" PLAAKK " Ester memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan dari seseorang yang ia sebut sebagai ibunya. " Anak tidak tahu diri, kau mirip dengan ibumu, wanita murahan " . " Setidaknya ibuku mendapatkan kasih sayang dari ayahku " Ucap Aster. . " Berani kau mengeluarkan suara lagi aku tidak segan-segan mengambil semua jatah bulananmu " Teriak Maria keras. Tetapi Ester tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu. . Ester Castello putri dari Amir Castello dengan istri keduanya, ibu Ester awalnya selingkuhan dari ayahnya karena sedang hamil terpaksa harus menikah dan menjadi istri kedua ayahnya. Tentu hidupnya benar-benar seperti dalam neraka setelah kematian ibunya, karena sudah tidak ada lagi yang melindunginya dari kekejaman istri pertama ayahnya. Takdir mempertemukan dirinya dengan seorang pewaris dari keluarga Moretti, hingga membuat dirinya bisa melihat dunia yang selama ini belum pernah ia lihat sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mylavender, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif
Tatapan mata Ester seperti menyelidik saat ia merasakan ada yang membuntuti dirinya dari belakang.
“ Siapa yang membuntutiku “ gumam Ester merasa curiga.
Ester terus berjalan tak melihat sekitarnya karena ia merasa bahwa dirinya ada dalam bahaya. Langkahnya semakin lebar dan cepat, hingga ia merasakan ada suara langkah kaki tepat dibelakang tubuhnya.
Ester semakin lama ia semakin khawatir dan segera masuk di sebuah restoran mewah. Dirinya merasa menyesal karena pergi tanpa Ansel.
Ester segera mencari tempat duduk, seorang pria melihat dari luar ke arah Ester duduk di sebuah tempat di dalam restoran.
Tatapan Ester semakin curiga, apa keinginan pria itu, kenapa membuntutinya, ia merasa curiga karena ini adalah hal yang tak biasa.
Penampilan pria itu bukan seperti brandal pada umumnya, tetapi terlihat seperti seorang anak buah atau orang suruhan sehingga membuat Ester waspada, Ia lalu merogoh ponselnya dan menekan nama seseorang di sana.
" Halo "ucap Ester saat merasa panggilannya terhubung.
" Ada apa Ester ? " jawab Ansel.
" Bisakah kamu menjemputku!! "
" Kenapa? " Ansel kebingungan saat mendengar nada panik dari Ester.
" Aku diikuti seseorang Ansel, aku tidak tahu siapa dia.. Dia terlihat menungguku di luar restoran " ucap Ester.
" Oke Oke..., aku akan ke sana, kamu tunggu ya aku akan ke sana dengan Devano, aku akan menghubungi Devano lebih dulu "
" Baiklah aku tunggu kedatanganmu "
Ester menunggu di dalam, Ia memesan minuman untuk menenangkan dirinya agar tidak panik, tatapan Ester mengarah ke arah pria itu lagi ternyata pria itu belum pergi dari sana, tangan Ester semakin gelisah ia melihat pria itu malah mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan memainkan di tangannya, Ester semakin tidak karuan.
"Apa dia suruhan Monika" pikir Ester karena sudah jelas Monika tahu tentang keberadaan Ester, bahkan Monika juga tahu jika dirinya masih hidup bahkan kehidupannya jauh lebih baik dari pada dulu.
Pre itu malah memasukkan pisau lipat ke sakunya lagi dan terlihat nekat memasuki restoran, Ester semakin gelisah lalu ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan tak tentu arah semakin ke dalam restoran tersebut.
Tangan Ester menekan ponselnya dan akan menghubungi polisi tapi ini akan jadi berita besar karena model papan atas pasti incaran para media.
Ester melihat pria itu semakin dekat, dengan cepat Ester segera mengarah ke pegawai restoran tersebut untuk meminta perlindungan belum sampai kakinya menapak ke arah pegawai restoran tersebut tiba-tiba seorang pria telah menarik tangannya dengan cepat, Ester terkejut dan menoleh siapa pria itu.
" Kau ? " kaget Ester .
" Sedang apa kau di sini ? " Tanya Tommy sambil menaikkan alisnya.
" Aku...aku " bingung Ester ketika ingin menjawab, tangan Ester semakin mengerat pada Tommy.
Tatapan Tommy mengarah pada pria yang berdiri tepat di belakang tubuh Ester, lalu Tommy menatap pria itu dengan tajam, pria itu seperti kebingungan dan mundur beberapa langkah lalu pergi dari hadapan Tommy. Ester mencengkram tangan Tommy dengan kuat seperti orang yang sedang meminta perlindungan.
" Siapa pria itu? "
" Aku tidak tahu, " jawab Ester, Tommy bersedekap dan menatap ke arah Ester dengan tatapan menyelidik.
" dengan siapa kau ke sini? " tanya Tommy.
" bukan urusanmu " jawab Ester ketus.
Ester membalik tubuhnya dan pergi dari hadapan Tommy, tetapi setelah beberapa langkah suara Tommy mengejutkan Ester
" Sepertinya pria tadi mengejarmu "
Ester memejamkan matanya dan tangannya mengepal kuat,
Drrttt Drrttt
Ponsel Ester bergetar.
" Halo " ucap Ester
" Kamu di mana Ester ? aku menghubungi Devano tapi Devano tidak bisa dihubungi, kamu bagaimana keadaannya sekarang ? aku sedang mencari taxi "
" Tidak perlu Ansel, aku sudah baik-baik saja, pria itu sudah pergi.. "
" Benarkah ? kalau begitu segeralah pulang aku akan menunggumu di hotel "
" Iya " jawab Ester lalu mematikan panggilannya
" Aku rasa kau akan berada dalam bahaya jika keluar sendirian " ucap Tommy lagi, Ester lalu berbalik menatap ke arah Tommy, tatapan mereka saling bertemu.
" Maka antarakan aku " ucapan Ester terdengar tidak ada pilihan, Tommy terkekeh lalu menggelengkan kepalanya pelan, ia berjalan dengan gagah serta kedua tangannya berada di saku celananya.
Tommy berdiri di samping tubuh Ester.
" Mari Nona, aku akan mengantarmu.. " ucap Tommy dibuat-buat untuk menggoda Ester.
Ester tak punya pilihan, ia harus menurunkan egonya saat ini, semua demi keselamatan dirinya sendiri.
Ester memasuki mobil Tommy, ia duduk diam di samping Tommy yang sedang bersandar di kursi dengan menatap ke arah ponselnya.
" Jalan " perintah Tommy pada supir.
Ester melihat ke arah luar jendela mobil, ia tak mau menatap ke arah Tommy sedangkan Tommy sibuk menatap ke arah Ester.
"Apa yang kau lihat " marah Ester.
" Kau...sepertinya kau begitu ketakutan hingga mau semobil denganku " Tommy menyandarkan kepalanya di kursi.
" Jangan pernah merasa terlalu percaya diri, aku melakukan ini dengan terpaksa.. "
Tommy hanya terdiam dan terkekeh, selama perjalanan tidak ada ucapan lagi dari mereka hingga sampai di hotel Ester langsung keluar dari mobil dan berjalan memasuki Hotel begitu saja tanpa berterimakasih pada Tommy. Tommy hanya menghela nafas melihat tingkah seorang wanita yang menurutnya begitu menjengkelkan