*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Tiga
# Tiga puluh tiga
Sejak tadi tangan Hanum enggan melepas jari-jemari suaminya. Tangan Leon yang biasanya dihiasi otot-otot yang kencang, kini sedikit mengendur.
Sambil terus menatap Leon, Hanum mendengar cerita dari Bu Kades bagaimana kronologi suaminya sampai ditemukan oleh beliau. Wanita paruh bayah nan ramah itu pun menjelaskan dengan apa adanya, tanpa pengecualian.
“Terima kasih, Bu!” Ganti Hanum memegang tangan wanita itu. Ribuan kata terima kasih ia ucapkan, karena telah menolong nyawa suaminya. Setelah itu, Hanum menanyakan pada suaminya. Mengapa bisa sampai mengalami kecelakaan.
Pria itu pun mulai bercerita, dengan runtun Leon menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Ketika mobilnya diikuti dari belakang dan sengaja menabrak bagian belakang mobilnya. Lalu dengan sengaja mendorong mobilnya menepi ke jembatan kemudian jatuh dan meluncur ke sungai yang kala itu airnya sangat deras.
Hanum merasa ngeri mendapati cerita suaminya itu. Mengapa ada orang yang begitu tega pada suaminya.
“Mas tahu siapa yang melakukan semua ini?”
Leon menggeleng, ia memang memiliki banyak rival dalam bisnis. Tapi tidak menyangka bakal ada yang berani membuatnya celaka.
“Ya sudah, kita cari pelakunya nanti dulu. Yang penting Mas sudah selamat,” ucap Hanum sambil menatap Leon dengan tatapan penuh kerinduan.
“Hanum, minta pengasuh Sean membawa anak itu ke mari. Aku rindu sekali padanya.”
“Baik, Mas.” Hanum lantas menelpon orang di rumah. Meminta sopir dan pengasuh mengantar Sean ke rumah sakit. Sebab Hanum enggan meninggalkan Leon jauh-jauh.
Hanum kemudian bertanya pada Bu Kades, “Bu, lebih baik ibu tinggal sementara di rumah kami. Nanti akan kami antarkan ke rumah.”
“Tidak, Nak. Nanti kalau suaminya saya kembali dari kampung. Saya akan ikut bersamanya,” tolak wanita paruh bayah itu dengan halus. Bibirnya yang keriput memberikan senyum tulus pada pasutri yang sangat berterima kasih padanya.
Beberapa jam kemudian, Sean datang. Anak yang dari kemarin nampak sakit dan murung itu langsung ceria begitu melihat papanya.
“Papa!” teriaknya. Kaki kecilnya berlari bersama angin, mendekat ke ranjang sang papa.
Leon yang melihat putrinya dengan mata berbinar-binar langsung menarik putrinya ke atas ranjang. Memangkunya dengan sayang, rasanya sudah lama sekali ia tak bercanda ria dengan putrinya itu.
“Anak papa kok makin kurus? Apa Mama gak kasih makan?”
“Waktu Mas gak ada, dia makannya susah!” potong Hanum.
“Mengapa begitu?” Leon menatap putrinya dengan manja. Mengecup rambut halus Sean yang lama ia rindukan.
Hari demi hari berlalu, suami Bu Kades tiba dari kampung. Ia merasa bersyukur ternyata Leon sudah sadar. Dan tambah bersyukur lagi saat pria itu sudah bisa menghubungi keluarganya.
“Terima kasih Pak, Bu atas bantuan kalian selama ini.” Leon memberikan sebuah amplop coklat besar yang sudah disiapkan oleh sekretarisnya sebelumnya.
“Tidak, Nak! Kami tulus menolong tanpa pamrih. Jangan berikan ini, kami malah merasa tak enak dan tak nyaman.” Pak Kades yang meskipun hidup sederhana di kampung, ia menolak tanda jasa yang diberikan oleh Leon. Baginya menyelamatkan nyawa orang itu tanpa pamrih. Ia benar-benar tulus menolong Leon kala itu.
“Tapi, Pak.” Leon malah merasa tak enak sendiri. Ia sungguh tak berniat bahwa segalanya bisa dibeli dengan uang. Hanya saja ini sebagai cara Leon membalas kebaikan pasutri tersebut.
“Tidak apa-apa, Nak. Simpan saja, bila kalian merasa berterima kasih. Cukup sekali dua kali berkunjung di tempat kami, Kami pasti akan senang.” Bu Kades pun ikut menolak kebaikan Leon dan keluarganya. Karena ia memang tulus kala itu.
“Terima kasih, Pak Bu!” Hanum memeluk kedua orang itu.
Mereka pun balik ke kampung diantar sopir pribadi Leon.
Tiga bulan kemudian.
Mama sudah keluar dari rumah sakit, kini ia tinggal bersama Hanum dan Leon. Karena Leon tak tega membiarkan mamanya tinggal seorang diri di rumahnya yang besar. Pasti wanita yang telah melahirkan dirinya itu mengalami kesepian tiap harinya.
Terbukti sekarang, setelah mereka tinggal selama dua bulan lebih di atas yang sama, kondisi mama makin membaik. Mama sekarang sudah sangat sehat, apalagi ada Sean di rumah. Seperti memiliki hiburan, Sean membuat hari-hari Mama makin bersemangat.
Di suatu malam, Leon siap-siap untuk ke luar kota. Ia mendapat laporan bahwa pelaku yang mencoba mencelakai dirinya beberapa bulan lalu kini tertangkap. Orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah kekasih dari Zura. Mantan sekretarisnya.
Mulanya Hanum melarang pergi, biarkan semua diurus oleh pihak yang berwajib, namun Leon memaksa. Ia harus bertemu dengan penjahat itu.
“Sudahlah, Mas! Aku gak ingin terjadi apa-apa dengan Mas lagi.”
“Hanum, aku hanya ingin menanyakan padanya. Mengapa dia ingin aku mati.”
“Bukannya sudah jelas? Itu karena Mas sudah tahu bahwa anak Zura bukan anak Mas Leon. Dia hanya marah karena sudah tak punya apapun lagi untuk mengancam Mas, sedangkan Zura sudah tertangkap.”
“Aku bahkan tak menceritakan apapun padamu, Hamun. Dari mana kamu tahu?”
Hanum menelan ludah.
“Aku mencari tahu sendiri.” Hanum berusaha memasang wajah biasa saja.
“Hemm...!”
“Sudahlah, pokoknya malam ini gak boleh kemana-mana!” Hanum merajuk pada suaminya. Ia malah mengait lengan suaminya dengan erat. Seolah tak akan melepas pria itu.
“Hanya sehari, sorenya aku pasti dah balik.” Leon mencoba membujuk, sebab ia ingin bicara dengan pelaku yang mencelakainya.
Hanum menggeleng, “Pokoknya tidak boleh!”
“Ayolah, Sayang!” Leon mengecup pucuk rambut sang istri, merayu agar mendapat ijin.
Ketika wajah Hanum menempel pada jas yang dikenakan suaminya, ia dapat menghirup wangi parfum. Biasanya sangat lembut tak menusuk hidung. Namun kini malah berbeda, Hanum merasa aroma parfum yang biasanya beraroma wangi nan lembut itu membuatnya mual.
Huek huek
Hanum melepas tangan suaminya yang semula memegang pundaknya.
“Hanum... Hanum!” Leon berlari mengejar Hanum yang berlari ke kamar mandi.
Wanita itu berdiri di depan wastafel, perutnya terasa mual. Dan ia pun memuntahkan semua yang barusan dimakan.
“Hanum, ada apa denganmu?” Pria itu memijit bagian belakang leher Hanum.
Hanum sendiri tak menjawab, semakin Leon mendekat. Ia malah langsung muntah.
“Mas, jangan dekat-dekat!” usirnya.
“Hanum?” Leon menatap dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Aneh sekali, bukannya Hanum yang tak membiarkan dia pergi? Ini mengapa malah ia di usir?
“Minggir Mas, aku gak suka bau parfumnya. Bikin aku mual.”
Leon pun melepas jas yang ia kenakan, “Sudah, sudah aku lepas!”
“Tetap saja, masih ada baunya!”
“Iya, iya aku lepas semuanya!” Leon melepas kemejanya juga. “Apa sudah tak bau?”
Hanum menatap aneh pada suaminya itu, mengapa Leon melepas semua pakaiannya?
“Mas, apa yang sedang kamu lakukan? Kamu sedang menggodaku saat perutku merasa tak enak?”
“Menggoda?” Leon menatap aneh pada Hanum. Siapa yang menggoda? Bukannya tadi sang istri membenci wangi parfumnya. Makanya ia melepas semuanya.
“Pakai lagi dan pergilah!” titah Hanum, matanya sempat melirik ke arah roti sobek yang hampir membuatnya terlena.
Seperti dicuekin, Leon menelan ludah dengan kaku dan berat.
“Kamu aneh, Hanum!”
“Mas yang lebih aneh!” Hanum tak mau kalah.
“Biasanya aku pakai parfum ini juga gak apa-apa. Ini malah soft banget!” kilah Leon.
“Iya, tapi baunya menyengat di hidungku, Mas.”
“Apa kita ke dokter THT?” tawar Leon sembari mengenakan pakaiannya lagi.
“Gak ada yang salah sama hidungku, Mas. Parfum Mas aja yang begitu menyengat!” Hanum lagi-lagi bersikeras bahwa suaminya yang salah, sedangkan dirinya benar. Dasar wanita!
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️