Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tiga hari setelah peluncuran, Alex berdiri di depan sebuah minimarket besar di pusat kota, menyaksikan rak kosmetik yang biasanya penuh sesak kini hanya menyisakan dua botol Renata yang tersisa di ujung rak.
"Habis lagi, Mas?" seorang perempuan muda bertanya pada pramuniaga di dekatnya, kecewa terlihat jelas di wajahnya.
"Iya, Mbak. Baru datang pagi tadi, siang udah ludes," jawab pramuniaga itu sambil menggeleng. "Katanya ini produk paling laris minggu ini di toko kami."
Alex berdiri di sudut lorong, tangannya di saku celana, mendengarkan percakapan itu tanpa berniat menampakkan diri. Bibirnya melengkung tipis, tapi dia sengaja tidak mendekat, sekadar ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi orang asing yang menyaksikan hasil kerja kerasnya dari kejauhan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bima.
"Pak, laporan penjualan minggu pertama udah masuk. Bapak harus lihat ini."
Alex kembali ke kantor sore itu, menemukan Bima dan Reina berdiri di depan layar besar di ruang rapat, menunjukkan grafik yang naik tajam sejak hari peluncuran.
"Angka pre-order kita terlampaui tiga kali lipat, Pak," Bima menjelaskan, suaranya masih terdengar tidak percaya meski ini sudah hari ketiga dia melaporkan hal serupa. "Distributor di tiga kota lain sudah minta tambahan stok. Masalahnya—"
"Kapasitas produksi kita gak bisa ngejar," Reina menyambung, wajahnya campuran antara bangga dan cemas. "Lini produksi yang kita pakai sekarang cuma dirancang untuk skala uji pasar, bukan permintaan sebesar ini."
Alex menatap grafik itu lama, jarinya mengetuk meja pelan. 'Sukses juga bisa jadi masalah, ternyata.'
Dia melirik panel kecil yang muncul samar di sudut penglihatannya, menampilkan jumlah permintaan yang masih tersisa.
[Permintaan Tersedia: 2]
"Aku akan urus kapasitas produksinya," Alex berkata akhirnya. "Kalian fokus jaga kualitas, jangan sampai turun cuma karena kita buru-buru mengejar jumlah."
Malam itu, di ruangannya sendiri, Alex berdiri menghadap jendela, menatap kota yang mulai berkelip lampu-lampu malam.
"Aku ingin kapasitas lini produksi perusahaanku ditingkatkan sepuluh kali lipat, dengan kualitas yang tetap terjaga sama seperti sebelumnya."
[Permintaan diterima.]
[Memproses...]
[Permintaan berhasil dikabulkan.]
[Permintaan Tersedia: 1]
...-------...
Keesokan harinya, laporan dari pabrik maklon Bu Utami mengonfirmasi bahwa kapasitas mesin mereka tiba-tiba melonjak drastis tanpa penjelasan yang jelas dari pihak teknisi, meski semua orang di pabrik itu terlalu senang untuk mempertanyakannya lebih jauh.
Berita soal Renata mulai menyebar lebih luas. Sebuah stasiun televisi swasta mengundang Reina untuk wawancara singkat soal fenomena "skincare rakyat" yang tiba-tiba viral, sementara beberapa akun media sosial besar mulai membandingkan harga Renata dengan produk sejenis milik merek-merek besar yang sudah lama berdiri.
Alex duduk di ruangannya, membuka salah satu artikel berita ekonomi di ponselnya, alisnya terangkat membaca judul yang muncul di layar.
"Saham Divisi Kosmetik Hartono Group Melemah Tipis, Analis Sebut Tekanan dari Pemain Baru."
Dia membaca artikel itu dengan saksama, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
'Baru tipis. Tapi ini baru minggu pertama.' Dia meletakkan ponselnya, menatap keluar jendela ke arah menara Hartono Group yang masih berdiri gagah di kejauhan, meski untuk pertama kalinya, gedung itu terasa sedikit kurang menakutkan dari sebelumnya.
Sore harinya, seorang office boy datang membawa setumpuk surat lamaran kerja tambahan—kabarnya beberapa karyawan divisi kosmetik Hartono Group diam-diam mengirimkan lamaran ke perusahaan Alex, meski identitas pengirimnya sengaja disamarkan.
Bima meletakkan tumpukan itu di meja Alex sambil tersenyum lebar. "Kelihatannya bukan cuma pelanggan yang mulai berpindah, Pak."
Alex mengambil salah satu lamaran itu, membacanya sekilas, lalu meletakkannya kembali dengan tenang.
"Biarkan mereka datang sendiri," Alex berkata pelan. "Aku gak perlu merebut apa pun. Cukup buktikan kalau di sini lebih baik."
Malam itu, sebelum pulang, Alex berhenti sejenak di lantai produksi yang sudah sepi, memperhatikan mesin-mesin yang masih berdengung pelan menyelesaikan batch terakhir hari itu. Beberapa karyawan shift malam melambai kecil saat melihatnya lewat, dan Alex membalas dengan anggukan singkat, sesuatu yang dulu tidak pernah dia lakukan sebagai karyawan biasa—bahkan atasannya sendiri jarang menyapa balik ketika Alex melambai lebih dulu.
'Aneh rasanya, jadi orang yang disapa duluan sekarang.'
Dia berjalan keluar gedung menuju mobilnya, melewati papan pengumuman di lobi yang baru saja ditempel siang tadi—daftar nama karyawan baru dari divisi produksi tambahan, hasil rekrutmen darurat untuk mengimbangi lonjakan permintaan. Di antara nama-nama itu, beberapa memang berasal dari perusahaan lain, termasuk dua nama yang menurut catatan HRD sebelumnya bekerja di bawah naungan Hartono Group.
Alex berhenti sejenak membaca daftar itu, senyum tipis kembali muncul di wajahnya sebelum akhirnya melangkah keluar menuju malam yang mulai dingin.