Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Hari Pertama

Reyhan bangun jam tiga sore, meski sebenarnya dia sudah terjaga sejak subuh karena terlalu gugup untuk tidur nyenyak. Ia menghabiskan siangnya memasak percobaan kecil-kecilan di dapur kos bersama, mencoba resep sambal matah dari catatan Dimas sebelum benar-benar terjun ke lapangan.

Ibu kos, Bu Sari, yang kebetulan lewat dapur bersama, memperhatikan Reyhan sibuk mengiris bawang dengan tangan yang belum terlalu terampil.

"Lho, Mas Reyhan masak apa itu? Nggak biasanya," tanya Bu Sari, penasaran.

"Latihan masak nasi goreng, Bu. Mau coba jualan mulai sore ini."

"Wah, serius, Mas? Kok tumben, biasanya kerja kantoran kan?"

Reyhan tertawa kikuk. "Long story, Bu. Pokoknya lagi coba usaha baru aja."

Bu Sari mendekat, memperhatikan wajan Reyhan yang mulai berasap karena api terlalu besar. "Eh, itu apinya kekecilan, Mas, malah keliatan kegedean. Nasi gorengnya bakal gosong kalau gitu terus."

"Oh iya, Bu? Saya kira makin gede makin cepet mateng."

"Nggak gitu, Mas. Nasi goreng itu apinya sedang aja, tapi wajannya harus panas dulu sebelum bahan masuk. Kalau apinya kegedean dari awal, bumbu malah gosong duluan sebelum nasinya kematengan."

Reyhan buru-buru mengecilkan api, mengikuti saran Bu Sari. "Makasih banyak, Bu. Untung ada Ibu, kalau nggak saya jualan nasi goreng gosong semua nanti."

Bu Sari tertawa. "Ya udah, saya bantuin dikit-dikit deh sore ini, mumpung saya lagi luang. Lumayan juga, siapa tau nanti jadi pelanggan pertama saya."

Dengan bantuan Bu Sari, Reyhan berhasil menyempurnakan takaran bumbunya sedikit demi sedikit. Rasa nasi gorengnya masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya sudah bisa dimakan tanpa membuat orang meringis kepedasan atau kebanyakan garam.

"Coba deh, Bu, gimana rasanya?" tanya Reyhan, menyodorkan sesendok kecil nasi goreng percobaannya.

Bu Sari mencicipi pelan, mengunyah beberapa saat sambil berpikir. "Lumayan, Mas. Sambal matahnya udah pas, tapi nasinya masih agak lembek. Coba nasinya pake yang uda nginep semalem, bukan nasi anget baru masak, biar pas digoreng nggak lembek."

"Oh, jadi harus pake nasi kemarin, Bu?"

"Iya, itu rahasia dasar nasi goreng enak, Mas. Nasi anget susah digoreng kering, gampang lengket."

Reyhan mencatat cepat di ponselnya, menambahkan poin itu ke daftar catatan resepnya yang semakin panjang. "Wah, makasih banget, Bu. Ini penting banget infonya."

"Sama-sama, Mas. Semangat ya jualannya. Kalau laris, jangan lupa saya dikasih diskon terus, hahaha."

"Siap, Bu. Pasti."

Menjelang jam empat sore, Reyhan mulai mengemasi seluruh perlengkapannya wajan, kompor portable, bahan-bahan yang sudah dipotong rapi, piring dan sendok plastik sekali pakai yang dia beli dengan sisa uang recehnya kemarin. Ia mendorong gerobaknya keluar dari halaman kos, melewati Fajar yang sedang duduk santai di teras.

"Wih, Bang Reyhan udah siap tempur nih," seru Fajar sambil tersenyum lebar.

"Doain lancar ya, Jar."

"Pasti, Bang. Nanti malem saya nyusul beli, kebetulan belum makan malem juga."

"Oke, ditunggu ya."

Reyhan mendorong gerobaknya perlahan menuju lokasi yang sudah dia survei kemarin trotoar dekat kompleks perkantoran kecil, tempat Pak Herman berjaga. Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh itu terasa jauh lebih berat dari yang dia bayangkan, mengingat gerobak tua itu cukup berat didorong sendirian melewati jalan yang sedikit menanjak.

Sesampainya di lokasi, Pak Herman sudah menunggu di depan gerobaknya sendiri, seolah sudah menantikan kedatangan Reyhan.

"Wih, beneran dateng, Mas," kata Pak Herman, tersenyum lebar. "Saya kira tadi cuma basa-basi doang kemarin."

"Nggak, Pak. Ini beneran mau mulai jualan sekarang."

"Sini, saya bantuin naikin ke trotoar, biar nggak susah sendirian."

Pak Herman membantu Reyhan mendorong gerobak naik ke trotoar, memposisikannya di sudut yang menurutnya paling strategis cukup terlihat dari arah gedung, tapi tidak terlalu menghalangi jalan orang lewat.

"Nah, di sini paling pas, Mas. Orang keluar gedung jam lima nanti langsung keliatan."

"Makasih banyak, Pak Herman."

"Sama-sama. Nanti kalau rame, jangan lupa saya jatah nasi goreng gratis satu ya, hahaha."

Reyhan tertawa. "Siap, Pak. Pasti dikasih."

Sambil menunggu jam pulang kantor tiba, Reyhan menata gerobaknya sebaik mungkin merapikan susunan bahan, memastikan kompor menyala stabil, menyiapkan wajan besar yang sudah dia panaskan sebentar sesuai saran Bu Sari tadi. Tangannya sedikit gemetar, entah karena gugup atau karena udara sore yang mulai dingin.

Ia membuka layar holografik sistem sebentar, memeriksa progres misinya yang masih menunjukkan angka nol.

> [Progres Misi: Rp0 / Rp15.000.000]

> [Sisa waktu: 6 hari, 3 jam.]

Reyhan menatap angka itu, menghela napas panjang. "Oke," gumamnya pelan pada diri sendiri, "dari nol ini, harus mulai jalan sekarang."

Tidak lama kemudian, arus orang mulai keluar dari gedung-gedung sekitar, tanda jam pulang kantor sudah tiba. Reyhan menegakkan badannya, mencoba tersenyum semenarik mungkin ke arah orang-orang yang lewat, meski dalam hati dia merasa canggung setengah mati.

"Nasi goreng, Kak! Baru buka nih, coba dulu deh!" serunya, suaranya terdengar sedikit gemetar di awal.

Beberapa orang melirik sekilas, tapi terus berjalan tanpa berhenti. Reyhan merasa jantungnya berdegup kencang, khawatir kalau-kalau tidak ada satu pun yang mau mampir di percobaan pertamanya ini.

Tepat saat dia mulai merasa putus asa, seorang perempuan muda berseragam kantor berhenti sejenak di depan gerobaknya, memperhatikan dengan raut penasaran.

"Baru buka, Mas?" tanyanya.

"Iya, Kak. Baru hari pertama nih," jawab Reyhan, mencoba terdengar percaya diri meski jantungnya masih berdegup kencang.

"Boleh coba satu porsi? Penasaran sama sambalnya, kayaknya beda dari yang biasa."

"Boleh banget, Kak. Tunggu sebentar ya."

Reyhan segera bergerak cepat, menyalakan api dengan tangan yang masih sedikit gemetar, memulai proses masak pertamanya yang sesungguhnya di depan pembeli sungguhan.

Ia menuangkan minyak ke wajan yang sudah panas, memasukkan bawang putih cincang, menunggu aromanya keluar sebelum menambahkan telur dan nasi. Tangannya sedikit kaku karena gugup, tapi dia memaksa diri mengingat setiap langkah yang sudah dia latih tadi siang bersama Bu Sari.

"Kak, tunggu bentar ya, lagi digoreng," katanya, sambil terus mengaduk dengan spatula.

"Santai aja, Mas. Nggak buru-buru kok," jawab perempuan itu, memperhatikan dari dekat gerobak.

Setelah beberapa menit, Reyhan menuangkan nasi goreng ke atas piring plastik, menaburkan sambal matah di atasnya sesuai takaran yang sudah dia hafalkan. Ia menyerahkan piring itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Ini, Kak. Silakan dicoba."

Perempuan itu mengambil sesendok kecil, mengunyah pelan sambil memperhatikan ekspresinya sendiri. Reyhan menahan napas, menunggu reaksi yang akan menentukan segalanya.

"Enak, Mas! Sambalnya beda banget, seger gitu rasanya," katanya, tersenyum lebar. "Ini berapa, Mas?"

"Dua belas ribu, Kak."

"Oke, saya bayar sekarang ya."

Reyhan menerima uang itu dengan tangan yang masih terasa hangat karena gugup bercampur lega. Penjualan pertamanya, meski hanya satu porsi, terasa seperti kemenangan besar setelah persiapan panjang sejak pagi.

Tidak lama setelah itu, dua orang pekerja kantoran lain berhenti, tertarik melihat perempuan tadi makan dengan lahap sambil sesekali memuji rasanya ke rekan kerjanya lewat telepon.

"Mas, ada nasi goreng biasa juga, kan? Nggak pedes?" tanya salah satu dari mereka, seorang bapak-bapak berkacamata.

"Ada, Pak. Bisa saya kurangin sambalnya kalau nggak suka pedes."

"Oke, satu porsi kurang pedes ya."

"Saya juga satu, Mas. Tapi pedesnya normal aja," sahut rekannya.

Reyhan kembali sibuk di depan wajan, kali ini dengan gerakan yang sedikit lebih percaya diri dibanding porsi pertama tadi. Ia mengatur api, menakar bumbu, mencoba mempercepat proses tanpa mengorbankan rasa.

"Wah, cepet juga masaknya, Mas," komentar bapak berkacamata itu sambil menunggu.

"Lagi belajar, Pak. Mudah-mudahan makin cepet ke depannya."

"Santai aja, yang penting enak," sahutnya, tersenyum ramah.

Setelah menyerahkan dua porsi itu, Reyhan menghitung uang yang sudah terkumpul di kotak kecil di sudut gerobaknya: tiga puluh enam ribu rupiah, dari tiga porsi pertama. Angka yang kecil, tapi bagi Reyhan terasa seperti pencapaian besar mengingat betapa nol totalnya modal kepercayaan diri yang dia bawa sore ini.

Ia membuka layar holografik sistem sebentar, memeriksa progres misinya yang baru saja mulai bergerak dari angka nol.

> [Progres Misi: Rp36.000 / Rp15.000.000]

> [Sisa waktu: 6 hari, 2 jam.]

Angka itu masih sangat jauh dari target, tapi Reyhan tersenyum tipis melihatnya setidaknya sekarang bukan lagi angka nol yang menakutkan seperti tadi siang.

Ia menegakkan badan, menatap arus orang yang masih terus keluar dari gedung-gedung sekitar, berharap tiga porsi pertama itu baru permulaan dari malam yang akan jauh lebih ramai.

"Nasi goreng, Kak! Coba dulu, dijamin nggak nyesel!" serunya lagi, kali ini suaranya sudah jauh lebih mantap dibanding teriakan canggungnya beberapa menit lalu.

Beberapa menit kemudian, Fajar muncul dari kejauhan, berjalan santai dengan tangan di saku jaketnya, menepati janjinya untuk menyusul malam itu.

"Bang Reyhan! Gimana, udah laku belum?" tanyanya, sambil mendekat ke gerobak.

"Baru tiga porsi, Jar. Tapi lumayan, tadinya kirain nggak ada yang mau beli sama sekali."

"Nah, sekarang tambah satu porsi lagi, saya beli," kata Fajar, mengeluarkan uang dari dompetnya. "Sekalian jadi saksi hari pertama Bang Reyhan jualan."

Reyhan tertawa, mulai memasak porsi keempat dengan gerakan yang semakin lancar dibanding porsi-porsi sebelumnya. "Makasih ya, Jar. Beneran nolong banget kamu dateng."

"Santai aja, Bang. Lagian saya emang laper juga," jawab Fajar, tersenyum lebar sambil menunggu pesanannya selesai.

Fajar duduk sebentar di kursi lipat kecil yang dibawa Reyhan, menemani sambil sesekali menawarkan diri membantu memanggil orang lewat. "Bang, nanti kalau udah rame, saya bantuin teriak-teriak promosi juga boleh," katanya bercanda.

"Boleh banget, Jar. Lumayan, tenaga tambahan gratis," jawab Reyhan sambil tertawa, membersihkan sisa-sisa minyak di sekitar kompor sambil menunggu pembeli berikutnya datang.

Malam itu perlahan berjalan lebih ramai dari yang Reyhan bayangkan sebelumnya bukan antrean panjang seperti mimpi besar yang sempat dia bayangkan semalam, tapi cukup untuk membuatnya merasa bahwa hari pertama ini, meski penuh kegugupan, tidak berakhir sebagai kegagalan total seperti yang sempat dia takutkan sepanjang perjalanan tadi sore.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!