Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
****
Kekacauan di Aula Keagungan Agung memuncak saat para tabib kerajaan berlarian menangani Pangeran Ke-8 yang kejang-kejang di atas lantai marmer. Di tengah hiruk-pikuk jeritan para wanita dan amarah Kaisar yang memuncak, Xiu Ying memanipulasi situasi dengan sangat tenang. Tanpa menarik perhatian, ia menggandeng tangan Zhen Yu dan memohon izin kepada Ibu Suri untuk mengundurkan diri lebih awal dengan dalih bahwa Pangeran Ke-7 terkejut dan ketakutan akibat insiden tersebut.
Begitu melangkah keluar dari gerbang Istana Utama, udara dingin musim dingin menyergap kulit. Kepingan salju yang makin tebal turun membeku dari langit malam.
Kereta kencana berlapis kain beludru tebal milik Istana Zhen sudah menunggu di pelataran. Pintu kayu diiris rapat, dan dalam sekejap, pasangan suami istri itu telah menyusup masuk ke dalam kabin kereta yang hangat oleh pendar lentera minyak serta wangi kayu cendana.
Kereta kencana mulai berjalan perlahan, roda-roda kayunya berderit membelah salju yang menumpuk di jalanan ibu kota. Suasana di dalam kabin teramat hening, hanya berhias suara terpaan angin dingin di luar.
Xiu Ying segera berlutut di atas karpet empuk di hadapan Zhen Yu. Wajah cantiknya dipenuhi rasa cemas yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Pangeran! Kemarilah, biarkan aku memeriksa tubuhmu!" seru Xiu Ying dengan napas memburu. Hands lentiknya bergerak cepat, meraba bahu, dada, hingga membalikkan telapak tangan Zhen Yu untuk memastikan tidak ada satu titik pun racun Bubuk Jiwa Lumpuh yang menyentuh kulit suaminya.
"Apakah ada cairan yang memercik ke lengan bajumu saat cawan itu terbalik tadi? Apakah ada bagian kulitmu yang terasa gatal atau panas?" tanya Xiu Ying berturut-turut, matanya meneliti setiap inci jubah biru tua milik Zhen Yu dengan ketelitian seorang dokter.
Melihat rasa cemas yang begitu tulus memancar dari mata Xiu Ying, dada Pangeran Zhen Yu bergetar hebat. Di balik topeng idiotnya, pria itu tertegun. Selama bertahun-tahun hidup di lingkaran istana yang dingin dan penuh pengkhianat, belum pernah ada seorang pun yang mengkhawatirkannya hingga sebalut ini.
Zhen Yu sengaja memiringkan kepalanya, memasang raut wajah polos dan agak ketakutan.
"Yu-er tidak apa-apa, Kakak Cantik..." cicit Zhen Yu pelan, menjulurkan tangannya untuk memegang jemari Xiu Ying yang gemetaran. "Paman jahat tadi bawa air wangi yang bikin takut... Tapi Yu-er cepat-cepat jatuhkan! Yu-er pintar, kan?"
Xiu Ying mendesah napas panjang, kelegaan yang amat besar merayapi dadanya. Tanpa sadar, ia menggenggam balik tangan besar Zhen Yu dan mendekapkannya ke dadanya.
"Kau sangat pintar, Yu-er," bisik Xiu Ying lembut, menatap mata suaminya dengan Binar kehangatan yang amat dalam. "Tapi jangan pernah ceroboh lagi. Putra Mahkota dan orang-orang di istana itu adalah serigala berdarah dingin. Jika terjadi sesuatu padamu... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
Zhen Yu menatap bibir manis berwarna peach milik istrinya yang sedikit terbuka saat berbicara. Kata-kata penuh perlindungan dari Xiu Ying mendadak meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan di dalam hati Pangeran Zhen Yu. Rasa kagum, dorongan possessesif, dan gairah yang selama ini terpendam rapat di balik penyamarannya pecah seketika.
"Kakak Cantik..." bisik Zhen Yu manis.
"Ada apa, Pangeran?"
Zhen Yu tidak menjawab dengan kata-kata. Pria bertubuh tinggi tegap itu perlahan memajukan tubuhnya. Sebelum Xiu Ying sempat menyadari perubahan atmosfer di antara mereka, Zhen Yu telah menangkup kedua pipi halus Xiu Ying dengan telapak tangannya yang hangat.
Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya, lalu mengecap bibir berwarna peach itu secara lembut.
CUP.
Xiu Ying tersentak hebat. Matanya membelalak kaget. Ini bukan sekadar kecupan singkat di pipi seperti yang biasa dilakukan Zhen Yu saat bermanja-manja. Bibir hangat suaminya menempel pas di bibirnya, melumat pelan dengan kelembutan yang memabukkan.
"P-Pangeran... mnh..." gumam Xiu Ying terputus.
Zhen Yu tidak memberi ruang untuk mundur. Sentuhan lembut itu perlahan berubah menjadi gigitan halus dan lumatan yang semakin dalam, menuntut, serta sarat akan dominasi murni seorang pria dewasa. Lidahnya dengan mahir menyapu belahan bibir Xiu Ying, menyusup masuk untuk menikmati kemanisan tiada tara dari istrinya.
Sensasi hangat dan sengatan gairah mendadak menyetrum seluruh tulang belakang Xiu Ying. Otak bisnisnya yang biasanya dingin dan penuh perhitungan seketika lumpuh. Napasnya mulai memburu, dada bahagianya naik turun menahan gelombang kenikmatan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tangan besar Zhen Yu menyusuri leher halus Xiu Ying, meluncur ke bahu, lalu dengan gerakan teramat terampil dan tanpa suara, jarinya melepas simpul ikatan gaun marun luar milik Xiu Ying. Kain sutra mewah itu meluncur turun dari bahunya, memperlihatkan bahu putih mulus dan pakaian dalam tipis berwarna merah pudar.
"Ah... hnggh..." desah Xiu Ying lolos dari tenggorokannya saat jemari hangat Zhen Yu mengelus kulit bahunya yang terekspos udara dingin kabin.
Zhen Yu melepaskan tautan bibirnya sejenak untuk menghirup udara. Napasnya yang panas memburu tepat di ceruk leher Xiu Ying.
Xiu Ying tersengal-sengal, matanya yang biasa tajam kini tampak berkaca-kaca dipenuhi kabut gairah. Ia mendongak, menatap pria di hadapannya. Tatapan mata Zhen Yu saat ini sama sekali bukan tatapan seorang pria polos berakal anak kecil. Manik matanya yang pekat berkilat dengan ketajaman, kehangatan, dan hasrat membara yang begitu berbahaya namun teramat memikat.
"Yu-er... kamu..." bisik Xiu Ying terengah-engah, kesadarannya menggantung di ambang batas.
Namun sebelum Xiu Ying sempat mencerna perubahan tatapan suaminya, dahaga gairah yang terprovokasi justru membuat wanita modern itu bertindak mengikuti nalurinya. Xiu Ying menarik leher jubah bulu rubah milik Zhen Yu dan kembali menyatukan bibir mereka dengan lebih erat dan hangat.
Zhen Yu mengerang rendah saat merasakan balasan manis dari istrinya. Sifat posesifnya membakar habis keterbatasannya. Dengan satu gerakan kuat dan lembut, Zhen Yu mengangkat tubuh Xiu Ying dan meletakkannya di atas karpet bulu empuk yang melapisi lantai kereta kencana.
Jubah jenderal milik Zhen Yu terlepas dan terhampar menjadi alas, sementara gaun sutra Xiu Ying perlahan tersibak sepenuhnya di bawah jemari suaminya.
"Kakak Cantik... milikku..." bisik Zhen Yu parau di samping telinga Xiu Ying, menyapu ceruk lehernya dengan ciuman-ciuman panas yang membuat Xiu Ying merinding hebat.
"Nngghh... Yu er... ahh!" jerit pelan Xiu Ying saat sentuhan hangat dan berani dari Zhen Yu menyentuh kulit sensitifnya.
Di bawah guncangan pelan kereta kencana yang terus bergerak membelah salju, penyatuan pertama mereka pecah dalam kehangatan yang teramat intim. Suara napas yang memburu, bisikan penuh cinta, serta desahan-desahan nikmat saling bersahutan di dalam kabin yang terisolasi.
"Ah... hngh! Lebih... pelan, Pangeran..." desah Xiu Ying terengah, jemari lentiknya mencengkeram erat otot-otot punggung kokoh Zhen Yu yang menegang sempurna di atasnya.
"Sakit, Kakak Cantik?" bisik Zhen Yu dengan suara berat dan seksi, melumat kembali bibir peach Xiu Ying untuk menyalurkan kelembutan sembari menyatukan seluruh jiwa dan raga mereka.
"Nggak... ahh! Enak... mnh... aku suka..." aku Xiu Ying sejujurnya dalam kepungan gairah yang memabukkan, menyembunyikan wajah mewahnya yang merona merah di dada bidang suaminya.
Zhen Yu tersenyum amat tampan di balik kegelapan kabin, bergerak semakin dalam dan ritmis, membawa Xiu Ying menuju puncak kenikmatan tiada tara yang membakar dinginnya malam musim dingin tersebut.
Sementara itu, di bangku depan di luar kabin...
Kusir kereta kencana yang mengenakan caping tebal berlapis salju mendadak menghentikan cambuk kudanya. Tangannya yang memegang tali kekang menegang seketika.
Di tengah hembusan angin salju yang berderu tajam, telinga sang kusir menangkap suara-suara aneh yang memantul samar dari balik dinding kayu kabin di belakangnya—suara derit halus karpet, hentakan ritmis yang konstan, serta gumaman dan desahan manja Istri Pangeran yang ditimpali erangan berat Pangeran Ke-7.
Bulu kuduk sang kusir seketika berdiri tegak. Wajahnya yang terkena hembusan angin es mendadak memerah panas karena malu.
A-Astaga... batin sang kusir gemetaran, menelan ludah kasar sambil buru-buru memalingkan wajahnya lurus ke depan. A-Apakah Yang Mulia Pangeran dan Nyonya Utama... sedang melakukan 'hal itu' di dalam kereta yang sedang berjalan?!
Dengan tubuh yang merinding dan canggung setengah mati, sang kusir hanya bisa mencengkeram tali kekang lebih erat, berpura-pura tidak mendengar apa pun, dan mempercepat laju kuda di tengah gumpalan salju malam yang kian lebat menuju Istana Zhen.
Bersambung