Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat
Tampilan ponselnya sekarang seperti sedang memperlihatkan tayangan video. Awalnya, tampak bangunan rumah susun.
Di salah satu unit umah susun yang berada di lantai empat, tampak seorang wanita sedang mengiris sayuran.
Kemudian layar di ponsel menunjukkan ada kebocoran pada selang gas. Kebocoran gas tidak disadari wanita itu.
Dia mendekati kompor dan langsung menyalakannya. Seketika api menyambar dan beberapa detik kemudian terjadi ledakan.
Wanita itu terpental hingga tubuhnya membentur jendela kaca yang ada di dapur. Tubuh wanita itu tak dapat ditahan hingga akhirnya jatuh dari ketinggian dan menghantam aspal dengan keras. Tampilan ponsel pun kembali seperti semula.
Dirga yang duduk di hadapan Saka bisa dengan jelas melihat perubahan wajah sahabatnya itu. Napas Saka terdengar terengah, seolah-olah dia baru saja mengalami kejadian menegangkan.
“Ada apa, Ar?” tanya Dirga cemas.
Saka memejamkan matanya sejenak. Dia mencoba mengingat nama bangunan rumah susun yang baru saja dilihatnya.
“Dir, kamu tahu di mana rumah susun Harapan Indah?” tanya Saka begitu berhasil mengingat nama tempat tersebut.
“Iya. Ada di daerah Darmajaya. Kenapa?”
“Antar aku ke sana sekarang,” pinta Saka sambil berdiri.
“Ngapain?” tanya Dirga bingung.
“Jangan banyak tanya!” sentak Saka yang langsung membuat Dirga bangkit dari duduknya. Keduanya bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Dengan kecepatan tinggi, Dirga melajukan motornya. Jarak dari alun-alun ke Darmajaya memang cukup jauh. Perjalanan bisa memakan waktu sampai empat puluh menit.
Jalanan menuju Darmajaya cukup padat. Mereka harus terhenti beberapa kali karena lampu merah.
Beberapa kali Saka melihat jam di pergelangan tangannya. Selain menunjukkan nama bangunan, penglihatannya tadi juga memperlihatkan waktu kejadian.
Waktu yang dimiliki Saka untuk mencegah kejadian itu tersisa dua puluh menit lagi.
“Ngebut, Dir!” seru Saka.
“Ini udah ngebut!” jawab Dirga sambil berteriak. “Emang kita mau ke mana sih?” tanya Dirga lagi. Dia masih penasaran mengapa Saka tiba-tiba menanyakan rusun Harapan Indah.
Saka semakin resah. Waktu sebelum ledakan itu terjadi semakin menipis. Saka berharap bisa datang tepat waktu dan menyelamatkan wanita itu.
Motor yang dikemudikan Dirga sudah memasuki daerah Darmajaya. Pria itu terus melajukan motornya menuju rumah susun tersebut. Namun perjalanan mereka berhenti karena kemacetan.
“Ada apa sih?” tanya Saka kesal.
“Kayaknya ada mobil yang menghalangi jalanan. Udah tahu jalanan kecil, malah parkir di pinggir jalan. Jadinya makan badan jalan,” gerutu Dirga.
“Masih jauh nggak rusunnya?” tanya Saka sambil terus melihat ke depan. Tampak beberapa warga tengah berusaha melancarkan arus jalan.
“Sekitar dua ratus meter lagilah. Tuh di depan sana!” Dirga menunjuk lurus ke depan.
Saka melihat jam di pergelangan tangannya. Hanya tersisa lima menit. Pria itu memutuskan turun dari motor.
“Mau ke mana, Ar?” tanya Dirga.
“Aku duluan, nanti kamu nyusul!”
Tanpa menunggu jawaban Dirga, Saka langsung berlari sekuat tenaga menuju rumah susun Harapan Indah. Sesekali dia melihat jam di pergelangan tangannya.
Saka semakin mempercepat larinya saat sudah melihat bangunan rumah susun di depannya. Tepat saat dia tiba di depan gerbang, terdengar ledakan kencang yang disusul dengan suara pecahan kaca. Seketika Saka menghentikan langkahnya.
Pria itu menoleh saat mendengar suara benturan tubuh yang keras. Sekitar sepuluh meter darinya tampak seorang wanita tergeletak. Darah merembes dari luka di kepalanya. Saka segera mendekat.
Saka mengusap wajahnya kasar. Ada perasaan kecewa karena tidak berhasil menolong wanita itu. Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi ambulans, pemadam kebakaran, dan polisi.
Kericuhan langsung terjadi di dalam rumah susun. Para warga bergotong royong memadamkan api yang melalap unit rumah susun tempat ledakan terjadi.
Sementara warga yang berada di dekat unit yang terbakar langsung mengeluarkan barang-barang berharga, takut api merembet ke unit lain.
Dalam waktu singkat, sudah banyak warga yang berkumpul di dekat pintu masuk. Kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak.
Saka berinisiatif berjaga di dekat korban agar tidak terinjak oleh warga yang panik. Dia tidak berani mengevakuasi korban, takut justru berakibat fatal.
Dirga akhirnya tiba di lokasi. Dia langsung memarkir motornya di pinggir jalan lalu mendekati Saka. Pria itu terkejut melihat seorang wanita tergeletak di aspal dengan sejumlah luka di tubuhnya.
“Ar, kamu nggak apa-apa?” tanya Dirga. Pria itu sampai memeriksa kondisi sahabatnya dari atas sampai bawah.
“Ya,” jawab Saka sambil tak melepaskan pandangannya dari korban wanita. “Kamu ikut jaga di sini sampai polisi datang,” perintah Saka.
Tak lama kemudian, mobil ambulans, pemadam kebakaran, dan patroli polisi berhenti di dekat pintu masuk rumah susun. Paramedis langsung memeriksa keadaan wanita itu.
Petugas pemadam kebakaran segera menyiapkan peralatan untuk pemadaman api. Sementara petugas polisi mengamankan situasi sambil menanyai warga yang menyaksikan kejadian tersebut.
“Korban penghuni rusun ini?” tanya petugas polisi kepada salah seorang warga.
“Iya. Dia tinggal di lantai empat.”
“Apa Ibu tahu apa yang terjadi?”
“Saya nggak tahu. Saya lagi di dalam rumah. Begitu dengar suara ledakan, saya langsung keluar.”
Petugas itu kemudian mendekati Saka. “Apa Anda tahu apa yang terjadi?” tanya petugas polisi tersebut.
“Nggak tahu, Pak. Begitu saya sampai, sudah terjadi ledakan. Ibu itu terlempar keluar dan jatuh di dekat sini.” Saka menunjuk lokasi jatuhnya korban tadi.
Korban wanita tadi sudah dievakuasi oleh paramedis dan segera dibawa ke rumah sakit. Denyut nadi korban masih teraba meski lemah.
Dirga tampak terdiam. Saka tiba-tiba mengajak dirinya pergi ke rumah susun Harapan Indah. Sepanjang perjalanan,
Saka terus memintanya menambah kecepatan seolah-olah dirinya sedang dikejar waktu. Begitu sampai, ledakan terjadi.
Apa mungkin dugaan Revan benar? Bahwa Saka bisa melihat masa depan?
Dirga menatap Saka lekat-lekat. Hanya Saka yang bisa menjawab kebingungannya. Namun sepertinya sahabatnya ini belum mau bersikap terbuka kepadanya.
Tak bisa menahan rasa penasarannya lagi, Dirga pun langsung mengungkapkan kecurigaannya.
“Ar, apa kamu bisa melihat masa depan?” tanya Dirga tiba-tiba.
“Apa?” Saka menoleh ke arah Dirga.
“Kamu tiba-tiba aja minta diantar ke sini, lalu ada kejadian ini. Kemarin juga begitu. Kamu teriak kalau Pak Revan akan dijadikan sandera dan ternyata jadi kenyataan.
Rasanya nggak mungkin kalau hanya kebetulan. Kamu bisa melihat kejadian di masa depan?”
Untuk sesaat Saka hanya terdiam. Kecurigaan Dirga memang beralasan. Namun Saka belum bisa sepenuhnya mempercayai pria itu.
Sementara itu, tak jauh dari lokasi, sebuah mobil berhenti. Dari dalamnya keluar Firlan. Dia sedang berada di jalan begitu mendapat laporan tentang ledakan yang terjadi di rumah susun Harapan Indah.
Karena TKP cukup dekat dengan lokasinya, pria itu memutuskan untuk datang.
Dia langsung berbicara dengan petugas kepolisian yang sedang menjaga TKP. Saat sedang menanyakan situasi kepada petugas tersebut, mata Firlan menangkap sosok Saka sedang duduk di trotoar dengan wajah murung.
***
Ketemu lagi😂
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/