Indonesia
NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : Tatapan Mata Yang Menebus Abad

Alunan musik orkestra dari atas panggung utama Gedung Gubernur Jenderal di Batavia terus mengalir, membawakan melodi The Blue Danube dengan tempo yang lambat dan menghanyutkan. Di bawah gemerlap cahaya lampu kristal yang memantulkan pendar kemewahan era Hindia Belanda tahun 1928, seluruh pasangan penari bergerak seirama, membentuk lingkaran-lingkaran kecil di atas lantai kayu mengilap yang dipoles bersih.

Namun, di sudut lingkaran tengah balai dansa tersebut, dunia seolah berhenti berputar bagi dua orang manusia.

Clara van der Berg merasakan setiap inci tubuhnya menegang, bukan karena rasa takut berada di dekat musuh besar keluarganya, melainkan karena intensitas tatapan mata yang ia terima dari pria di hadapannya. Julian van Houten—pewaris sah imperium bisnis keluarga Van Houten yang ditakuti—menempatkan tangan kanannya dengan lembut namun mantap di pinggang ramping Clara, sementara tangan kiri mereka saling bertumpu erat.

Jarak wajah mereka begitu dekat. Begitu dekat hingga Clara bisa mencium aroma khas parfum kolonial berkayu cedar dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh Julian. Namun, yang paling menghujam jiwa Clara bukanlah aroma atau ketampanan fisik sang pemuda bangsawan kolonial tersebut, melainkan manik mata hazel yang menatapnya dengan kehausan yang sangat mendalam. Tatapan itu bukan tatapan mata seorang pria yang baru pertama kali berkenalan dengan seorang gadis di sebuah pesta dansa resmi; itu adalah tatapan mata seseorang yang telah mengarungi lautan waktu, menembus batasan ribuan tahun, dan baru saja menemukan kembali rumah yang hilang.

"Kau bergetar, Nona Liem," suara Julian terdengar rendah, berbisik lembut di antara bisingnya alunan musik dan riuh rendah suara percakapan para tamu undangan di sekeliling mereka. Suara itu begitu jernih, mengalun langsung ke dalam sanubari Clara, membangkitkan gema suara yang sama dari masa lalu yang terkubur ribuan abad. "Apakah gaunmu kurang menghangatkan tubuhmu di ruangan ini, atau... ada hal lain yang membuat hatimu tidak tenang?"

Clara menelan ludahnya yang terasa kelat. Ia mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata hazel Julian. Di dalam cermin jiwa pria itu, Clara dapat melihat bayangan samar seorang pangeran berzirrah Romawi yang menatapnya dengan penuh air mata di ruang bawah tanah istana. Batas antara masa lalu dan masa kini, antara Roma yang runtuh dan Batavia yang berkilau, melebur menjadi satu titik kesadaran yang sangat menyakitkan sekaligus membahagiakan.

"Bukannya kedinginan, Tuan Van Houten," jawab Clara dengan suara bergetar halus yang ia kendalikan sedemikian rupa agar terdengar tegar. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Hanya saja... tatapan Anda terlalu tajam. Seolah-olah Anda sedang berusaha menelanjangi rahasia terbesar yang tersimpan di dalam jiwa saya."

Julian tersenyum kecil. Senyuman itu tipis, nyaris berupa lengkungan sinis bagi orang lain, namun bagi Clara, senyuman itu membawa kehangatan yang mampu merontokkan seluruh pertahanan mental yang telah ia bangun sejak ia terbangun di tubuh Liem Mei Yin.

"Rahasia besar?" Julian mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang menggoda, sementara langkah kaki mereka terus bergeser anggun mengikuti irama waltz. "Di dunia kolonial ini, semua orang menyimpan rahasia, Nona Clara. Ayahmu, Tuan Besar Ho, menyimpan rahasia tentang jalur perdagangan gelap di pelabuhan Sunda Kelapa. Ayahku menyimpan rahasia tentang monopoli perkebunan tembakau di Deli. Tapi rahasia yang kau simpan di dalam matamu... itu adalah teka-teki yang jauh lebih menarik daripada seluruh dokumen rahasia pemerintah kolonial."

Clara tertegun. Jantungnya berdegup semakin kencang. Ia tahu bahwa kedekatan mereka di lantai balai dansa ini tidak boleh berlangsung terlalu lama. Di tepi ruangan, di balik pilar-pilar besar pualam, beberapa pasang mata sedang mengawasi mereka dengan penuh curiga.

Antek-antek kepercayaan ayahnya—terutama panglima lapangan sindikat keluarga Liem yang bertubuh gempal dan bermata kejam—sudah meletakkan tangan mereka di balik jas, bersiap siaga jika terjadi hal yang membahayakan sang nona besar. Di sisi lain, para penasihat bisnis keluarga Van Houten juga tampak berbisik-bisik gelisah, mengkhawatirkan keselamatan pewaris tunggal mereka yang berdansa dengan putri musuh nomor satu keluarga besar mereka.

"Anda seharusnya tidak berdansa dengan saya, Tuan Van Houten," bisik Clara lirih, mengalihkan pandangannya sesaat ke arah gerombolan pengawal ayahnya yang mulai melangkah mendekati tepi lantai dansa. "Konsekuensi dari dansa ini... bisa sangat berbahaya bagi kita berdua."

Mendengar peringatan itu, Julian justru mempererat pegangannya di pinggang Clara, menarik gadis itu sedikit lebih dekat ke arahnya, mengabaikan jarak aman yang seharusnya dijaga oleh kaum aristokrat kolonial di tempat umum.

"Biarkan mereka melihat," ucap Julian dengan nada dingin yang penuh keyakinan mutlak. Manik mata hazelnya memancarkan kilau ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat. "Biarkan ayahmu, biarkan para dewan kolonial, dan biarkan seluruh dunia tahu. Selama berabad-abad lamanya, aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang, Nona Clara. Dan malam ini, di tempat ini, aku menemukan bagian itu kembali di dalam dirimu. Aku tidak peduli pada permusuhan darah, aku tidak peduli pada ancaman sindikat. Aku tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya."

Kalimat itu bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Clara. Tubuhnya merinding hebat. Kata-kata itu... kalimat itu adalah sumpah yang sama persis dengan yang diucapkan oleh pangeran Marcus di ujung tebing kerajaan Roma ribuan tahun lalu, sebelum takdir merenggut nyawa mereka lewat hukuman pengasingan dan kematian yang tragis.

Sejarah sedang berulang. Semesta sedang mempertemukan kembali dua jiwa yang dikutuk oleh waktu, menempatkan mereka di tengah medan perang antara dua klan yang saling menumpahkan darah.

Sebelum Clara sempat merespons kalimat tersebut, alunan musik orkestra tiba-tiba mencapai puncaknya dengan dentuman simfoni yang megah, menandakan berakhirnya lagu waltz malam itu. Para penari mulai membungkuk dan berteputan tangan memberikan hormat.

Julian mengangkat tangan kanan Clara dengan lembut, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan penuh penghormatan yang mendalam, tatapannya tidak pernah lepas dari mata legam Clara.

"Kita akan bertemu lagi, Clara van der Berg," bisik Julian tepat di dekat telinga gadis itu sebelum ia berbalik dan melangkah pergi menembus kerumunan tamu bangsawan kolonial yang sibuk berteputan tangan.

Clara berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Julian yang menjauh. Di dalam genggaman jemarinya yang masih terasa hangat bekas sentuhan sang pemuda, Clara tahu bahwa pelarian telah usai. Badai pertentangan keluarga besar baru saja dimulai, dan cinta abadi mereka sekali lagi harus diuji oleh darah, senjata, dan kejamnya takdir kolonial.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!