Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kabut fajar yang menyelimuti ngarai Lembah Selatan mendadak terkoyak oleh dentuman derap ribuan kaki kuda dan serigala tempur.
Tanah berkerikil di depan gerbang luar Sekte Pedang Langit bergetar hebat. Debu kuning membubung tinggi ke udara, menutupi pemandangan bukit di kejauhan.
Dari balik gulungan debu, barisan tiga ribu prajurit berzirah baja hitam merapatkan formasi tempur. Ratusan serigala raksasa berbulu abu-abu menggeram liar dengan taring meneteskan liur berbusa, siap menerkam mangsa.
Di barisan paling depan, Jenderal Tie Lang duduk tegak di atas punggung serigala hitam bermata kuning setinggi dua meter.
Tangan kanannya menggenggam tombak bermata ganda yang dialiri bara api merah. Ujung tombak itu terangkat lurus, menunjuk ke arah puncak tembok pertahanan batu kapur sekte.
“Song Tianhe!” Suara Tie Lang menggelegar lantang, diperkuat oleh getaran energi spiritualnya. “Buka gerbang pengecutmu! Serahkan lima puluh persen hak konsesi tambang batu roh di Lembah Sungai Dingin, atau hari ini pasukan Serigala Besi akan meratakan sektemu dengan tanah!”
Di atas dinding benteng setinggi tiga puluh meter, puluhan pemanah elit Sekte Pedang Langit telah bersiap dengan busur kayu hitam terentang.
Patriark Song Tianhe berdiri di samping Tetua Penegak Disiplin Tie Gang.
Keringat dingin merembes di pelipis sang Patriark. Tangannya yang memegang pagar pembatas batu bergetar tipis.
“Sialan,” bisik Song Tianhe dengan rahang terkatup rapat. “Tie Lang benar-benar membawa seluruh divisi tempur perbatasan. Jika formasi gerbang luar hancur, pertempuran akan merembet ke lereng gunung utama.”
Tetua Tie Gang mencabut pedang besarnya dari sarung kulit. “Patriark, kita harus mengerahkan formasi pedang lapis pertama. Jika kita membantai barisan serigala terdepan, mereka akan mundur!”
“Tunggu dulu, jangan gegabah!” potong Song Tianhe panik. “Leluhur… Leluhur sedang dalam masa pemulihan sensitif di Gua Larangan. Jika terjadi getaran energi skala besar, kondisi dada Leluhur bisa memburuk lagi!”
Di tengah kepanikan para petinggi di atas dinding benteng, suara derit engsel gerbang bawah tiba-tiba terdengar berderak pelan.
Song Tianhe tersentak, menundukkan kepalanya menatap pelataran gerbang utama.
Sesosok pemuda kurus berambut putih melangkah santai menuruni anak tangga batu menuju gerbang masuk.
Pemuda itu mengenakan jubah sutra putih longgar dengan kancing dada atas terbuka santai, memperlihatkan tulang selangkanya yang kurus. Di kakinya hanya terpasang sepasang sandal jerami sederhana, sementara tangan kanannya mengibaskan kipas bambu murah perlahan-lahan.
Di belakangnya, Song Ming berlari terengah-engah dengan wajah pucat pasi, memegangi payung sutra besar demi menaungi kepala pemuda itu dari terik matahari pagi.
“Tuan Muda Gu… tolong jangan ke sana!” bisik Song Ming dengan suara parau tercekat ketakutan. “Di luar ada tiga ribu prajurit beringas… debu tanahnya sangat kotor, panah mereka juga beracun!”
Gu Ran tidak menghiraukan rengekan sang Tuan Muda. Ia berhenti tepat di depan palang kayu besi gerbang utama, lalu menepuk pundak murid penjaga yang berdiri mematung ketakutan.
“Buka pintunya,” kata Gu Ran datar sambil menguap kecil.
Murid penjaga gerbang gemetar hebat, matanya melirik ke arah dinding atas benteng. “T-tapi Tuan Muda… di luar ada tiga ribu pasukan musuh…”
“Buka saja,” ulang Gu Ran dengan nada tanpa emosi. “Kalian berisik sekali berteriak pagi-pagi, membuat kepalaku pusing. Biar kuselesaikan cepat agar aku bisa lanjut sarapan sup tahu.”
Di atas dinding benteng, Song Tianhe yang melihat pemandangan itu hampir terjungkal dari lantai batu.
“G-Gu Ran?! Siapa yang membiarkan dia turun ke sana?!” jerit sang Patriark dengan suara melengking histeris. “Kunci gerbangnya! Jangan biarkan anak itu melangkah keluar satu jengkal pun!”
Namun perintah sang Patriark terlambat.
Palang besi gerbang telah ditarik ke samping. Pintu kayu hitam setebal dua depa berderit terbuka perlahan, memperlihatkan hamparan padang rumput perbatasan yang dipenuhi ribuan ujung tombak berkilat.
Gu Ran melangkah santai melewati batas formasi pelindung transparan sekte.
Ia berjalan sendirian ke tengah lapangan terbuka, menginjak rumput basah berembun dengan sandal jeraminya, lalu berdiri tepat dua puluh langkah di depan moncong serigala tempur milik Jenderal Tie Lang.