Kematian beruntun datang menghantui desa ujung pandang, banyak warga yang meninggal secara mendadak dan akhirnya menimbulkan fitnah kejam di dunia iblis.
Arwah suci bernama Sukma harus membersihkan nama, dia mendapatkan tuduhan keji bahwa dia yang sudah menyebar racun tersebut.
sebab kematian para warga sangat mengerikan dan para dokter juga tidak menemukan ada yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Korban lagi
Andi berjalan ke belakang menuju kebun pisang untuk mengambil beberapa lembar daun yang ada di sana sesuai permintaan dari para pemandi mayat, mereka menyarankan agar kepala dari Pak Kades nanti akan ditutup dengan daun pisang saja karena itu sebagai syarat bahwa agar darah yang terus saja mengalir dari kedua mata itu bisa segera berhenti.
Duka masih begitu terasa di Desa Ujung Pandang sehingga siapa saja yang datang ke sana pasti akan menangis, bahkan Purnama saja yang begitu keras kini dia juga ikut meneteskan air mata telah melihat Bagaimana Bu Kades itu terus meratap karena dia sama sekali tidak menduga akan kehilangan sosok suami.
Andi saja sebenarnya tadi juga ikut menangis karena dia cukup dekat dengan Pak Kades dan sering mendapat bantuan dari beliau untuk mempermudah urusan, ini malah mendadak saja beliau meninggal dunia sehingga menimbulkan luka yang cukup besar di hati mereka dan tentu itu sangat berat untuk diterima oleh para warga.
Purnama yang mendapat dustaan kuat dari para warga agar dia segera bisa menangani tentang masalah tersebut dan jangan sampai ada korban yang jatuh lagi, ini sudah korban ketiga dan nanti jelas akan menimbulkan luka yang begitu besar di hati para keluarga yang di tinggalkan, Oleh sebab itu Mereka memilih untuk terus mendesak Purnama saja.
''Ya allah Kenapa orang sebaik itu yang harus menjadi korban kekejaman ini?'' Andi berjongkok sambil menggulung daun pisang.
''Kasihan sekali Pak Kades karena meninggal dalam keadaan mata bolong seperti itu.'' keluh Andi sendirian.
''Apa sebenarnya yang sudah berkeliaran di desa ini sehingga membantai banyak orang?'' ujar Andi kembali.
Krosaaaak.
Dengan cepat Andi menoleh karena dia kaget mendengar suara berisik dari arah samping, daun kering di sekitar sana Tentu saja sangat banyak sehingga bila ada yang lewat maka akan dengan mudah terkena pijakan itu, membuat mereka semua menjadi berhati-hati bila ingin lewat di kawasan kebun pisang ini.
Seeeeesssshhh.
''Apa sih yang telah mengikuti aku?'' Andi segera bangkit berdiri untuk melihat.
Tanpa dia sadari saat ini bahwa di belakangnya telah muncul asap berwarna hijau kehitaman dan itu tentu saja terlihat sangat menakutkan sekali, yang dapat dia cium saat ini adalah aroma amis yang begitu menusuk seperti perut ikan yang baru saja dibelah.
''Astaga bau sekali ini.'' Andi mengeluh dan menutup hidung.
Jreeeeeng.
''Ya allah!'' Andi tertegun sesaat ketika dia melihat sosok menyeringai di belakangnya sejak tadi.
''Mati saja, mati saja!'' gadis memakai baju putih itu tersenyum kepada Andi.
''Tolong aku, Mbak Purnama!'' Andi bergumam di dalam hati karena dia membutuhkan bantuan saat ini juga.
Ketakutan yang begitu besar dan dia ingat bahwa Purnama pernah mengatakan bila dalam keadaan terdesak maka harus memanggil nama dia beberapa kali, maka dengan begitu Purnama bisa membantu dan menyelamatkan mereka semua dari segala macam marabahaya yang datang untuk mengincar nyawa.
''Mau kau panggil dia secepat mungkin itu tidak akan pernah berhasil.'' gadis berbaju putih dan rambut panjang hitam itu kembali.
''Tidak, aku tidak boleh mati dengan cara seperti ini.'' Andi sudah ketakutan ketika melihat tangan Gadis itu berkuku panjang dan mengeluarkan tetesan air berwarna hijau.
Tes, Tes.
Air berwarna hijau pekat itu terus menetes deras membasahi daun kering yang ada di sekitar pohon pisang, Andi sebenarnya ingin menjerit agar dia bisa mendapat pertolongan dari para warga yang sedang memandikan mayat, namun apa daya karena dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara dan hanya bisa termenung menatap sosok wanita yang mengerikan dengan gaun putih itu.
****************
Purnama yang sedang berusaha untuk mendinginkan hati ibu Kades mendadak saja merasakan sesuatu yang tidak biasa, Dia segera bangkit berdiri untuk melihat apakah ada sesuatu dan langsung mencari aroma tersebut sampai dapat, sebab dia sudah sangat hafal dengan bau seperti ini Sehingga dia harus mencari dan menemukan sosok tersebut.
''Ar, Purnama tadi berkelebat pergi seolah ada sesuatu yang akan dia tangkap.'' Sagara juga melihat dan mengikuti Purnama.
''Kok bau amis ini sangat tidak biasa ya?'' Arya juga mencium aroma yang sama.
''Hahhh Ya sudah dulu untuk bagian kamar karena aku juga sudah menemukan Sidik Jari dia ini.'' Arya segera keluar dari kamar Pak Kades.
Sagara sudah tidak terlihat lagi karena dia memang mengejar Purnama untuk mendapatkan hal itu, entah apa yang telah terjadi sehingga mereka terlihat begitu panik dan aroma yang begitu amis dapat mereka cium sehingga membuat Arya juga kelabakan untuk menemukan Apakah ada sesuatu yang tidak biasa.
''Mana? aku tadi mencium dari arah sini.'' Purnama mencari keberadaan dengan perasaan gamang.
''Kau mencari apa memangnya?'' Sagara mendekati Purnama yang kelihatan bingung.
''Kau tentu bisa mencium aroma yang tidak biasa ini kan?'' Purnama gantian menoleh kepada Sagara.
''Ini seperti aroma yang pernah kita hirup dan aku merasa tidak asing dengan bahu ini.'' ucap Sagara dan segera berlalu.
Tanpa banyak kata lagi maka Purnama segera bergegas menuju arah yang lebih tepat untuk mencari keberadaan aroma ini, Sagara juga mengikuti dan dia sekarang sudah semakin curiga dengan teman dia sendiri bahwa kemungkinan besar ini memang ulah dari Sukma.
''Terlambat!'' Purnama berteriak marah karena dia belum berhasil menyelamatkan orang ini.
''Gila, ini Andi yang menjadi korban.'' Sagara membalik tubuh yang sudah telungkup di atas tanah itu.
''Astaga.'' Purnama juga lemah sendiri setelah melihat Bagaimana bentuk dari Andi sekarang.
''Bangsat! ini jelas sengaja dia memancing kita.'' Sagara sudah bisa menebak ke arah situ.
Purnama bergerak cepat karena dia tidak mau kehilangan jejak dari pembunuh itu, bahkan sekarang yang menjadi korban kekejaman para iblis telah menjadi semakin parah saja, jelas ini nanti akan menimbulkan luka yang semakin parah bagi para warga yang tinggal di tempat ini karena Andi adalah warga setempat yang paling banyak berperan penting dalam hidup ini.
Selamat sore, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author Novita Jungkook ya.
penasaran siapa ya yg sudah membangkitkan arwah iis🤔
sudah ku duga pasti member usil ini👻