Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Permintaan Tak Terbatas

Sistem Permintaan Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.

Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.

Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.

Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pagi hari kedua dimulai dengan sarapan bersama di ruang makan pribadi yang menghadap langsung ke laut lepas, cahaya matahari pagi menembus jendela besar, membuat seluruh ruangan terasa hangat.

"Kapten bilang, kalau mau, kita bisa coba mancing sebentar sebelum matahari terlalu tinggi," Alex menawarkan, menyendok telur orak-arik di piringnya.

"Saya belum pernah mancing, Pak," Reina menjawab, sedikit ragu.

"Aku juga belum pernah," Alex menjawab santai, membuat Reina tertawa kecil.

"Serius? Padahal Bapak punya kapal sendiri."

"Punya kapal beda sama bisa mancing," Alex menjawab, tersenyum tipis.

Setelah sarapan, mereka menuju buritan kapal, tempat seorang kru sudah menyiapkan dua batang pancing lengkap dengan umpan. Reina memegang pancingnya dengan canggung, melempar kailnya asal-asalan hingga hampir mengenai kepala Alex yang berdiri di sampingnya.

"Woy, hati-hati," Alex berkata, menghindar dengan gerakan cepat, membuat Reina tertawa terbahak sambil meminta maaf berkali-kali.

Mereka menghabiskan hampir satu jam duduk berdampingan, sesekali bercanda soal siapa yang lebih dulu dapat ikan, meski pada akhirnya tidak satu pun dari mereka berhasil menangkap apa-apa selain rumput laut yang tersangkut di kail.

"Ini pasti lautnya lagi gak lapar," Reina berkata, menggulung pancingnya dengan wajah kecewa dibuat-buat.

"Atau kita berdua emang gak berbakat," Alex menjawab, membuat mereka berdua tertawa bersama.

Setelah menyerah dengan acara memancing, mereka pindah ke dek atas, tempat sebuah kolam renang kecil berbentuk melengkung menghadap ke arah matahari.

"Kau bisa berenang?" Alex bertanya, duduk di kursi santai sambil melepas sepatunya.

"Bisa, tapi udah lama banget gak pernah," Reina menjawab, tersenyum kecil sambil menatap air kolam yang jernih.

"Coba lagi sekarang," Alex menawarkan, menunjuk kolam dengan dagunya. "Gak ada yang buru-buru di sini."

Reina ragu sejenak sebelum akhirnya menyerah pada godaan itu, berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ketika dia kembali, Alex sudah lebih dulu berada di dalam kolam, tubuhnya yang tinggi dan proporsional bergerak santai di air, sesuatu yang jauh berbeda dari sosok kaku berjas yang biasa dia lihat di kantor.

Mereka menghabiskan sore itu berenang santai, sesekali bercanda soal hal-hal kecil—cerita masa kuliah Reina yang penuh begadang di laboratorium, cerita masa kerja Alex yang dulu penuh lembur tanpa akhir. Untuk pertama kalinya, Reina mendengar Alex bercerita soal masa lalunya sendiri, bukan sekadar arahan kerja atau strategi bisnis.

"Waktu kuliah, saya sempat gagal eksperimen lima belas kali berturut-turut buat satu tugas akhir," Reina bercerita, tertawa kecil mengenang masa itu. "Dosen saya sampai nanya, apa saya yakin mau lanjut di bidang riset."

"Terus?" Alex bertanya, ikut tertarik.

"Ya saya jawab, kalau saya berhenti sekarang, percobaan yang keenam belas gak akan pernah saya tahu hasilnya," Reina menjawab, senyumnya bangga. "Untungnya percobaan keenam belas itu berhasil."

Alex tertawa pelan, mengangguk setuju. "Itu yang aku suka dari caramu kerja. Gak gampang nyerah, meski keliatannya udah mentok."

"Dulu aku pikir hidupku bakal begitu-begitu aja," Alex berkata, bersandar di tepi kolam, matanya menatap langit sore yang mulai berubah warna. "Kerja, pulang, tidur, kerja lagi. Gak pernah kepikiran bakal jadi kayak sekarang."

"Menyesal?" Reina bertanya pelan.

"Kadang," Alex menjawab jujur. "Tapi lebih banyak enggaknya."

Reina menyelam sebentar, muncul lagi dengan rambut basah menempel di dahinya, tertawa kecil melihat wajah Alex yang terciprat air.

"Sengaja, ya?" Alex bertanya, alisnya terangkat.

"Kebetulan, Pak," Reina menjawab, tidak berusaha menyembunyikan senyum jahilnya.

Alex membalas dengan cipratan air yang lebih besar, memicu perang air kecil-kecilan di antara mereka yang berakhir dengan keduanya terengah-engah sambil tertawa, jauh dari kesan formal yang biasa mewarnai hubungan atasan dan bawahan di kantor.

...------...

Malam mulai turun perlahan, langit berubah jingga kemerahan, memantul indah di permukaan laut yang tenang. Alex dan Reina naik ke geladak atas, duduk berdampingan di kursi kayu yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam, segelas teh hangat di tangan masing-masing yang disiapkan oleh kru kapal.

"Pak," Reina memanggil pelan, matanya masih menatap horizon yang berubah warna. "Boleh saya tanya sesuatu?"

"Silakan."

"Kenapa saya? Maksud saya... Bapak bisa ajak siapa saja buat liburan kayak gini. Kenapa harus saya?"

Alex diam sejenak, jarinya memutar gelas tehnya perlahan.

"Karena kau satu-satunya orang yang percaya sama formula gilaku waktu itu," Alex menjawab, tersenyum tipis mengenang hari-hari pertama perusahaan berdiri. "Waktu semua orang ragu soal deadline tiga puluh hari, kau tetap kerja siang malam tanpa pernah sekali pun bilang itu mustahil."

Reina tersenyum, pipinya kembali merona samar di bawah cahaya jingga matahari terbenam.

"Itu kerjaan saya, Pak," Reina menjawab merendah.

"Bukan cuma soal kerjaan," Alex melanjutkan, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Kau selalu jujur sama aku, bahkan waktu berita gak enak sekalipun. Itu jarang aku temui belakangan ini."

Reina tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya sedikit, menyembunyikan senyum yang tidak bisa dia tahan.

Kru kapal datang membawa lilin kecil, meletakkannya di meja di antara mereka tanpa diminta, seolah sudah terlatih membaca suasana tanpa perlu instruksi. Cahaya lilin bergoyang pelan mengikuti hembusan angin laut, menambah kehangatan di tengah udara malam yang mulai mendingin.

"Pak," Reina memanggil lagi, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

"Ya?"

"Makasih udah percaya sama saya dari awal. Waktu itu, jujur saya juga sempat ragu sama diri saya sendiri."

Alex menoleh, menatap Reina yang duduk di sampingnya dengan cahaya lilin memantul lembut di wajahnya.

"Kalau aku gak percaya," Alex menjawab pelan, "aku gak akan ajak kau naik kapal ini sekarang."

Reina tertawa kecil, menggeleng pelan mendengar jawaban itu, meski senyumnya tidak juga hilang dari wajahnya.

Mereka duduk dalam diam, membiarkan matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik garis laut, meninggalkan langit yang berubah ungu gelap dihiasi bintang-bintang pertama malam itu, sementara kapal terus melaju tenang membawa mereka menjauh dari segala kesibukan yang selama ini menempel di pundak masing-masing.

1
Israel
alah bct kwontol. tinggal minta semua kebohongan daniel terungksp di public apasusah nya sih. author alay bau kencur pmo otak isekai. halu 100%
Israel
tlol bet kenapa ga minta regenerasi tanpa batas?
Israel
Tlol
Leonardo Akob
Saya suka baca Novelton
Anonim
bodoh mc nya buat aja permintaan uang tidak terbatas unlimited
Israel: Bullshit
total 5 replies
Ria Gazali Dapson
kasian alex , bertubi² cobaan nya
Syahraman [Hiatus]
pergi ke isekai
Israel: bct lu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!