Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jimat Penangkal Pelakor
Zahra, Monik, dan Putri saling melempar pandang. Sesekali, mata mereka kompak tertuju pada Kanaya yang tengah sibuk mencoret-coret lembar tugas muridnya.
Desas-desus yang dihembuskan Ayumi kemarin benar-benar mengusik benak mereka. Rasanya ingin segera mendengar klarifikasi langsung dari mulut Kanaya. Namun, tumpukan buku di meja Kanaya membuat mereka enggan berbicara. Belum lagi kondisi kelas yang ramai, salah sedikit bertanya, rahasia ini bisa menjadi konsumsi publik.
Sementara jadwal Kanaya hari ini sangat padat. Begitu jadwal di kelas mereka usai, Kanaya langsung mengajar di kelas lain. Kesempatan untuk bicara pun makin menipis.
"Ra, kapan kita ngomong sama Bu Yaya?" bisik Monik, nyaris tak terdengar.
"Bu Yaya lagi sibuk banget kayaknya," sahut Zahra gelisah, matanya masih terpaku ke depan.
Putri menyenggol lengan Zahra. "Bilang aja dulu, Ra. Kasih kode kalau ini rahasia penting. Biar Bu Yaya mau luangin waktu pas jam pulang sekolah nanti."
"Iya, Ra. Cepetan, mumpung jam pelajaran belum abis," desak Monik, menuntut Zahra untuk segera bertindak sebagai penyambung lidah mereka.
Zahra menggeleng ragu. "Nanti aja pas pelajaran kelar. deh. Nggak enak kalau kedengaran yang lain." Zahra memutuskan akan bicara ketika jam pelajaran usai.
Sepuluh menit berlalu
"Ibu sudah memeriksa hasil jawaban kalian," ujar Kanaya sambil merapikan lembaran kertas di tangannya. "Hasilnya memang lebih baik dari kemarin. Tapi, Ibu lihat masih ada beberapa anak yang belum paham materi minggu lalu." Kanaya mengetukkan tumpukan kertas itu ke meja agar rapi.
"Di pertemuan berikutnya akan kita bahas lagi. Kalau ada bagian yang membingungkan, jangan ragu untuk bertanya, ya! Agar kalian cepat paham dan kita bisa masuk ke materi berikutnya, karena materinya saling berkaitan."
""Baik, Bu," sahut murid-murid kelas 9A serempak.
"Untuk hari ini, Ibu cukupkan sampai di sini. Jangan lupa, di rumah dipelajari lagi yang sudah Ibu terangkan tadi, ya! Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Kanaya mengakhiri pelajaran,
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..." Bersamaan dengan jawaban salam dari para siswa, suara bangku digeser langsung terdengar ketika Kanaya bangkit dari duduk.
"Zahra, Ibu minta tolong antarkan buku-buku ini ke meja Ibu di ruang guru, ya!" Kanaya berencana memeriksa hasil pekerjaan murid-muridnya setelah jam istirahat usai.
"Baik, Bu!" Zahra bergegas bangkit.
"Sekalian ngomong, Ra! Ini momennya!" desis Monik setengah menyenggol pinggang Zahra,
Zahra mengangguk cepat. "He-eh." Dia melangkah mendekati meja guru.
Kanaya langsung menyodorkan setumpuk buku LKS pada Zahra. "Tolong bawakan ini, ya!"
"Baik, Bu." Zahra menerima tumpukan itu lalu mendekapnya erat di depan dada.
Kanaya menyampirkan tas di bahunya, lalu melangkah ke luar kelas dan Zahra mengekor di belakang,
Begitu ambang pintu kelas terlewati dan koridor terlihat agak sepi di depan mereka, Zahra memberanikan diri bicara.
"Bu!" panggil Zahra, mempercepat langkah kakinya.
Kanaya menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Zahra. "Ada apa, Ra?" tanyanya lembut, lalu kembali berjalan pelan agar Zahra bisa menyamai langkahnya.
Sambil mendekap erat buku-buku di dadanya, Zahra pun menjawab, "Kami mau bicara sama Ibu. Penting banget. Kira-kira... Ibu ada waktu luang kapan?" tanyanya kemudian.
Rasa penasaran membuat kening Kanaya terlipat. "Ada masalah apa?" tanyanya menuntut jawaban. Waktunya sempit, ia harus segera mengisi kelas lain.
"Pulang sekolah Ibu ada waktu, nggak? Ngobrolnya nanti saja pas pulang aja, Bu, Biar lebih enak." Zahra berharap Kanaya menyetujui permintaannya.
"Oke, tunggu Ibu di taman depan, ya." Setelah menyepakati itu, Kanaya kembali mengayunkan langkah. Namun baru beberapa langkah, ia menoleh kembali. "Jangan lupa kabari orang tuamu dulu, biar mereka nggak cemas kalau kamu pulang terlambat," ujarnya kemudian.
"Siap, Bu!" sahut Zahra dengan senyum merekah. Dengan langkah riang dan hati yang tampak lebih ringan, ia berbalik menuju ruang guru untuk menaruh tumpukan buku di pelukannya sesuai perintah Kanaya.
***
Mata Kanaya mengedar, mencari keberadaan Zahra di taman pekarangan sekolah. Senyumnya mengembang ketika netranya menangkap sosok Zahra melambaikan tangan ke arahnya.
"Bu Yaya!" teriak Zahra memanggil.
Kanaya mempercepat langkahnya. Rasa penasaran membuatnya ingin segera mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Zahra.
"Wah, ada apa, nih?" Ternyata tidak hanya Zahra yang menunggunya, tapi juga ada Monik dan Putri di sana.
"Ngobrolnya jangan di sini, Bu. Takut ada yang dengar." Monik berbisik.
"Wah, kalian bikin Ibu makin penasaran deh! Memang ada masalah apa, sih? Soal anak-anak 9A?" Rasa penasaran Kanaya semakin kuat,
"Bukan soal kami, Bu," jawab Putri.
"Ini soal Bu Yaya sama suami Ibu." Zahra menimpali.
Seketika jantung Kanaya berdebar mendengar jawaban Zahra. Kenapa mereka tiba-tiba ingin membicarakan soal dirinya dan suaminya? Ada masalah apa mereka dengan rumah tangganya? Hati Kanaya dihujani beberapa pertanyaan yang membuatnya cemas.
"Kita ke kedai ice cream dekat perempatan aja yuk, Bu!" ajak Putri menawarkan tempat mereka berbincang.
"Boleh!" Kanaya mengangguk setuju. "Ya udah, kalian tunggu di sini! Ibu ambil mobil dulu!" Setelah menyetujui berbincang di kedai ice cream, Kanaya bergegas ke parkiran untuk mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu.
Setelah sampai di kedai dan memesan empat gelas ice cream, Kanaya kembali menanyakan perihal masalah yang ingin dibicarakan oleh anak-anak muridnya itu.
"Tadi Zahra bilang ini soal Ibu dan suami Ibu. Memangnya ada apa?"
"Jadi gini, Bu..." Zahra menjeda kalimatnya sembari mengatur nafas sebelum menceritakan apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan.
"Kemarin kami ketemu sama cewek yang ngaku karyawan suami Ibu." Belum sempat Zahra melanjutkan kata-katanya, Monik sudah menyerobot lebih dulu.
Bola mata Kanaya melebar, seraya menelan saliva. Kata 'karyawan suami ibu' membuat hatinya semakin gelisah, hingga dia belum memberi reaksi lewat kata-kata.
"Benar, Bu. Cewek itu bilang, suami Ibu itu namanya Pak Yudha, bukan Pak Yogi. Ibu nikah sama adiknya Pak Yogi karena Pak Yogi kabur pas mau nikahan. Emang benar, Bu?" Putri tak mau kalah, ikut mengintrogasi.
"Tapi, Ibu tenang aja, selain kami bertiga, nggak ada yang tahu lagi soal ini, kok." Zahra mengatakan jika rahasia itu aman di tangan mereka.
Kanaya memejamkan mata seraya menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya dengan kencang.
"Ya, itu memang benar. Suami Ibu itu Pak Yudha. Orang yang kalian lihat, yang kalian temui waktu pernikahan itu Pak Yudha, adik Pak Yogi." Kanaya membenarkan apa yang ditanyakan anak-anak muridnya.
"Ya ampun, Ibuuuu..." Zahra yang duduk paling dekat dengan Kanaya langsung memeluk Kanaya dari samping dan menyandarkan kepala di pundak Kanaya.
"Kami ikut sedih dengarnya Bu." Sementara Monik dan Putri menggenggam tangan Kanaya.
"Ibu pasti kecewa banget, ya?"
"Pastilah... Siapa yang nggak kecewa ditinggal kayak gitu?"
"Bu, apa Pak Yudha jahat sama Ibu? Ibu pasti menderita harus nikah sama orang yang asing."
"Kalau Pak Yudha jahatin Ibu, nanti kami balas Pak Yudha, supaya nggak berani jahatin Ibu lagi."
Mereka bertiga saling berebut bicara, mengungkapkan keperdulian mereka pada guru kesayangan mereka itu. Sebelumnya gosip tentang Kanaya yang tak kunjung menikah juga sempat menjadi buah bibir di kalangan orang tua murid. Kini, setelah menikah, masih saja ada masalah yang dihadapi Kanaya.
Kanaya terkekeh mendengar celotehan murid-muridnya.
"Terima kasih kalian sangat perduli sama Ibu. Tapi, Ibu baik-baik aja, kok. Pak Yudha juga baik orangnya." Kanaya merasa terharu atas perhatian mereka bertiga.
"Beneran baik, Bu? Ibu nggak tutup-tutupi dari kami, kan?" Zahra masih kurang yakin.
Kanaya kembali tersenyum. "Memangnya kalian lihat sekarang Ibu seperti apa? Apa Ibu seperti terlihat orang yang tertekan?" Kanaya minta pendapat jujur murid-muridnya.
"Nggak, sih."
"Ibu sekarang malah kelihatan lebih cantik. Auranya setelah nikah makin terpancar."
"Iya, benar. Makin bersinar."
Jawab ketiganya bergantian.
"Berarti apa yang kalian khawatir itu nggak terjadi." Kanaya menjelaskan agar murid-muridnya menjadi tenang. "Pak Yudha juga baik orangnya. Enak diajak komunikasi dan senang bercanda. Jadi, Ibu enjoy aja sih, selama menikah sama Pak Yudha," aku Kanaya jujur.
"Oh ya, ngomong-ngomong orang yang ngaku karyawan Pak Yudha itu gimana orangnya?" Kanaya penasaran, siapa orang yang sengaja membocorkan rahasianya pada mereka.
"Kami nggak tahu namanya, Bu. Tapi, dia orangnya cantik, mungil, rambutnya agak ikal dan ada tahi lalat kecil di bawah mata kiri." Monik menjelaskan ciri-ciri orang itu pada Kanaya.
Kening Kanaya berkerut. Ciri-ciri yang disebutkan tadi agak mirip dengan orang yang menyukai suaminya, hingga ia mendesah.
"Ibu kenal orang itu?" tanya Zahra melihat ekspresi Kanaya.
Kanaya mengangguk kecil. "Nggak kenal banget, tapi... Suami Ibu pernah cerita kalau dulu sempat dekat sama dia, sebelum Pak Yudha nikah sama Ibu."
"Oh, pantesan..." Monik cepat menimpali.
"Aku bilang juga apa? Orang model itu, pasti kalau nggak iri, ya dengki," timpal Zahra..
"Iya, sakit hati ditinggal Pak Yudha jadi stress," celetuk Putri lebih sadjs.
"Wah, Bu. Hati-hati suami Ibu sama dia sekantor. Ibu mesti bawain Pak Yudha jimat penangkal pelakor," saran Zahra seketika membuat Kanaya tertawa diikuti murid-muridnya.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
di suruh pacaran dulu kamu sama Yudha nay,,
ikut deg-degan juga.
baru manggap mam udah keluar kata keramat aja
Bersambung 😭