menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya Tidak Percaya
Brak!
Suara benturan keras itu menyudahi aksi akrobatik dadakan di ruang makan. Silva berakhir terduduk di lantai karpet dengan posisi yang sama sekali tidak estetik.
Beberapa detik kemudian, gadis itu sudah sibuk mengaduh sambil mengusap-usap tulang ekornya yang berdenyut nyeri akibat berciuman langsung dengan lantai. Wajahnya ditekuk dalam-dalam, menahan malu sekaligus sakit yang menjalar.
Di seberang meja, Baffin sama sekali tidak beranjak dari kursinya. Cowok itu hanya bersandar santai sambil menyunggingkan senyum miring yang sangat menyebalkan di mata Silva.
"Ini yang katanya gak ceroboh lagi?" cibir Baffin datar, telak menusuk harga diri Silva.
Silva berdecak kesal, matanya mendelik tajam ke arah Baffin. "Ini tuh gara-gara kamu, tahu! Kalau kamu gak sok-sokan merajuk dan ngejauh, mana mungkin aku bisa sampai jatuh gini!"
Melihat perdebatan yang mulai memanas, Baskara segera turun tangan. Sambil terkekeh pelan, sang ayah membantu Silva berdiri dan menuntun putrinya untuk kembali duduk di kursinya dengan aman. setelah menegakkan kursi yang jatuh tadi tentunya.
Karena prosesi pasang cincin secara mandiri tadi gagal total akibat insiden jatuh, para orang tua akhirnya mengambil alih.
Airin meraih tangan Silva, lalu menyematkan cincin perak itu di jari manis sang putri. Di sisi lain meja, Gilda juga melakukan hal yang sama, memasangkan cincin pasangannya ke jari Baffin yang hanya bisa pasrah tanpa minat.
Setelah kedua cincin terpasang sempurna, Baskara kembali bersuara sambil menatap Silva serius. "Nanti tahun ajaran baru, sekolah kamu pindah ke sekolah Baffin. Biar kalian dekat."
Silva mengerutkan keningnya, reflek memprotes. "Kenapa harus pindah, yah?"
"Ya biar kalian dekat," ulang Baskara dengan jawaban mutlak yang tidak menerima bantahan lagi.
Di sudut meja, Baffin hanya bisa mendengus pasrah. Kepalanya mendadak terasa pening. Sebenarnya, hubungan pertemanan mereka sudah lama berhenti semenjak dewasa. Mereka masing-masing lebih memilih untuk berteman dengan sesama jenis.
Mereka hanya sesekali bertemu dalam acara makan malam keluarga atau pesta ulang tahun seperti ini.
Baffin sangat menikmati masa-masa itu.
Hidupnya jauh lebih tenang, damai, dan teratur tanpa ada gangguan konstan.
Namun malam ini, hari yang seharusnya menjadi perayaan ulang tahun ke-17 yang membahagiakan, justru resmi berubah menjadi hari bencana nasional baginya.
Mulai besok dan seterusnya, ia dipaksa untuk kembali masuk ke dalam pusaran kehidupan gadis itu.Tadi ibunya bilang, pertunangan ini bertujuan untuk masa pendekatan dan saling mengenal satu sama lain. Baffin tertawa sinis dalam hati. Memangnya apa lagi yang perlu ia pelajari dari seorang Silvanna? Tentu saja Baffin sudah hafal luar kepala.
Silva itu biang sial, super ceroboh, dan sangat menyebalkan. Pokoknya, semua kamus kata sifat yang buruk seolah-olah sengaja diciptakan khusus untuk menggambarkan cewek itu.
•••
"Halo Kenya," sapa Silva dengan nada bicaranya yang santai seperti biasa.
Di seberang telepon, suara Kenya langsung menyahut secepat senapan mesin. "Halo! Lagi ngapain lo? Sudah selesai ngerayain ultah lo sama ortu? Btw, happy birthday ya! Keluar yuk. Gue traktir sebagai hadiah ultah!"
"Makasih ya ucapannya... aku sudah selesai ngerayain sama orang tuaku."
"Jadi mau keluar gak? Sekalian beli hadiah. Hadiahnya lo pilih sendiri."
"Boleh, boleh. Kamu jemput aja..."
"Oke, gue jemput lo. Lima belas menitan sampai."
"Oke... aku siap-siap dulu." Tutup Silva.
•••
Tepat lima belas menit kemudian, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan gerbang rumah Silva. Kenya datang dijemput oleh sopir pribadinya. Perumahan mereka memang bersebelahan, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai.
"Tumben sudah beres lo," komen Kenya saat melihat Silva sudah rapi duduk di teras depan rumahnya.
Silva hanya mengangguk sambil tersenyum polos.
Tepat saat itu, dari halaman rumah sebelah terdengar suara mesin motor matic besar dinyalakan. Silva otomatis menoleh.
Itu Baffin, sudah rapi dengan jaket kasualnya. "Apin... kamu mau kemana?" panggil Silva setengah berteriak.
Baffin hanya menoleh sekilas melalui kaca spionnya, tanpa ekspresi, lalu langsung menarik gas dan pergi begitu saja meninggalkan kepulan asap tipis.
"Dingin gitu lo sapa. Pasti dia ngerasa lo sok kenal," komen Kenya sinis melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Dia itu temen kecil aku dulu, Kenya."
"Ya kan dulu... sekarang kalau lo sapa, dia tetap ngerasa lo sok kenal!"
"Masa, sih?"
"Iya lah!"
"Tapi kan dia memang dingin gitu. Aku kalau ngelihat dia keluar kayak tadi selalu aku sapa, walaupun gak pernah dijawab," ucap Silva membela diri. "Tapi bukannya kalau gak nyapa padahal kenal itu sombong ya? Silva kan rendah hati."
Kenya memutar bola matanya pasrah. "Serah lo lah. Sudah, yuk."
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk nyaman di kursi belakang.
"Mau kemana kita?" tanya Kenya.
"Kalau ke tempat per-dessert-an gimana?"
"Boleh. Nanti sekalian beli cake ulang tahun juga."
"Tapi kita cuman berdua... nanti kalau gak habis gimana?" tanya Silva agak khawatir melihat porsi kue zaman sekarang.
"Ya beli yang kecil lah, Sil!" sahut Kenya gemas.
•••
Di toko dessert bernuansa estetik itu, Kenya sengaja memesan ruangan VIP agar mereka bisa mengobrol lebih leluasa.
Acara tiup lilin mini, membuat permohonan (wish), dan potong kue sudah selesai dilakukan. Sekarang mereka sedang duduk santai menikmati kue ulang tahun Silva yang berukuran mini.
"Apa wish lo tahun ini?" tanya Kenya menopang dagu.
Silva berpikir sejenak. "Mmm, aku mau hidup bahagia, sejahtera, dan gak sial."
Kenya mendengus geli. "Tua lo!"
"Ck, kamu gak tahu sih... aku itu habis dijodohin."
Uhuk! Kenya tersedak kue ultah Silva. "Gimana? Gimana?"
Silva mengembuskan napas berat, lalu mulai menceritakan seluruh kejadian heboh di meja makan tadi secara detail.
"Aku takut banget, Kenya... terus tadi di rumah aku melamun, dan akhirnya aku sadar... hidup bahagia itu sudah paling penting. Makanya aku terima aja perjodohannya biar selamat dari mitos sial itu," lanjut Silva dengan wajah serius.
Kenya terdiam sejenak. Otak rasionya ingin langsung mendebat, namun ingatan masa lalunya mendadak berputar. "Gue... sebenarnya gak percaya gituan, Sil. Tapi gara-gara kejadian nyokap gue dulu, gue jadi agak mikir."
"Kejadian apa?"
"Waktu nyokap gue lagi hamil adek gue beberapa tahun lalu, gue punya kebiasaan buruk setiap habis mandi. Gue suka banget ngelilit handuk basah di leher," cerita Kenya, suaranya merendah.
"Nyokap gue berkali-kali negur, katanya pamali. Mitosnya, kalau ada anggota keluarga yang suka melilit handuk di leher pas ada yang hamil, nanti bayinya bisa kelilit tali pusar di dalam kandungan. Gue yang waktu itu ngerasa pinter ya cuma ketawa dong. Gue anggap itu takhayul kuno."
Kenya menelan ludah, ekspresinya berubah penuh penyesalan. "Tapi pas adek gue lahir... dia beneran kritis karena lehernya terlilit tali pusar, Sil. Dokter bahkan harus gerak cepat biar adek gue selamat. Yah.. walaupun akhirnya Lo tau sendiri. Makanya gue gak bisa ngebantah soal mitos lo. Walaupun sebenernya gue kurang setuju sama mitos-mitosan gitu"
Silva membelalakkan mata, ngeri. "Serius, Ken?" Ia sudah tau tentang adik Kenya itu. Tapi, tidak tahu kalau ternyata ada sebuah kejadian yang bersangkutan sama mitos.
"Serius. Tapi... eh, bentar-bentar, gue lupa tanya. Lo dijodohin sama siapa?"
"Sama Apin."
Otak pintar Kenya langsung bekerja cepat. Memori jangka pendeknya langsung memutar adegan di depan rumah Silva beberapa jam lalu.
"Bukannya Apin cowok dingin yang lo sapa tadi? Yang tetangga lo itu?"
Silva mengangguk lugu. "Nama aslinya Baffin."
Brak!
Kenya menggebrak meja VIP hingga sendok garpu mereka berdenting. "Jadi lo dijodohin sama cowok kaku tadi?!"
Silva mengangguk lagi, agak kaget dengan reaksi Kenya.
"Terus dia mau?"
Silva pun menceritakan kelanjutan perdebatan piring plastik dan penolakan mentah-mentah dari Baffin.
"Bokap nyokap lo gak lihat apa dia dingin gak berperasaan gitu? Gue ngeri deh kalau dia jahatin lo nanti," ucap Kenya cemas.
"Dia gak jahat kok. Dia temen aku dulu. Asal aku gak ceroboh pasti dia mau sama aku. Oh ya, nanti awal tahun ajaran baru kelas tiga, aku dipindahin ke sekolahnya dia sama Ayah. Biar dekat katanya."
"pindah sekolah? Gue ikut deh. Gue harus ngawasin lo di sana," cetus Kenya tanpa ragu.
"Kamu mau ikut?" tanya Silva dengan mata berbinar senang. Bagus sekali kalau ia pindah sekolah tapi tidak perlu kesepian karena membawa sahabatnya.
"Iya... nanti gue bilang ke orang tua gue. Sekolahnya dimana?"
"Memang kamu boleh pindah sekolah sembarangan gitu?"
Kenya mengibaskan tangannya sombong. "Ya elah, gue mah pintar. Gak sekolah aja gue tetap pintar. Jadi mau sekolah di mana aja, orang tua gue gak bakal masalah."
•••
Setelah kenyang makan kue, mereka kembali naik ke mobil untuk melanjutkan rencana awal: pergi ke mall membeli hadiah ulang tahun untuk Silva.
Namun di tengah jalan, saat mobil melewati sebuah gedung olahraga besar, mata tajam Kenya menangkap sosok cowok yang sepertinya tidak asing di pinggir jalan.
"Eh, Sil. Itu si Apin-Apin itu bukan?"
Silva langsung menempelkan wajahnya ke kaca mobil. Benar saja, di depan futsal itu ada Baffin yang kini sudah berganti pakaian menggunakan jersey futsal berwarna merah menyala.
Di sekelilingnya, ada banyak cowok lain yang memakai baju senada.
"Dia main bola?" tanya Kenya.
"Iya... dia kaptennya." jawab Silva.
"Terus dia mau main sekarang?"
"Mungkin."
"Gimana kalau kita lihat?" ajak Kenya mendadak antusias.
Silva mengernyit bingung. "Ngapain? Katanya mau lanjut ke mall?"
"Gue mau lihat dia. Penasaran aja. Ayolah... baru nanti kita lanjut ke mall."
"Ya udah, terserah kamu aja..."
Kenya langsung menatap sopir. "Pak, putar balik ya. Kita parkir di futsal yang baru lewat tadi."