Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Pelarian manis

Dua hari berlalu sejak kedatangan amplop misterius itu. Meski Arka berupaya keras menyembunyikan ketegangan hukum yang sedang disiapkannya untuk melawan pergerakan sang ibu, Aira bukanlah wanita yang sepenuhnya buta.

Gadis itu bisa merasakan perubahan pada suaminya: Arka makin sering menerima telepon berbisik dari Raymond, kepalanya sering bersandar lelah di kursi kerja, dan pendar matanya menyimpan kabut kecemasan yang mendalam.

Rasa minder yang mengendap di

hati Aira makin menjadi-jadi.

Setiap kali melihat Arka pulang terlambat dengan wajah lelah, Aira selalu menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja aku bukan dari keluarga miskin yang bermasalah, Mas Arka tidak perlu bertengkar dengan Ibunya dan menanggung beban sesulit ini, bisik batin Aira pilu.

Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Aira duduk di sofa ruang tengah kamar utama, masih mengenakan gaun tidur bahan sutra tipis berwarna merah muda lembut. Rambut panjangnya terurai pasrah di bahu.

Pintu kamar terbuka pelan. Arka melangkah masuk. Pria berusia 39 tahun itu melonggarkan dasinya, melepaskan dua kancing teratas kemejanya dengan hembusan napas yang terdengar berat.

Namun, saat tatapannya jatuh pada sosok Aira yang duduk menunggunya dengan mata sayu, raut lelah di wajah Arka seketika memudar.

Arka meletakkan jasnya di sembarang tempat, lalu berjalan cepat mendekati Aira. Pria itu langsung duduk di sofa, menarik tubuh molek Aira ke atas pangkuannya dan merengkuhnya erat-erat.

"Kenapa belum tidur, Sayang?" bisik Arka serak. Pria itu membenamkan wajah tegapnya di ceruk leher Aira, menghirup aroma wangi alami istrinya yang selalu menjadi penawar paling ampuh untuk seluruh stres pekerjaannya.

Aira melingkarkan lengannya di leher Arka, mengusap pelan rambut hitam suaminya yang sedikit acak-acakan.

"Aira nggak bisa tidur kalau Mas Arka belum pulang. Mas... kelihatan capek banget."

Arka menarik wajahnya sedikit, menatap mata cokelat jernih milik Aira. Ia melihat ada sisa-sisa binar kesedihan dan rasa bersalah di sana. Arka sadar, mempertahankan Aira di dalam rumah besar yang dikepung bayang-bayang tekanan ibunya justru membuat gadis itu makin tertekan dan merasa minder. Aira butuh suasana baru. Mereka berdua butuh pelarian sejenak dari dunia luar.

Sebuah senyuman hangat dan sedikit misterius terukir di bibir Arka.

"Besok kosongkan jadwalanmu," tutur Arka lembut, mengusap pipi Aira dengan ibu jarinya.

Aira bertaut alis bingung.

"M-maksud Mas Arka?"

"Mas sudah minta Bi Inah menjaga Elano selama dua hari. Besok pagi, Mas akan membawamu jalan-jalan. Hanya kita berdua," kata Arka penuh penekanan, menyalurkan kehangatan yang membuat dada Aira berdesir.

"Tapi... pekerjaan Mas di kantor bagaimana? Ibu juga—"

"Tidak ada kata 'tapi' dan tidak ada yang boleh mengganggu kita besok, Aira," potong Arka tegas namun manis.

Ia mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Aira dengan kelembutan yang dalam. "Dunia luar bisa menunggu. Yang Mas butuhkan sekarang hanyalah waktu berdua dengan istri Mas."

Keesokan harinya, Arka membawa Aira pergi tanpa membawa pengawal yang mencolok. Pria itu mengendarai sendiri mobil spor mewah jenis SUV menuju sebuah resort dan hotel bintang lima bergaya private villa yang terletak di kawasan perbukitan sejuk, jauh dari kebisingan kota dan intrik keluarga Danuartha.

Villa pribadi yang dipesan Arka berdiri di atas tebing yang menghadap langsung ke hamparan pegunungan hijau dan lautan biru di kejauhan. Kolam renang infinity pribadi membentang di balkon belakang, diselimuti kabut tipis dan udara sejuk yang menenangkan batin.

Saat Aira melangkah masuk ke dalam villa mewah yang berdinding kaca tebal itu, matanya membulat takjub. Keindahan pemandangan dan ketenangan tempat itu seketika membuat beban berat yang mencengkeram dadanya selama beberapa hari terakhir perlahan mengendur.

"Suka tempatnya?" tanya Arka dari belakang. Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Aira, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu seraya menatap pemandangan luar bersama-sama.

"Indah banget, Mas..." bisik Aira takjub. "Aira belum pernah datang ke tempat seindah ini."

"Ini semua khusus untukmu, Sayang," bisik Arka penuh kasih sayang di dekat telinga Aira.

"Mas ingin kamu melupakan semua masalah, semua kata-kata buruk, dan semua ketakutanmu. Di tempat ini, tidak ada Nyonya Rosalia, tidak ada berita media, tidak ada perbedaan status. Cuma ada Mas dan kamu."

Aira membalikkan badannya di dalam dekapan Arka. Menatap mata hitam Arka yang memancarkan kejujuran dan rasa cinta yang begitu melimpah, air mata haru menggenang di sudut mata Aira. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka, merasa begitu dilindungi dan dicintai.

Sore harinya, Arka mengajak Aira berjalan-jalan di sepanjang pantai pribadi resort. Tanpa canggung, pengusaha sukses yang disegani banyak orang itu melepaskan alas kakinya, menggulung celana bahagian bawahnya, dan menggandeng tangan Aira menyusuri pasir pantai yang halus.

Aira tertawa lepas ketika ombak kecil menyapu kaki mereka. Suara tawa Aira yang murni dan renyah bagaikan alunan musik paling indah di telinga Arka. Arka menatap wajah bahagia istrinya dengan pendar mata yang amat pekat. Sudah lama ia tidak melihat Aira tertawa sebebas ini.

Saat matahari mulai terbenam, memancarkan warna jingga keemasan di ufuk barat, Arka menarik Aira mendekat. Pria 39 tahun itu merengkuh pinggang Aira, menatap iris mata cokelat gadis itu di bawah terpaan angin laut yang lembut.

"Terima kasih sudah hadir di hidup Mas, Aira," kata Arka dengan suara serak yang begitu dalam.

"Mas mungkin bukan pria sempurna, tapi Mas berjanji akan selalu membuatmu tersenyum seperti ini."

Aira berjinjit sedikit, melingkarkan kedua tangannya di leher Arka.

"Mas Arka sudah lebih dari sempurna buat Aira. Aira sayang banget sama Mas..."

Arka menundukkan kepala, menyatukan bibir mereka dalam ciuman manis di bawah pendar sunset. Ciuman yang diawali dengan kelembutan itu perlahan berubah makin dalam, menyalurkan kerinduan dan gelora gairah yang telah lama menumpuk.

Malam harinya, suasana villa pribadi itu berubah menjadi sangat romantis dan intim. Pendar lilin-lilin kecil beraroma terapi aroma lavender menghiasi sudut ruangan. Udara malam pegunungan yang dingin menusuk hingga ke dalam kaca villa, namun di dalam kamar utama, suasananya terasa hangat dan dipenuhi aura kasmaran.

Setelah menikmati makan malam romantis di balkon, Aira baru saja selesai membersihkan diri. Gadis itu keluar dari kamar mandi menggunakan piyama sutra tipis berwarna putih gading yang menjiplak lekuk tubuh bahagian atasnya dengan anggun.

Arka yang sudah bersantai di tepi ranjang dengan kaos santai berwarna hitam mendongak.

Manik mata hitamnya menyipit pekat saat menangkap sosok istrinya yang tampak begitu alami, polos, namun luar biasa memikat di bawah Pendar lampu kamar yang temaram.

Gelora naluri laki-laki dewasa dalam diri Arka seketika membara hebat. Bukan lagi didorong oleh rasa terburu-buru, melainkan oleh rasa cinta dan kerinduan biologis yang sangat sah dan wajar sebagai seorang suami terhadap istri tercintanya.

Arka mengulurkan tangannya. "Sini, Sayang..."

Aira melangkah mendekat dengan senyuman malu-malu. Begitu Aira sampai di tepi kasur, Arka meraih tangan gadis itu dan menariknya pelan hingga Aira terduduk di atas pangkuannya.

Arka membenamkan wajahnya di rambut Aira yang harum basah, mendaratkan ciuman-ciuman hangat di leher mulus gadis itu. Desah napas Arka yang serak dan memburu menyapu kulit Aira, membuat gadis sembilan belas tahun itu meremang hebat dan meremas bahu kokoh suaminya.

"Mas..." bisik Aira dengan desahan halus, kepalanya mendongak pasrah saat Arka menggeledah lehernya dengan ciuman yang makin intens.

"Mas merindukanmu, Aira... sangat merindukanmu," gumam Arka serak di bibir Aira sebelum akhirnya mengunci bibir gadis itu dalam sebuah ciuman yang sarat akan dominasi dan kehangatan murni.

Arka merobohkan tubuh mereka berdua ke atas ranjang empuk secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat lembut dan menghargai, jemari besar Arka menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya, melucuti setiap keraguan dan rasa minder yang pernah singgah di hati Aira.

Malam itu, di bawah lindungan keheningan pegunungan dan kehangatan villa pribadi, Arka dan Aira menyatu kembali dalam ikatan biologis suami istri yang penuh gelora cinta. Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan, tidak ada lagi perbedaan status—hanya ada dua jiwa yang saling memiliki secara utuh dan sempurna.

Keesokan paginya.

Sinar matahari pagi menerobos sela-sela tirai villa, menyiram ranjang king size dengan cahaya keemasan. Aira terbangun dengan perasaan yang luar biasa segar dan bahagia. Rasa pegal di tubuhnya seolah terbayar tuntas oleh rasa hangat dan keutuhan yang ia rasakan di dadanya.

Aira menoleh ke samping. Arka masih tertidur lelap di sisinya. Satu lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggang Aira, menahannya agar tetap menempel di dada bidangnya yang telanjang. Wajah tampan Arka yang biasanya selalu tampak tegas dan keras kini terlihat begitu tenang dan damai dalam tidurnya.

Aira tersenyum manis. Jemari lentiknya terulur, mengusap lembut rahang tegas suaminya, lalu merapikan sedikit helai rambut hitam Arka yang jatuh di dahi.

Terima kasih, Mas Arka... sudah mencintai Aira seluar biasa ini, batin Aira tulus.

Pergerakan halus Aira membuat Arka terbangun. Mata hitam pria itu perlahan terbuka, dan hal pertama yang dilihatnya adalah senyuman paling indah dari istri cantiknya.

Arka menyunggingkan senyum tipis, mempererat dekapannya di pinggang Aira hingga tubuh mereka makin menempel rapat.

"Pagi, Istriku yang cantik," bisik Arka dengan suara parau khas bangun tidur yang sangat seksi. Pria itu menunduk dan mencium bibir Aira singkat.

"Pagi, Mas Arka..." balas Aira malu-malu, membenamkan wajahnya di dada Arka.

Arka terkekeh rendah, mengusap punggung polos Aira di balik selimut. "Bagaimana nyenyak tidurnya semalam?"

Wajah Aira seketika merona merah padam mengingat keintiman luar biasa yang mereka lalui sepanjang malam.

"M-Mas Arka... nanya gitu terus, malu ah."

Arka tertawa gemas, mengecup puncak kepala Aira berulang kali dengan rasa kebucinan yang meluap-luap. Momen liburan singkat ini telah berhasil mengembalikan binar kebahagiaan Aira dan memperkokoh ikatan batin serta fisik mereka berdua.

Namun, di saat mereka menikmati momen manis di atas ranjang tersebut, ponsel Arka yang tergeletak di meja samping kasur bergetar hebat secara terus-menerus.

Arka meraih ponselnya dengan alis bertaut. Nama Raymond tertera di layar.

Arka mengangkat telepon tersebut seraya tetap memeluk Aira.

"Ada apa, Raymond?"

Suara Raymond dari seberang telepon terdengar sangat panik dan terburu-buru.

"Pak Arka! Maaf mengganggu liburan Bapak, tapi keadaan di Jakarta darurat! Nyonya Rosalia baru saja menggelar konferensi pers mendadak bersama pengacara keluarga dan ibu kandung Aira dari kampung!"

Seketika itu juga, raut santai di wajah Arka membeku total. Manik matanya menyipit pekat, memancarkan amarah yang luar biasa dingin.

"Nyonya Rosalia mengumumkan ke publik bahwa pernikahan Bapak tidak sah dan menuduh Aira serta keluarga asalnya telah melakukan pemerasan serta penipuan terhadap keluarga Danuartha!" lanjut Raymond.

Dada Arka bergemuruh heba.

Badai yang selama ini ia tahan akhirnya meletus dengan cara yang sangat kotor dan terang-terangan di depan publik.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!