Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Roda mobil sedan hitam berhenti sempurna di atas pelataran batu alam yang basah oleh sisa hujan. Di hadapan Andira, berdiri sebuah bangunan megah beraksitektur modern minimalis dengan dominasi dinding beton ekspos, kaca-kaca tinggi menjulang, dan marmer hitam bergaris kelabu.
Tidak ada kehangatan yang terpancar dari rumah itu, setiap sudutnya memancarkan kemewahan yang kaku, dingin, dan menekan.
Alvan turun lebih dulu tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya yang tegap menaiki anak tangga marmer menuju pintu jati berukuran raksasa.
Andira menarik napas panjang, mencoba menetralkan paru-parunya yang terasa makin sesak. Dengan jemari yang gemetar, ia meremas ujung kebaya putihnya yang sedikit ternoda cipratan air hujan, lalu melangkah keluar mengekor di belakang Alvan. Setiap hentakan tumit sepatunya di atas lantai batu terasa bagai ketukan menuju sel tahanan baru.
Klek.
Pintu jati tebal itu terbuka, menyajikan pemandangan interior mansion yang sangat luas. Ruang eksekutif beratap tinggi itu diterangi cahaya lampu gantung kristal bergaya kontemporer. Mebel-mebel bernilai ratusan juta tertata rapi tanpa cela, tetapi keheningan di dalamnya begitu pekat, seperti berada di dalam museum yang mati.
Dua orang pelayan paruh baya bernama Bi Inah dan seorang penjaga keamanan berbadan tegap sudah berdiri sejajar di dekat foye, menundukkan kepala dengan kaku saat Alvan melangkah masuk.
"Selamat malam, Tuan Alvan," sapa Bi Inah dengan suara bergetar pelan.
Matanya sempat melirik ke arah Andira yang berdiri canggung beberapa langkah di belakang Alvan, lalu dengan cepat melemparkan pandangan dingin yang sarat akan prasangka. Rumor bahwa wanita di hadapan mereka adalah dalang di balik tewasnya Tuan Muda Roy telah menyebar ke seluruh penjuru rumah.
Alvan menghentikan langkahnya di tengah aula utama. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap Andira dari atas ke bawah.
"Bi Inah," panggil Alvan datar, suaranya menggelegar pelan merayapi dinding-dinding tinggi rumah itu.
"Iya, Tuan?"
"Mulai malam ini, wanita ini tinggal di sini," kata Alvan, menunjuk Andira dengan dagunya tanpa sedikit pun kehangatan. "Tetapi ingat posisi dan batasan kalian. Jangan melayaninya seperti seorang nyonya rumah. Dia di sini bukan untuk menikmati fasilitas keluarga Samudra."
Bi Inah menunduk lebih dalam. "Baik, Tuan. Kami mengerti."
Rasa sakit yang halus namun tajam menusuk dada Andira. Ia mengepalkan tangannya di balik lipatan kain kebaya, mencoba berdiri setegak mungkin meski hatinya baru saja dicambuk di hadapan para pekerja rumah tangga.
Alvan melangkah mendekati Andira hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Tinggi badan Alvan yang menjulang membuat bayangannya menutupi seluruh tubuh Andira, mengurung wanita itu dalam dominasi aura yang intimidatif.
"Dengarkan aku baik-baik, Andira," ujar Alvan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya jernih, lambat, dan penuh penekanan. "Rumah ini memiliki aturan. Dan pelanggaran terhadap aturan berarti kamu memutus sendiri tali penyambung nyawa ayahmu."
Andira menengadahkan kepala, menatap lurus ke dalam sepasang mata sehitam malam milik suaminya. "Katakan... apa aturannya?"
Alvan mengangkat satu jarinya. "Pertama, ruang kerja pribadiku di lantai dua adalah area terlarang. Kamu dilarang keras melangkah atau sekadar berdiri di depan pintunya tanpa izin resmi dariku."
Andira mengangguk pelan. "Lalu?"
"Kedua," Alvan memajukan langkahnya, menunduk hingga bisikan napasnya yang dingin menyapu kulit pipi Andira yang pucat. "Kamar mendiang Roy di sayap timur rumah ini adalah tempat suci. Kamu tidak boleh mendekat, menyentuh, atau menapakkan kakimu di sekitar lorong itu. Jika aku melihatmu berkeliaran di sana, aku tidak akan segan-segan menyeretmu kembali ke sel kepolisian malam itu juga."
Dada Andira berdesir hebat. Kamar Roy... itu adalah satu-satunya tempat yang mungkin menyimpan petunjuk tentang siapa sebenarnya wanita yang dihubungi Roy sebelum tewas, atau setidaknya jejak yang bisa membuktikan kebenarannya. Namun Alvan baru saja mengunci rapat-rapat pintu tersebut.
"Dan yang ketiga," lanjut Alvan, menegakkan kembali tubuhnya. "Kamu dilarang melangkah keluar dari gerbang depan tanpa pengawalan pribadi dari orang-orangku. Seluruh sudut rumah ini dilengkapi kamera pengawas dua puluh empat jam. Jangan pernah berpikir kamu bisa bernapas bebas di sini."
"Aku mengerti," bisik Andira serak. "Aku tidak akan melanggar aturanmu... selama kamu memegang janjimu untuk membiarkan Ayah mendapatkan perawatan terbaiknya."
Alvan tertawa sinis, sebuah tawa singkat yang memancarkan penghinaan murni. "Menawarku? Kamu tidak dalam posisi untuk bernegosiasi, Andira. Kelangsungan hidup ayahmu adalah imbalan atas kepatuhan penuhmu. Sekali saja kamu berulah... kamu tahu konsekuensinya."
Alvan melepas jas hitam mewahnya dengan gerakan kasar, lalu menghempaskannya begitu saja ke lengan sofa kulit di dekatnya. Ia memutar tubuh menuju tangga melingkar yang menuju ke lantai atas.
"Ikut aku," perintah Alvan singkat.
Andira mengangkat gaun kebayanya yang berat dan melangkah menaiki anak tangga mengekor di belakang Alvan. Koridor lantai dua terasa semakin dingin. Penerangan di lorong ini dipasang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di atas dinding marmer.
Alvan berjalan melintasi kamar utama yang pintu jatinya terbuka lebar, menyajikan pemandangan kamar tidur sangat luas dengan tempat tidur king-size dan balkon yang menghadap langsung ke pemandangan lampu-lampu kota. Namun, Alvan tidak berhenti di sana.
Ia terus berjalan menyusuri koridor hingga tiba di ujung lorong paling gelap, sebuah sudut sepi di dekat tangga servis pelayan. Alvan berhenti di depan sebuah pintu kayu polos tanpa ukiran.
Ia mendorong pintu itu hingga terbuka dengan derit pelan.
"Ini kamarmu," kata Alvan dingin.
Andira melangkah maju dan mengintip ke dalam. Kamar itu sangat kecil, berukuran tak lebih dari tiga kali tiga meter. Di dalamnya hanya terdapat satu tempat tidur berukuran tunggal dengan seprai putih polos, sebuah lemari pakaian kayu sederhana, dan meja kecil di sudut ruangan.
Tidak ada pendingin udara yang menyala, hanya sebuah jendela kaca kecil berjeruji besi yang berhadapan langsung dengan dinding tembok tinggi di luar.
Kamar itu lebih menyerupai sel isolasi mewah daripada sebuah kamar di dalam mansion megah.
"Kamu akan tidur di sini," kata Alvan tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Jangan pernah bermimpi tidur di kamar utama denganku. Statusmu di rumah ini adalah seorang terpidana yang kuberi ruang untuk bernapas."
Andira menatap ruangan sempit itu. Alih-alih meringis atau memohon kamar yang lebih layak, ia justru membusungkan dadanya pelan. Keteguhan hati yang selama ini tersembunyi di balik kelembutan parasnya perlahan mencuat naik.
"Ini sudah lebih dari cukup," jawab Andira tenang, menatap mata Alvan tanpa rasa gentar. "Terima kasih, Pak Alvan."
Alvan sempat tertegun sejenak. Ia mengharapkan tangisan, keluhan, atau ratapan keputusasaan dari wanita yang baru saja ia lempar ke kamar sempit ini. Namun, ketenangan di mata Andira justru membuat dada Alvan berdesir aneh, sebuah kejengkelan yang tak beralasan mulai membakar benaknya.
Alvan mencengkeram dagu Andira dengan jemarinya yang tegap, memaksa wanita itu menatapnya lebih dekat. Genggamannya cukup kuat hingga membuat kulit pipi Andira merona merah karena tekanan.
"Jangan bertegak dagu di depanku, Andira," bisik Alvan penuh ancaman, matanya menyala tajam. "Ketenanganmu ini tak lebih dari topeng. Aku akan memastikan... suatu hari nanti kamu akan berlutut di kakiku, menangis dan mengemis ampun atas apa yang sudah kamu lakukan pada Roy."
"Dan aku akan menunggu hari di mana Anda menyadari..." Andira menahan rasa sakit di dagunya, menatap Alvan lurus-lurus. "...bahwa pria yang Anda sebut sebagai algojo ini telah mengurung orang yang salah."
Alvan menghempaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Andira terlempar sedikit ke samping. Pria itu mengusap tangannya ke celana, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Mimpi yang indah, Nona Andira. Tapi sayang... di rumah ini, mimpi indah tidak pernah ada."
Brak!
Alvan menghempaskan pintu kamar sempit itu dengan sangat kencang dari luar. Suara kunci diputar dari luar bergema nyaring, mengunci Andira rapat-rapat di dalam kegelapan.
Keheningan seketika menyergap ruangan sempit itu. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sinar rembulan kusam yang menembus jendela berjeruji besi.
Andira berdiri mematung di tengah ruangan. Tubuhnya yang dari tadi ditopang oleh sisa-sisa keteguhan hati mendadak kehilangan seluruh tenaganya. Lututnya gemetar hebat, dan detik berikutnya, ia jatuh bersimpuh di atas lantai semen yang dingin.
Rasa sakit yang ditahannya sejak semalam merembes keluar tanpa bendungan lagi. Air mata menetes deras membasahi pipinya, jatuh mengenai kain kebaya putih pernikahannya yang hampa.
"Ibu... Ayah..." bisik Andira serak, suaranya pecah di tengah kegelapan malam.
Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya, meresapi rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ini adalah malam pertamanya sebagai seorang istri.
Tanpa ada pelukan hangat, tanpa ada kata-kata manis, tanpa ada masa depan yang jelas. Yang ada hanyalah vonis kebencian dari suami yang membencinya setengah mati dan kebohongan adik tirinya yang melilit lehernya.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Alvan yang penuh dendam dan senyum tipis Elena secara bergantian menari-nari di ingatan. Mereka telah merancang sangkar yang begitu rapat untuk menghancurkan jiwanya.
Namun, di tengah isolasi dan keputusasaan yang begitu pekat, ingatan tentang senyum ayahnya saat masih sehat kembali membakar secercah api di dalam dadanya.
"Ayah masih berjuang di ICU... Ayah bertahan hidup demi aku," batin Andira memukul dadanya yang sesak. "Aku tidak boleh hancur di sini. Jika aku menyerah dan mati di kamar ini, maka Elena menang. Kebohongan itu akan abadi, dan nama baikku akan selamanya ternoda sebagai seorang pembunuh."
Andira mengusap air matanya dengan punggung tangan secara kasar. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia merangkak naik ke atas tempat tidur tunggal yang keras. Ia duduk bersandar pada dinding dingin, menatap berjeruji besi di jendela.
"Kunci ruangan ini semaumu, Alvan," bisik Andira pelan pada kegelapan, matanya memancarkan kilatan tekad baru yang tak terintimidasi lagi. "Siksa aku dengan aturanmu. Tapi aku bersumpah... aku akan bertahan hidup di rumah ini. Dan suatu hari nanti, kebenaran itu akan meruntuhkan seluruh tembok sombongmu."
Sementara itu, di kamar utama yang berada di ujung koridor lain, Alvan berdiri di tepi balkon lantai dua. Hujan gerimis kembali turun, membasahi rambut hitamnya yang berantakan.
Pria itu memegang segelas whisky di tangan kanannya, menatap kosong ke arah kegelapan taman belakang. Ia meneguk minuman keras itu hingga tandas, merasakan sensasi terbakar yang merayapi tenggorokannya. Namun, rasa terbakar itu tak sanggup memadamkan gelisah yang tiba-tiba melingkupi dadanya.
Bayangan mata jernih Andira saat menatapnya tanpa rasa gentar di kamar sempit tadi terus berputar di dalam kepalanya. Tidak ada ketakutan penjahat di sana. Yang ada hanyalah duka yang begitu dalam dan ketulusan yang membingungkan.
Alvan meremas gelas kristal di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jangan tertipu, Alvan," geramnya pada diri sendiri dengan suara berat dan dingin. "Dia pembunuh Roy. Dia wanita berdarah dingin yang pantas mendapatkan neraka ini."
Alvan memutar tubuhnya kembali ke dalam kamar, menghempaskan gelas kosong ke atas meja, lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Dendam di dadanya masih membara, tetapi untuk pertama kalinya... benih-benih keraguan mulai menyusup pelan di balik tembok kebencian yang dibangunnya.
...----------------...
To Be Continue ....