarik napas panjang lalu menurunkan pistol peraknya perlahan.
Klak.
Pistol itu kembali masuk ke balik jas abu-abunya dengan mulus.
Kenji menunduk menatap Rudi yang masih gemetar di lantai seperti seekor anjing ketakutan.
"Kau berutang nyawa pada tunanganku malam ini, Rudi."
"Besok pagi, aku pastikan kasinomu sudah rata dengan tanah, dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di kota ini."
Kenji berbalik dan langsung menarik tangan kiri Anya dengan lembut menjauh dari tempat itu.
"Ayo kita pulang sekarang, acara malam ini sudah sangat membosankan," ucap Kenji final.
Anya hanya bisa mengikuti langkah kaki Kenji meninggalkan area pelelangan yang kini menjadi hening.
Tidak ada satu pun tamu yang berani menghalangi jalan mereka berdua.
Saat mereka berdua berjalan beriringan keluar dari pintu utama hotel, Anya menatap punggung tegap Kenji.
Ada perasaan aneh yang mulai mengalir hangat di dalam dadanya.
Pria ini adalah seorang monster berdarah dingin yang bisa mencabut nyawa orang kapan saja.
Tapi entah kenapa, malam ini monster itu baru saja bertindak sebagai pelindung utamanya.
Dan Anya tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, bahwa dia merasa sangat aman saat berada di balik punggung pria itu.
[Misi Harian Selesai: Berhasil mencegah konflik fatal dan mempertahankan reputasi target.]
[Hadiah: Poin Kecerdasan +3, Poin Stamina +2, Poin Afeksi Target meningkat signifikan.]
Tulisan biru itu memudar perlahan dari pandangan Anya saat dia masuk ke dalam mobil limosin.
Malam ini, sandiwara sebagai tunangan palsu ini terasa jauh lebih nyata dari sebelumnya.