Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 SEKAR MAYANG DAN DAYANG PUTRI KEMBALI DATANG
Malam semakin larut, merangkak melewati batas sepertiga malam terakhir.
Kesunyian telah memeluk desa itu dengan paripurna. Tidak ada lagi suara derap langkah manusia. Kokok ayam masih terlalu enggan untuk memecah kebisuan, dan bahkan orkestra jangkrik pun seolah meredam volumenya, tunduk pada keagungan dan kemisteriusan malam.
Di dalam kamar masa kecilnya yang sempit, Zaki tertidur sangat pulas. Tubuhnya berbalut selimut yang bermotif wayang, meringkuk mencari kehangatan. Deru napasnya teratur, panjang, dan tenang.
Menariknya, dalam lelapnya itu, bibir pemuda tegap itu menyunggingkan sebuah senyuman simpul yang tak mau luntur.
Mimpi indah tentang hari-harinya di kebun kopi bersama Wiwi, serta kehangatan genggaman tangan di malam sebelumnya, rupanya terus terbawa hingga ke alam bawah sadarnya. Zaki benar-benar sedang berada di puncak kebahagiaan seorang manusia.
Namun, di luar sana...
ALAM NYATA YANG BERDAMPINGAN DENGAN ALAM GAIB MENYIMPAN RAHASIANYA SENDIRI.
Perlahan-lahan, dari arah kaki bukit yang rimbun, kabut putih tipis merayap turun.
Kabut itu tidak menyebar ke seluruh penjuru desa, melainkan mengalir bagaikan asap yang memiliki kesadaran, merayap menyusuri jalanan tanah berbatu, melompati pagar tanaman perdu, dan akhirnya berkumpul mengitari halaman depan rumah tua milik mendiang orang tua Zaki.
Seiring dengan berkumpulnya kabut tersebut, suhu udara di sekitar teras rumah anjlok secara drastis.
Hawa dingin yang tadinya murni merupakan hawa pegunungan, kini bermutasi menjadi hawa dingin yang menusuk tulang, sarat akan tekanan energi bermassa berat.
Embun di dedaunan mangga dan pohon sekitar seketika membeku menjadi butiran es tipis.
Lalu... menyeruak lah sebuah aroma yang sangat pekat.
Aroma manis yang teramat menyengat, perpaduan antara wangi kembang melati yang baru mekar...
Dan juga harumnya BUNGA KANTIL MERAH dan BUNGA KANTIL PUTIH yang biasa digunakan dalam ritual-ritual sakral pemanggil arwah.
Aromanya begitu tebal, seolah merampas pasokan oksigen di area teras tersebut.
Di tengah kepungan kabut putih dan pusaran aroma mistis itu, partikel-partikel cahaya kemerahan dan cahaya kehijauan mulai beredar di udara.
Partikel-partikel itu saling menyatu, memadat, dan perlahan-lahan membentuk dua buah siluet tubuh yang proporsional.
Hanya dalam hitungan detik, manifestasi gaib itu telah sempurna.
Di atas teras rumah berlantai semen kasar itu, berdirilah dua entitas perewangan gaib.
IYA...
SEKAR MAYANG DAN DAYANG PUTRI KEMBALI DATANG.
Sang mantan perewangan rupawan itu tak banyak berubah, ditemani oleh Dayang Putri. Ia masih mengenakan kemben berwarna merah darah yang menempel ketat di tubuh indahnya, dipadukan dengan selendang kuning keemasan yang melilit di pundak dan menjuntai hingga nyaris menyentuh lantai. Kain jarik cokelat bermotif keraton membalut bagian bawah tubuhnya.
Rambut hitam legamnya yang sangat panjang dibiarkan tergerai menembus punggungnya, melayang-layang pelan seolah ditiup oleh angin yang berasal dari dimensi gaibnya sendiri.
Namun, ada yang berbeda dari pendaran sepasang mata merah cerahnya.
Jika dulu matanya selalu memancarkan aura menggoda, nafsu, dan kekejaman yang mematikan, kini sepasang pupil merah menyala itu memancarkan sorot yang teramat sayu, sendu, dan diselimuti oleh sebuah kepedihan astral yang sulit dijabarkan.
Sekar Mayang tak melangkah masuk. Ikatan perjanjiannya dengan Zaki telah diputus secara mutlak beberapa bulan yang lalu, membuatnya tak lagi memiliki akses untuk menembus dinding pertahanan rumah tersebut, apalagi memasuki ruang batin tuannya.
"Kenapa kau tak masuk saja, Sekar Mayang?" tanya Dayang Putri dengan tatapan mata hijau cerahnya.
Sekar Mayang tak menjawab.
Ia hanya bisa berdiri di teras, menatap tajam ke arah dinding kayu dan jendela kamar di mana Zaki sedang terlelap.
Telinga gaib Sekar Mayang yang sangat tajam mampu mendengar ritme detak jantung Zaki dari balik dinding tebal itu. Ia juga bisa merasakan vibrasi kedamaian, kebebasan, dan cinta murni yang memancar kuat dari dada sang pemuda.
Vibrasi itu bukanlah vibrasi untuk Nisa, melainkan vibrasi yang tertuju pada perempuan lain bernama Wiwi.
Sang lelembut kelas atas itu menghela napas panjang.
Helaan napasnya menciptakan kabut dingin yang mengepul di udara.
"Haaah... Tidakkah kau tahu, Dayang Putri?" tanya Sekar Mayang dengan tatapan kedua mata merah cerahnya ke arah dinding kamar mantan Tuannya itu.
Kali ini, Dayang Putri tak menjawab. Ia hanya berdiri di belakang Sekar Mayang.
Lalu, Sekar Mayang berjalan mendekati jendela kamar Zaki.
Jari-jemari lentiknya yang seputih pualam terangkat, menyentuh pelan kaca jendela kamar Zaki dari luar. Sentuhannya meninggalkan jejak embun beku berbentuk telapak tangan yang memanjang.
"Tuanku sayang... Zakiku yang tampan..." gumam Sekar Mayang, suaranya mengalun lirih, menggema di dimensi gaib tanpa mampu menembus gendang telinga manusia Zaki.
Ia memejamkan mata merahnya, membiarkan kemampuan "menembus waktu masa lalu" miliknya bekerja sejenak.
Dan Dayang Putri berdiri diam, melihat Sekar Mayang dan apa yang akan ia lakukan.
Sekar Mayang melihat memori Zaki selama beberapa minggu terakhir.
Ia melihat Zaki yang tertawa lepas mengayunkan cangkul, ia melihat Zaki yang membaur dengan warga di Pos Ronda, dan ia melihat genggaman tangan penuh cinta antara Zaki dan Wiwi di bawah temaram lampu jalanan semalam.
Sebuah senyum getir dan ironis perlahan terukir di bibir merah Sekar Mayang.
"Kau terlihat begitu bahagia sekarang. Kau merasa telah memenangkan peperangan melawan garis nasibmu sendiri. Kau membuang seluruh kekuatan batinmu demi mengejar kesederhanaan cinta manusia fana yang kau temukan di sela-sela pohon kopi itu." gumam Sekar Mayang dengan energi gaibnya yang luar biasa kuat, sekuat energi Dayang Putri yang sekarang menjadi partnernya untuk melindungi Nisa di pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon.
Sekar Mayang menarik tangannya dari kaca jendela. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah jalanan desa yang sepi, menatap ke arah pusaran waktu masa depan yang selalu terbuka lebar di hadapan indera gaibnya. Karena sekarang, Sekar Mayang sudah terbiasa dengan kemampuan saudara perewangannya, Dayang Putri, yang memang memiliki kemampuan "menembus waktu masa depan".
Sebagai entitas yang bisa melihat alur masa lalu dan membaca benang-benang takdir masa depan yang dirajut oleh Sang Pencipta, karena bantuan Dayang Putri, Sekar Mayang tahu persis betapa naifnya pemikiran tuannya itu.
Ia tahu bahwa ketenangan yang direngkuh Zaki saat ini hanyalah sebuah jeda.
Sebuah babak istirahat yang sengaja diberikan oleh alam semesta nyata dan gaib sebelum badai yang sesungguhnya menghantam.
Zaki mengira dengan memutus ikatan gaibnya dan melupakan Nisa, ia bisa merombak ulang takdirnya bersama Wiwi.
Tapi...
Bagi Sekar Mayang...
Manusia selalu lupa bahwa takdir tidak pernah bekerja sesederhana itu.
Takdir adalah teka-teki yang kejam, dan benang yang telah terhubung antara Zaki dan Nisa telah digariskan jauh melampaui urusan perewangan.
"Batinmu mungkin telah kosong dari nama wanita itu, Zaki... Kau mungkin telah menyerahkan seluruh hatimu pada perempuan desa ini..." lanjut Sekar Mayang, suaranya kini terdengar sedikit bergetar, memendam kesedihan yang mendalam atas apa yang akan menimpa tuannya kelak.
"Namun... kelak kau akan menyadari, bahwa saat kau melarikan diri dari takdir, sama mustahilnya dengan kau mencoba menghentikan matahari terbit dari timur."
Angin malam kembali berhembus kencang, menggoyangkan lonceng bambu yang tergantung di sudut teras.
Sekar Mayang kembali menoleh ke arah jendela kamar, memberikan tatapan penghormatan dan kasih sayang terakhir kalinya kepada laki-laki yang pernah menjadi tuannya itu.
"Berbahagialah sejenak, Tuanku... Nikmatilah tawa dan cinta fanamu di tanah ini. Karena sebentar lagi... takdir yang sebenarnya akan menjemputmu dengan cara yang paling tak pernah kau duga."
Bersamaan dengan selesainya kalimat tersebut, tubuh Sekar Mayang dan Dayang Putri kembali memendarkan cahaya merah dan cahaya hijau yang menyilaukan.
Cahaya itu pecah menjadi ribuan partikel seperti kunang-kunang berwarna merah dan hijau yang terbang ke angkasa, lalu lenyap tertiup angin.
Kabut putih di teras langsung menguap tak berbekas. Suhu udara kembali menghangat pada batas normal, dan aroma bunga kantil merah yang menyengat sirna sepenuhnya, menyisakan bau embun dan tanah basah.
Di dalam kamar, Zaki menggeliat pelan mengubah posisi tidurnya, tak menyadari sedikit pun bahwa masa depannya baru saja ditatap dengan penuh belas kasihan oleh pelindung gaibnya yang telah pergi.
.....
.....
.....
((Sedikit intermezzo untuk kalian para pembaca TIRAKAT 6.))
((Kenapa di BAB 28 ini Sekar Mayang dan Dayang Putri bisa kembali datang ke rumah masa kecil Zaki?))
((BAB 28 - TIRAKAT 6 ini, berkaitan dengan BAB 36 - TIRAKAT 3.))
((Di akhir BAB 36 - TIRAKAT 3 itu, Nisa merasakan pagar gaib Sekar Mayang dan Dayang Putri sedikit melonggar. Padahal Nisa sedang berjibaku dengan energi gelap dari seorang anak bernama Gendis di pondok pesantren putri Ustadz Furqon.))
((Hal itu disebabkan, di alur waktu yang sama, kedua perewangannya Nisa itu sedang beresonansi bersama-sama untuk mendatangi Zaki. Sekar Mayang meminta Dayang Putri untuk melihat kembali bagaimana kehidupan Zaki setelah 4 bulan berlalu.))
((Dan Dayang Putri pun membantu Sekar Mayang untuk melihat kembali Zaki di dalam rumahnya yang dikisahkan pada BAB 28 - TIRAKAT 6 ini.))
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya