Indonesia
NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Suara sirine ambulans membelah keheningan malam Seoul, berhenti tepat di depan pintu darurat Rumah Sakit St. Mary's. Tim medis segera menurunkan brankas, membawa Kim Seokjin yang masih tak sadarkan diri ke dalam.

Yoongi, Hoseok, dan Namjoon mengikuti dengan langkah cepat, wajah mereka tegang dan penuh kecemasan. Di belakang mereka, Tae berlari tertatih-tatih diikuti oleh Jimin dan Jungkook. Napas mereka memburu, mata mereka lebar karena panik.

"Dokter!" seru Hoseok saat mereka mencapai area triase. "Tolong periksa dia! Dia pingsan tiba-tiba, ada darah dari hidung, dan..." Hoseok terhenti, memilih kata-kata yang tepat agar tidak membuat adik-adiknya semakin panik. "...dan kondisinya sangat lemah."

Seorang dokter pria paruh baya dengan ekspresi serius segera memeriksa Jin. Ia mengecek pupil mata, tekanan darah, dan respons saraf Jin. Wajah dokter itu berubah semakin serius saat melihat hasil pemeriksaan awal dengan senter kecil.

"Bawa ke Ruang Observasi Intensif Kamar 304," perintah dokter pada perawat. "Saya perlu melakukan CT Scan kepala segera untuk memastikan tidak ada pendarahan atau gangguan neurologis akut."

Kata "gangguan neurologis" membuat jantung Tae hampir copot. Ia mencoba menerobos masuk mengikuti brankas Jin. "Hyung! Aku harus ikut!"

Seorang perawat menahannya dengan lembut namun tegas. "Maaf, Tuan. Area observasi terbatas hanya untuk staf medis dan keluarga inti yang ditunjuk saat stabilisasi awal. Mohon tunggu di ruang tunggu."

"Tapi aku adiknya!" protes Tae, suaranya pecah menahan tangis.

Melihat kepanikan Tae yang mulai meningkat, Namjoon melangkah maju. Dengan kewibawaan alaminya, ia berbicara pada dokter sambil memberi isyarat halus pada Yoongi dan Hoseok. "Dokter, kami adalah manajer eksekutif pasien. Bisakah Anda memberikan penjelasan singkat kepada kami bertiga di ruang konsultasi sebelah? Kami perlu menyiapkan dokumen asuransi dan kontak darurat perusahaan. Saudara-saudara lainnya akan kami tenangkan di ruang tunggu."

Dokter itu mengangguk, memahami maksud tersirat Namjoon untuk menjaga privasi dan ketenangan situasi. "Baik. Silakan ikuti saya. Saudara-saudara lainnya, mohon tetap di ruang tunggu. Kami akan memanggil jika ada perkembangan signifikan."

Namjoon menepuk bahu Tae pelan. "Tae-ya, tunggu di sini bersama Jimin dan Jungkook. Kami akan segera kembali dengan kabar. Percayalah pada kami."

Tae, meski ragu dan cemas, akhirnya mengangguk. Ia duduk di kursi plastik keras, memeluk lututnya erat-erat. Jimin dan Jungkook duduk di sebelahnya, mencoba memberikan kehangatan di tengah udara dingin rumah sakit.

Di dalam ruang konsultasi kecil berdinding kaca, suasana terasa jauh lebih mencekam. Dokter menunjukkan hasil scan awal pada monitor. Terlihat sebuah bayangan putih kecil namun jelas di area lobus temporal otak Jin.

"Ini..." Dokter menunjuk layar dengan pena laser. "Ada massa jinak (benign mass) yang menekan saraf optik dan sebagian korteks motorik. Kemungkinan besar ini Meningioma tingkat awal. Pertumbuhannya lambat, jadi mungkin sudah ada sejak lama tanpa gejala berarti. Tapi stres ekstrem, kurang tidur kronis, dan tekanan darah tinggi memicu gejalanya muncul tiba-tiba tadi malam berupa sinkop (pingsan) dan epistaksis (mimisan)."

Yoongi merasa dunianya berputar. Ia memegang tepi meja untuk menopang tubuhnya yang lemas. "Apakah... apakah ini berbahaya, Dokter? Apakah dia..."

"Untuk saat ini, belum mengancam nyawa secara langsung jika dia istirahat total," jawab dokter dengan tenang. "Tapi jika dipaksa bekerja terus, risikonya sangat tinggi. Bisa terjadi kejang, gangguan penglihatan permanen, atau pendarahan. Saya sarankan rawat inap minimal satu minggu untuk observasi ketat dan pemberian obat steroid untuk mengurangi pembengkakan saraf. Operasi elektif bisa dipertimbangkan nanti jika kondisinya stabil, tapi bukan sekarang. Prioritas utamanya adalah istirahat mutlak."

Hoseok menghela napas panjang, rasa lega bercampur dengan amarah yang tertahan pada diri Jin. "Jadi, dia baik-baik saja untuk sekarang? Asalkan dia berhenti bekerja?"

"Ya. Tapi ini rahasia medis yang sensitif. Saya harap kalian bisa memastikan pasien benar-benar istirahat. Tidak ada stres. Tidak ada pekerjaan. Dan sebaiknya, informasi detail ini jangan disebarluaskan dulu untuk menghindari kepanikan berlebihan dari pihak lain sebelum rencana perawatan final diputuskan."

Namjoon mengangguk serius, matanya tajam. "Kami akan mengurusnya, Dokter. Tolong jangan berikan detail diagnosis 'tumor' atau 'massa' ini pada siapa pun selain kami bertiga. Adik-adik lainnya-Taehyung, Jimin, Jungkook-mereka masih muda dan sedang masa kuliah. Kami tidak ingin mereka terlalu cemas atau merasa bersalah sebelum ada keputusan operasi yang pasti. Untuk mereka, cukup katakan dia mengalami 'Kelelahan Akut dan Migrain Kronis'."

Dokter itu mengerti etika profesional tersebut. "Baik. Saya akan mencatat diagnosis umum 'Stress-Induced Syncope & Severe Migraine' untuk rekam medis yang bisa diakses keluarga lain. Detail Meningioma hanya ada di catatan khusus kami dan akan dibahas langsung dengan kalian sebagai penanggung jawab utama."

Sementara itu, di ruang tunggu, suasana terasa mencekam.

Tae duduk memeluk lututnya, matanya merah. Jimin duduk di sebelahnya, mengelus punggung Tae pelan. Jungkook berdiri di dekat jendela, menatap keluar dengan wajah murung, kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan gelisah.

"Kenapa lama sekali?" gumam Tae gelisah. "Apa Jin-hyung kenapa-napa? Kenapa cuma Yoongi-hyung, Hobi-hyung, dan Joon-hyung yang dipanggil?"

Jimin mencoba menenangkan. "Mungkin mereka cuma ngurus administrasi, Tae-ya. Tenang saja. Jin-hyung kan kuat. Dia pasti cuma kelelahan."

"Tapi tadi dokter bilang 'neurologis'..." suara Tae parau. "Aku takut, Jimin-ah. Aku takut kehilangan Hyung. Aku terakhir kali marah sama dia..." Air mata Tae mulai menetes lagi.

Jungkook berbalik, wajahnya serius meski ia juga cemas. "Hyung tidak akan apa-apa. Dia Kim Seokjin. Dia selalu punya rencana. Kita harus percaya pada Yoongi-hyung dan yang lain." Meski berkata begitu, tangan Jungkook juga mengepal erat. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan, tapi ia memilih percaya pada kakak-kakak tertuanya.

Pintu ruang konsultasi terbuka. Yoongi, Hoseok, dan Namjoon keluar. Wajah mereka terlihat lelah, tapi mereka berusaha tersenyum tipis dan menenangkan saat melihat Tae.

"Gimana, Hyung?" tanya Tae segera berdiri, mendekati Yoongi dengan mata berkaca-kaca. "Apa kata dokter? Apa Jin-hyung baik-baik saja?"

Yoongi menatap Tae, lalu mengalihkan pandangannya sejenak untuk mengumpulkan keberanian. Ia ingat janji mereka untuk melindungi perasaan adik-adik. Dengan suara tenang yang dibuat-buat agar terdengar meyakinkan, ia menjawab, "Dia kelelahan parah, Tae-ya. Stres kerja menumpuk selama berbulan-bulan. Tekanan darahnya tinggi dan migrainnya kambuh hebat sampai pingsan. Dokter bilang dia harus rawat inap beberapa hari untuk istirahat total dan observasi. Tidak ada yang berbahaya, kok. Cuma tubuh Hyung yang 'mogok' karena dipaksa kerja terlalu keras."

"Hanya itu?" tanya Tae, masih ada keraguan kecil di hatinya. "Tidak ada stroke atau sesuatu yang serius?"

Hoseok melangkah maju, meletakkan tangan di bahu Tae dengan hangat. "Tidak, Tae-ya. Sumpah. Hanya kelelahan. Mulai sekarang, kita harus menjaganya agar dia benar-benar istirahat. Tidak ada rapat, tidak ada telepon bisnis. Oke?"

Tae menghela napas lega, bahunya yang tegang akhirnya rileks sedikit. "Syukurlah... Aku kira..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, rasa bersalah karena pernah marah pada Jin mulai menyelimutinya.

Namjoon menambahkan dengan nada bijaksana, "Kami akan bergantian menjaga Hyung di ruang observasi. Kalian bertiga-Tae, Jimin, Jungkook-bisa pulang dulu untuk istirahat malam ini. Besok pagi kalian bisa datang lagi. Jin-hyung pasti senang melihat kalian segar dan ceria, bukan wajah lelah dan cemas seperti ini. Itu akan membuatnya stres lagi."

Tae menggeleng kuat. "Aku tidak mau pulang. Aku mau tunggu Hyung sadar. Aku mau minta maaf."

Yoongi tersenyum sedih, membelai kepala Tae. "Baiklah. Tapi janji, jangan buat keributan atau menangis keras di dekat tempat tidurnya nanti. Dia butuh ketenangan total. Oke?"

Mereka berempat-Yoongi, Hoseok, Namjoon, dan Tae-menuju kamar observasi Jin. Jimin dan Jungkook memutuskan untuk menunggu di lorong dekat kafetaria, memberi privasi pada "keluarga inti" yang lebih tua untuk momen pertama ini.

Saat memasuki kamar, Jin masih terbaring lelap, terhubung dengan monitor detak jantung yang berbunyi bip... bip... bip... secara teratur. Wajahnya terlihat damai, jauh dari ekspresi sakit dan topeng dingin yang sering ia tunjukkan di kantor. Selang oksigen terpasang longgar di hidungnya.

Tae duduk di kursi samping tempat tidur, memegang tangan Jin yang dingin dengan hati-hati. "Hyung... bodoh sekali kau. Kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit? Kenapa kau harus menanggung semuanya sendiri?" bisiknya lirih, air matanya menetes ke atas selimut Jin.

Yoongi, Hoseok, dan Namjoon saling bertukar pandang di ambang pintu. Mereka tahu, ini baru permulaan. Menjaga rahasia diagnosis tumor ini dari Tae dan yang lain akan sulit, apalagi jika kondisi Jin memburuk atau jika Xiumin dan Chen mencoba mencari celah lagi. Tapi demi ketenangan pikiran adik-adik mereka, mereka siap menanggung beban kecemasan itu sendirian untuk sementara waktu.

Yoongi melangkah masuk, duduk di sisi lain tempat tidur. Ia menatap wajah Jin dengan tatapan yang penuh arti-campuran antara kekhawatiran, kemarahan, dan cinta yang mendalam. "Kami akan menjagamu, Hyung. Kali ini, giliran kami."

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!