Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily yang telah melahirkan bocah laki-laki yang pintar tak mengingat Leon. Akankah keduanya dapat kembali bersatu lagi untuk merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Diharapkan tidak menabung bab. Terima kasih 🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tiga hari berselang, hasil tes DNA keluar. Leon dinyatakan sebagai ayah kandungnya Zayn. Tentunya kabar itu membuat Leon begitu senang. Dia dapat lebih mudah merebut hati istri dan anaknya.
Dari rumah sakit, Leon berangkat ke rumah Jenni. Ia ingin menjemput putranya dan mengajaknya bermain. Sebelumnya ia telah mengirimkan pesan kepada Jenni tentang kedatangannya namun Jenni belum sempat membalas pesannya.
Penuh percaya diri Leon mengunjungi Zayn, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok Antonio beserta keluarganya. Ia mengepalkan tangannya apalagi ada juga Jason diantara mereka. Mereka menoleh ke arah Leon dan cukup terkejut dengan kehadirannya.
Zayn tersenyum riang ketika bertemu lagi dengan Leon. Ia berlari mendekat dan memeluknya, "Ayah!"
Mendengar Zayn menyebutkan kata 'ayah' membuat mereka begitu syok. Mereka tak menyangka Leon berhasil mempengaruhi Zayn.
"Kenapa dia ada di sini?" Antonio begitu ketakutan melihat Leon.
"Emily, dia sudah membuat kita kehilangan kamu beberapa tahun lalu. Mengapa kau masih menerimanya?" tanya Belinda mulai berakting.
"Aku tidak mau menerimanya, Kak. Dia saja yang tiba-tiba di kota ini," jawab Emily.
"Usir dia, Emily!!" pinta Caroline.
"Cepat ambil Zayn, jangan sampai dia mempengaruhi Zayn!" titah Antonio.
Emily melangkah, ia menarik tangan Zayn menjauhi Leon. Lalu ia dengan lantang berkata, "Jauhi kami atau aku akan menjebloskanmu ke penjara!"
"Zayn adalah anakku. Kamu tidak bisa memisahkan kami!" kata Leon tegas.
"Zayn bukan anakmu!" desis Emily.
"Aku punya bukti, Emily. Kami sudah melakukan tes DNA. Kamu tidak dapat memisahkan kami lagi!"
"Aku tidak peduli dengan hasil tes itu. Aku yang mengandung dan aku yang melahirkannya. Jadi, kamu tidak berhak memiliki Zayn!" tegas Emily.
Melihat perdebatan keduanya membuat yang lainnya tersenyum puas kecuali Jenni.
"Aku adalah ayah kandungnya!" kata Leon.
"Emily, dia berhak atas kamu dan Zayn!" sahut Jenni.
"Meskipun dia adalah ayah kandungnya, aku tidak akan pernah kembali padanya!" Emily menatap benci suaminya.
"Leon yang paling tulus menyayangimu, Emily!" Jenni turut membela.
"Hei, kamu bilang apa tadi?" Caroline maju, ia tak menyukai pernyataan ibu angkat Emily. "Pria kejam yang hampir membunuh kami itu kau sebut paling menyayangi Emily? Kau tidak salah? Sejak kapan kau tau masalah hidup putri kami?" ia menatap kesal Jenni.
"Mama, Bu, sudahlah, kalian jangan ribut!" lerai Emily.
"Emily, Ibu memang baru mengenal kamu. Ibu tak tau tentang masa lalu kamu. Tapi, Ibu hanya ingin kamu bahagia!" kata Jenni.
"Usir dia, Emily. Jangan biarkan dia menghancurkan kebahagiaan kita lagi!" Caroline menunjuk wajah Leon dengan penuh kebencian.
"Pergi!!" teriak Emily mengusir suaminya.
"Emily, meskipun aku harus mati. Aku tetap tidak akan menyerah meyakinkanmu. Aku bukan seperti yang mereka tuduhkan!" kata Leon seraya memperhatikan orang-orang licik yang berada di sekitar istrinya.
Setelah Leon berlalu, mendadak tubuh Emily lemas. Jenni dengan cepat memegangnya agar tak terjatuh.
-
Malam harinya, selesai makan malam. Emily mengajak putranya untuk tidur. Sedari tadi Zayn tampak diam. Apalagi sejak kedatangan kedua orang tuanya dan Belinda tadi pagi.
Zayn duduk di balkon rumah, memandangi langit malam yang penuh bintang. Walaupun malam begitu cerah dan cantik, Zayn tetap enggan tersenyum.
"Sayang, ini sudah jam sembilan. Ayo tidur!" ajak Emily.
"Aku tidak mau, Bu. Aku mau ketemu Ayah!" tolak Zayn dengan halus.
"Zayn, kamu mau pilih Ibu atau ayah?"
"Mengapa Ibu memberikan aku pilihan?" Zayn balik bertanya.
"Ibu tidak bisa lagi bersama ayahmu, Zayn." Jawab Emily dengan mata berkaca-kaca.
"Aku baru bertemu dengan ayah sejak aku dilahirkan. Tetapi, sekarang Ibu mau menjauhkan aku dengannya!" kata Zayn kesal.
"Ayahmu tak sebaik itu, Zayn. Dia sudah sangat menghancurkan keluarga Ibu!" ucap Emily menjelaskan.
"Aku tidak percaya, Bu. Aku percaya jika ayah adalah orang yang baik!" Zayn berkata dengan tegas.
***
Pagi harinya sebelum ke toko, Emily dan lainnya menikmati sarapan bersama. Tampak juga Jason yang datang berkunjung dan ingin menjemput Emily.
Ketika sarapan biasanya Zayn begitu banyak bicara. Ini dia lebih banyak diam. Ia juga menyantap sarapannya dengan malas.
"Zayn, ayo cepat makannya. Kita mau ke toko!" kata Emily kepada putranya.
"Zayn biarkan tinggal di sini bersama kami," sahut Belinda.
Zayn mengangkat wajahnya menatap Belinda. "Aku tidak mau dengan Bibi Belinda!" tolaknya tegas.
"Sayang, jangan bicara dengan nada tinggi pada orang yang lebih tua!" nasehat Emily.
"Kenapa tidak boleh? Mengapa aku harus menghormati orang yang lebih tua tapi sifatnya sangat jahat?" singgung Zayn dengan lantang.
"Zayn!" tegur Emily.
"Pasti dia sudah terpengaruh oleh ayahnya yang kejam itu!" tuding Caroline.
"Ayahku tidak kejam. Kalianlah yang kejam!" Zayn meletakkan sendok dan garpu secara kasar dan berdiri.
"Zayn, cepat minta maaf!" bentak Emily.
"Aku tidak mau, Bu!" Zayn menolak meminta maaf memilih meninggalkan ruang makan.
"Lihatlah, dia masih kecil tapi sudah bersikap kurang ajar!" kata Caroline.
"Maafin kesalahan, Zayn!" ucap Emily lirih.
Jason yang duduk di sebelah Emily mengelus punggung wanita itu agar bersabar.
Emily terpaksa membawa Zayn ikut ke toko meskipun Belinda melarangnya. Namun, karena Zayn terus menangis Emily pun keberatan meninggalkannya.
"Kamu tidak boleh ke luar toko!" larang Emily.
"Main di taman juga tak boleh?" tanya Zayn."
"Tidak!" jawab Emily.
"Ibu takut kalau aku pergi ke restoran menemui ayah?" tanya Zayn lagi.
Emily mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak akan menemui ayah jika Ibu tak mengizinkannya," kata Zayn.
Emily tersenyum mendengarnya.
"Tapi, aku juga tak suka melihat Ibu dekat dengan Paman Jason. Jadi, jangan pernah izinkan dia datang menemui Ibu!" kata Zayn.
Emily mengernyitkan keningnya.
"Ibu harus berjanji padaku!" Zayn mengacungkan jari kelingking kanannya.
"Baiklah!" Emily menautkan kelingkingnya.
-
Sore harinya, Emily yang sedang sibuk di dapur kedatangan tamu yang tak diundangnya.
"Maaf, Bibi dan Paman siapa, ya?" tanya Emily.
Rachel dengan mata berair memeluk Emily dan berkata, "Menantuku!"
Emily yang sadar jika di depannya adalah orang tuanya Leon, lantas mendorong pelan tubuh Rachel. "Maaf, aku tidak mengenal kalian!"
Rachel dan Frans saling pandang.
"Opa, Oma!" Zayn dari ruang istirahatnya berlari menghampiri dan memeluknya.
"Cucu kami!" Frans begitu terharu mendapatkan pelukan dari cucu yang diharapkannya.
Rachel setengah berlutut, ia mengecup kening Zayn. "Cucu Oma sudah besar!"
"Zayn!" panggil Emily pelan.
Zayn menoleh ke arah ibunya, ia mundur ke belakang sejajar dengan ibunya.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Emily dengan wajah ketus.
"Kami ingin bertemu dengan kalian," jawab Frans.
"Oh, jadi dia sengaja mendatangkan kalian agar aku bisa dibujuk?" tebak Emily.
Frans mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak akan pernah kembali kepada Leon!" tegas Emily.
"Kenapa? Leon bertahun-tahun mencari kamu, sekarang kamu tidak mau kembali padanya?" tanya Rachel.
"Tanyakan saja pada putra kalian, apa yang sudah dilakukannya dulu kepadaku!" jawab Emily.
"Leon memang pernah memaksamu tapi dia akhirnya mencintaimu," kata Rachel.
"Kami juga tidak mampu meyakinkanmu, apalagi ada mereka yang terus menghasut kamu!" sahut Frans.
"Jangan pernah menuduh kedua orang tuaku buruk!" tegas Emily yang sangat kesal.
Frans dan Rachel diam.
"Jika kalian datang untuk memfitnah mereka, silakan pergi!" usir Emily.
"Tapi, Emily ---"
Frans memegang tangan istrinya melarangnya agar tak melanjutkan ucapannya.
"Ayo kita pulang!" ajak Frans menarik tangan istrinya keluar dari toko.
Zayn ingin mengejar keduanya tetapi diurungkannya.
Di taksi, Rachel menanyakan alasan suaminya melarang dirinya berbicara lagi.
"Jika kita melanjutkan lagi, Papa takut hal buruk terjadi padanya!" kata Frans.
Rachel pun paham dengan ucapan suaminya.
Keduanya tiba di apartemennya Leon. Mereka ceritakan pertemuannya dengan Emily yang cukup alot.
"Sepertinya kita memang harus bekerja keras untuk meyakinkannya, Leon!" kata Rachel.
"Iya, Ma. Aku tidak tau lagi caranya," ucap Leon yang hampir menyerah.
"Pelan-pelan. Dia juga pasti mengingat semuanya!" kata Frans.
***
Dua hari berselang, Emily mengajak seluruh keluarganya jalan-jalan ke sebuah toko pakaian terbesar di kota ini.
Jenni lalu diam-diam mengirimkan pesan kepada Leon. Tujuannya agar pria itu dapat bertemu putranya dan istrinya.
Belum juga Leon memasuki halaman gedung pertokoan, guncangan hebat melanda kota. Semua orang berhamburan berteriak ketakutan dan keluar dari bangunan tinggi.
Dari kejauhan Leon melihat Zayn memeluk Jenni dengan wajah ketakutan. Ia berlari mendekatinya.
"Ayah, Ibu masih di dalam!" kata Zayn dengan cepat ketika sang ayah muncul.
Leon dengan cepat masuk ke dalam bangunan yang terus berguncang. Ia berteriak memanggil nama istrinya dengan lantang.
"Leon, aku di sini!" Emily berteriak menyahut panggilan suaminya.
Guncangan pun berhenti.
Leon mencari asal suara. Ia menemukan Emily di bawah meja. Ia berlari mendekatinya dan memegang tangannya, menariknya keluar dari meja.
"Kakiku sakit!" kata Emily.
Leon lalu mengangkat tubuh Emily dan menggendongnya.
Emily mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Ia merasa jika sebelumnya mereka pernah melakukan hal sama namun ia tak berhasil mengingatnya.
Leon berlari kecil membawa Emily keluar dari toko, ia takut bangunan roboh dan melukainya
Emily berhasil dibawa keluar.
Zayn yang senang memeluk ibunya begitu juga Jenni yang begitu khawatir.
"Terima kasih, Leon!" ucap Jenni senang.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Belinda melirik ibu angkatnya Emily.
"Aku sengaja menyuruhnya ke sini!" jawab Jenni.
"Ibumu memang keterlaluan, ya, Emily. Dia masih saja memaksa kamu balikan lagi dengan suami kamu yang kejam!" sindir Belinda.
"Kak Belinda, sudahlah. Jangan dipermasalahkan lagi!" kata Emily melerai perdebatan.
"Kamu?" kesal Belinda menatap Emily.
"Leon sudah menolongku, jadi tolong jangan buat kegaduhan di saat dalam keadaan begini!" kata Emily mengingatkan.