Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Sesampainya Alya di restoran La Luna, ia masuk lewat pintu belakang seperti biasa.
Suasana dapur pagi itu mendadak hening begitu ia menginjakkan kaki di ruangan tersebut.
Ratna dan Wiwin yang sedang membawa piring ke dapur itu, tangan mereka gemetaran, tidak berani menatap mata Alya setelah kejadian kemarin.
Bayangan tatapan mematikan Alya masih membayang jelas di benak mereka.
Alya tidak memedulikan tatapan penuh ketakutan dari mereka berdua.
Dengan tenang, ia mengikat apron kerjanya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan berjalan menuju sudut bak cuci piring.
Tidak ada suara ejekan seperti kemarin. Ratna dan Wiwin bahkan tidak berani mendekat.
Mereka berdua berdiri mematung sejauh tiga meter dari tempat Alya berdiri, memegang nampan berisi piring kotor dengan lutut yang bergetar pelan.
Alya memutar keran air, lalu menghentikan gerakannya sejenak. Ia membalikkan badan perlahan, menatap dua wanita yang kini menyusutkan bahu ketakutan itu.
"Ratna, Wiwin, tidak bisakah kalian mendekat meletakkan piring itu di dekatku?" tanya Alya menatap mereka berdua, karena kerja mereka adalah mengambil piring kotor di depan.
"I-iya," kata mereka berdua buru-buru meletakkan piring di bak cuci piring tempat Alya bekerja.
Nampan itu bergetar, hingga denting keramik bersahutan agak keras saat ditaruh di meja stainless.
"M-maaf, Alya... Ini piringnya," bisik Wiwin dengan suara tercekat di tenggorokan, matanya sengaja dialihkan ke lantai.
"Terima kasih. Taruh saja di situ," sahut Alya pelan dan datar, lalu kembali berbalik menghadapi kucuran air keran.
Melihat itu, beberapa karyawan lain menatap aneh melihat Ratna dan Wiwin ketakutan kepada Alya.
Biasanya, dua sejoli itu adalah biang gosip yang paling suka menindas karyawan baru.
Dinda, salah satu pelayan senior yang baru kembali dari area depan, mengernyitkan dahi bingung. Ia menghampiri Ratna yang sedang mengusap keringat dingin di pelipisnya.
"Hey Ratna, ada apa? Kenapa kalian berdua ketakutan melihat Alya?" tanya Dinda setengah berbisik sambil melirik ke arah sudut cuci piring.
"Ah, tidak apa-apa," kata Ratna cepat-cepat, langsung menarik lengan Wiwin untuk berjalan menjauhi Dinda yang penasaran tersebut.
Dinda menjadi penasaran melihat Ratna pergi begitu saja, lalu menatap Alya yang sedang fokus dengan pekerjaannya.
Pandangan Dinda menyipit. Ada rasa curiga sekaligus terganggu yang menyelinap di hatinya.
Sebagai karyawan yang paling dipercaya Pak Herman, Dinda merasa kepemimpinannya di antara para pelayan mulai tergeser oleh 'aura aneh' yang dibawa Alya.
Dinda melangkah mendekati bak cuci piring dengan tangan bersedekap dada.
"Alya," panggil Dinda dengan suara agak meninggi, sengaja pamer kekuasaan di depan karyawan lain.
Alya menghentikan usapan sabunnya, tetapi tidak langsung berbalik. "Iya?"
"Kamu apain si Ratna sama Wiwin sampai mereka kayak lihat hantu begitu?" cecar Dinda ketus. "Di sini itu tempat kerja, ya. Jangan bikin suasana dapur jadi aneh begini!"
Alya berbalik perlahan. Sorot matanya sangat tenang, namun kedalaman pupilnya yang hampa membuat Dinda mendadak menghentikan tawa kecil yang hendak ia lontarkan.
"Saya hanya mencuci piring, Dinda," jawab Alya halus. "Kalau ada masalah di antara mereka, sebaiknya kamu tanyakan langsung pada Ratna dan Wiwin."
"Ckk, sok misterius banget!" cibas Dinda, berusaha menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang dadanya. "Ingat ya, jangan sok jagoan di sini cuma karena kamu pendiam. Kamu itu cuma tukang cuci piring!"
"Saya tahu posisi saya," balas Alya santai. "Dan posisi kamu adalah mengantarkan pesanan ke depan, bukan?"
Dinda melotot, merasa tersindir. "Kamu ngusir aku?!"
"Saya cuma mengingatkan soal pekerjaan kita masing-masing," kata Alya pelan, namun intonasinya begitu tegas hingga membuat Dinda tak tahu harus membalas apa lagi.
Sebelum Dinda sempat meluapkan kemarahannya, Pak Herman melangkah masuk ke dapur dengan raut wajah tegang.
"Dinda! Ngapain kamu berdiri di situ?! Area depan ramai! Cepat bawa makanan ini ke meja nomor lima!" kata pak Herman.
"I-iya, Pak!" sahut Dinda kaget.
Ia memberikan tatapan tajam ada Alya sebelum bergegas menyambar nampan makanan dan berlari ke luar dapur.
Pak Herman berjalan mendekati area Alya. Pria tegas itu menatap Alya dengan raut wajah yang jauh lebih lunak dibanding kemarin, ada rasa segan dan cemas yang tersirat dari cara bicaranya.
"Alya..." panggil Pak Herman pelan.
"Iya, Pak Herman?"
"Kamu yang gesit nyuci piringnya ya, hari ini banyak pelanggannya," kata Pak Herman cepat.
"Baik Pak," jawab Alya singkat.
"Baguslah..." Pak Herman mengangguk-angguk, lalu berbalik pergi.
Alya kembali memutar keran air.