Indonesia
NovelToon NovelToon
Lamaran Yang Bukan Untukku

Lamaran Yang Bukan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Konglomerat berpura-pura miskin / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefin Eka Ramana Putri

Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kalung Berlian yang Menjadi Awal Segalanya

Hari itu adalah hari ulang tahun Karen. Sejak pagi buta, suasana di rumah itu terasa berbeda — penuh kegembiraan, tawa yang terdengar begitu ceria, dan aroma makanan lezat yang tercium dari ruang makan. Rumah itu dihias rapi, bunga-bunga segar diletakkan di sudut ruangan, dan semuanya terasa begitu hangat. Namun kehangatan itu hanya milik Karen dan YB. Bagi Cynthia, hari itu justru terasa semakin berat dan menyakitkan. Ia tetap bangun jauh sebelum matahari terbit, menyiapkan segala keperluan rumah tangga mereka, memasak hidangan yang paling disukai Karen, merapikan setiap sudut rumah, hingga memastikan segala sesuatu berada pada tempatnya sebelum Karen dan YB membuka mata. Seakan ia adalah satu-satunya orang yang harus memastikan hari ulang tahun itu berjalan sempurna bagi Karen, tanpa pernah sekalipun diucapkan terima kasih.

Saat jam makan siang tiba, meja makan sudah penuh dengan hidangan lezat. YB berdiri di hadapan Karen dengan senyum hangat yang jarang sekali terlihat di wajahnya akhir-akhir ini — senyum yang dulu sering ia berikan kepada Cynthia. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua dari saku jasnya, lalu membukanya perlahan di hadapan Karen. Di dalamnya, terlihat sebuah kalung berlian yang berkilauan, berdenyut cahaya dingin namun memukau di bawah pantulan cahaya lampu ruangan. Berlian itu berbentuk hati, berkilau begitu terang seakan menantang siapa pun yang melihatnya.

"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap YB lembut, suaranya terdengar begitu tulus dan penuh kasih sayang. Ia berjalan ke belakang kursi Karen, perlahan mengangkat rambut panjang istrinya, lalu memakaikan kalung itu dengan hati-hati ke leher putih bersih Karen. "Semoga kau selalu bahagia, dan semoga kalung ini menjadi saksi cintaku padamu, selamanya."

Karen tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia tak mampu menutupi rasa puas yang meluap-luap. Ia menyentuh permukaan berlian itu berulang kali dengan penuh kagum, lalu memutar kursinya perlahan dan menatap ke arah Cynthia yang sedang berdiri di sudut ruangan, diam, menunduk, dan tak berani bergerak. Tanpa menunggu lama, Karen bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Cynthia dengan langkah yang penuh kemenangan, sengaja menegakkan leher agar kalung itu terlihat lebih jelas dan mencolok tepat di depan wajah Cynthia.

"Lihat ini, Cynthia," ucap Karen dengan nada yang penuh ejekan dan kebanggaan berlebihan, tangannya menunjuk kalung berlian di lehernya. "Lihat betapa berkilauannya. Kalung berlian asli, pemberian YB. Cantik, bukan? Mahal, berharga jutaan rupiah, dan berkilau indah setiap kali aku bergerak. Dan kau tahu apa yang paling membuatku bahagia hari ini? Dulu, saat kau berpacaran dengannya selama tujuh tahun penuh — pernahkah kau dibelikan kalung berlian seperti ini saat ulang tahunmu, Cynthia? Pernah? Atau bahkan sekadar hadiah yang lumayan pun tak pernah kau dapatkan darinya selama tujuh tahun itu?"

Karen tersenyum sinis, mendekatkan wajahnya hingga jarak wajah mereka sangat dekat, menatap tajam ke mata Cynthia. "Tidak pernah, kan? Itu tandanya, YB tak pernah benar-benar mencintaimu. Cintanya itu dari dulu memang milikku, hanya saja ia tak enak menolaknya padamu. Sekarang kau lihat sendiri, kan? Siapa yang sebenarnya ia cintai. Dan kau hanyalah masa lalu yang tak pernah benar-benar ia hargai."

Kata-kata itu menusuk hati Cynthia tajamnya, seakan ribuan jarum menembus dadanya sekaligus. Rasa panas, cemburu, dan kesedihan bercampur menjadi satu, meledak di dalam dada hingga membuat napasnya terasa sesak. Ada bagian dari dirinya yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan kepada YB — perasaan yang tumbuh dan terawat selama tujuh tahun bersama. Bayangan kenangan masa lalu terlintas seketika, berputar cepat di kepalanya: tawa mereka berdua di bawah hujan, janji-janji yang pernah diucapkan di bawah langit malam, hari-hari yang mereka lalui bersama dalam suka maupun duka. Semua itu terasa begitu nyata, namun kini terasa begitu jauh dan menyakitkan. Cynthia menunduk dalam, menahan air mata yang hampir jatuh ke pipi, mengepalkan tangannya erat-erat di sisi tubuh, dan tak mampu menjawab satu kata pun.

Dan di setiap momen di mana Karen bersikap kasar, merendahkannya, dan memamerkan kebahagiaannya dengan cara yang menyakiti hati Cynthia seperti itu, di situlah benih balas dendam itu semakin tumbuh dan berkembang di hati Cynthia. Ia menyadari satu hal yang kini terasa begitu jelas — Karen ingin melihatnya hancur, ingin melihatnya menderita, ingin melihatnya menyerah dan pergi. Maka Cynthia berjanji pada dirinya sendiri, perlahan namun pasti, ia akan membuat Karen merasakan hal yang sama. Bukan dengan merendahkannya secara langsung, melainkan dengan cara yang jauh lebih menyakitkan: membuat YB dicurigai berselingkuh dengan wanita lain — bukan dirinya — sehingga Karen yang akan dilanda rasa cemburu dan ketakutan yang sama persis seperti yang dirasakan Cynthia saat ini. Itulah rencana yang mulai tersusun perlahan di kepala Cynthia, tumbuh dari setiap kata kasar yang diucapkan Karen kepadanya.

Hari-hari berlalu hingga akhirnya tiba hari berikutnya. Saat itu, Karen sedang pergi ke dokter kandungan untuk pemeriksaan rutin kehamilannya, meninggalkan rumah berdua saja. YB segera mencari Cynthia dan menemukannya sedang duduk di ruang tengah dengan wajah yang tampak murung, lesu, dan tak bersemangat sejak kemarin. Tanpa banyak tanya, YB langsung berjalan mendekat, duduk di sampingnya, lalu merangkul pinggang Cynthia dari belakang dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Kenapa murung begitu, Sayang?" bisiknya lembut di telinga Cynthia, napasnya terasa hangat di kulit leher wanita itu. "Ada yang membuatmu kesal? Atau ada yang menyakitimu?"

Cynthia perlahan melepaskan pelukannya, lalu berbalik tubuh menghadap YB. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang sedikit mengambek, manja, namun di baliknya tersembunyi keraguan yang mendalam. "Kau sebenarnya sayang dan cinta tidak kepadaku? Dulu maupun sekarang?" tanyanya pelan, suaranya terdengar manja namun penuh harap.

YB tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap rambut panjang Cynthia dengan penuh kasih sayang, perlahan dan lembut seakan sedang menyentuh benda paling berharga di dunia. "Ya sayang, malah cinta banget dong sama kamu, Cynthia. Dari dulu sampai sekarang, dan sampai kapan pun. Tak ada yang berubah." Tanpa berpikir panjang, ia kembali merangkul pinggang wanita itu dari belakang, mendekatkan wajahnya, lalu menciumi leher Cynthia dengan lembut, perlahan, dan penuh kelembutan yang begitu tulus.

Namun tiba-tiba, Cynthia melepaskan pelukan itu dengan lembut namun tegas. Ia mundur selangkah, menatap YB dengan tatapan yang mulai berkaca-kaca, air mata hampir menetes di pelupuk matanya. "Kalau kau memang cinta dan sayang padaku seperti yang kau katakan," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar namun terdengar jelas, "kenapa saat ulang tahunku dulu, kau tak pernah memberiku hadiah semahal dan seindah kalung berlian yang kau berikan pada Karen kemarin? Hadiahku selalu biasa saja, bahkan seringkali tak ada yang istimewa darimu. Padahal setiap kali hari ulang tahunmu maupun hari anniversary hubungan kita selama tujuh tahun itu, akulah yang selalu menyiapkan kejutan dan hadiah untukmu. Akulah yang selalu mengingat tanggal-tanggal penting itu, akulah yang berusaha membuatmu merasa istimewa. Dan kau? Kau bahkan jarang sekali mengingatnya, apalagi membalasnya dengan hal yang sama."

YB terdiam, tak mampu menjawab seketika. Kata-kata Cynthia itu menghantam kesadarannya begitu keras. Ia menyadari kebenaran di balik setiap kata yang terucap. Dulu, selama tujuh tahun mereka berpacaran, memang Cynthia yang selalu berusaha, yang selalu memberi, yang selalu mengingat, dan yang selalu berjuang agar hubungan mereka tetap berjalan. Dan ia terlalu sering menerima saja, bahkan terkadang lupa, bahkan tak pernah benar-benar berusaha membalas perhatian wanita itu. Rasa bersalah yang mendalam mulai merayap di hatinya, membuatnya merasa begitu kecil dan tidak pantas di hadapan Cynthia.

"Maafkan aku, Cynthia..." ucap YB pelan, suaranya terdengar penuh penyesalan yang tulus. "Aku... aku memang tak pandai memberi. Aku memang banyak lalai. Tapi percayalah, perasaanku padamu tulus. Kalau kau mau, mulai sekarang aku akan berusaha lebih. Aku akan memberikan apa saja yang kau minta, apa saja yang kau butuhkan."

"Tak perlu," potong Cynthia pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke manik mata YB. "Aku tak butuh hadiah mahal. Aku hanya butuh dihargai. Dan selama ini, rasanya aku tak pernah benar-benar dihargai olehmu."

Cynthia berbalik perlahan, meninggalkan YB yang masih berdiri terpaku di tempatnya, diliputi rasa bersalah yang mendalam dan penyesalan yang semakin menjadi. Namun di dalam hati Cynthia, ia tak sepenuhnya sedih. Justru di momen itu, rencananya semakin matang dan semakin jelas jalannya. Ia tahu, rasa bersalah YB adalah kunci untuk membuat pria itu semakin dekat kepadanya, semakin mudah diatur, dan semakin jauh dari Karen. Dan perlahan-lahan, tanpa disadari siapa pun, Cynthia mulai menyusun langkah selanjutnya — mengumpulkan bukti, merekam setiap momen, menyimpan setiap pesan, dan bersabar menunggu waktu yang tepat. Saat bukti-bukti itu sudah cukup kuat, semuanya akan dikirimkan secara anonim melalui nomor baru kepada YB, dan juga dikirimkan sebagai bukti fisik ke kantor tempat YB bekerja. Saat itulah, perlahan namun pasti, apa yang pernah direbut Karen — termasuk rumah yang dulu seharusnya milik Cynthia — akan kembali ke tangan yang berhak. Semuanya akan terjadi pada waktunya, dan Cynthia siap menunggu.

1
Sefin Eka Ramana Putri
Luar biasa! Alur cerita yang terus berkembang dan penuh kejutan. Saya sangat terkesan dengan bagaimana penulis menggambarkan perasaan masing-masing karakter — rasa sakit, rindu, dendam, dan cinta tulus yang tak pernah padam. Cynthia adalah wanita yang sangat kuat, dan Aloy adalah bukti bahwa pria baik hati memang ada. Bagaimana dengan kalian? Bagian mana yang paling membuat kalian tak sabar menanti kelanjutan ceritanya? Yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar! 👇✨
pineapple
semangat kak, kalo berkenan ku tunggu kunjungan nya hehe
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap. terima kasih sudah mampir. ntar saya balik berkunjung ke novel kak ya..😊🙏
total 1 replies
Dini
jangan lupa mampir dan komentar di karyaku #Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!