Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mau Cerai, Mas
Keesokan harinya, Elena terbangun pagi-pagi sekali. Ia terkejut melihat Angga sedang tidur di sampingnya, sambil memeluk tubuhnya.
Seketika ia mengingat foto yang dikirim Cindy tadi malam. Elena pun merasa kesal. Ia menyingkirkan tangan yang melingkar di tubuhnya dengan kasar sehingga membuat Angga terbangun.
"Elena?"
"Kenapa kamu di sini mas?"
"Saya di sini karena ini rumah saya, dan kamu istri saya, Elena."
"Ceraikan aku, Mas. "
Angga menghela nafas lalu menarik diri dari tubuh Elena. "Masih pagi, Elena. Jangan membahas hal yang tidak perlu."
"Tidak perlu? Mas, kamu anggap aku ini apa?"
"Kamu istri saya."
"Istri yang kamu khianati!"
"Elena..."
"Sejak kapan kamu menikah dengannya mas? Sejak kapan kalian melakukan hubungan sampai akhirnya dia bisa hamil, hah?"
"Elena. Saya tahu saya salah. Saya telah menikah dengan Cindy tanpa bicara denganmu. Tapi saya—"
"Aku nggak mau dengar apapun. Aku muak!"
"Elena, dengar. Meskipun saya menikahi Cindy, saya pastikan posisi istri utama tetaplah kamu."
"Saya akan kasih semuanya untuk kamu, asalkan kamu tidak pergi dari hidup saya," ujar Angga dengan serius.
Elena pun menatap Angga untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka. "Kamu mau kasih aku apa aja?"
"Iya."
"Kalau begitu, aku mau kamu tinggalkan Cindy. Aku tidak suka ada wanita lain yang memiliki suamiku!"
Angga terhenyak. Ia menelan saliva nya dengan kasar.
"Cindy sedang mengandung anak saya, Elena."
"Jadi kamu nggak bisa?"
"Elena..."
"Kalau begitu, ceraikan aku!"
Angga memejamkan matanya sejenak lalu menatap Elena dengan lekat.
"Saya nggak akan ceraikan kamu. Saya cinta sama kamu," ucap Angga seraya beranjak dari ranjang.
"Saya akan panggilkan Iroh dan suster, kamu harus makan pagi ini, Elena."
"Nggak! Aku mau cerai mas!"
"Jangan buang energimu. Sampai kapanpun saya tidak akan menyetujuinya!"
Setelah mengatakan itu, Angga pun keluar dari kamar Elena dan menutup pintunya.
Elena kesal, ia berteriak marah seraya melempar bantal ke arah pintu.
"Brengsek kamu mas! Aku benci kamu!!"
****
"Apa yang mau kamu bicarakan suster Eni?" tanya Angga di ruang kerjanya.
"Maaf, Tuan. Saya melihat kondisi nyonya bukan hanya sakit secara fisik, melainkan ada sesuatu pada hati dan jiwanya."
"Maksud kamu? Istri saya gila?"
"Oh bukan, Tuan. Bukan itu. Hanya saja sepertinya ada tekanan mental yang sedang nyonya hadapi dan ini tidak baik untuk kondisi tubuh dan juga jiwanya, Tuan."
Angga terdiam memikirkan ucapan Sister Eni. Yang dikatakan suster itu benar. Elena memang sedang menghadapi tekanan mental dan hati yang menyakitkan, dan itu semua karena dirinya.
"Apa yang bisa dilakukan untuknya?" tanya Angga.
"Biarkan Nyonya melakukan apa yang dia inginkan, Tuan. Itu dapat mengurangi rasa cemas dan stress yang mengganjal di hatinya. Bebaskan Nyonya dan jangan membatasi dirinya."
Angga terhenyak. Jika ia mengikuti saran dari suster Eni, itu artinya ia dan Elena harus bercerai. Angga tahu, wanita itu pasti akan meminta Angga untuk menceraikannya.
"Mas... ceraikan aku."
Membayangkan kalimat itu saja sudah membuat jantungnya terasa diremas.
Tidak.
Ia tidak siap kehilangan Elena. Ia rela melakukan apa pun untuk memperbaiki kesalahannya, tetapi membiarkan Elena pergi bukanlah pilihan yang sanggup ia terima.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Angga.
"Ada, Tuan. Sebaiknya Tuan membawa Nyonya Elena berkonsultasi dengan psikiater. Beliau perlu diperiksa kondisi psikologisnya secara menyeluruh. Jika diperlukan, psikiater juga dapat memberikan terapi yang sesuai agar trauma dan tekanan batin yang dialaminya bisa ditangani dengan baik."
Suster Eni berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lembut.
"Pemulihan luka batin tidak bisa dipaksakan, Tuan. Yang paling dibutuhkan Nyonya saat ini adalah penanganan yang tepat, lingkungan yang mendukung, dan waktu untuk memulihkan dirinya. Kecuali jika nyonya dibebaskan melakukan apa yang dia inginkan."
Angga mengerutkan keningnya. "Psikiater?"
"Benar, Tuan."
"Apa kamu punya rekomendasi psikiater yang bagus? Berapapun saya akan membayarnya, tapi saya mau dia bisa memeriksa Elena di rumah ini, tanpa Elena harus datang ke Rumah Sakit."
"Mengenai hal itu, saya akan coba konfirmasi ke rumah sakit dulu, Tuan."
Angga mengangguk. "Kau boleh keluar. Rawat istri saya. Pastikan dia makan pagi in—"
"Tuan...Tuan Angga..."
Angga terhenyak. Kalimatnya bahkan telah terputus akibat panggilan mendadak itu. Seseorang memanggilnya dengan panik sambil masuk ke dalam ruang kerja Angga yang memang tidak ditutup rapat.
"Ada apa?" tanya Angga.
"Nyonya, Tuan..."
Mendengar nama itu tubuh Angga menegang. Ia segera beranjak dari kursinya dan menatap Iroh.
"Ada apa dengan istri saya?"
"Nyonya... Nyonya tidak ada di kamarnya, Tuan."
"Apa??"