Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laki-laki Paling Menyebalkan

Dua dunia yang berseberangan terkadang dipaksa bersinggungan oleh takdir yang rumit.

Di satu sisi, ada Varro Aldrian Wijaya. Sosok pria setinggi 183 sentimeter dengan tatanan rambut yang selalu tertata rapi ke atas, tubuh atletis yang terbentuk sempurna, dan karisma gelap yang mampu menyihir siapa saja.

Dia adalah penguasa jalanan sekaligus ketua dari geng motor legendaris bernama ‘Starlit’. Di balik kemewahan hidupnya sebagai putra tunggal keluarga konglomerat, tersimpan masa lalu kelam yang membuatnya memandang cinta tak lebih dari sekadar permainan tak berguna. Cinta, baginya, adalah ilusi yang melemahkan.

Di sisi lain, ada aku. Gisella Vanessa Setiawan. Berdiri dengan tinggi badan yang hanya 163 sentimeter, berambut hitam tebal yang kupotong pendek melebihi bahu, dan bertubuh kurus. Aku hanyalah seorang putri sulung dari keluarga sederhana yang harus berjuang keras demi masa depan.

Untuk bisa menginjakkan kaki di gedung kampus megah ini, aku bertaruh pada lembar-lembar beasiswa penuh dengan satu syarat mutlak: indeks prestasiku tidak boleh menyentuh angka di bawah B. Karena beban berat di pundakku dan impian untuk mengangkat derajat orang tua, aku bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak menyentuh urusan asmara sampai hari wisuda tiba.

Namun, hidup selalu punya cara sendiri untuk menguji tekad seseorang. Dan ujian terbesarku dimulai dari pria yang paling kubenci di muka bumi ini: Varro.

Udara dingin subuh masih menyelimuti rumah kecil kami saat jam weker di atas meja belajarku berdering nyaring. Aku terbangun lebih awal dari biasanya.

Hari ini adalah awal dari babak baru dalam hidupku, dan aku tidak boleh merusaknya hanya karena keterlambatan konyol. Setelah menyelesaikan urusan kamar mandi, aku segera mengenakan kaos merah polos yang dilapisi jaket denim kesayanganku, dipadukan dengan celana jeans panjang berwarna biru tua. Sederhana, namun rapi.

Saat melangkah keluar dari kamar, aroma tumisan bawang merah yang harum langsung menyapa indra penciumanku. Di dapur kecil kami yang beratap seng, Mama sedang sibuk membolak-balikkan nasi goreng di atas wajan. Ayahku mungkin baru saja tertidur setelah seharian penuh mengocok kemudi taksi malam, sementara kedua adik kembarku masih terlelap di kamar sebelah.

Aku mendekat, berniat mengambil alih piring dan menyiapkan perbekalan untuk kami bertiga. Namun, baru saja langkahku mendekati kompor, suara Mama menghentikanku.

“Gisel,” panggil Mama tanpa memalingkan wajah dari wajan.

“Iya, Ma?” sahutku lembut.

“Kamu gak usah bantuin Mama masak hari ini,” ucap Mama tiba-tiba. Tangannya mematikan kompor, lalu beliau membalikkan badan menatapku dengan binar mata penuh kehangatan.

Gerakanku terhenti di udara. Aku mengerutkan dahi, bingung dengan arahan Mama yang tidak biasa.

Selama ini, menyajikan sarapan adalah tugas rutin yang selalu kami kerjakan bersama setiap pagi. Aku tetap berdiri kaku di ambang pintu dapur, menantikan penjelasan lebih lanjut.

Mama tersenyum tipis, merapikan celemek kain yang terikat di pinggangnya. “Hari ini kan hari pertama kamu kuliah, Nak. Kamu harus tampil cantik dan segar. Sini, Mama bantu sisirin rambut kamu.”

Beliau berjalan menghampiriku, meraih pergelangan tanganku dengan lembut, lalu membimbingku masuk ke dalam kamar orang tua kami. Di depan meja rias kayu yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa sisi, Mama memintaku duduk.

Melalui cermin tua yang memantulkan bayanganku, aku melihat Mama mengambil sisir plastik berwarna merah laut. Dengan gerakan yang sangat telaten, beliau mulai mengurai rambut hitam tebal milikku. Jemari Mama yang terasa sedikit kasar akibat terlalu sering terkena sabun cuci bekerja dengan sangat halus, menarik sebagian rambut sampingku ke belakang dan mengikatnya dengan rapi.

“Nah, gini dong baru cantik dan kelihatan segar,” kata Mama pelan. Senyum puas terukir di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus penuaan. Ada rasa bangga yang tersirat jelas di matanya, bangga melihat anak perempuannya bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Hatiku berdesir hangat. Rasa haru mendadak menghimpit dadaku. “Makasih banyak ya, Ma. Gisel berangkat dulu.”

Aku berdiri, meraih tangan kanan Mama, lalu mencium punggung tangannya dengan khidmat.

“Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya. Belajar yang rajin, jaga diri baik-baik,” balas Mama sambil mengantarku sampai ke depan pintu pagar kayu dan melambaikan tangannya seiring mesin sepeda motor matik tuaku mulai menyala.

Perjalanan menembus kemacetan Jakarta pagi ini terasa cukup panjang, namun semangat di dalam dadaku sama sekali tidak surut. Namaku Gisella Vanessa Setiawan, biasa dipanggil Gisel. Hari ini adalah tonggak sejarah bagiku. Aku resmi menjadi mahasiswi jurusan Bisnis di salah satu perguruan tinggi swasta paling elit dan megah di seluruh Kota Jakarta.

Jujur saja, dunia bisnis bukanlah passion utamaku. Aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pengusaha besar atau CEO perusahaan multinasional. Alasan utamaku mengambil jurusan ini sangat sederhana dan realistis: aku ingin menggunakan ilmu yang kupelajari kelak untuk membantu orang tuaku.

Ayahku yang bekerja membanting tulang sebagai sopir taksi dan Ibuku yang mengajar sebagai guru honorer di sekolah dasar membutuhkan strategi pemasaran yang lebih baik jika ingin mengembangkan usaha sampingan mereka di masa depan.

Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, motor matikku akhirnya memasuki gerbang kampus yang menjulang megah.

Pemandangan di area parkir saja sudah cukup membuatku mengelus dada. Di sekelilingku, terparkir deretan mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah. Aku dengan cepat menyeliptkan motorku di sudut parkiran roda dua yang relatif sepi, merapikan penampilan sejenak, lalu berjalan menuju gedung utama.

Aku menaiki lift menuju lantai tujuh, tempat loker mahasiswaku berada. Suasana koridor lantai atas ini terasa sangat bersih dengan lantai marmer yang mengkilap. Setelah menyimpan beberapa barang yang belum kubutuhkan ke dalam loker, aku melangkah menuju ruang kelas yang terletak tak jauh di ujung lorong.

Ruangan kelas berpendingin udara itu masih sangat sepi saat aku melangkahkan kaki masuk. Hanya ada tiga atau empat orang mahasiswa yang duduk tersebar sambil berbisik-bisik menikmati obrolan pagi.

Jam dinding menunjukkan masih ada sisa waktu lima belas menit sebelum dosen pertama masuk. Tanpa ragu, aku memilih duduk di barisan paling depan, posisi favoritku untuk memastikan konsentrasi penuh.

Aku mengeluarkan buku tebal materi pengantar bisnis dari tas punggungku, membukanya perlahan, dan mulai membaca baris demi baris.

“Andai aku punya temen yang bisa diajak ngobrol dan berjuang bareng di kampus sebesar ini,” gumamku pelan pada diri sendiri sambil membalik halaman buku.

PLAK!

Pundakku dipukul cukup keras dari belakang, membuatku tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan pena yang kupegang. Aku refleks berbalik dengan jengkel untuk melihat siapa sosok kurang pekerjaan yang baru saja mengejutkanku.

Sesosok gadis dengan gaya pakaian modis dan senyum lebar tanpa dosa berdiri di sana.

“Halo, Sasa!” seruku, mataku membelalak tak percaya.

Dia adalah Stefanie, sahabat karibku sejak masa SMP. Hanya dia satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilku dengan sebutan 'Gi', dan sebaliknya, hanya aku yang memanggilnya 'Sasa'. Aku benar-benar terkejut melihat kehadirannya di sini. Sasa berasal dari keluarga berada, dan setahu diriku, anak-anak dari kalangan atas seperti dia biasanya langsung dikirim orang tuanya untuk berkuliah di luar negeri.

“Lo ambil jurusan bisnis juga, Gi?” tanya Sasa dengan raut wajah yang sama terkejutnya.

“Iya! Lo juga?” sahutku mantap sambil menganggukkan kepala.

“Aaaa! Kita sekelas lagi!” teriak Sasa histeris tanpa peduli pada beberapa mahasiswa lain yang mulai menengok. Dia langsung menghambur dan memelukku erat-erat. Aku pun tertawa kecil dan membalas pelukan hangat sahabatku itu.

Setelah pelukan terlepas, aku menatapnya penuh curiga. “By the way, kok lo bisa kuliah di sini sih? Bukannya Bokap lo udah nyiapin kuliah di China dari tahun lalu?”

Sasa melipat kedua tangannya di dada, lalu mengerucutkan bibirnya kesal. “Iya, tadinya begitu. Tapi gue menolak keras! Pertama, bahasa Mandarin gue hancur parah, Gi. Kedua... gue gak mau LDR-an sama Jason. Bisa gila gue kalau jauh dari dia.”

Aku hanya bisa mengangguk-angguk maklum mendengar alasannya yang sangat khas seorang Stefanie. Cinta memang selalu menjadi prioritas utamanya.

Tiba-tiba, raut wajah Sasa berubah drastis. Matanya berbinar-binar penuh gosip hangat, dan dia memajukan tubuhnya berbisik padaku. “Eh, Gi, lo tahu gak? Gue denger dari grup angkatan, di kampus ini ada senior cowok yang gantengnya gak masuk akal. Namanya Varro Aldrian Wijaya.”

Aku menaikkan sebelah alisku. “Terus?”

“Tapi ya... rumor yang beredar di seluruh penjuru kampus bilang kalau dia itu playboy cap kapak! Dan yang paling ngeri, dia itu ketua dari geng motor 'Starlit'. Katanya nih ya, siapa pun yang berani mengganggu atau bikin masalah sama dia, bakal langsung dihajar habis-habisan sama anggota gengnya tanpa ampun!” cerita Sasa dengan nada dramatis.

Aku mengerutkan dahi, mencoba mencerna logika dari cerita Sasa. “Bentar deh, Sa. Gue gak ngerti. Kalau dia ketuanya, kenapa malah anggotanya yang turun tangan hajar orang? Kenapa bukan dia sendiri?”

Sasa menepuk jidatnya sendiri sambil menatapku gemas. “Duh, Gi! Lo tuh polos atau lugu sih? Justru karena dia itu ketua tertinggi, pemegang kekuasaan! Dia gak sudi kotorin tangannya sendiri cuma buat ngelayanin orang-orang pengganggu kayak gitu!”

“Oh... gitu,” sahutku pendek, baru memahami hierarki aneh dunia geng motor yang dimaksud Sasa.

Belum sempat Sasa melanjutkan ceritanya, suara riuh teriakan histeris mendadak pecah dari luar ruangan kelas. Suasana koridor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi riuh rendah oleh langkah kaki yang berlarian.

“Dia udah dateng! Varro udah dateng!” teriak seorang mahasiswi dari luar lorong dengan suara melengking.

“Di mana?! Di sebelah mana?!” sahut mahasiswi lainnya bersahut-sahutan.

“Di koridor utama lantai tiga! Cepat sebelum dia lewat!” seru seorang siswa laki-laki yang ikut-ikutan berlari.

Beberapa penghuni kelas kami langsung bangkit dari kursi mereka dan terburu-buru berlari keluar pintu demi menyaksikan kehebohan tersebut.

Sasa menatap pintu kelas dengan mata berbinar.

“Kayaknya mereka lagi pada rebutan mau lihat Kak Varro sama geng Starlit-nya deh, Gi.”

Aku kembali menundukkan kepala, menatap lembar-lembar buku pengantar bisnisku yang sempat tertunda. “Hmm, terus?”

“Lo gak mau ikut liat juga? Penasaran dikit gitu?” tawar Sasa sambil menarik-narik lengan jaket denimku.

Aku menghembuskan napas pelan, lalu menatap Sasa dengan tatapan datar. “Kalau memang sudah takdirnya harus lihat, nanti juga ketemu sendiri tanpa perlu desak-desakan begitu, Sa.”

Sasa tertawa pelan mendengar jawabanku yang terlalu realistis. “Iya juga sih. Ya udah deh, gue turun ke lantai tiga sebentar ya! Mau memanjakan mata!” kata Sasa sambil menepuk bahuku cepat.

“Iya, hati-hati jangan sampai terinjak,” balasku sambil melambaikan tangan mengiringi langkah Sasa yang setengah berlari keluar kelas.

Aku menggeleng-gelengkan kepala heran sambil menatap pintu kelas yang kini sepi kembali. Sungguh, aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran orang-orang yang rela berdesakan hanya demi melihat wajah seorang pria yang dilabeli badboy dan playboy.

Bagiku, lelaki seperti Varro Aldrian Wijaya adalah jenis manusia paling berbahaya yang harus dihindari sejauh mungkin.

Namun, aku sama sekali tidak menyadari bahwa kata-kata santaiku tentang 'takdir' baru saja mengunci jalan hidupku sendiri. Roda takdir telah mulai berputar, dan persinggungan pertamaku dengan penguasa Starlit itu hanya tinggal menunggu hitungan waktu.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!