Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pagi itu sewaktu lagi sarapan, rumah kedatangan Firman. Tak sendiri, melainkan membawa ayah, ibu dan kakak tiri Zuraida.

"Zuraida...Zuraida..." panggil ibu tirinya dengan teriakan.

"Ibu?," Zuraida segera keluar memastikan.

Mata Zuraida langsung tertuju pada ayah yang dipegangi Firman.

"Ayah," Zuraida mendekat.

"Pantas saja kamu nggak pulang-pulang. Rumahmu sangat besar dan pastinya nyaman." Sejak tadi bangunan rumah itu menyilaukan matanya.

Firman mendudukkan ayah, Zuraida berjongkok di hadapan pria yang sedang sakit itu.

"Ayah, maaf, aku..." Zuraida tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air matanya sudah jatuh berderai.

"Maaf, ayah, langsung datang ke sini tanpa mengabari." Ucap ayah pelan.

Zuraida tak sanggup merespon. Ia hanya menangis sambil memegangi tangan ayahnya.

"Nggak apa-apa, ayah. Ini rumahmu juga. Ayah bisa kapan saja mendatangi rumah ini." Arfan yang merespon. Ia memegangi pundak istrinya, membawanya bangkit lalu memeluknya. Tangisnya semakin pecah dalam pelukan suaminya.

Ibu dan kakak tirinya menatap tak suka. Iri dengki dengan kebahagiaan Zuraida. Ternyata salah sudah mengusir Zuraida, ternyata Zuraida hidup sangat enak dari mereka.

Arfan sudah membawa ayah ke kamar. Beristirahat setelah perjalanan cukup jauh dan melelahkan. Sedangkan ibu dan kakak tirinya dengan tak tahu malu keliling rumah minta ditemani pelayan. Seolah mereka pemilik rumah.

"Maaf, saya tak mengabari terlebih dahulu. Ibumu sangat memaksa tapi ada benarnya juga cuma kamu yang bisa meyakinkan ayah untuk ke dokter." Ucap Firman di hadapan Zuraida dan Arfan.

"Nggak apa-apa, terima kasih sudah membawa mereka ke sini." Kata Arfan. Ia tahu pria yang bernama Firman itu sangat tulus membantu.

"Sama-sama, Pak, saya pamit." Firman pun tak berlama-lama di sana. Ia masih harus bekerja.

Arfan dan Sena berangkat. Meninggalkan Zuraida yang membujuk ayah supaya mau ke rumah sakit.

"Ayah nggak mau sembuh?," tanya Zuraida sambil memijat kaki ayahnya.

"Ayah nggak mau merepotkanmu." Kata Ayah.

"Aku nggak repot, Yah. Walau ada ibu aku tetep bakal ngurus ayah. Mau ya ke dokter? Nggak jauh dari rumah, Yah."

Ayah terdiam sejenak. Kemudian istri dan anak tirinya datang dengan cerita heboh mengenai rumah yang dibilangnya seperti istana.

"Mana mungkin kamu ingat kami di desa. Rumah suamimu saja bak istana yang sangat megah. Aku kalau jadi kamu pun nggak mau pulang." Kata ibu tirinya.

"Aku kira cuma Firman yang paling tampan, punya rumah bagus dan kaya. Tapi suamimu juga. Malah lebih segalanya dari Firman." Kakak tirinya ikut bicara.

"Kalian lupa? Siapa yang mengusir putriku dari desa?," ayah mengingatkan ibu dan anak itu.

Ibu langsung mendekat suaminya.

"Itu kan dulu suamiku. Tapi ada bagusnya juga kan? Karena aku Zuraida hidupnya sangat enak. Kalau Zuraida mau ibu sama kakakmu bisa tinggal di sini menemanimu. Pasti kamu kesepian di rumah besar ini, iya kan?." Begitu lembut suara ibu tirinya ketika ada maunya.

"Nggak, setelah aku ke dokter kita akan kembali lagi ke desa." Kata ayah menolak keinginan istrinya.

Seketika Zuraida tersenyum lebar.

"Kita ke dokter, Yah?."

"Iya, ayah mau ke dokter. Ayah mau sembuh." Ayah tidak mau istri dan anak tirinya mengganggu kehidupan rumah tangga Zuraida. Jadi ia memutuskan harus segera ke dokter.

Setelah dari kamar ayah, Zuraida menemui Sean. Anak itu belajar sendiri dengan handphonenya.

"Maaf, Se, saya jadi tidak menemanimu di sini."

"Oke, nggak apa-apa. Aku lagi mencobanya sendiri. Dua perempuan itu sangat berisik." Keluh Sean.

"Mereka ke sini?," tanya Zuraida penasaran.

"Iya, tapi aku usir."

"Maaf, ya, mereka ibu dan kakak saya."

"Tapi kamu nggak seberisik mereka."

Zuraida tersenyum.

"Sampai mana kita belajar kemarin?."

"Yang ini," tunjuk Sean.

Mereka lanjut belajar lagi sebelum Zuraida membawa ayah ke dokter.

*

Sambil menunggu ayah sedang diperiksa oleh dokter, Zuraida memastikan supir kantor yang menjemput Sena. Suaminya pun sudah tahu, istrinya harus ke dokter menemani ayahnya.

Bukan hanya diperiksa saja, ayah harus dirawat di rumah sakit dikarenakan kondisi ayah yang memang mengharuskannya. Ayah menerimanya supaya cepat sembuh dan kembali ke desa.

Zuraida terus menemani ayah di ruangan VVIP yang sudah disiapkan Arfan. Sedangkan ibu dan kakak tirinya sedang makan enak di restoran yang ada di gedung rumah sakit. Makanannya sangat enak-enak.

"Yakin nggak mau sama suaminya Zuraida?," tanya ibu. Ibu punya rencana untuk merebut suami Zuraida. Putrinya lebih cocok menjadi istrinya Arfan.

"Tampan sih tapi sudah berumur, Bu, anaknya juga dua lagi. Nggak lah, aku sama Firman aja. Firman aja belum sepenuhnya luluh sama aku."

"Suami Zuraida lebih kaya, kamu nggak lihat?." Ibu terus memprovokasi.

"Iya sih, tapi aku cintanya sama Firman. Cukup lah kayanya Firman buat aku sama ibu."

"Ya sudah," ibu tak lagi memaksa.

Kembali ke ruangan di mana ada Zuraida dan ayah.

"Suamimu sangat baik."

"Iya, Yah, Mas Arfan sangat baik. Aku beruntung bertemu dengannya."

"Ayah akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu dan suamimu."

"Terima kasih, Yah. Ayah harus sehat, sehat dan sehat. Maaf aku dan Mas Arfan belum sempat ke desa."

"Di desa sudah aman. Kamu dan suamimu bisa kapan aja ke sana."

"Iya, Yah."

"Karena sebenarnya apa yang terjadi padamu sebab ulah ibu tirimu."

Zuraida terdiam.

Zuraida membantu ayah dengan menyuapi ayah. Makanan itu sampai habis dan langsung minum obat. Arfan datang membuka pintu. Senyum itu begitu hangat menyapa ayah mertuanya.

"Bagaimana kondisi, Ayah?."

"Jauh lebih bertenaga, Mas."

"Hasil pemeriksaannya sudah keluar?."

"Belum, kata dokter mungkin besok pagi."

"Iya."

"Terima kasih, Arfan." Kata ayah dengan mata berkaca-kaca. Pria yang diminta menikahi putrinya ternyata orang baik.

"Sudah seharusnya, Yah, maaf aku juga belum sempat membawa Zuraida pulang ke desa." Arfan menyampaikan hal serupa dengan Zuraida.

"Kalian bisa kapan saja berkunjung ke desa."

Ayah tidur, Zuraida dan Arfan duduk di sofa. Mereka tetap di ruangan.

"Sena sudah sampai rumah." Kata Arfan sambil memainkan jari-jari istrinya.

"Tadi Sean sudah mengabari."

"Jari-jarimu polos," Arfan belum ada membelikan istrinya perhiasan.

Zuraida hanya tersenyum.

"Bagaimana perkembangan Sean?."

"Perlahan ada kemajuan, Mas."

"Terima kasih sudah menemani dan membantu Sean."

"Saya juga sedang belajar, Mas."

"Kalau Sena tak perlu dikhawatirkan, anak itu sudah serba bisa."

Zuraida diam, sibuk dengan pikirannya akan Sena.

Beralih ke Sena yang mengurung diri di kamar mandi. Bukan tanpa alasan, anak itu sedang meneguk minuman yang berhasil dibawanya pulang dengan mudah. Rasa lapar dan haus hilang seketika karena minuman itu.

"Sena! Kamu di dalam?." Teriak Sean karena pintu kamar mandi dikunci.

"Iya, kamu mau apa?."

"Aku mau mandi."

"Di kamar mandi lain aja, kalau nggak di kamar daddy."

"Perlengkapan mandiku di dalam semua, Sena."

Sena mengambil semua perlengkapan mandi Sean, sedikit membuka pintu lalu menyerahkannya pada Sean.

Sean menatap curiga pada Sena, di kamar mandi itu ada tas Sena di atas lantai.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!