Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hanya berselang satu bulan sejak surat cerai itu sah, Askar dan Rara melangsungkan pernikahan sederhana. Bu Surya sangat bahagia, terus-menerus memuji Rara di depan kerabat. "Lihatlah, menantuku ini cantik, sopan, dan pandai berbicara. Jauh berbeda dengan yang dulu." Rara tersenyum manis mendengarnya, berperan sempurna sebagai pengantin wanita yang lembut dan penurut.
Tiga hari setelah pernikahan, Rara mengemasi barang-barangnya di meja kerja ruang kantor. Teman-temannya datang berkunjung, mengucapkan selamat sekaligus perpisahan.
"Kau benar-benar berhenti kerja, Ra? Sayang sekali, kinerjamu bagus sekali," kata salah satu rekan kerjanya.
"Ah, tidak apa-apa. Askar sudah melarangku bekerja. Katanya aku cukup mengurus rumah dan menemaninya. Lagipula, gaji Askar lebih dari cukup untuk kami berdua," jawab Rara santai, matanya berbinar bahagia.
Sore itu, Askar pulang kerja dan melihat Rara sudah menunggunya di rumah dengan pakaian yang cantik dan wangi.
"Sayang, kau sudah pulang? Aku sudah berhenti kerja hari ini, seperti yang kita sepakati," kata Rara sambil merangkul lengan suaminya.
Askar tersenyum puas. "Baguslah. Kau tidak perlu capek-capek bekerja. Biarkan aku yang menafkahi kalian. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
Malam itu, suasana terasa hangat. Namun itu tidak berlangsung lama. Seminggu setelah menikah, Rara mulai berubah. Pagi itu, Bu Surya mendatangi Rara yang sedang duduk santai menonton televisi.
"Rara, tolong ambilkan air minum untuk Ibu ya," pinta Bu Surya lembut.
Rara tidak beranjak, hanya menoleh sekilas. "Ibu sendiri saja ambil ya, aku sedang malas bergerak. Lagipula ada pelayan di dapur, suruh dia saja."
Bu Surya terdiam, sedikit terkejut. "Dulu kau selalu menawarkan diri, sekarang baru disuruh sedikit saja sudah menolak."
"Itu kan dulu, Bu. Sekarang aku sudah jadi istri Askar, bukan pembantu di rumah ini," jawab Rara ketus.
Askar yang baru pulang mendengar percakapan itu. "Rara, jangan begitu sama Ibu. Sekadar ambilkan air tidak berat kan?"
Rara langsung menatap suaminya. "Kenapa kau membela ibumu terus? Aku kan juga capek di rumah seharian. Lagipula, uang belanja yang kau berikan itu kurang sekali. Harga barang naik terus, tapi uangnya tidak pernah bertambah."
"Uangnya sudah cukup untuk kebutuhan rumah," jawab Askar pelan.
"Cukup bagaimana? Aku mau beli baju, mau beli kosmetik, mau makan enak. Uang segitu tidak cukup! Dan mulai sekarang, uang belanja itu harus aku yang pegang. Kalau Ibu butuh apa-apa, minta saja padaku. Aku yang akan mengatur keuangan rumah ini," ujar Rara tegas.
Askar tidak bisa menolak. Ia menyerahkan seluruh pengaturan uang rumah kepada Rara. Sejak hari itu, Bu Surya mulai merasakan perubahan. Setiap kali ia meminta uang untuk kebutuhan pribadinya, Rara selalu memberi sedikit sekali, bahkan sering menolak.
"Kenapa harus banyak-banyak, Bu? Ibu kan sudah tua, tidak butuh pakaian baru atau makanan mahal. Simpan saja uangnya untuk kebutuhan kami yang masih muda," kata Rara suatu hari saat Bu Surya meminta uang belanja tambahan.
"Tapi ini rumahku, Rara. Dan uang Askar juga uangku. Kenapa aku harus minta-minta padamu?" tanya Bu Surya kesal.
"Askar sudah menikah denganku, maka istrinya yang berhak mengatur. Ibu tinggal di sini juga berkat kebaikan kami. Sudah syukur Ibu diberi tempat tinggal, jangan banyak menuntut," jawab Rara kasar.
Bu Surya marah besar. "Kau bicara apa?! Dulu kau bersikap manis dan lembut, sekarang baru menikah beberapa hari sudah berubah begini!"
"Itu karena dulu aku belum jadi istrinya. Sekarang aku tidak perlu berpura-pura lagi," Rara tertawa sinis lalu pergi.
Perdebatan itu terjadi hampir setiap hari. Kadang antara Rara dan Bu Surya, kadang Askar yang terpaksa berada di tengah. Askar mulai merasa lelah. Ia menyadari bahwa Rara yang dulu ia kenal — lembut, sopan, dan pengertian — hanyalah topeng. Wanita yang sebenarnya ada di depannya ini egois, kasar, dan sangat materialistis.
Suatu malam, saat mereka berdua berada di kamar, Askar mencoba berbicara baik-baik. "Rara, tolong perlakukan Ibu dengan baik. Dia ibuku, dia melahirkanku. Kita tidak boleh kasar padanya."
"Kalau kau mau ibumu dihormati, berikan aku lebih banyak uang. Semua ini karena uang tidak cukup. Kalau kau kaya, aku pasti sopan terus," jawab Rara sambil memainkan ponselnya.
"Kau menikah denganku karena uang?" tanya Askar terkejut.
"Jangan terlalu polos, Askar. Tanpa uang, apa gunanya pernikahan? Lagipula, dulu kau juga mendekatiku karena aku cantik dan pandai, bukan?" Rara tidak menatap suaminya.
Askar terdiam. Hatinya terasa perih. Ia teringat Miska — wanita yang dulu selalu sabar, selalu mengalah, selalu mengurus rumah dan ibunya tanpa pernah meminta lebih. Miska tidak pernah menuntut uang banyak, tidak pernah memerintahnya, tidak pernah membentak ibunya. Dan dulu ia menganggap itu kewajiban Miska. Sekarang, saat ia mendapatkan wanita yang ia impikan, ia justru merindukan ketulusan yang dulu ia buang.
"Kau diam saja? Sudah, jangan banyak tanya. Besok tambah uang belanja, kalau tidak, aku yang akan pergi," ancam Rara lalu membalikkan badan memunggungi suaminya.
Askar menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia merasa sendirian, meskipun istrinya ada di sebelahnya. Di rumah yang dulu terasa hangat, kini hanya ada pertengkaran, tuntutan, dan kepura-puraan. Dan jauh di sudut hatinya, ada penyesalan yang mulai tumbuh — perlahan namun pasti.
Sementara itu, di ruko kecil miliknya, Miska sedang menghitung uang hasil penjualan hari itu bersama Bu Siti.
"Alhamdulillah, Bu. Hari ini penjualannya lumayan sekali," kata Miska tersenyum lebar.
"Baguslah, Nak. Teruslah semangat. Lihatlah dirimu sekarang — mandiri, bahagia, dan dicintai orang-orang di sekitarmu. Kau tidak butuh laki-laki untuk membuatmu berharga," jawab Bu Siti bangga.
Miska mengangguk. "Aku sadar itu sekarang, Bu. Kebahagiaanku tidak tergantung pada siapa pun. Hanya pada diriku sendiri."
Miska tidak tahu bahwa di rumah yang dulu ia tinggali, orang-orang yang membuangnya justru mulai merasakan apa yang dulu ia rasakan. Dan itu baru permulaan.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪