Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pasrah
Pagi itu di kantor, suasana riuh rendah khas awal pekan sudah dimulai. Bunyi kibor yang diketuk bertalu-talu, deru mesin cetak yang sedang menduplikasi dokumen, serta obrolan ringan tentang akhir pekan terdengar saling bersahutan. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu sudut yang terasa seperti memiliki zonanya sendiri.
Rama sudah berada di meja kerjanya sejak tiga puluh menit sebelum jam masuk dimulai. Komputer di hadapannya sudah menyala, menampilkan lembar kerja yang harus diselesaikan hari ini. Namun hari ini tak seperti biasa. Jari-jari Rama tidak lincah menari di atas kibor seperti yang biasa ia lakukan jika sedang mengejar target tenggat waktu.
Rama lebih banyak diam. Pandangannya sesekali terpaku pada monitor, namun fokusnya jelas terbang entah ke mana. Tatapannya kosong, mencerminkan sisa-sisa kelelahan dari malam panjang yang baru saja ia lewati di atas kasur tipis kosnya. Perubahan atmosfer di meja Rama tentu saja terasa sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya santai dan humoris.
Hal itu tak luput dari perhatian rekan kerjanya yang duduk tepat di sebelah kubikelnya. Seseorang yang sudah hafal betul dengan gerak-gerik Rama sejak mereka pertama kali masuk ke perusahaan ini.
"kamu kenapa" tanya iwan sambil memutar sedikit kursi rodanya ke arah Rama.
Iwan memperhatikan cangkir kopi Rama yang masih utuh dan raut wajah sahabatnya yang tampak lebih lesu dari biasanya. Mendengar suara yang familier itu, Rama sedikit tersentak dari lamunannya. Ia menoleh perlahan ke arah Iwan.
Rama hanya menggeleng. Ia mencoba memaksakan sebuah senyum tipis agar sahabatnya itu tidak perlu merasa cemas, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke layar komputer seolah-olah ia sedang sangat sibuk.
Namun, Iwan bukan orang baru dalam hidup Rama. Ia tahu persis kapan Rama hanya sedang malas dan kapan Rama sedang memikul beban pikiran yang berat. Gelengan kepala itu tidak cukup untuk menyudahi rasa penasarannya.
"ayolah kawan .... bilang aja" kata iwan mendesak, kali ini dengan nada suara yang lebih pelan agar tidak memancing perhatian staf dari divisi lain.
Rama terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa menyembunyikan masalah ini dari Iwan hanya akan membuat dadanya semakin sesak. Lagipula, cepat atau lambat, status barunya pasti akan tercium juga. Rama pun menghela nafas panjang, seolah sedang mencoba mengeluarkan seluruh udara berat yang menyumbat paru-parunya sejak malam minggu kemarin.
"tadi malam ...... aku jomblo lagi..." ucap Rama pelan.
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa ada bumbu dramatis atau nada meratap. Hanya sebuah pernyataan fakta yang datar.
Mendengar pengakuan yang tak terduga itu, reaksi Iwan justru di luar dugaan. Bukannya menunjukkan rasa simpati yang mendalam atau wajah penuh penyesalan, Iwan tersenyum. Sebuah senyuman yang tampak dipenuhi rasa lega, seolah ia baru saja mendengar kabar baik yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
"akhirnya kamu lepas juga dari wanita itu..." ujar iwan setengah berbisik namun penuh penekanan.
Bukan rahasia lagi bagi Iwan bagaimana dinamika hubungan antara Rama dan Ratna selama ini. Sebagai sahabat, Iwan sering kali merasa gemas melihat bagaimana Rama selalu memaksakan diri dan memeras keringat hanya untuk mengimbangi gaya hidup Ratna yang semakin hari semakin tinggi. Iwan tahu hubungan itu cepat atau lambat akan menemui jalan buntu.
Iwan kemudian memajukan kursinya, menatap Rama dengan binar penuh rasa ingin tahu tentang langkah hidup sahabatnya setelah terbebas dari beban masa lalu. "lalu apa rencanamu selanjutnya" tanya iwan.
Rama menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kantor yang busanya sudah mulai menipis. Ia menatap langit-langit kubikelnya dengan tatapan pasrah yang sama seperti malam kemarin.
"apalagi" tanya rama balik.
"aku sadar diri wan. aku hidup sebatang kara, rumah cuma kost... wajar aja klo orang g mau..." lanjut Rama dengan nada bicara yang sangat realistis, nyaris terdengar sinis terhadap takdir hidupnya sendiri.
Bagi Rama, penolakan Ratna bukan sekadar masalah cinta yang kandas, melainkan sebuah konfirmasi dari realita sosial. Ia tidak memiliki keluarga besar dengan warisan melimpah, tidak punya aset yang bisa dibanggakan, dan hanya mengandalkan gaji bulanan yang pas-pasan untuk bertahan hidup di kamar kos petak. Baginya, wajar jika seorang wanita memilih membelokkan langkahnya menuju sedan Eropa milik Tony daripada harus terus bertaruh masa depan di atas motor matic tuanya.
Mendengar argumen pasrah dari sahabatnya, Iwan langsung memotong dengan tawa kecil, mencoba memecah awan mendung yang bergelayut di kepala Rama.
"hahah kamu ini" kata iwan sambil menepuk bahu Rama dengan cukup keras.
"wajah tampan, fisik bagus, tinggi badan ok. masalahnya kan cuma uang... uang kan bisa dicari..." kata iwan menghibur.
Iwan tidak sedang membual. Secara visual, Rama memang memiliki modal yang lebih dari cukup. Postur tubuhnya tegap, tinggi badannya proporsional, dan wajahnya kerap kali menarik perhatian beberapa karyawati di lantai ini. Satu-satunya hal yang menahan Rama untuk berada di kasta atas hanyalah isi dompetnya. Dan bagi Iwan, urusan finansial adalah sesuatu yang sifatnya dinamis, bukan harga mati yang tidak bisa diubah.
Namun, Rama hanya tersenyum kecut mendengar kalimat penghibur dari Iwan. Kata-kata "uang bisa dicari" terdengar sangat mudah diucapkan, tetapi implementasinya di dunia nyata memiliki cerita yang jauh berbeda.
"ia wan masalahnya memang uang, betul kata kamu uang bisa dicari. dan bagiku prosesnya itulah yg menjadi masalah..." tutur Rama.
Rama tahu uang bisa dicari dengan bekerja lebih keras, mengambil kerja sampingan, atau memeras otak hingga larut malam. Namun, proses menuju ke sana membutuhkan waktu, air mata, tenaga, dan sering kali mengorbankan kewarasan diri. Sementara itu, dunia di sekitarnya, termasuk Ratna, tidak memiliki cukup kesabaran untuk menunggu proses itu selesai. Orang-orang ingin melihat hasil, bukan perjuangan berdarah-darah di atas motor matic. Proses yang melelahkan dan penuh ketidakpastian itulah yang saat ini membuat Rama merasa enggan untuk memulai kembali dari nol.
Iwan hanya geleng-geleng mendengar pengakuan pasrah rekan kerjanya. Ia tahu betul jika Rama sudah mengeluarkan mode "sadar diri" seperti ini, tidak akan ada kalimat motivasi dari motivator mana pun yang bisa memantul di kepalanya. Iwan memilih untuk kembali ke mejanya, memberikan ruang bagi Rama untuk berdamai dengan pikirannya sendiri, sambil berharap hari baru ini benar-benar bisa membawa sudut pandang yang berbeda bagi sahabatnya.