Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murid yang Mulai Berubah

# Bab 12 — Murid yang Mulai Berubah

Hari terakhir tugas Reyhan sebagai guru di SMA Tunas Bangsa dimulai dengan langit mendung yang menggantung berat di atas kota, seolah ikut merasakan tegangnya hari itu. Ujian tengah semester untuk kelas XI-C dijadwalkan mulai jam kedua, tepat setelah upacara singkat yang biasa diadakan setiap Jumat pagi.

Reyhan sampai di sekolah lebih awal dari biasanya, membawa map berisi soal ujian yang sudah dia susun sendiri beberapa hari lalu bukan sekadar soal hafalan, tapi soal yang mengaitkan konsep matematika dan bahasa dengan situasi nyata, seperti yang sudah dia latih sepanjang minggu ini. Ia berharap, dengan format seperti itu, murid-murid yang selama ini merasa pelajaran hanya sekumpulan rumus tidak berguna, bisa benar-benar menunjukkan kemajuan yang mereka dapatkan.

Namun sebelum ujian dimulai, ada satu masalah kecil yang nyaris menggagalkan semuanya.

Reyhan baru menyadari sesuatu janggal ketika bel masuk sudah berbunyi dan dia mulai mengabsen kelas satu per satu. Nama-nama dipanggil, dijawab dengan "hadir" satu demi satu — sampai dia sampai pada satu nama yang tidak dijawab siapa pun.

"Dimas?"

Kelas hening sebentar. Salah satu teman sebangku Dimas mengangkat tangan pelan.

"Dia belum dateng, Pak. Tadi pagi saya lihat dia masih di warungnya, kayaknya ada masalah."

Reyhan merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ini hari ujian, hari yang paling menentukan dari seluruh misi yang sudah dia perjuangkan sepanjang minggu.

Kalau Dimas tidak datang, semua usaha membangun kepercayaan dirinya lewat warung selama ini bisa sia-sia begitu saja.

Ia meminta izin sebentar kepada guru piket untuk meninggalkan kelas, lalu bergegas keluar sekolah, menuju arah warung Pak Wibowo yang sudah dia hafal betul rutenya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk apakah Dimas sengaja bolos karena takut ujian, atau ada masalah lain yang lebih serius di rumahnya.

Sesampainya di warung, Reyhan mendapati suasana yang berbeda dari biasanya. Pak Wibowo terlihat pucat, duduk di kursi plastik sambil memegangi perutnya. Dimas berdiri di sampingnya, panik, mencoba menghubungi seseorang lewat telepon, tapi tidak ada jawaban.

"Ada apa ini?" tanya Reyhan, buru-buru menghampiri.

"Bapak saya sakit perut mendadak, Pak, dari semalam. Tadinya udah agak mendingan, tapi tiba-tiba parah lagi pagi ini," jawab Dimas, suaranya bergetar. "Saya bingung mau minta tolong siapa buat jagain warung sekalian anter Bapak ke puskesmas. Kalau saya tinggal, nanti dagangan pagi ini nggak ada yang jual, padahal ini modal buat besok-besok."

Reyhan menatap situasi itu sejenak seorang anak yang harus memilih antara pendidikannya sendiri dan tanggung jawab yang jauh lebih besar dari usianya. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil keputusan cepat.

"Kamu anter Bapak kamu ke puskesmas sekarang. Biar saya yang jagain warung sebentar," katanya, sudah mulai melepas jaketnya.

Dimas menatap Reyhan dengan tidak percaya. "Bapak yang jagain warung? Tapi Bapak kan harus ngawas ujian di sekolah"

"Ujian bisa saya atur, minta tolong guru piket sebentar. Ini lebih penting. Udah, cepetan anter Bapak kamu, jangan buang waktu."

Dengan sedikit ragu, Dimas akhirnya menuruti, membantu ayahnya naik ojek menuju puskesmas terdekat, meninggalkan Reyhan sendirian menjaga warung yang mulai didatangi beberapa pembeli pagi.

Selama kurang lebih empat puluh menit, Reyhan yang sebenarnya sama sekali tidak berpengalaman berjualan mencoba sebisa mungkin melayani pembeli dengan bekal pengamatan singkat yang dia dapat dari kunjungan-kunjungannya sebelumnya.

Ia menggoreng nasi goreng dengan tangan gemetar, sesekali salah takaran bumbu, tapi berusaha keras supaya tidak mengecewakan pelanggan yang datang.

Untungnya, insting yang selama ini terbentuk dari pengalamannya sebagai kurir kembali membantunya kemampuan membaca situasi dengan cepat, memprioritaskan mana yang harus didahulukan, mengatur waktu supaya tidak ada pelanggan yang menunggu terlalu lama.

Meski hasil masakannya jauh dari sempurna, setidaknya warung tetap buka dan pelanggan tetap terlayani.

Tidak lama setelah itu, Dimas kembali dengan napas terengah-engah, wajahnya sedikit lega. "Bapak udah ditangani, Pak. Katanya cuma masuk angin parah, dikasih obat, disuruh istirahat aja."

Reyhan menghela napas lega, menyerahkan spatula yang sedari tadi dia pegang. "Syukurlah. Sekarang buruan siap-siap, kita balik ke sekolah. Ujian masih bisa kamu ikutin kalau kita cepat."

Dimas menatap Reyhan lama, seperti mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi seorang guru yang rela mengorbankan waktu mengawas ujian demi menjaga warungnya sendiri.

"Kenapa Bapak mau repot-repot bantu saya kayak gini?" tanya Dimas pelan, saat mereka berjalan cepat menuju angkot menuju sekolah.

Reyhan tersenyum tipis. "Karena kamu udah buktiin ke saya, kamu bukan anak males yang cuma tidur di kelas. Kamu cuma capek, dan punya tanggung jawab yang orang lain seumuran kamu belum tentu kuat jalanin. Saya cuma mau kasih kesempatan yang sama kayak temen-temen kamu yang lain."

Dimas tidak menjawab, tapi matanya sedikit berkaca-kaca, buru-buru dia usap dengan lengan bajunya sebelum ada yang sempat melihat.

Mereka sampai di sekolah tepat sepuluh menit sebelum waktu ujian benar-benar ditutup.

Dimas berlari kecil masuk ke kelas, langsung duduk di bangkunya, mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai mengerjakan soal, sementara Reyhan berdiri di depan kelas, mengawasi jalannya ujian dengan perasaan campur aduk antara lega dan cemas.

Ia memperhatikan murid-muridnya satu per satu Bimo yang mengerjakan soal dengan cukup serius, jauh berbeda dari sikap acuhnya di hari-hari sebelumnya.

Nadia yang menulis dengan tangan stabil, sesekali tersenyum tipis sendiri, entah karena soal yang menurutnya menarik atau karena alasan lain yang hanya dia yang tahu.

Dan Dimas, yang meski terlihat masih sedikit gugup dan lelah, mengerjakan soal-soal hitungan dengan lancar hasil dari pelajaran "tidak resmi" yang mereka lakukan bersama di warung beberapa hari terakhir.

Reyhan duduk di kursi guru, membuka layar holografik sistem sebentar, memeriksa progres misinya yang sudah semakin mendekati batas waktu.

> [Progres Misi: 3/5 murid mencapai target kenaikan nilai sementara.]

> [Sisa waktu: kurang dari 12 jam.]

Angka itu memberi sedikit harapan, tapi Reyhan tahu, hasil sesungguhnya baru akan terlihat setelah lembar jawaban ini diperiksa nanti sore.

Ia menatap kelas yang tenang mengerjakan ujian, suasana yang jauh berbeda dibanding hari pertama dia menginjakkan kaki di ruangan ini hari di mana dia disambut ejekan dan julukan "Guru Tujuh Hari". Sekarang, meski masih ada beberapa murid yang terlihat kurang serius, mayoritas kelas benar-benar fokus mengerjakan soal dengan usaha terbaik mereka.

Reyhan menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang. Apa pun hasil akhirnya nanti, dia merasa sudah melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar menyelesaikan misi sistem demi reward.

Ia hanya berharap, itu semua cukup — baik untuk sistem, maupun untuk murid-muridnya sendiri.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!