Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Efek Viral, Dapur Ngebul, dan Detektif Rumah Tangga

Pagi itu, baru jam tujuh pagi, tapi Studio Musik Harmony sudah mendadak seperti pusat panggilan darurat (call center). Telepon genggam Arga tidak berhenti bergetar dan berdering di atas meja kayu.

Arga yang baru selesai meminum kopi hitamnya hanya bisa melongo menatap layar ponsel. Di sampingnya, Bagas sedang tertawa terpingkal-pingkal sambil melompat-lompat di atas panggung kayu, sementara Daffa, Dave, Galang, dan Bintang menatap layar ponsel Bagas dengan mata melotot.

"Gila!!! Arga! Lu benar-benar jadi seleb TikTok sekarang!" seru Bagas sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.

"Lihat nih! Video kemarin pas lu pakai kostum badut gajah terus mainin perkusi pakai kaleng bekas pas listrik padam... views-nya udah tembus 500 ribu!"

"Hah?! Lima ratus ribu?!" Arga membelalak kaget. Ia langsung merebut ponsel Bagas.

Di layar video itu, terlihat jelas sosok badut gajah biru berbadan tinggi besar—yang tidak lain adalah Arga—sedang memukul-mukul tiang panggung dan kaleng cat dengan irama perkusi yang sangat energik dan profesional.

Caption yang ditulis Bagas di bawahnya bertuliskan: 'Manajer EO Paling Totalitas Sedunia. Listrik Padam? Badut Gajah Siap Beraksi!'

Kolom komentarnya pun dibanjiri ribuan netizen:

@Rina_Kurnia: "Kreatif banget! Ini EO daerah mana? Boleh nih buat ulang tahun anakku!"

@Budi_Santoso: "Badutnya skillful banget, ketukan perkusinya persis drummer band rock!"

@Dinda_Fitri: "Gaya larinya pas akhir video pasrah banget tapi gemes wkwkwk."

"Bagas... lu beneran ngancurin martabat gue sebagai Manajer EO," keluh Arga sambil menepuk jidatnya. Tapi belum sempat Arga memarahi Bagas lebih lanjut, Handpone nya kembali berdering.

Arga berdehem, mencoba mengembalikan suara wibawa manajernya.

"Halo, Harmony Event Organizer, dengan Arga di sini..."

"Halo! Mas Badut Gajah ya?!" suara wanita di ujung telefon terdengar sangat histeris dan antusias.

"Mas, saya mau pesan jasa EO-nya buat acara ulang tahun anak saya minggu depan! Tapi syaratnya, Mas Arga harus datang tetap pakai kostum badut gajah itu ya! Terus nanti pas tiup lilin, Mas gajahnya harus atraksi breakdance sambil main drum!"

Arga melongo. "B-breakdance Bu? Saya ini manajer..."

"Saya bayar dua kali lipat dari harga standar, Mas!" potong si ibu cepat.

Arga menghentikan kalimatnya. Ia terdiam sejenak, membayangkan biaya persalinan Menik bulan depan dan susu Nabila. Arga menelan ludah, lalu melirik anak-anak band yang mengacungkan dua jempol ke arahnya.

"Baik, Bu... demi kebahagiaan anak Ibu, badut gajah siap breakdance," jawab Arga pasrah namun mantap.

Anak-anak band langsung bersorak riuh. "MANAJER TERBAIK! GASSKEN BAPAK SIAGA!"

...***...

Sementara itu, di kediaman Dimas dan Kiara, suasana pagi terasa hangat meski ada sedikit ketegangan bisnis yang sedang diselesaikan.

Di ruang tengah, Dimas sedang duduk di lantai beralaskan karpet tebal bersama Rayyan, putra mereka yang berusia enam tahun. Rayyan sedang sibuk menyusun balok-balok kayu membentuk gedung bertingkat, sementara Kiara duduk di sofa dengan laptop dan tumpukan salinan berkas audit keuangan dinas di pangkuannya.

Kiara mengenakan kacamata berbingkai tipis—penampilan khasnya kalau sudah memasuki mode "analis hukum dan pengacara keluarga". Penanya menari-nari di atas kertas, menandai beberapa angka yang mencurigakan.

"Mas Dimas, coba sini sebentar," panggil Kiara lembut tapi tegas.

Dimas mengusap kepala Rayyan pelan. "Sebentar ya, Jagoan. Ayah dipanggil Ibu Pengacara dulu."

Dimas duduk di samping Kiara di sofa, merangkul bahu istrinya. "Kenapa, Sayang? Ketemu sesuatu?"

"Ketemu banget," Kiara menunjuk lembar halaman kelima laporan keuangan proyek pengadaan modal UMKM.

"Lihat nomor rekening penampung dana hibah ini. Nama pemegang rekeningnya tertulis 'CV Sinar Sejahtera', tapi nomor rekeningnya terdaftar atas nama pribadi, bukan rekening badan usaha."

Dimas menyipitkan mata, mencermati angka-angka yang ditunjuk Kiara. "Tunggu... nomor rekening ini... ini kan nomor rekening pribadinya Staf Admin baru di kantor, si Rendy!"

Kiara tersenyum puas, menyunggingkan senyuman kemenangan yang sangat manis.

"Bingo! Jadi, pola permainan mereka sepele banget, Mas. Rendy memalsukan tanda tangan Mas Dimas di lembar disposisi, lalu mengalihkan dana hibah ke rekening pribadinya sendiri. Dia memanfaatkan fakta kalau Mas Dimas waktu itu lagi tugas dinas ke luar kota."

Dimas menatap istrinya dengan pendar kagum yang amat luar biasa. Pria itu langsung menarik Kiara dan mengecup pipinya bertubi-tubi.

"Aduh...Mas Dimas! Malu dilihatin Rayyan!" seru Kiara sambil tertawa geli, wajahnya memerah.

Rayyan dari bawah karpet cuma menutup matanya dengan dua tangan kecilnya sambil berseru, "Ayah sama Ibu pacaran terus! Rayyan cuekin nih!"

Dimas dan Kiara tertawa lepas bersama. "Makasih ya, Ra," bisik Dimas tulus di telinga istrinya.

"Gara-gara ketelitian kamu, nama baik Mas di kantor bisa dibersihkan total besok pas rapat evaluasi Inspektorat."

"Sama-sama, Mas. Tugas istri kan memang menopang suaminya," sahut Kiara penuh kehangatan.

...***...

Sore harinya, Arga pulang membawa kabar gembira. Harmony EO baru saja menandatangani tiga kontrak acara sekaligus untuk bulan ini! Dapur mereka dipastikan bakal ngebul tebal.

Namun, begitu Arga membuka pintu rumah, ia menemukan Menik sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memandangi katalog perlengkapan bayi dengan raut wajah yang sedikit cemberut.

"Sugeng sore, Dek..." sapa Arga lembut. Ia berlutut di depan Menik, mengelus perut istrinya yang sudah semakin membesar.

"Kok mukanya cemberut gitu? Adik bayi bikin ulah lagi ya?"

Menik menatap Arga, lalu menghela napas panjang dengan gaya yang sangat menggemaskan. "Mas Arga..."

"Iya, Dek? Jangan bilang kamu ngidam mau minta Mas bawa gajah beneran ke rumah ya?" tanya Arga was-was.

Menik tertawa kecil, memukul pelan bahu suaminya.

"Bukan, Mas Arga! Menik itu ngidam... pengin belanja baju bayi, tapi belinya harus bareng sama Mas Arga, terus yang milih warna bajunya harus Mas Arga sendiri."

Arga menaikkan sebelah alisnya. "Lha, kan biasanya juga belanja bareng, Dek?"

"Iya, tapi kali ini beda! Mas Arga kan biasanya kalau diajak ke toko baju bayi cuma berdiri kaku di depan pintu kayak satpam," goda Menik.

"Sekarang Menik mau Mas Arga yang milih baju-baju lucunya. Terus... Menik mau makan es krim rasa alpukat di toko itu."

Arga tersenyum hangat. Ia menggenggam jemari istrinya, lalu menciumnya lembut.

"Siap, Ibu Ratu. Apapun demi kamu dan calon anak kedua kita. Ayo sekarang kita berangkat!"

Di toko perlengkapan bayi, pemandangan kocak pun terjadi. Arga Bagaskara—pria dengan badan tegap dan wajah tegas—terlihat sangat sibuk memegang baju-baju bayi berukuran mini dengan motif hewan-hewan lucu.

"Dek, yang warna kuning gambar jerapah ini lucu nggak?" tanya Arga antusias, memegang baju bayi yang ukurannya tak lebih besar dari telapak tangannya.

Menik yang sedang menikmati es krim alpukatnya tersenyum geli dari kursi tunggu. "Lucu, Mas. Ambil tiga ya."

Tak disangka, dari lorong sebelah toko baju bayi tersebut, muncul Kiara dan Dimas yang juga sedang menemani Rayyan memilih mainan baru.

Kedua keluarga itu saling berpapasan di depan kasir.

"Eh, Arga? Menik?" sapa Kiara kaget sekaligus senang melihat keberadaan mereka.

Menik menyapa ramah. "Mbak Kiara! Mas Dimas! Wah, ketemu di sini ya?"

Arga yang tadinya sedang memegang dua pasang kaos kaki bayi berbentuk kelinci langsung salah tingkah. Wajahnya agak memerah, tapi ia tidak lagi merasa malu seperti saat memakai kostum badut gajah kemarin.

Dimas tersenyum hangat, menepuk bahu Arga. "Wah, persiapan anak kedua ya, Ga? Selamat ya! Btw, video perkusi kamu pas jadi badut gajah viral banget di kantor dinas saya!"

Arga tertawa pasrah, menggaruk tengkuknya. "Aduh, Mas Dimas... jangan dibahas lah, itu kecelakaan operasional demi memenuhi ngidamnya Menik."

Semua orang di toko itu tertawa lepas. Kiara menatap Menik dan Arga dengan rasa bahagia yang tulus. Tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Yang tersisa hanyalah dua keluarga yang saling menghormati dan bahagia dengan takdirnya masing-masing.

"Nanti kalau usahanya butuh bantuan konsolidasi hukum atau berkas kontrak klien, kabari aku ya, Ga," tawar Kiara tulus.

"Aku siap bantu gratis buat bisnis Harmony EO kalian."

Arga menatap Kiara, lalu menoleh memandangi Menik yang tersenyum mengangguk setuju di sampingnya.

"Makasih banyak ya, Ra... Mas Dimas," jawab Arga tulus.

"Dukungan kalian berharga banget buat kami."

...***...

Malam harinya, setelah perjalanan panjang seharian, Arga dan Menik duduk berdua di teras belakang rumah. Nabila sudah tertidur lelap di kamarnya membawa boneka gajah baru hadiah dari Arga.

Angin malam berembus pelan, membawa aroma wangi bunga sedap malam dari pekarangan samping. Arga merangkul bahu Menik, sementara Menik menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang suaminya.

"Mas Arga..." bisik Menik pelan.

"Dalem, Dek?"

"Makasih ya... sudah mau berjuang keras buat keluarga kecil kita. Dari yang dulu pusing pasca PHK, sampai sekarang jadi Manajer EO yang rela melakukan apa saja demi Menik dan anak-anak."

Arga mengecup puncak kepala Menik dengan kehangatan yang paling tulus.

"Mas yang harusnya terima kasih sama kamu, Dek," tutur Arga lembut, suaranya sarat akan emosi mendalam.

"Kalau kamu nggak sabar, kalau kamu nggak selalu menopang Mas di saat-saat tersulit, Mas nggak akan pernah bisa berdiri setegar ini. Kamu dan anak-anak adalah alasan Mas buat terus berjuang."

Menik menggenggam tangan Arga, mengusapnya perlahan.

Dulu, kehidupan Arga bagaikan sungai yang penuh riak dan batu karang tajam. Namun kini, bersama Menik, sungai itu telah menemukan muaranya yang tenang, hangat, dan indah. Sebuah rasa yang dulu sempat hilang, kini telah utuh menjadi cinta sejati yang tak tergoyahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!