Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
"Viktor bilang kau belum menyentuh makan siangmu," suara Dominic meluncur rendah dan hangat seraya melangkah mendekati tempat tidur.
Eva memutar kepalanya perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang tulus saat melihat Dominic yang biasanya memegang senapan dan memerintahkan puluhan eksekutor kini memegang nampan makanan untuknya.
"Aku hanya belum merasa lapar, Dominic," sahut Eva halus, mencoba mendudukkan tubuhnya sedikit lebih tegap.
"Dokter Aris bilang kau harus mengisi energimu agar jaringan ototmu cepat pulih," potong Dominic tegas namun tanpa ada nada hardikan sedikit pun.
Pria itu meletakkan nampan kayu di meja samping tempat tidur, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi kasur, tepat di samping Eva.
Dominic meraih mangkuk sup hangat tersebut, mengaduknya perlahan agar uap panasnya berkurang, lalu menyendok sedikit kaldu bening. Ia mendekatkan sendok itu ke bibir Eva dengan telaten.
Eva menatap mata kelam Dominic dari jarak sangat dekat. Di dalam garis rahang pria itu yang tegas dan penuh bekas luka pertempuran beberapa hari lalu berhasil membuat dada Eva berdesir pelan.
"Aku bisa makan sendiri, Dominic," bisik Eva, jemari kirinya menyentuh pergelangan tangan Dominic. "Tangan kiriku sama sekali tidak terluka."
Dominic tidak menggeser sendok itu satu milimeter pun. "Biar aku yang menyuapimu, Evie. Mengalahlah sedikit untuk pria yang hampir gila melihatmu bersimbah darah beberapa hari lalu."
Kalimat itu meluncur polos dari bibir Dominic, sarat akan kejujuran dari batin seorang pria yang pernah berada di ambang kehancuran.
Eva menahan napasnya sejenak, lalu perlahan membuka bibirnya, menerima suapan kaldu hangat tersebut. Rasa gurih dan hangat langsung melintasi tenggorokannya.
Dominic tersenyum tipis, pria itu menyuapkan sendok demi sendok dengan ketelitian yang luar biasa, memastikan Eva menikmati setiap suapan tanpa terburu-buru.
"Bagaimana rapat dengan para pimpinan sektor?" tanya Eva pelan di sela-sela suapannya, menguji situasi di luar.
Dominic menyapu sudut bibir Eva dengan ibu jarinya yang kasar namun lembut. "Aku membatalkan seluruh jadwal rapat hingga lusa."
Eva memicingkan matanya tipis, terkejut. "Membatalkannya? Tapi runtuhnya Faksi Rossi pasti membuat distrik barat kacau-"
"Biarkan Viktor dan tim eksekutor yang menjaga garis batas," sela Dominic tenang seraya meletakkan mangkuk sup yang telah kosong kembali ke nampan.
"Dunia luar bisa menunggu, Evie. Kota ini tidak akan runtuh hanya karena aku memilih menghabiskan waktu dua hari di kamar ini untuk merawat istriku."
Dominic memajukan tubuhnya, menopang berat badannya dengan tangan kanannya di atas kasur, sementara tangan kirinya bergerak perlahan mengusap helai-helai rambut cokelat Eva yang jatuh menutupi dahinya.
Pria itu menundukkan kepalanya, mendaratkan kecupan lembut yang hangat di pelipis Eva, lalu turun ke pipi gading wanita itu, dan akhirnya berhenti di bibirnya.
Ciuman itu tidak dipenuhi oleh nafsu yang membara atau dominasi yang kasar, melainkan sebuah tarian bibir yang sangat lambat, lembut, dan sarat akan rasa syukur yang mendalam.
Dominic menyerap kehangatan napas Eva, seolah memastikan bahwa wanita di pelukannya ini nyata, bernapas, dan sepenuhnya milik dirinya.
Eva memejamkan matanya, merasakan sensasi hangat yang menjalar dari usapan tangan Dominic di tengkuknya. Tangan kiri Eva terangkat secara refleks, meremas pelan rajut abu-abu di dada Dominic.
Di dalam pusaran kebohongan dan penyamarannya sebagai agen Ghost Rose, momen-momen manis seperti ini terasa bagaikan oase tenang yang membingungkan hatinya sendiri.
Dominic melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan, menatap mata hazel Eva yang sedikit berbinar oleh pendar lampu kamar.
"Kau berhak mendapatkan kedamaian, Evie," bisik Dominic di depan bibir Eva, suaranya serak oleh emosi yang tertahan.
"Sejak kau masuk ke dalam hidupku, aku selalu membawamu ke dalam bahaya, tembakan, dan darah. Tapi mulai hari ini... kamar ini adalah tempat di mana tidak ada satu pun konspirasi yang boleh menyentuhmu."
Dominic menggeser tubuhnya lebih naik ke atas tempat tidur. Dengan kehati-hatian yang luar biasa agar tidak menekan bahu kanan Eva yang terluka, pria itu merangkul tubuh mungil Eva dari samping, menariknya bersandar rapat ke dadanya yang bidang dan hangat.
Eva menyandarkan kepalanya di atas dada Dominic, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup teratur dan kuat di bawah telinganya.
Bau minyak kayu cendana yang khas dari kulit Dominic menyelimuti indra penciumannya, memberikan rasa aman yang anehnya begitu membuai.
"Dominic?" panggil Eva pelan, menyusuri pola rajut baju Dominic dengan jemarinya.
"Ya, sayang?"
"Apakah... apakah kau pernah berpikir untuk meninggalkan seluruh bisnis Konsorsium ini?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Eva, sebuah pertanyaan yang lahir dari lubuk hatinya yang paling dalam, jauh dari skenario taktis penyamarannya.
Dominic membisu selama beberapa detik. Jemarinya yang besar terus mengelus rambut Eva dengan irama yang menenangkan. Pria itu menatap lurus ke arah pendar api perapian di depan mereka.
"Dulu, tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku," jawab Dominic jujur.
"Aku dibesarkan untuk menjadi pedang dan perisai keluarga Blackwood. Aku diajari bahwa dunia ini hanya mengenal pembunuh atau yang dibunuh."
Dominic menunduk, menatap puncak kepala Eva dan menghembuskan napas panjang.
"Tapi saat kau terlentang bersimbah darah di Villa Mistral..." lanjut Dominic, jemarinya mengetat pelan di pinggang Eva, "...aku tersadar bahwa seluruh kekuasaan, wilayah pelabuhan, dan takhta Konsorsium ini tidak ada artinya jika aku harus kehilangan dirimu. Jika seluruh konspirasi St. Jude ini telah usai, dan orang-orang yang melukaimu telah kubantai habis... aku akan membawamu keluar dari Verona Heights."
Eva menahan napasnya secara halus di balik dada Dominic.
Kata-kata Dominic meluncur tanpa kepalsuan. Penguasa dunia bawah yang paling ditakuti di kota ini secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk melepas kekuasaan demi seorang wanita yang ia kira adalah 'Evie Thorne' istrinya yang polos dan setia.
"Dia benar-benar mencintaiku tanpa sisa, dia siap menyerahkan segalanya untuk 'Evie'... tanpa pernah tahu bahwa wanita di dalam pelukannya ini adalah Evangeline Cross yang bersiap membongkar rahasia keluarganya," batin Eva, matanya menatap pendar api perapian dengan rasa getir yang samar.
"Ke mana kita akan pergi jika hari itu tiba?" bisik Eva, membiarkan dirinya larut sejenak dalam kehangatan fantasi manis tersebut.
Dominic tersenyum tipis, mengecup puncak kepala Eva. "Ke sebuah rumah batu kecil di pesisir selatan Italia. Tempat di mana tidak ada salju, tidak ada perapian berdebu, dan tidak ada nama Blackwood yang dikejar oleh peluru."
Eva menyunggingkan senyum yang amat tipis, memejamkan matanya rapat-rapat seraya membenamkan wajahnya lebih dalam ke leher hangat Dominic.
Di luar sana, angin sore bertiup pelan menggoyahkan ranting-ranting pohon cemara di halaman manor. Namun di dalam kamar utama yang hangat itu, Dominic dan Eva tenggelam dalam keheningan yang tenang.
...Bersambung... ...