Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Saat Hujan
Sementara perdebatan sengit tentang restu keluarga terjadi ribuan kilometer di Singapura, sebuah skenario mengerikan tengah dirancang di balik dinding dingin sel tahanan sementara di Jakarta.
Zaskia Mulandari tidak pernah menyerah pada takdir. Sejak malam penangkapannya di hotel mewah, otaknya yang licik terus berputar mencari celah untuk melarikan diri. Ia tahu persis bahwa jika ia mengikuti proses hukum sampai ke pengadilan, ia akan membusuk di penjara seumur hidup bersama Evan dan Nena.
Malam itu, hujan gerimis kembali turun membasahi ibu kota. Penjagaan di blok tahanan wanita tampak sedikit longgar karena pergantian shift malam petugas jaga yang tidak disiplin.
Zaskia, yang memanfaatkan kesempatan emas tersebut, mengamati struktur bangunan tua tempat ia dikurung. Di sudut langit-langit selnya, terdapat sebuah teralis besi tua yang menutupi saluran ventilasi udara menuju atap gedung.
Dengan menggunakan potongan besi ranjang yang berhasil ia longgarkan secara diam-diam selama beberapa hari terakhir, Zaskia mencungkil semen di sekitar teralis ventilasi dengan sisa tenaga dan rasa kebencian yang membara di dalam dadanya. Kulit tangannya terluka dan berdarah, kuku-kuku palsunya patah, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak ia hiraukan.
Kring... krek...
Dengan sekali dorongan kuat, teralis besi itu akhirnya lepas. Zaskia langsung memanjat kerangka tempat tidur, melompat kecil, lalu memasukkan tubuhnya yang kurus ke dalam lubang ventilasi yang sempit dan gelap gulita. Bau debu dan jaring laba-laba menyengat hidungnya, namun ia terus merangkak naik menyusuri saluran udara hingga berhasil menembus area loteng atas gedung tahanan.
Dari atas loteng yang sepi, Zaskia membongkar genting tua dan berhasil keluar ke bagian atap belakang bangunan yang tersembunyi dari sorot lampu sorot penjagaan. Tanpa pikir panjang, ia melompat turun menembus rintik hujan ke pohon besar yang berada di luar tembok pembatas kantor polisi.
Brugh!
Zaskia mendarat di atas tanah berlumpur dengan napas terengah-engah dan pakaian tahanan yang kotor compang-camping. Lututnya berdarah, telapak tangannya lecet, namun di tengah kegelapan malam dan guyuran hujan, Zaskia justru mendongakkan kepalanya ke atas.
Ia tidak menangis. Ia justru mulai terkikik, lalu tertawa lepas. Tawanya semakin lama semakin kencang, berubah menjadi tawa histeris penuh kegilaan yang memecah keheningan malam.
"Ha-ha-ha... Hahaha!" Zaskia memegang kepalanya, matanya melotot liar menatap langit gelap. "Kalian pikir kalian bisa mengurungku?! Kalian pikir aku sudah kalah?!"
****
Zaskia menyeka darah di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mengepalkan tangannya erat-erat. Sumpah serapah keluar dari bibirnya dengan nada yang sangat mengerikan.
"Rafa Sasmita... Sean Andrew Lee... nikmati saja kebahagiaan kalian di atas penderitaanku!" teriak Zaskia pada angin malam. "Aku berhasil lolos! Dan sekarang, aku akan kembali untuk menagih nyawa kalian! Aku akan membuat hidup kalian menjadi neraka yang sebenarnya!"
Dengan langkah tertatih namun dipenuhi oleh dendam kesumat yang meluap-luap, Zaskia melangkah pergi meninggalkan area penjara menuju kegelapan malam ibu kota, siap menyusun teror paling mematikan yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun sebelumnya.
****
Jarak ratusan kilometer antara Singapura dan Jakarta malam itu terasa begitu nyata bagi Sean Andrew Lee. Di dalam ruang kerja mewah milik ayahnya, Sean masih berdiri tegak, mengerahkan seluruh argumentasi terbaiknya untuk meruntuhkan tembok ego dan gengsi kedua orang tuanya. Ia bertekad tidak akan kembali ke Indonesia sebelum membawa restu resmi untuk menikahi Rafa Sasmita. Namun, di saat Sean berjuang demi masa depan cintanya di negeri seberang, takdir justru sedang menyiapkan tikaman paling mematikan di tanah air.
Di Jakarta, malam turun dengan keheningan yang mencekam. Gerimis sisa hujan sore hari masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang di kawasan pinggiran kota tempat keluarga Sasmita tinggal. Rumah sederhana itu baru saja melewati hari-hari paling berat dalam sejarah hidup mereka. Setelah badai fitnah hukum berhasil dilewati dan Bu Armayani kembali berkumpul dalam pelukan hangat keluarga, suasana damai perlahan mulai merajut hari-hari mereka kembali.
Di ruang tengah, Pak Pamuji sedang merapikan beberapa dokumen lama ditemani oleh Bu Arma yang menyiapkan segelas teh hangat di atas meja kayu. Sementara itu, Rafa Sasmita berada di kamar tidurnya, merapikan pakaian sambil sesekali tersenyum kecil saat memandangkan cincin pertunangan pemberian Sean yang melingkar indah di jari manisnya. Bayangan masa depan yang tenang bersama pria yang dicintainya seolah menjadi pelipur lara atas semua luka masa lalu.
Namun, kedamaian itu teramat rapuh.
K Neeet...
Suara pintu depan yang terbuka secara perlahan memecah keheningan malam. Pak Pamuji mendongak, mengerutkan keningnya karena merasa tidak ada anggota keluarga yang dijadwalkan pulang malam ini.
"Ibu, apa ada tamu?" tanya Pak Pamuji kepada istrinya.
****
Bu Arma menggeleng pelan, wajahnya menyiratkan kebingungan yang mendalam. Sebelum keduanya sempat bangkit untuk memeriksa, bayangan gelap melompat masuk dari ambang pintu dengan gerakan yang sangat cepat dan beringas.
Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, rambutnya kusut masai, dan tatapan matanya menyala oleh amarah yang membakar. Bau amis lumpur dan keringat bercampur dengan bau kebencian yang pekat. Ketika sosok itu melangkah ke bawah cahaya lampu ruangan, napas Pak Pamuji dan Bu Arma seketika tercekat.
Zaskia Mulandari.
Wanita itu berdiri dengan seringai sadis yang mengerikan menghiasi bibirnya. Di tangannya, sebatang pipa besi berat terangkat tinggi. Belum sempat Pak Pamuji membuka mulut untuk berteriak, Zaskia menerjang ke depan tanpa belas kasihan sedikit pun.
Bruk!
Pipa besi itu menghantam keras bagian belakang kepala Pak Pamuji. Pria tua itu langsung terjatuh lemas ke lantai tanpa sempat memberikan perlawanan berarti, darah segar mengalir deras dari pelipisnya.
"Ayah!" jerit Bu Arma histeris, mencoba berlari menghampiri suaminya.
Namun Zaskia bergerak lebih cepat. Dengan tendangan kejam, ia menghantam tubuh renta Bu Arma hingga wanita paruh baya itu terpelanting membentur sudut meja kayu sebelum akhirnya terkulai pingsan di samping suaminya. Dalam hitungan detik, kedua orang tua Rafa terkapar tak berdaya di atas lantai ruang tengah yang kini mulai tergenang darah.
****
Rafa, yang mendengar suara gaduh dan teriakan dari dalam kamarnya, segera membuka pintu dengan panik. "Ibu? Ayah? Ada apa di luar—"
Langkah Rafa terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat kedua orang tuanya terkapar bersimbah darah di lantai. Dan di hadapannya, berdiri sosok wanita iblis dengan seringai lebar yang mengerikan.
"Zaskia...?!" teriak Rafa, matanya membelalak lebar penuh kengerian. "Bagaimana bisa kamu...?!"
Zaskia tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat menyeramkan di tengah situasi yang begitu mencekam. Ia melangkah maju perlahan, menghalangi jalan keluar Rafa dari kamar tidur.
"Kaget melihatku, hah?" bisik Zaskia dengan suara serak penuh kebencian yang mendalam. Ia menatap Rafa dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan penuh jijik. "Kamu pikir penjara sialan itu bisa mengurungku, Rafa? Kamu pikir aku akan membiarkanmu hidup bahagia di atas penderitaanku dan keluargaku?!"