"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dahlia lagi
"Nanti aku ikatkan, sini makan dulu, ada ikan pulu pulu" bujuk Hamka
"Mau, mau ikan pulu pulu" jawab Kenanga berlari ke dalam dan duduk di samping Hamka.
"Itu ikan mas, bukan ikan pulu pulu" gerutu Liam ikut masuk dan duduk juga
"Iii... An, Iii"
"Iya nanti aku ikat rambut kamu pakai tambang jemuran" jawab Liam malas
"Pasti hasilnya estetik" ledek Lintang
"Kenanga memangnya punya ikat rambutnya? yang di video kan ikat rambutnya harus banyak" tanya Laily dan Kenanga menggelengkan kepalanya
"Sekarang jangan di ikat dulu ya, nanti Hamka kirim surat ke kota dan minta Lyra kirim ikat rambut yang banyak buat kamu" bujuk Liam
"Aaa" jawabnya mengangguk senang
"Akhirnya gue bebas dari rengekan anak ini" ungkap Liam merasa lega
Selesai makan, mereka langsung berangkat ke sekolah tempat mereka mengajar, Laily juga ikut karena Lintang tidak mau Laily kesepian di rumah dan akan menunggu di ruangan guru yang di sediakan di sana.
"Selamat pagi pak gulu" sapa Fatih
"Selamat pagi Fatih, wah Fatih semangat ya datang paling pagi" jawab Liam
"Ko yang lain belum datang ya" gumam Hamka
"Bapak juga tidak bertemu dengan yang lain saat menuju ke sini nak" jawab Dirman
"Mungkin mereka masih Bersiap" ucap Lintang tidak mau berpikiran buruk
"Fatih sudah mengerjakan PR kamu?" tanya Hamka
"Sudah pak gulu, Fatih langsung keljakan di lumah saat pulang sekolah" jawab Fatih
"Anak pintar, coba pak guru lihat PR kamu supaya bisa di periksa, Kenanga PR kamu juga" ucap Liam
"Aaa"
Kenanga menggelengkan kepalanya tanda kalau dia tidak mengerjakan PR, Liam sampai melotot karena kemarin Liam melihat Kenanga mengerjakan PR nya setelah selesai makan malam.
"Jangan bohong, mana buku kamu?" tanya Liam
"Uuaa"
"Lupa katanya" ucap Hamka
"Itu di tas kamu isinya apa?" tanya Liam
"Iii.. An, an" jawabnya mengusap perutnya membuat Liam langsung tepuk jidat, tapi tidak dengan yang lain yang malah tertawa karena ternyata isi tas Kenanga adalah makanan ringan yang dia ambil di lemari dapur.
"Kerjakan tugas kamu sekarang, pakai buku baru ini, sambil menunggu yang lain datang" ucap Liam geregetan
"Ko masih belum datang juga ya" ucap Hamka mulai khawatir
"Pak Jaja, apa bapak melihat anak anak yang akan sekolah di sini?" tanya Dirman saat ada seorang warga yang akan ke sungai.
"Mereka sakit pak, katanya semalam mereka tiba tiba saja demam, dan mengatakan kalau mungkin karena sekolah di sini" jawabnya segera pamit pergi.
"Kenapa bisa begitu ya pak" gumam Lintang
"Kemarin itu, pas kami pulang, mereka langsung pulang ke rumah mereka masing maning ko, tidak mampir ke tempat panas atau ke sungai" gumam Dirman
"Ayo kita tengok mereka" ucap Hamka
"Biar bapak dan nak Liam saja, kalian di sini, bapak takut kalau ada anak yang kemari" ucap Dirman
"Iya pak saya setuju kalau seperti itu, Bang Lo hati hati ya" ungkap Lintang
"Iya, Lo tenang aja, gue akan hati hati, Kenanga kamu di sini ya, aku mau ke kampung dulu, jenguk anak anak yang sakit" ucap Liam
"Hmm" jawabnya tapi memberikan Liam beberapa coklat yang dia ambil dari rumah Sagara.
Dirman juga menitipkan Fatih pada Hamka dan Lintang, dia tidak bisa ke hutan karena Fatih tidak mau di antar oleh Lilis, Fatih hanya mau sekolah kalau di antar Dirman, jadilah Dirman akan mencari kayu bakar nanti siang, atau nanti akan menukar kayu bakar dari warga lain dengan ikan asin yang dia jual ke pasar cadas seminggu sekali.
"Permisi Bu, saya mau jenguk Teguh" ungkap Liam sopan tapi di tatap sinis seorang wanita yang sedang menjemur di depan rumahnya
"Maaf Tini, nak Liam ini hanya ingin menjenguk Teguh, dia juga ingin tahu kenapa Teguh bisa sakit" ucap Dirman membuat Tini sedikit menghela nafasnya
"Saat pulang sekolah, Teguh mengerjakan PR katanya, terus dia main sebentar dengan teman temannya di dekat kebun Mbah Tirta, nah pulang dari sana dia langsung sakit, teman temannya juga, itu pasti karena mereka sekolah, leluhur kampung ini tidak suka" jawab Tini
"Tidak mungkin seperti itu Bu, bisa saya melihat Teguh?" tanya Liam
Meski malas dan masih terlihat ketus, Tini mengangguk saja karena dia menghormati Dirman sebagai RT di sana. Dia membawa Liam dan Dirman masuk ke dalam rumahnya.
"Pak guru, maaf Teguh tidak bisa sekolah, Teguh sakit" ucapnya ketika Liam masuk ke dalam rumah Teguh
"Tidak apa apa, kamu istirahatlah saja, memangnya Teguh kemana saja kemarin?" tanya Liam
"Selesai mengerjakan PR, Teguh main sama Dudung dan Parto, tapi saat kami mau pulang, kami di cegat perempuan, katanya orang kampung sebelah, dia memberikan kami permen, kami suka jadi kami terima dan memakan permen itu" jawabnya
"Masih ada permennya?" tanya Liam
"Ada di dalam saku celana Teguh
Tini langsung mencarinya dan memberikan permen itu pada Liam, ada asap hitam langsung mengepul dari permen itu dan hanya bisa di lihat oleh Liam.
"Di dalamnya ada racunnya pak, bisa Liam minta penawar racun yang sering bapak beli di pasar cadas?" tanya Liam
"Bisa nak, tunggu sebenar" Dirman segera berlari ke arah rumahnya untuk mengambil obat penawar itu karena dia percaya pada Liam yang tidak akan berbohong.
"Apa teman teman kamu juga memakan permen ini? Lalu seperti apa ciri ciri orang yang memberikan ini pada kamu?" tanya Liam khawatir
"Iya, mereka juga makan dan kata ibu mereka juga sakit, orang yang kasih permen itu pakai kebaya merah, dia tanya jalan dan kami beri tahu, dia juga punya bau yang nggak enak saat di cium" jawab Teguh
"Dahlia" gumam Liam mengepalkan tangannya, ternyata Dahlia membuktikan omongannya dia benar benar meneror Panca dengan cara membuat anak anak di sana sakit.
"Nak, ini obatnya" ucap Dirman
"Memang kamu tahu cara mengobati?" tanya Tini
"Tidak bu, tapi permen ini beracun, teman saya pernah makan yang seperti ini dan sama seperti Teguh, percaya pada saya" jawab Liam
"Iya Bu, nak Liam tidak mungkin akan mencelakai muridnya sendiri, ini pasti ulah orang yang sudah iri dengan sekolah itu yang sudah berdiri" ucap Dirman
"Mungkin kita juga harus memberikan pada yang lain pak" ungkap Liam
"Bapak bawa banyak, semoga cukup" jawab Dirman
"Teguh dengarkan pak guru, jangan terima apapun lagi dari orang yang baru saja pertama kamu temui, itu berbahaya" ucap Liam setelah memberikan penawar racun pada Teguh
"Baik pak guru, terima kasih karena sudah bantu Teguh" jawab Teguh
"Kami harus pamit ke tempat yang lain Bu, jangan kaget kalau teguh nanti terus buang air kecil, dia sedang membuang efek racunnya" ungkap Liam
"I.. Iya" jawab Tini gugup karena dia masih belum percaya anaknya ini di obati Liam.
Liam juga ke rumah rumah anak lain, dia memberikan obat yang sama pada mereka dengan harapan efek racun itu bisa segera hilang dari tubuh mereka, meski Liam beberapa kali di marahi orang tua muridnya yang mengatai anaknya sakit karena sekolah di tempat Liam.
"Kenapa Liam?" tanya Karman yang bertemu Liam saat dia baru kaluar dari rumah muridnya yang sakit.
"Ada yang memberikan racun pada murid murid Liam pak, mereka sakit dan Liam baru berikan penawarnya" jawab Liam mencium tangan Karman begitupun dengan Dirman
"Kamu tahu siapa orangnya?" tanya Karman
"Dahlia pak" bisik Liam membuat Karman terbelalak
"Bapak akan urus, kamu kembali saja ke sekolah, jaga Kenanga" ucap Karman
"Iya pak, ini dari Kenanga, tadi dia memberikan ini mungkin dia sengaja karena tahu saya akan bertemu bapak di sini" jawab Liam memberikan coklat yang Kenanga berikan padanya pada Karman.
"Terima kasih, salam untuk Kenanga dan katakan kalau bapak sayang dia" jawab Karman memasukkan coklat itu ke saku celananya. Dia akan menemui Dahlia dan menanyakan kenapa Dahlia menyakiti anak anak kampung itu.