Indonesia
NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Anak Sakit, Ibu Sendirian Lagi

Pukul dua lewat tujuh belas, telapak kaki kecil menyentuh betis Nan Shin.

Ia membuka mata dan melihat Yi Chen berdiri di samping ranjang. Wajah anak itu merah, rambutnya menempel di dahi, dan bibirnya bergetar.

“Mama, dingin.”

Nan Shin langsung duduk. Ketika telapak tangannya menyentuh leher anak itu, panasnya menembus kulit.

“Sejak kapan bangun?”

“Nggak tahu.”

Ia menggendong Yi Chen ke ranjang, mengambil termometer digital, lalu menunggu bunyi pendek yang terasa terlalu lama. Angka di layar berhenti pada 39,4 derajat.

Nan Shin memeriksa napas, warna kulit, kesadaran, dan apakah anaknya masih bisa minum. Yi Chen menolak ketika ditawari air, lalu menyandarkan kepala tanpa tenaga di dadanya.

“Kepalaku sakit.”

“Mama di sini.”

Nan Shin memberikan penurun panas sesuai petunjuk dokter yang tersimpan untuk berat badan Yi Chen, tetapi panas tinggi bukan satu-satunya hal yang membuatnya waspada. Anak itu terlalu lemas dan hanya menelan sedikit air.

Ia menelepon Cheng An.

Sambungan berdering, lalu terputus. Panggilan kedua masuk ke pesan suara. Nan Shin mengirim pesan singkat dengan angka suhu dan kondisi anak, kemudian menelepon meja operator rumah sakit.

“dr. Kho sedang dalam tindakan operasi,” kata petugas setelah memeriksa jadwal. “Kami tidak bisa menyambungkan sekarang.”

“Tolong sampaikan anaknya demam tinggi dan dibawa ke IGD.”

“Nama anaknya siapa, Bu?”

“Yi Chen Kho. Suhu terakhir 39,4, lemas, dan sulit minum.”

“Nomor yang bisa dihubungi?”

Nan Shin menyebutkan nomornya. “Tolong jangan hanya tulis urusan keluarga. Cantumkan kondisinya agar dia tahu ini mendesak.”

“Baik. Pesan akan kami teruskan setelah dokter keluar dari ruang operasi.”

“Kalau dia belum bisa menghubungi, tidak perlu mengganggu tindakan. Saya sudah membawa Yi Chen ke IGD.”

“Saya catat, Bu.”

Nan Shin menutup telepon, memasukkan KTP, kartu BPJS Kesehatan, buku kesehatan anak, pakaian ganti, air, dan kantong muntah ke tas. Ia tidak menunggu balasan Cheng An.

Ibu Kho muncul di lorong ketika Nan Shin menggendong Yi Chen keluar kamar.

“Kenapa?”

“Demam 39,4 dan lemas. Saya bawa ke RSUD.”

Ibu Kho menyentuh dahi cucunya. “Tunggu obatnya bekerja dulu. Malam begini rumah sakit penuh.”

“Dia sulit minum dan terlalu lemas. Saya tidak mau menunggu.”

“Cheng An tahu?”

“Sedang operasi.”

“Saya ikut.”

Nan Shin menoleh ke kamar anak. “Yi Ming sendirian kalau Mama ikut. Tolong tinggal dengannya. Kalau dia bangun, bilang saya membawa adiknya berobat.”

“Kamu bisa sendiri?”

Pertanyaan itu terlambat bertahun-tahun, tetapi Nan Shin tidak menyentuh luka tersebut.

“Bisa.”

Taksi online tiba enam menit kemudian. Nan Shin duduk di belakang sambil memangku Yi Chen. Jalan menuju RSUD Serpong Utama jauh lebih sepi daripada siang hari. Lampu jalan bergerak di wajah anak itu, terang dan gelap bergantian.

“Mama jangan pergi,” gumam Yi Chen.

“Mama ikut sampai selesai.”

Di depan IGD, Nan Shin turun sebagai keluarga pasien. Tidak ada seragam, tidak ada kartu pegawai, dan tidak ada kewenangan untuk melewati antrean. Ia menuju meja triase, menyampaikan suhu, waktu pemberian obat, kesulitan minum, dan perubahan aktivitas tanpa menambah diagnosis sendiri.

Perawat triase mengukur ulang tanda vital dan memanggil dokter jaga. Nan Shin mengikuti semua arahan. Ketika diminta menunggu, ia menunggu. Ketika Yi Chen diperiksa, ia menjawab singkat dan membiarkan tenaga yang bertugas melakukan pekerjaannya.

“Demam mulai kapan?” tanya perawat triase.

“Baru diketahui pukul dua lewat tujuh belas. Sebelumnya tidak ada keluhan saat tidur.”

“Obat terakhir?”

Nan Shin menunjukkan catatan di ponsel. “Penurun panas sesuai petunjuk sebelumnya, pukul dua lewat dua puluh lima.”

“Ada muntah, kejang, sesak, atau ruam?”

“Tidak ada yang saya lihat. Dia mengeluh kepala sakit dan sulit minum.”

Perawat itu berjongkok agar sejajar dengan Yi Chen. “Dek, bisa sebutkan namanya?”

“Yi Chen.”

“Sekarang kita ada di mana?”

“Rumah sakit.”

“Bagus. Kalau pusingnya bertambah atau mau muntah, bilang ke Mama atau Suster, ya.”

Yi Chen mengangguk lemah. “Aku mau tidur.”

“Boleh bersandar, tapi Mama akan membangunkan sebentar kalau kami perlu memeriksa.”

Seorang petugas administrasi meminta salinan kartu keluarga yang tidak ada di tas. Dahulu Nan Shin tahu mesin fotokopi staf yang paling dekat dan pintu mana yang dapat memotong jalan. Sekarang ia bertanya seperti keluarga pasien lain.

“Bisa dikirim dalam bentuk foto dulu, Bu,” kata petugas itu. “Salinan fisik menyusul kalau diminta.”

Nan Shin menghubungi Ibu Kho dan menjelaskan letak dokumen tanpa memberikan kode laci bank. Foto diterima beberapa menit kemudian. Ia memastikan nama dan nomor Yi Chen terbaca, lalu menyerahkan ponsel hanya selama petugas memeriksa berkas.

Proses itu memakan waktu lebih lama daripada ketika ia mengenakan seragam. Nan Shin tidak menyebut kenal kepala ruangan atau meminta bekas rekannya mendahulukan anaknya. Jika ia ingin bekerja sebagai pendamping pasien, ia harus mampu menghadapi jalur yang dijalani masyarakat, bukan hanya jalur yang dahulu terbuka bagi pegawai.

“Tenggorokannya merah, tapi kami perlu observasi responsnya dan memastikan dia bisa minum,” kata dokter jaga. “Kalau muncul sesak, kejang, sulit dibangunkan, atau terus tidak bisa minum, segera beri tahu.”

Nan Shin mengulang tanda bahaya itu untuk memastikan tidak ada yang terlewat. “Perlu pemeriksaan tambahan sekarang, Dok?”

“Kami lihat respons awal dan hasil pemeriksaan dulu. Jangan paksa minum banyak sekaligus. Sedikit-sedikit.”

Ia mengangguk. Setelah bekerja dua belas tahun, menjadi ibu pasien tetap membuat dadanya mengeras setiap kali anaknya meringis. Pengetahuan tidak menghapus takut. Pengetahuan hanya memberinya urutan tindakan saat takut datang.

Yi Chen dipindahkan ke kursi observasi. Nan Shin menawarkan air sedikit demi sedikit. Anak itu akhirnya menelan beberapa teguk, kemudian bersandar di lengannya.

“Papa datang?” tanyanya.

Nan Shin melihat layar ponsel yang tetap tanpa balasan. “Papa sedang menolong pasien. Mama ada di sini.”

Di seberang mereka, seorang laki-laki setengah baya berusaha menahan tiga lembar dokumen sambil mendorong kursi roda ibunya. Kantong obat jatuh, lalu fotokopi KTP berhamburan di lantai.

Ia memungutnya dengan panik. “Yang mana untuk pendaftaran, Ma? Surat rujukannya di mana?”

Perempuan tua di kursi roda hanya memegang dadanya dan menggeleng. Laki-laki itu berlari ke meja administrasi, lalu kembali karena diminta membawa kartu BPJS dan daftar obat rutin.

Nan Shin melihat wajah pasien makin pucat. Napasnya lebih cepat daripada beberapa menit sebelumnya.

“Pak,” panggil Nan Shin. “Ibunya tampak makin tidak nyaman. Beri tahu perawat triase dulu, jangan urus kertas sendirian.”

“Tapi pendaftarannya belum selesai.”

“Kondisinya lebih dulu. Saya panggil petugas.”

Nan Shin tidak menyentuh pasien atau memberi kesimpulan. Ia mengangkat tangan kepada perawat terdekat dan menyampaikan perubahan yang dilihat. Perawat datang, menilai ulang, lalu mendorong kursi roda ke area pemeriksaan.

Laki-laki itu berdiri dengan dokumen kusut di tangan.

“Saya harus bagaimana sekarang?”

Nan Shin menunjuk kursi kosong di sampingnya. Yi Chen sudah tertidur dengan kepala di pangkuannya.

“Tarik napas dulu. Susun KTP, kartu BPJS, surat rujukan, dan daftar obat terpisah. Ketika petugas bertanya, Bapak bisa menyerahkan sesuai urutan.”

“Tadi petugas minta fotokopi dua lembar. Saya lupa yang mana.”

“Tanyakan kembali di meja. Jangan menyerahkan dokumen asli tanpa tahu kapan dikembalikan.”

“Kalau Mama dirawat, saya harus telepon kakak saya dulu.”

“Boleh. Sebelum menelepon, catat nama ruang pemeriksaan dan petugas yang menangani supaya informasi Bapak tidak hanya bilang rumah sakit.”

Laki-laki itu mengusap kening. “Saya datang terburu-buru. Dompet obat saja hampir tertinggal.”

“Yang penting sekarang kondisi Ibu sudah dinilai. Administrasi diselesaikan sesuai arahan, satu langkah setiap kali.”

“Ibu bicara seperti perawat.”

“Karena saya memang pernah bekerja di sini. Tapi saat ini saya keluarga pasien, sama seperti Bapak.”

“Daftar obatnya tidak ada. Saya cuma bawa kantong.”

“Jangan menebak nama atau dosis. Foto label setiap obat yang masih terbaca, lalu tunjukkan kantong aslinya kepada petugas.”

Laki-laki itu mengikuti arahan. Nan Shin membantu meratakan dokumen di kursi kosong tanpa membaca informasi yang tidak diperlukan. Ia menulis empat judul pada selembar kertas: keluhan utama, mulai kapan, obat rutin, alergi yang diketahui.

“Isi yang Bapak yakin saja. Kalau tidak tahu, bilang tidak tahu.”

“Ibu kerja di sini?”

Pertanyaan itu membuat Nan Shin memandang kartu pengunjung di dadanya.

“Dulu saya perawat IGD di sini.”

“Sekarang?”

Nan Shin melihat Yi Chen yang tertidur, lalu dokumen yang sudah lebih teratur.

“Sekarang saya sedang mendaftar sebagai pendamping pasien.”

Laki-laki itu menatapnya seolah menemukan jawaban yang selama ini tidak ia tahu harus dicari.

“Memang ada pekerjaan begitu?”

“Ada. Pendamping membantu alur dan mencatat informasi, tapi tidak menggantikan dokter atau keluarga dalam keputusan medis.”

“Saya sering bawa Mama kontrol sendirian. Kalau ada orang seperti Ibu, saya bisa urus izin kerja dulu.” Ia menyimpan kertas yang dibuat Nan Shin. “Bagaimana cara memesan?”

“Saya belum aktif. Masih menyelesaikan pendaftaran.”

“Kalau sudah aktif, orang pasti butuh.”

Perawat memanggil laki-laki itu. Ia mengucapkan terima kasih, lalu mengikuti ibunya ke area pemeriksaan.

Nan Shin kembali menunduk untuk melihat Yi Chen. Suhu anak itu turun perlahan, dan ketika dibangunkan ia mau minum beberapa teguk lagi. Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda gawat saat itu. Dokter mengizinkannya pulang dengan instruksi pemantauan, jadwal obat sesuai resep, dan tanda bahaya yang mengharuskan mereka kembali.

Pukul lima lewat empat puluh, pesan Cheng An akhirnya masuk.

Baru selesai. Bagaimana Yi Chen?

Nan Shin memotret lembar instruksi, menutup bagian data yang tidak perlu, lalu mengirim ringkasan kondisi dan rencana kontrol.

Sudah ditangani. Kami akan pulang setelah administrasi selesai.

Balasan Cheng An datang cepat.

Aku masih harus observasi pasien pascaoperasi. Kabari kalau ada perubahan.

Tidak ada pertanyaan apakah Nan Shin butuh dijemput. Tidak ada kalimat maaf karena tidak ada di sana. Ia menyimpan ponsel dan menyelesaikan administrasi sendiri.

Matahari sudah naik ketika taksi online membawa mereka pulang. Yi Chen tidur di bahunya sepanjang perjalanan. Di rumah, Ibu Kho mengambil cucunya dan bertanya mengapa mereka begitu lama. Nan Shin menyerahkan lembar instruksi agar aturan obat tidak berubah menjadi ingatan yang saling bertentangan.

“Saya akan jaga dia pagi ini,” katanya. “Kalau suhu naik lagi atau muncul tanda yang ditulis dokter, kita kembali.”

“Obat berikutnya jam berapa?” tanya Ibu Kho.

Nan Shin menunjuk tabel pada lembar instruksi. “Ikuti jam yang tertulis. Jangan menambah dosis kalau panasnya belum langsung turun.”

“Kalau dia tidak mau makan?”

“Jangan paksa porsi besar. Utamakan minum sedikit-sedikit dan pantau apakah dia buang air.”

“Mama harus membangunkanmu kalau suhunya naik?”

“Iya. Bangunkan saya untuk perubahan kondisi, bukan untuk pekerjaan rumah.”

Ibu Kho mengatupkan bibir, tetapi akhirnya mengangguk. “Baik.”

Ibu Kho membaca kertas itu. “Cheng An tidak datang?”

“Tidak.”

Satu kata cukup.

Setelah Yi Chen tidur di kamar dan Yi Ming berangkat sekolah bersama tetangga yang biasa berbagi tumpangan, Nan Shin membuka SehatTemani. Ia melengkapi riwayat kerja, mengunggah STR dan surat pengalaman, memeriksa rekening pembayaran, serta menandai kesediaan menerima pasien lansia dan kontrol rawat jalan.

Pada kolom tentang pengalaman menghadapi situasi sulit, ia menulis bahwa dirinya mampu mengenali perubahan yang perlu segera dilaporkan tanpa melampaui kewenangan. Kejadian beberapa jam lalu membuat kalimat itu tidak terasa seperti promosi.

Ia memeriksa persetujuan privasi, batas layanan, dan prosedur darurat sekali lagi, lalu menekan kirim.

Status profil berubah menjadi pemeriksaan dokumen.

Nan Shin meletakkan ponsel di samping bantal Yi Chen. Ia berniat tidur selama anak itu tenang, tetapi layar kembali menyala menjelang siang. Dokumennya telah diverifikasi. Profil Kak Nan sekarang aktif.

Belum sempat ia menutup pemberitahuan itu, satu notifikasi baru muncul di bawahnya.

Satu permintaan pendampingan baru tersedia.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!