Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 PERTEMUAN YANG DIRINDUKAN
Sekitar lima belas menit lamanya Zaki membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan di atas kursi kayu berdebu itu.
Hembusan angin yang perlahan menyapu teras akhirnya menyadarkan pemuda tersebut.
Ia bangkit berdiri, meraih tas ransel biru tua miliknya yang sedari tadi tergeletak di meja, lalu merogoh salah satu kantongnya dalam-dalam. Gemerincing logam terdengar pelan saat sebuah kunci usang berpindah ke genggamannya.
Ia melangkah mendekati daun pintu utama yang catnya sudah banyak mengelupas. Baru saja tangannya terangkat hendak memasukkan kunci ke dalam lubang, gerakannya mendadak terhenti.
Samar-samar, sebuah suara parau khas perempuan sepuh memanggil namanya dari arah depan pekarangan.
"Le Zaki? Kowe Le Zaki, toh?" (Nak Zaki? Kamu Nak Zaki, ya?)
Zaki segera memutar tubuhnya.
Senyum hangat otomatis merekah di bibirnya begitu melihat sosok rentan yang berdiri tak jauh dari halaman.
"Eeeh... Mbah Jum? Hehehe..." sapa Zaki gembira.
"Masya Allah... Le Zakiii... Wis mulih toh kowe, Leee?" (Masya Allah... Nak Zakiii... Sudah pulang kamu, Naaak?) Raut wajah wanita tua itu seketika berbinar, seolah tak percaya bisa melihat anak muda itu berdiri di sana setelah sekian lama.
"Nggih, Mbah... Kulo wis mulih niki..." (Iya, Mbah... Saya sudah pulang...) jawab Zaki dengan senyum yang kian lebar.
Tanpa membuang waktu, ia bergegas menghampiri wanita tua bernama Mbah Jum tersebut.
Dengan takzim, Zaki meraih tangan kanan Mbah Jum yang dipenuhi guratan usia, lalu mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat.
"Ya Allah, Gustiii... Lha sok kapan kowe teko, Leee?" (Ya Allah, Tuhaaan... Lha dari kapan kamu datang, Naaak?) tanya Mbah Jum.
Kegembiraan meluap dari matanya yang berkerut, seolah waktu telah membeku belasan tahun sejak terakhir kali ia menatap wajah Zaki.
"Hehehe... Kulo tembe dugi niki, Mbah... Panjenengan pripun kabare, Mbah?" (Hehehe... Saya baru aja datang, Mbah... Mbah sendiri gimana kabarnya?) tanya Zaki tanpa melepaskan genggaman hangatnya.
"Alhamdulillah, Leee... Mbah yo seger kewarasan... Lha kowe piye kabare, Cah Ganteeeng?" (Alhamdulillah, Naaak... Mbah ya sehat wal'afiat... Kamu sendiri gimana kabarnya, Anak Ganteeeng?) timpal Mbah Jum dengan suara paraunya yang begitu khas dan menenangkan.
"Alhamdulillah, seger kewarasan nggih kulo, Mbah... Hehehe..." (Alhamdulillah, sehat wal'afiat juga saya, Mbah... Hehehe...)
"Ealahhh... Duh, Gustiii... Kowe saiki wis guediii, Masya Allah, Leee-Leee!!" (Eyalaaah... Duh, Tuhaaan... Kamu sekarang udah besar, Masya Allah, Naaak-Naaak!!)
"Nggih toh, Mbah... Moso nggih cilik terus, toooh? Hahahaha..." (Iya dong, Mbah... Masa masih kecil terus, sih? Hahahaha...)
Kehangatan khas kekeluargaan masyarakat pelosok Jawa Timur seketika menguar kuat di antara mereka berdua. Mbah Jum bukanlah sekadar tetangga.
Wanita sepuh inilah yang memegang peranan paling krusial dalam hidup Zaki semasa kecil, terutama setelah tragedi mengerikan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Mbah Jum-lah yang merawatnya hampir setiap hari, menuntun Zaki melewati waktu demi waktu yang terasa begitu sunyi dan kelam.
"Pestine wis dadi cah sukses kowe yo, Le..." (Pastinya sudah jadi anak yang sukses kamu ya, Nak...) ujar Mbah Jum, matanya tak henti-henti menatap lekat pemuda di hadapannya dengan penuh rasa bangga.
"Hehehe... Insya Allah, Alhamdulillah, Mbah..." Zaki membalas tatapan itu dengan binar kebahagiaan yang sama.
"Lha, kowe mulih dhewean, toh? Lha Pakdhe-mu, endi?" (Lha, kamu pulang sendirian, ya? Pakde kamu kemana?)
"Nggih niki, Mbah... Dhewekan kulo... Pakdhe kulo tesih teng kito, Mbah..." (Iya ini, Mbah... Saya sendirian... Pakde saya masih di kota, Mbah...) jawab Zaki sopan.
"Oalahhh, ngoten nikuuu..." (Owalaaah, gitu, ya...)
Sejenak, suasana mendadak hening.
Mbah Jum menatap dalam-dalam bola mata Zaki.
Lapisan bening air mata perlahan menggenangi pelupuk mata sayunya.
Bayangan masa lalu saat Zaki kecil bergantung padanya seakan kembali berputar jelas.
"Leee... Mbah wis tuwo... Mbah kangen kowe, Leee..." (Naaak... Mbah sekarang sudah tua... Mbah kangen kamu, Naaak...) bisik wanita tua itu. Suaranya bergetar, mulai terisak menahan pilu.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Zaki langsung merengkuh tubuh renta Mbah Jum ke dalam pelukannya.
Sangat erat.
Aroma khas ramuan tradisional dan minyak angin yang menguar dari kebaya lusuh Mbah Jum seketika memukul telak pertahanan Zaki.
Pemuda itu tak kuasa lagi membendung air mata kerinduannya.
"Inggih, Mbah... Kulo nggih kangen panjenengan, Mbaaah... Hiks-hiks-hiks..." (Iyaaa, Mbah... Saya juga kangen sama Mbah... Hiks-hiks-hiks...) balas Zaki parau, tepat di sebelah telinga keriput Mbah Jum.
Tak ingin larut dalam kesedihan terlalu lama, Mbah Jum mengurai pelukan mereka. Ia menepuk pundak Zaki dengan gaya bercanda khas orang tua.
"Iyo-iyooo! Wis, ah! Ojo nangis ngono kuwi, Le! Dadi elek rai-mu!" (Iya-iyaaa! Sudah, ah! Jangan nangis kayak gitu, Nak! Jadi jelek wajahmu!)
"Hehehehe... Hiks... Inggih, Mbah... Panjenengan nggih sampun langkung elek rumiyin! Hehehehe..." (Hehehehe... Hiks-hiks... Iya, Mbah... Mbah juga udah jelek duluan malah! Hehehehe...) ledek Zaki seraya menghapus kasar sudut matanya yang basah.
"Ealahhh... Iso waeee, Cah Ganteeeng!! Hemmm-Hemmm!!" balas Mbah Jum gemas, sambil menjambak pelan rambut hitam Zaki dengan penuh kasih sayang.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya