Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Rentetan tembakan kaliber tinggi dari helikopter serbu tanpa penanda membelah aula utama Villa. Pecahan batu granit dari pilar penyangga berhamburan bagaikan kristal tajam, menyelimuti ruangan besar itu dengan abu tebal dan asap mesiu yang menyengat.

Dominic menekan tubuh Eva lebih rapat ke dinding batu di balik pilar. Senapan serbu HK416 di tangan pria itu memberi tembakan balasan mematikan. Dua tentara bayaran berpakaian serba hitam yang mencoba melompat masuk dari bingkai jendela yang hancur ambruk seketika dengan luka tembak tepat di dada.

"Viktor di mana posisi pengaman sektor dua?!" teriak Dominic ke dalam radio komunikasi di kerahnya, suaranya serak beradu dengan deru baling-baling helikopter di luar.

"Tuan Dominic! Jalur darat kita dipotong oleh bom jalanan. Helikopter itu membawa tim penyerang Faksi Rossi, mereka mengepung seluruh tebing!" suara Viktor terputus-putus oleh kebisingan gelombang radio.

Mata kelam Dominic berkilat murni oleh kemarahan. Don Sergio Rossi telah mengerahkan seluruh aset tempurnya untuk memusnahkan bukti manifes St. Jude 2012 sebelum Dominic sempat membawanya kembali ke kota.

Di balik pelukan Dominic, pikiran Eva berputar dalam kecepatan kilat taktis.

Foto tua ibunya, Clara Cross, dan manifes berdarah itu masih tergeletak di atas meja kayu yang sudah retak dihantam pecahan ledakan, hanya berjarak lima meter dari pilar perlindungan mereka. Lebih buruk lagi, Dominic telah membaca tulisan di balik foto tersebut, nama Evangeline.

Meski Dominic belum sempat menyambungkan nama di foto itu dengan sosok 'Evie' di pelukannya karena ledakan yang terjadi, benih kecurigaan itu telah tertanam.

Jika Dominic selamat dari gempuran ini dan memeriksa foto itu dalam situasi tenang, penyamaran Eva sebagai agen Ghost Rose akan terbongkar sepenuhnya.

Satu-satunya cara untuk mengubur kecurigaan Dominic selamanya, menyelamatkan barang tersebut, sekaligus mengunci kepercayaan sang penguasa mafia adalah dengan melakukan pengorbanan yang tak terbantahkan.

Sebuah pengorbanan darah.

"Evie, tetap di belakangku!" perintah Dominic tegas seraya mengisi ulang kelongsong amunisi senapannya. "Begitu aku menembak peluncur granat di pintu depan, kau lari menuju lorong bawah tanah di balik perapian!"

"Bagaimana dengan dokumen dan foto di meja itu, Dominic?!" seru Eva, suaranya dipenuhi panik yang sengaja diperkeras di tengah desingan peluru.

"Persetan dengan dokumen itu! Nyawamu lebih penting!" bentak Dominic tanpa berpaling, matanya memicing mengincar helikopter yang miring di atas tebing.

"Tidak, dokumen itu adalah alasan ibuku tewas. Dan foto itu harus kuamankan," batin Eva membeku.

Dari sudut bingkai jendela yang hancur, Eva melihat seorang penembak jitu musuh telah merayap naik ke atas pembatas tebing luar. Senapan runduk berperedam suara di tangan penembak itu telah terarah lurus ke dada samping Dominic, titik terbuka yang tidak terlindungi oleh pilar batu saat Dominic bersiap keluar dari persembunyian untuk melempar granat.

Waktu seolah melambat menjadi pecahan detik.

Penembak jitu itu menarik pelatuknya.

Eva tidak ragu satu milidetik pun. Alih-alih berlari menuju lorong bawah tanah seperti yang diperintahkan, Eva justru mendorong Dominic ke samping dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, melompat menerjang ke arah meja kayu tempat dokumen tergeletak.

Dess!

Timah panas yang seharusnya menghantam jantung Dominic. Namun karena dorongan keras Eva, peluru tersebut menembus tepat di bahu kanan atas Eva, menyayat pembuluh darah utama di dekat tulang selangka dan menembus keluar dari punggungnya.

Darah segar menyembur deras membasahi mantel abu-abu yang dikenakan Eva. Tubuh wanita itu terlempar dihantam momentum peluru, menghantam meja kayu yang retak.

Namun sebelum kesadarannya terancam gelap oleh rasa sakit yang luar biasa, tangan kiri Eva yang berdarah sempat meraih foto tua ibunya dan manifes tebal St. Jude 2012, mendekapnya erat di dalam pelukannya.

"Evie!"

Teriakan Dominic membelah kebisingan medan perang, sebuah raungan kehancuran murni dari seorang pria yang melihat seluruh dunianya dihancurkan di depan matanya sendiri.

Dominic tidak lagi memedulikan taktik pertahanan. Pria itu melompat keluar dari balik pilar di tengah hujan peluru yang menyapu lantai batu.

Senapan HK416 di tangannya menembak dalam dorongan amarah yang tak terkendali. Peluncur granat di bawah laras senapannya ditembakkan lurus ke arah penembak jitu di tebing luar.

Boomm!

Sisi luar tebing meledak dalam kobaran api dan pecahan batu. Penembak jitu bersama pembatas karang hancur melayang jatuh ke dasar samudra.

Dominic berbalik menyambar tubuh Eva yang terkulai bersimbah darah di atas lantai mahoni. Pria itu berlutut, menyanggah kepala Eva dengan lengan kirinya, sementara tangan kanannya yang gemetar hebat berusaha menekan luka tembak di bahu wanita itu untuk menahan pendarahan yang makin deras.

"Evie! Evie, tatap aku!" suara Dominic bergetar hebat, keputusasaan murni menyapu seluruh wibawa dan kekejamannya sebagai penguasa. Wajahnya yang biasa dingin kini pucat pasi, matanya membelalak menatap darah merah segar yang terus membasahi kemejanya sendiri.

Eva terengah memburu. Pandangannya kabur oleh rasa sakit yang menyengat bagaikan besi panas yang ditancapkan ke dadanya. Namun di balik kesadaran yang perlahan meredup, Eva memaksakan jemarinya yang bersimbah darah untuk mencengkeram kerah kemeja Dominic.

Tangan kirinya yang gemetar menyodorkan dokumen tebal St. Jude 2012 dan foto tua yang telah ternoda oleh darahnya sendiri ke dada Dominic.

"Aku... aku mengambilkannya... untukmu, Dominic..." bisik Eva, suaranya sangat serak, terputus-putus oleh darah yang menumpuk di tenggorokannya. "Dokumen... dokumen ibumu..."

Dominic menatap dokumen berdarah di tangan Eva, lalu menatap wajah wanita di pelukannya yang kian pucat pasi.

Pikiran pria itu dihantam oleh kenyataan yang menghancurkan, Eva tidak melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Wanita ini justru melompat menembus jalur tembak penembak jitu, menerima peluru yang seharusnya menembus dada Dominic, hanya demi mengamankan peninggalan almarhumah ibu Dominic.

Sekilas kecurigaan tentang nama 'Evangeline' di balik foto tua itu hancur berkeping-keping di dalam pikiran Dominic, tergantikan oleh rasa bersalah dan cinta yang luar biasa.

Tidak mungkin seorang agen musuh atau pembunuh bayaran rela mengorbankan nyawanya sendiri dan menerima peluru fatal demi melindungi pria yang menjadi targetnya.

"Kenapa kau lakukan ini, bodoh?!" raung Dominic, air mata hangat tanpa sadar menetes dari pelupuk matanya, jatuh membasahi pipi Eva yang bermandi darah. "Aku tidak peduli pada dokumen ini! Aku hanya menginginkanmu!"

Eva menyunggingkan senyum tipis yang sangat lemas di sela-sela rasa sakitnya. "Karena... aku tidak bisa... membiarkanmu mati..."

Kepala Eva terkulai lemas ke samping. Mata hazelnya terpejam rapat saat kesadarannya akhirnya runtuh ke dalam kegelapan total.

"Evie! EVIE!" Dominic meraung seraya merengkuh tubuh lemas Eva rapat-rapat ke dadanya.

precise saat itu, tiga helikopter pengawal cadangan Blackwood Syndicate yang dipimpin oleh Viktor menerobos masuk menembus kabut tebal tebing Mistral.

Senapan mesin berat di helikopter Viktor menyemprotkan hujan peluru ke arah helikopter Faksi Rossi, memaksa kendaraan musuh tersebut mundur berputar dalam kobaran asap hitam.

Viktor bersama enam eksekutor elit melompat turun ke aula Villa Mistral yang hancur.

"Tuan Dominic! Kita harus evakuasi sekarang juga!" teriak Viktor seraya memberi lindungan tembakan.

Namun saat Viktor melihat Dominic berlutut di tengah aula, menggendong tubuh Evie yang bersimbah darah dengan raut wajah yang hancur total, sang kapten pengawal itu membeku di tempatnya.

"Siapkan helikopter medis paling cepat!" bentak Dominic seraya bangkit berdiri, menggendong tubuh lemas Eva di kedua lengannya.

Matanya memancarkan kegelapan pembunuh. "Jika dia tidak selamat... aku akan memastikan seluruh Faksi Rossi dan siapa pun yang terlibat malam ini dibakar hidup-hidup sampai jadi abu!"

...****************...

Pukul 14.00 siang.

Rumah Sakit Privat Blackwood Medical Center di pusat kota Verona Heights dijaga ketat oleh tiga lapis barisan pengawal bersenjata lengkap.

Seluruh akses jalan di radius dua kilometer ditutup total untuk umum. Kendaraan taktis dan helikopter patroli terus berputar di udara, menciptakan aura darurat militer di atas kota.

Di lantai teratas, di depan pintu ruang operasi utama yang menyalakan lampu merah menyala, Dominic berdiri kaku bagaikan patung batu.

Kemeja putih dan jas panjang kelabunya masih dilumuri oleh bercak darah kering milik Evangeline. Pria itu menolak untuk mengganti pakaiannya atau membersihkan noda darah di tangannya.

Ia terus berdiri menatap pintu kaca ruang operasi, menyandarkan dahinya di atas permukaan kaca yang dingin.

Lady Eleanor duduk di kursi roda otomatis di ujung koridor, didampingi oleh dua pengawal senior. Wajah tua itu tampak sangat kaku, matanya menatap cucunya dengan rasa prihatin yang mendalam.

"Dominic," suara Lady Eleanor bergaung pelan di koridor yang sunyi. "Duduklah. Dokter bedah terbaik di kota ini sedang menangani Evie."

Dominic tidak bergeming. Tangannya yang mengepal di dinding kaca bergetar pelan.

"Peluru itu menembus dua sentimeter dari arteri utamanya, Nenek," suara Dominic terdengar sangat dingin, namun bergetar oleh keputusasaan yang tertahan.

"Dia melompat ke depan peluru itu untuk menyelamatkanku. Dia menerima tembakan yang seharusnya memusnahkan kepalaku."

Lady Eleanor membisu. Wanita tua itu melirik tas di samping kursinya, tas yang memuat dokumen tebal St. Jude 2012 dan foto tua berdarah yang berhasil diselamatkan Eva.

"Wanita itu..." bisik Lady Eleanor pelan, "...telah membuktikan kesetiaannya pada keluarga ini dengan darahnya sendiri."

"Bukan pada keluarga ini," potong Dominic seraya memutar tubuhnya perlahan. Matanya merah, dipenuhi oleh dendam murni yang siap meledak.

"Dia melakukannya padaku. Dan orang yang memerintahkan penembak jitu itu... Don Sergio Rossi... akan membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuh istriku."

"Dominic, kita belum memverifikasi apakah Sergio bergerak sendiri atau atas perintah anggota Lima Duri-"

"Aku tidak peduli!" bentak Dominic, suaranya memantul keras di dinding koridor. "Viktor!"

Viktor yang berdiri lima langkah di belakang Dominic langsung maju dan menundukkan kepala. "Siap, Tuan."

"Kumpulkan seluruh armada tempur sektor satu dan dua," perintah Dominic dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan sedikit pun. "Bakar seluruh pelabuhan dan gudang logistik milik Faksi Rossi di distrik barat malam ini. Jangan tinggalkan satu pun saksi hidup."

"Tapi Tuan," sela Viktor ragu, "perang terbuka antar-faksi akan memicu intervensi dari Dewan Konsorsium Pusat-"

"Biarkan Dewan datang!" desis Dominic, mendekatkan wajahnya ke arah Viktor.

"Katakan pada Dewan... siapa pun yang menghalangi perburuanku atas darah Evie... akan kubantai di tempat yang sama."

Viktor menahan napasnya, lalu menunduk dalam-dalam. "Dimengerti, Tuan. Eksekusi berjalan dalam sepuluh menit."

Tiba-tiba, lampu merah di atas pintu ruang operasi padam, berganti menjadi lampu hijau.

Pintu geser otomatis terbuka, dan kepala tim dokter bedah melangkah keluar seraya melepas masker medisnya. Wajah dokter tua itu tampak sangat lelah, namun ada nada lega di raut mukanya.

Dominic menerjang maju dalam satu langkah lebar. "Bagaimana keadaannya?"

"Tuan Dominic," kata dokter bedah itu seraya membungkuk hormat. "Operasi pengangkatan proyektil dan penjahitan pembuluh darah di bahu Nyonya Evie berhasil berjalan lancar. Beruntung peluru tersebut tidak merusak struktur tulang belakangnya."

Dominic mengembuskan napas panjang, seluruh ketegangan otot di tubuhnya seolah runtuh seketika. "Apakah dia sudah sadar?"

"Nyonya masih berada di bawah pengaruh anestesi berat dan mengalami trauma pendarahan hebat," jelas dokter tersebut.

"Kami telah memindahkannya ke ruang perawatan intensif VIP. Dia membutuhkan waktu kritis 24 jam ke depan untuk melewati masa krisis infeksi."

"Aku ingin melihatnya sekarang," kata Dominic tegas.

Ruang perawatan intensif VIP lantai sembilan diselimuti oleh suara denting teratur dari monitor detak jantung.

Ruangan itu berdinding kaca tebal dengan pemandangan langsung ke arah lanskap kota Verona Heights yang mendung. Di tengah ruangan, Evangeline terbaring kaku di atas tempat tidur medis. Bahu kanan dan dadanya dibalut oleh lapisan perban putih tebal, sementara selang infus dan oksigen terpasang di hidung dan lengannya.

Wajah Eva tampak sangat pucat, bibirnya yang biasa merona kini kehilangan warna. Namun detak jantungnya di monitor berbunyi teratur.

Dominic melangkah masuk sendirian ke dalam ruangan steril tersebut. Pria itu menyandarkan senapannya di sudut dinding, lalu melangkah perlahan menuju sisi tempat tidur Eva.

Ia mendudukkan tubuhnya di kursi samping tempat tidur, menatap wajah polos wanita yang sedang terlelap kaku di bawah pengaruh obat bius.

Dominic mengulurkan tangannya yang masih ternoda bekas darah kering, menyusuri jemari kiri Eva yang dingin dengan sangat perlahan. Pria itu membawa jemari lemas Eva ke bibirnya, mencium punggung tangan wanita itu dengan kelembutan dan rasa hormat yang mendalam.

"Kau menang, Evie," bisik Dominic pelan di samping telinga Eva yang terlelap. "Kau telah merobohkan seluruh dinding dalam diriku."

Dominic mengambil foto tua hitam-putih yang telah dibersihkan dari sisa darah dari dalam saku dadanya. Pria itu menatap foto Lady Vivienne dan Clara Cross yang sedang memegang anak perempuan kecil bernama Evangeline.

Di dalam pikiran Dominic, ia menyimpulkan bahwa 'Evangeline' di foto tersebut adalah putri dari almarhumah Clara Cross, rekan kerja ibunya yang mungkin telah tewas atau hilang dalam tragedi St. Jude 2012.

Dominic mengira nama itu hanyalah kebetulan sejarah dari putri sahabat ibunya, tanpa pernah terlintas dalam benaknya bahwa wanita terluka yang sedang berbaring di hadapannya ini adalah anak perempuan kecil bernama Evangeline Cross tersebut.

Pengorbanan darah yang dilakukan Eva telah mengunci kepercayaannya secara sempurna. Kecurigaan Dominic terhadap identitas 'Evie' menguap total, berganti menjadi proteksi buta yang mematikan.

Dominic meletakkan foto tua itu di atas meja samping tempat tidur Eva, lalu menggenggam kedua tangan lemas wanita itu di dalam pelukan tangannya yang hangat.

"Istirahatlah, Nyonya Blackwood," bisik Dominic seraya menatap lurus ke luar jendela kota yang mulai diliputi kegelapan sore.

"Saat kau terbangun nanti... orang-orang yang melukaimu tidak akan lagi memiliki tempat untuk bersembunyi di kota ini."

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!