Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — Pelan-pelan Aku Kembali Menjadi Diriku Sendiri
Dulu, setiap hari yang kubuka mataku, pikiranku langsung berputar pada dia. Pikirkan apa yang dia mau sarapan, pakaian apa yang dia suka kupakai, cara bicara bagaimana yang tak membuatnya tersinggung, hal apa yang harus kuhindar supaya dia tak marah. Sampai-sampai lama sekali aku tak pernah berhenti sebentar saja bertanya pada diriku sendiri — sebenarnya aku sendiri suka apa? Aku sendiri mau ke mana? Aku sendiri bermimpi apa sebelum aku bertemu dengannya? Semua itu lama sekali terkubur begitu dalam, sampai rasanya sulit sekali ditemukan kembali.
Sekarang, pelan-pelan, satu per satu hal itu mulai muncul kembali. Awalnya samar-samar saja, seperti bayang-bayang yang masih kabur. Lama-lama makin terang, makin jelas, sampai akhirnya aku bisa tersenyum sendiri dan berkata — oh, ternyata aku dulu suka hal sederhana ini. Ternyata dulu aku bermimpi ingin bisa menulis cerita, ingin bisa menolong orang lain, ingin berjalan-jalan melihat tempat yang belum pernah kutapaki. Semua itu dulu aku tinggalkan begitu saja, bukan karena terpaksa, tapi karena aku kira itu tak penting dibandingkan keinginannya. Aku kira kalau aku tak ikut kemauannya, aku tak akan berharga di matanya. Padahal justru dengan meninggalkan diriku sendiri itulah aku perlahan kehilangan hargaku yang sesungguhnya.
Aku mulai mencoba hal-hal kecil yang dulu kusuka. Menyanyikan lagu yang dulu sering kudendangkan. Membaca buku yang dulu tertumpuk berdebu. Berjalan santai di pagi hari sambil menghirup udara segar tanpa perlu terburu-buru pulang mengerjakan sesuatu. Awalnya terasa aneh sekali. Rasanya seperti mengenal orang asing yang ternyata adalah diriku sendiri. Lama-kelamaan makin nyaman. Makin lama makin terasa betapa lapangnya hati ini kalau tak terus-menerus takut salah, takut tak disukai, takut tak cukup baik di mata orang lain. Tak ada yang lebih menenangkan daripada menjadi diri sendiri sepenuhnya, tanpa perlu bersembunyi, tanpa perlu berpura-pura, tanpa perlu takut kalau kelak dia tak menyukai apa adanya hatiku.
Aku mulai berani punya pendapat sendiri. Dulu kalau ada hal yang diputuskan, aku diam saja mengikuti, walau di hati kecilku tahu itu tak sepenuhnya benar. Sekarang aku berani berkata pelan — menurutku begini, kira-kira kalau begini bagaimana. Dan ternyata tak ada yang buruk terjadi. Tak ada yang berubah hancur hanya karena aku punya pendapat yang berbeda. Ternyata aku punya akal sehat yang baik juga, punya hati yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Selama ini akal dan hatiku itu tak pernah diberi kesempatan untuk berbicara. Selama ini aku hanya menelan pendapat orang lain, lalu menganggapnya sebagai pendapatku sendiri.
Aku juga mulai berani berkata "tidak" kalau hatiku merasa tak setuju. Dulu aku takut sekali menolak, takut dia pergi, takut dia marah. Jadi aku menuruti apa pun yang diminta, walau hatiku berat sekali melakukannya, walau sampai menyakiti diriku sendiri. Sekarang aku paham satu hal — kalau seseorang pergi hanya karena aku tak menuruti kemauannya, berarti dia tak pernah peduli pada hatiku sejak awal. Dia hanya butuh penurut, bukan pendamping yang sejati. Kalau dia tak menghargai perasaanku, berarti bukan aku yang kurang baik, melainkan dia yang tak pantas mendapatkanku. Menolak itu bukan berarti jahat. Itu cara aku menjaga diriku supaya tak terus-menerus dimanfaatkan dan diabaikan begitu saja.
Semakin lama aku berdiri sendiri, semakin aku paham siapa diriku sebenarnya. Bukan bayang-bayang yang mengikuti kemauan orang lain. Bukan pelengkap yang baru berharga kalau ada orang lain di sampingnya. Aku ini aku. Utuh. Lengkap. Punya mata sendiri untuk melihat, punya hati sendiri untuk merasakan, punya langkah sendiri untuk melangkah. Aku berharga sejak aku lahir ke dunia ini, sebelum aku bertemu dengannya, dan tetap berharga setelah dia pergi. Nilai diriku tak turun sedikit pun karena dia membuangku. Justru dia yang kehilangan seseorang yang rela meninggalkan segalanya demi dirinya.
Sekarang aku tak lagi merasa hampa kalau sendirian. Justru sebaliknya — saat sendirianlah aku paling banyak belajar mengenal isi hatiku sendiri. Saat tak ada yang menuntut ini itu, barulah aku tahu apa yang benar-benar penting bagiku. Bukan pujian yang manis lalu hilang begitu saja. Bukan janji indah yang tak pernah ditepati. Melainkan ketenangan hati yang tak bergantung pada perubahan sikap siapa pun. Melainkan keyakinan bahwa aku berusaha sebaik mungkin, bersikap sebaik mungkin, dan biarlah hasilnya mengikuti alurnya sendiri.
Dulu aku takut kalau tak ada yang memegang tanganku, aku akan tersesat. Sekarang aku tahu — selama hatiku tetap lurus dan niatku tetap baik, aku tak akan tersesat. Jalan yang kutapaki pelan-pelan ini sudah cukup jelas di mataku. Tak perlu ada yang menarik tanganku ke mana-mana. Aku tahu arah tujuanku. Dan kalau kelak ada yang berjalan berdampingan denganku, aku tak akan lagi menyerahkan seluruh diriku kepadanya begitu saja tanpa sisa. Aku akan tetap menjadi diriku. Karena kalau aku sampai hilang menjadi diriku yang lain, lalu siapa yang akan menjaga hatiku kalau suatu hari dia pergi meninggalkanku? Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Mulai sekarang, aku tak akan pernah melupakan diriku sendiri demi siapa pun. Karena kalau aku sampai kehilangan diriku sendiri, itulah kerugian yang sesungguhnya, yang tak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun di dunia ini.
Pelan-pelan semua kepingan yang sempat berantakan itu mulai kembali pada tempatnya. Aku mulai mengenal kembali apa yang dulu kusuka, apa yang dulu kupercaya, apa yang dulu kuimpikan sebelum semuanya berubah mengikuti kemauannya. Dan ternyata aku menyukai diriku yang ini lebih dari apa pun. Yang lembut hatinya tapi tetap teguh pendiriannya. Yang tulus memberi tapi tahu kapan harus berhenti. Yang mampu berjalan sendiri tanpa merasa malu atau takut. Yang tak lagi memohon cinta siapa pun, karena sudah cukup mencintai dan menghargai dirinya sendiri terlebih dahulu. Inilah aku yang sebenarnya. Yang dulu sempat hilang entah ke mana, dan kini kembali utuh sepenuhnya. Dan rasanya damai sekali, damai luar biasa, tak bisa diucapkan dengan kata-kata apa pun. Seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi panjang yang kelam, lalu membuka mata dan melihat cahaya yang terang benderang menyambutnya dengan senyum yang tak pernah pudar sedikit pun. Inilah aku. Dan aku tak akan pernah kembali menjadi yang lain selamanya.