Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Kebenaran yang Tertunda

Cinta sudah menunggu di dapur kecil belakang garasi ketika Raka masuk, dua cangkir kopi mengepul di meja, matanya merah menahan kantuk yang tak pernah benar-benar datang sepanjang malam.

"Duduk," katanya, bukan permintaan. "Dan kali ini, jangan bilang 'aku baik-baik saja' lagi."

Raka duduk di seberangnya, menatap uap kopi yang naik perlahan, mencoba mencari cara untuk memulai sesuatu yang telah ia kubur selama tiga tahun pernikahan mereka. "Namaku memang Raka. Tapi ada bagian dari hidupku yang aku sembunyikan darimu sejak hari pertama kita menikah — bukan karena tidak percaya padamu, tapi karena aku pikir itu satu-satunya cara melindungimu."

"Aku tahu kamu bukan sopir biasa sejak kejadian di lampu merah," Cinta menyahut, suaranya lebih tenang dari yang Raka duga. "Aku sudah menduga dari cara kamu bergerak, cara kamu selalu duduk membelakangi dinding di restoran, cara kamu memeriksa pintu setiap malam sebelum tidur. Aku cuma menunggu kamu siap cerita sendiri."

Raka menghela napas panjang, lalu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia bercerita utuh — tentang Garuda Hitam, tentang misi terakhir yang hancur karena pengkhianatan Kolonel Setiawan, tentang kematian yang dipalsukan demi melindungi orang-orang yang ia cintai, dan tentang Bara yang kembali membawa kebenaran yang selama ini terkubur.

Cinta mendengarkan tanpa memotong, tangannya perlahan menggenggam tangan Raka di atas meja saat cerita itu mencapai bagian tergelap.

"Jadi orang yang mencoba merampok kami kemarin," katanya akhirnya, "sebenarnya sedang mencoba memastikan apakah kamu masih hidup."

"Ya. Dan Setiawan sekarang berdiri di jantung merger yang akan menyatukan bisnisnya dengan bisnis ayahmu." Raka meremas jarinya sendiri. "Aku tidak bisa lagi hanya diam menunggu, Cinta. Kalau aku tidak bergerak lebih dulu, dia akan menyerangku lewat kalian — lewat keluargamu, mungkin lewat kamu sendiri."

Cinta terdiam sejenak, matanya menerawang ke luar jendela kecil dapur, ke arah rumah utama yang masih gelap. "Ayah tidak akan percaya kalau kamu bicara langsung soal ini. Bagi dia, kamu masih 'sopir yang untung punya refleks bagus'."

"Aku tidak butuh dia percaya. Aku cuma butuh dia tidak menghalangi apa yang harus aku lakukan minggu depan." Raka menatap mata istrinya. "Acara penandatanganan merger. Setiawan akan datang sendiri. Itu satu-satunya kesempatan aku dan Bara punya untuk mendekatinya tanpa ia sepenuhnya siap."

"Kalau begitu aku ikut," kata Cinta cepat, tegas, tanpa ruang untuk dibantah. "Bukan untuk bertarung — aku tahu aku bukan siapa-siapamu dalam hal itu. Tapi aku putri Handoko Wijayakusuma. Aku bisa membuka pintu-pintu yang tidak bisa dibuka seorang sopir atau tamu asing sekalipun."

Raka ingin menolak, insting lamanya berteriak untuk menjauhkan orang yang ia cintai dari bahaya. Tapi ia juga tahu, tiga tahun bersembunyi telah mengajarkannya satu hal: melindungi seseorang dengan menjauhkannya dari kebenaran hanya membuat mereka lebih rentan, bukan lebih aman.

"Baik," katanya akhirnya. "Tapi kamu mengikuti setiap instruksiku tanpa bertanya, kalau situasi memburuk."

Cinta mengangguk sekali, tegas seperti seorang prajurit yang baru menerima perintah pertamanya.

Di sisi lain kota, di lantai eksekutif Andratama Tower, Kolonel Setiawan — kini bergelar Bapak Wakil Direktur Utama — meletakkan ponselnya perlahan setelah menerima laporan gagal dari salah satu perantaranya.

"Anak buah amatir," gumamnya pada asistennya yang berdiri kaku di depan meja. "Kalau memang benar dia masih hidup, dia tidak akan membiarkan dirinya terlihat semudah itu lagi."

"Apakah Bapak ingin menaikkan level pengawasan, Pak?" tanya asisten itu, suaranya hati-hati.

Setiawan menatap ke luar jendela, ke arah gedung Wijayakusuma Tower yang berdiri gemilang di kejauhan, tak jauh dari gedungnya sendiri. Senyumnya tipis, dingin, penuh perhitungan seorang pria yang sudah tiga tahun tidak pernah benar-benar merasa aman meski dunia mengiranya bersih dari dosa lamanya.

"Jangan naikkan pengawasan," katanya pelan. "Naikkan sambutan. Kalau dia benar Naga Hitam yang masih bernapas, biarkan dia datang sendiri ke acara penandatanganan minggu depan — di tengah keramaian, di depan kamera, di depan seluruh dewan direksi." Ia berbalik, matanya berkilat seperti seseorang yang sudah menyusun jebakan jauh sebelum mangsanya menyadari ia sedang diburu. "Seekor naga yang keluar dari sarangnya sendiri, jauh lebih mudah dijinakkan daripada naga yang terus bersembunyi."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!