Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Rahasia Ellion Fabrizo dan Amarah yang Terpendam

Setelah bel penutup berbunyi dan seluruh kegiatan belajar mengajar selesai, Angel merapikan buku-bukunya ke dalam tas lalu melangkah keluar kelas. Rencananya hari ini ia akan pulang bersama Rey, seperti yang sudah biasa mereka lakukan setiap hari. Tapi sebelum beranjak pulang, ada satu hal yang harus Angel selesaikan dulu.

"Kau duluan saja ke tempat biasa ya, Rey," kata Angel sambil menatap pemuda yang sedang berdiri di sampingnya. "Aku harus menemui Kepala Akademik sebentar."

Rey mengangguk pelan, senyum tipis terukir di wajahnya. "Baiklah. Aku tunggu di tempat kita biasanya sarapan nanti. Jangan terlalu lama ya."

"Iya, sebentar saja kok," jawab Angel dengan senyum, lalu melambaikan tangan sebentar sebelum berbalik arah.

Rey pun berjalan menuju sudut favorit mereka — sebuah bangku kayu panjang di bawah pohon rindang, tempat yang selalu mereka jadikan tempat sarapan dan juga tempat berkumpul sebelum pulang bersama. Di sana ia duduk dengan tenang, menunggu kedatangan Angel sambil sesekali melirik jam tangannya.

Sementara itu, Angel berjalan menyusuri lorong akademik yang mulai sepi. Langkah kakinya terdengar jelas di lantai marmer yang mengkilap. Sesampainya di depan pintu ruangan Kepala Akademik, ia menarik napas dalam-dalam sejenak, lalu mengetuk pintu itu dengan sopan.

Tok... tok... tok...

"Masuk," terdengar suara tegas dari dalam ruangan.

Angel memutar gagang pintu, mendorongnya perlahan hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Kepala Akademik itu menatapnya dengan ramah, lalu melambaikan tangan ke kursi di hadapan meja kerjanya.

"Silakan duduk, Angel," ucapnya dengan nada yang sangat sopan dan hangat, jauh berbeda dari kesan tegas yang didengar Angel tadi.

Angel pun duduk dengan sopan, kedua tangannya disatukan di pangkuan. Pria di hadapannya itu tersenyum lembut, lalu bersiap membuka mulut.

"Terima kasih. Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri..."

Belum selesai kalimat itu terucap, Angel langsung menunduk dalam dan memotong pembicaraannya.

"Maafkan saya, Tuan..." suaranya terdengar pelan namun penuh penekanan. "Saya rasa tidak pantas jika saya mengetahui nama Anda. Dengan status saya yang hanyalah rakyat jelata di akademik ini, menyebut atau bahkan mengetahui nama Anda yang terhormat adalah hal yang tidak seharusnya saya lakukan."

Kepala Akademik itu justru tersenyum lebih lebar mendengar ucapan itu, lalu menggeleng pelan.

"Jangan berpikir demikian, Angel," katanya dengan nada lembut namun tegas. "Dulu, saya juga seorang rakyat jelata persis seperti dirimu. Status bukan penghalang untuk saling mengenal."

Ia bersandar sedikit di kursi kerjanya, menatap Angel dengan pandangan yang hangat dan akrab.

"Biarkan saya memperkenalkan diri dengan benar. Nama saya Ellion Fabrizo." Ia berhenti sejenak, seakan membiarkan nama itu meresap, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. "Dan saya adalah adik dari pamanmu, Kael."

Angel mendongak dengan mata terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

 

Di depan gerbang utama akademik, dua orang telah berdiri menunggu cukup lama. Itu adalah Rebeca — ibu angkat Angel — dan Paman Angel, Kael. Mereka menatap satu per satu murid yang berjalan keluar gerbang, menemui orang tua masing-masing dengan wajah ceria. Namun waktu terus berlalu, dan tak ada wajah Angel yang terlihat di antara kerumunan itu.

Rebeca meremas tangannya dengan gelisah, matanya terus menyapu setiap wajah yang lewat.

"Kenapa Angel belum keluar ya..." suaranya terdengar penuh kekhawatiran. "Aku sangat khawatir dengan kejadian hari pertamanya. Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi padanya..."

Kael — Paman Angel — meletakkan tangan di bahu Rebeca, mencoba menenangkan. Hubungan mereka bukanlah saudara kandung seperti yang dikira orang lain. Rebeca sebenarnya adalah anak angkat dari Angel dan seorang Dewa Penghancur, sekaligus murid langsung dari tangan kanan salah satu Dewa Penghancur terkuat. Meski begitu, Kael selalu menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri.

"Tenanglah, Rebeca," katanya lembut. "Mungkin ada hal yang harus diselesaikan, atau ia berhenti sebentar di perjalanan. Ayo kita masuk saja, kita cari dia."

Mereka pun melangkah melewati gerbang, berniat menyusuri lorong menuju ruang kelas Angel. Namun baru saja beberapa langkah, penjaga gerbang menghadang mereka dengan gerakan tegas.

"Berhenti! Siapa kalian? Tidak boleh sembarangan masuk ke dalam area akademik!" bentak penjaga itu.

"Kami mencari keponakan kami, namanya Angel. Dia belum keluar sejak tadi, kami khawatir terjadi sesuatu," jelas Kael dengan nada sabar.

"Siapa pun kalian, tanpa izin resmi tidak boleh masuk! Mundur!" Penjaga itu semakin memperkeras suaranya, dan tiba-tiba dengan gerakan cepat ia mencabut pedang yang terselip di pinggangnya, menodongkan ke arah mereka. "Jika kalian memaksa, jangan salahkan saya jika harus menggunakan kekerasan!"

Keributan itu pun menarik perhatian semua orang. Murid-murid yang hendak pulang berhenti berjalan, lalu berkerumun melihat pemandangan itu. Beberapa orang tua juga ikut berdesak-desakan, berbisik-bisik menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu, Rey yang masih menunggu di bangku di bawah pohon rindang, melihat gelagat yang tidak biasa. Para murid berlari berkerumun ke arah gerbang sambil berbisik heboh. Rasa penasaran sekaligus cemas menyelimuti hatinya — jika ada keributan, siapa tahu ada hubungannya dengan Angel.

Rey langsung bangkit dan berlari mengikuti kerumunan. Sesampainya di sana, matanya langsung menangkap sosok yang dikenalnya — Rebeca dan Kael sedang berdiri di hadapan penjaga yang mengacungkan pedang, dikelilingi banyak orang yang menonton. Tanpa berpikir dua kali, Rey menerobos kerumunan dan berlari menghampiri mereka.

"Ibu! Paman Kael!" seru Rey sambil mengatur napas. "Jangan khawatir! Angel tidak hilang... dia saat ini sedang berada di ruangan Kepala Akademik!"

Seketika itu juga, wajah Rebeca dan Kael berubah pucat. Rasa khawatir yang tadi sempat tertahan kini meledak menjadi kecemasan yang jauh lebih besar.

"Di ruangan Kepala Akademik?" gumam Rebeca dengan suara bergetar. "Kenapa harus di sana? Bukankah itu artinya dia sedang bermasalah besar? Kita bahkan tidak mengenal Kepala Akademik itu sama sekali..."

Tanpa menunggu lagi, Rebeca melangkah maju dengan niat memaksa masuk. Namun pengawal di depannya tetap berdiri kokoh, mengacungkan pedang dengan ancaman yang semakin keras.

"Mundur! Sekali lagi aku bilang, mundur!" bentak pengawal itu dengan suara menggelegar.

Suara keributan itu memancing beberapa pengawal lain datang berlari, segera membentuk barikade rapat untuk mencegah Rebeca dan Kael melangkah lebih jauh. Suasana semakin tegang, para murid dan orang tua yang menonton pun terdiam serempak, merasakan ketegangan yang meluap-luap.

Seketika, wajah Rebeca berubah merah padam menahan amarah. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh, seolah sedang menahan sesuatu yang dahsyat agar tidak meledak keluar. Sebagai murid dari tangan kanan seorang Dewa Penghancur, kemarahan Rebeca bukanlah hal yang sepele. Dan di saat itu juga, bola mata kirinya perlahan berubah warna menjadi merah gelap pekat — sebuah tanda bahwa kekuatan kuno yang tersimpan di dalam dirinya sedang bangkit. Udara di sekitarnya terasa berubah menjadi berat dan dingin, seakan sesuatu yang mengerikan akan segera menimpa seluruh akademik ini.

Kael menyadari perubahan itu dengan cepat. Wajahnya berubah cemas, ia segera melangkah mendekat dan memegang bahu Rebeca dengan kuat.

"Rebeca! Tahan dirimu!" bisiknya dengan nada mendesak namun lembut, berusaha sekuat tenaga menenangkannya. "Jangan keluarkan kekuatan itu... Jangan lakukan hal yang bisa membuat Angel bersedih jika ia mengetahuinya. Ingatlah Angel... dia pasti menunggumu dengan tenang. Tahanlah, Rebeca!"

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!