"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : KABAR BAHAGIA & GELISAH TERSEMBUNYI
Pintu kaca kafe tertutup di belakang Lulu, meninggalkan Riko dengan bayangan kecerdasannya yang tak terduga. Begitu menginjakkan kaki di trotoar, Lulu lekas mengangkat pergelangan tangannya, ia melirik jam yang melingkar di sana.
Angka digital itu menunjukkan pukul 11.30 WIB.
Lulu tertegun dan matanya membelalak pelan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pertemuannya dengan pria angkuh itu telah memakan waktu sedemikian lama. Padahal, jika diingat-ingat kembali kata-kata yang mereka pertukarkan tidaklah terlalu banyak. Namun, atmosfer mencekam dan ketegangan yang menguras emosi di meja tadi seolah membiaskan jalurnya waktu membuat menit demi menit berlalu tanpa ia sadari.
Hembusan napas berat meluncur dari bibirnya.
Pikirannya yang kalut dan moodnya yang hancur berantakan membuat Lulu tak sanggup lagi jika harus memaksakan diri kembali ke kantor saat ini juga. Tanpa berpikir panjang mengenai konsekuensi atau hukuman yang bakal melayang padanya dengan sadar jemarinya bergerak cekatan mengetik pesan untuk Vika sang SPV.
Dengan jujur namun tergesa-gesa Lulu meminta izin untuk masuk setengah hari khusus untuk hari ini. Lagipula benaknya mendadak teringat pada rencananya sendiri. Bahwa siang ini ia sudah berjanji pada Lastri untuk menyempatkan diri kembali datang menjenguk.
Perjalanan menuju rumah sakit pun tak bisa dibilang singkat meski jaraknya tak terlampau jauh,namun potensi kemacetan ibu kota di jam makan siang pasti akan kembali menyita waktunya.
Usai menekan tombol kirim Lulu menyandarkan punggungnya di halte terdekat. Bayangan wajah Pak Angga yang galak, bernada ketus dan bermuka masam mendadak melintas jelas di kepalanya.
Lulu mengusap wajahnya yang lelah. Kali ini, ia benar-benar pasrah. Ia sudah bersiap mental jika besok harus diomeli habis-habisan atau diberi hukuman lembur berjam-jam atas ketidakdisiplinannya hari ini.
Baginya, asal pekerjaan tetap terselesaikan nanti dan janji pada Lastri terpenuhi, ia rela menelan semua amukan manajernya itu.
Tanpa pernah tahu... bahwa di sudut ruang kantornya saat ini bukannya amarah membara yang menunggunya, melainkan seorang manajer yang tengah didera cemas dan gelisah setengah mati memikirkan keberadaannya.
"Begitu..."
Nada suara Angga terdengar teramat datar. Wajahnya begitu dingin dan sulit ditebak melenyapkan semua ekspresi yang bisa dibaca.
Entah jawaban itu membawa angin segar atau malapetaka tak ada satu pun staf di sana yang sanggup menerjemahkannya.
Vika, Rama dan beberapa anggota tim yang mencuri pandang dari balik meja masing-masing saling lempar tatapan cemas. Otak mereka berputar cepat dan menebak-nebak badai apa yang tengah disiapkan sang manajer.
Sebelum melangkah pergi, Angga kembali menoleh, memberikan instruksi tegas dengan intonasi rendah yang mengikat.
"Vika.. pastikan begitu Lulu menjejakkan kaki di kantor ini, sampaikan untuk segera menemui saya langsung di ruangan... Tidak peduli jam berapa pun dia tiba... saya akan menunggunya hari ini"
Kata-kata itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya membuat keheningan di ruangan itu makin pekat. Tanpa menunggu balasan dari Vika, Angga berbalik melangkah masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan ketukan pelan yang menggema.
Begitu sosok sang manajer menghilang di balik pintu kaca buram, Vika dan Rama seketika saling bertatapan. Kebingungan bercampur firasat buruk terpancar jelas dari mata mereka.
"Waah,, gawat bener.. "
Rama meneguk ludahnya payah merasakan atmosfer ruangan yang mendadak menjadi begitu berat dan tidak mengenakkan.
Dalam hatinya, Rama hanya bisa berdoa agar Lulu tidak kembali dihantam hukuman bertubi-tubi dari Pak Angga yang terkenal tanpa ampun jika menyangkut kedisiplinan.
Namun di sisi lain, Rama dan Vika juga tidak bisa menepis rasa gusar dalam pikiran mereka sendiri. Mereka menyayangi Lulu sebagai rekan kerja yang baik, tetapi tindakan Lulu yang mendadak minta izin setengah hari tanpa alasan yang benar-benar jelas membuat mereka bertanya-tanya... apa yang sebenarnya sedang terjadi pada gadis itu?
...****************...
"Klinting..."
Bunyi notifikasi memecah keheningan kamar perawatan. Lastri yang sejak pagi hanya bisa terbaring lelah di ranjangnya hanya bisa menggapai ponsel di samping bantal. Layar menyala dan menampilkan sebuah pesan dari nomor asing yang tak dikenal.
Jemari Lastri gemetar saat matanya membaca bait demi bait kalimat di layar.
"Hentikan penyelidikan konyolmu itu. Kalau kamu dan temanmu masih nekat mengungkit kasus ini, jangan salahkan kami kalau nasibmu berakhir mengenaskan seperti rekanmu yang sudah membusuk di tanah...."
"Deg!"
Darah Lastri rasanya berhenti mengalir. Bulu kuduknya berdiri seketika disergap rasa ngeri yang luar biasa. Ketakutan hebat mencekik dadanya hingga ia sulit bernapas.
Ancaman itu bukan hanya sekadar gertakan mereka , tetapi mereka benar-benar sedang mengawasi setiap gerak-geriknya.
Di tengah kepanikan dan bayang-bayang ketakutan yang melingkupinya, Lastri sama sekali tidak menyadari bahwa pintu kamar telah terbuka.
Lulu berdiri di sana, mematung di ambang pintu. Tatapan mata Lulu meredup dipenuhi rasa sedih yang mendalam melihat kondisi sahabatnya. Sejak tadi malam, Lastri tampak begitu murung, kehilangan semangat dan tak lagi banyak bicara seperti biasanya.
Tanpa mengeluarkannya suara, Lulu melangkah pelan mendekati ranjang lalu menyandarkan tubuhnya dan merengkuh Lastri ke dalam pelukan yang amat hangat dan erat.
Lastri tersentak kaget, karena Kehadiran sahabatnya itu yang tiba-tiba tanpa kabar seperti biasanya dan membuat jantungnya melonjak. Dengan gerakan cepat dan tergesa-gesa, Lastri menekan tombol daya lalu menonaktifkan ponselnya sebelum Lulu sempat melirik layar tersebut.
Untuk menyembunyikan rasa gemetar di tubuhnya, Lastri membalas pelukan hangat sahabatnya itu. Ia menyandarkan wajahnya di bahu Lulu dan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan gundah, cemas dan rasa takut yang kian mencekik.
Lulu makin mempererat pelukannya, merasakan tubuh Lastri yang terasa sedikit gemetar di dalam dekapannya. Ia mengelus pelan punggung sahabatnya itu dan mencoba menyalurkan ketenangan yang ia punya.
"Las..." bisik Lulu lembut, mengurai pelukan mereka perlahan lalu menatap wajah Lastri yang pucat.
"Kamu kenapa sih...? Dari semalam kamu melamun terus, nggak mau cerita apa-apa sama aku. Ada bagian yang sakit lagi, ya?"
Lastri memaksakan sebuah senyum tipis, berusaha keras menyembunyikan badai ketakutan di dadanya. Tangan kanan Lastri secara refleks mengepal erat ponsel yang sudah ia matikan di balik selimut.
"Ngg-nggak kok, Lu..." suara Lastri agak serak dan bergetar.
"Aku cuma... masih agak pusing aja. Kaget kamu mendadak datang jam segini. Katanya hari ini banyak kerjaan di kantor?"
Lulu menatap dalam-dalam mata Lastri di balik kacamatanya. Sebagai sahabat yang sudah bertahun-tahun bersama sejak berseragam putih abu-abu (SMA), Lulu paham betul perangai Lastri. Wajah ketakutan dan ekspresi panik Lastri tadi tidak bisa dibohongi.
"Kerjaan di kantor bisa aku urus nanti.." ujar Lulu tenang namun tegas. Ia meraih kedua tangan Lastri yang terasa dingin.
"Kamu jangan bohong sama aku, Las.. Tadi sebelum aku masuk, muka kamu pucat banget waktu megang HP. Ada masalah apa sebenarnya? Kamu dapet kabar buruk lagi atau gimana?" Ucap Lulu,, Pertanyaannya begitu polos namun tepat sasaran itu membuat Lastri tercekat. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Nggak ada apa-apa, Lu! Cuma... cuma SMS penipuan biasa..." Potong Lastri cepat, terlalu cepat sampai suaranya terdengar panik. Ia menggeleng keras.
"Kamu nggak usah pusingin aku. Kamu harusnya fokus sama kerjaan kamu di kantor. Nanti Pak Angga marah lagi kalau kamu kelamaan di sini..."
Lulu memiringkan kepalanya, menatap Lastri dengan raut khawatir sekaligus gundah.
"Las... kita udah berteman dari SMA, aku kenal kamu bukan sehari dua hari. Kalau kamu lagi ada masalah atau ada yang bikin kamu takut, tolong cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri..."
Lastri menatap Lulu dengan mata berkaca-kaca. Batinnya menjerit ingin membagikan rasa takut atas ancaman pembunuhan dari nomor asing tadi. Namun, mengingat pesan itu yang mengancam akan menghabisi nyawa orang terdekatnya, Lastri hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia tidak ingin Lulu sahabat terbaiknya ikut terseret dalam bahaya ini.
"Lu... dengarin aku..." Lastri memegang erat jemari Lulu, menatapnya penuh kepasrahan.
"Aku beneran nggak apa-apa. Aku janji. Tapi aku mohon sama kamu... mulai sekarang kamu fokus sama kerjaan dan hidup kamu aja ya? Jangan gampang kepikiran hal-hal lain. Janji sama aku?"
Lulu terdiam...Ia hanya bisa merasakan ada keputusasaan dan kejanggalan yang sangat besar dalam permintaan Lastri. Di satu sisi ia lega melihat Lastri sangat mempedulikannya, tapi di sisi lain kecurigaan dalam hati Lulu justru makin membara. Ada rahasia besar yang sedang sahabatnya sembunyikan rapat-rapat.
Kata-kata Lastri berhasil melunakkan kecurigaan Lulu. Gadis berkacamata itu akhirnya mengangguk pelan, mempercayai penjelasan sahabatnya.
"Ya udah kalau gitu..." Ucap Lulu lembut sembari mengelus jemari Lastri yang masih terasa dingin.
"Tapi ingat ya, Las... kalau ada apa-apa, kalau ada sesuatu yang bikin kamu tertekan atau butuh bantuan, kamu harus bilang sama aku... Aku janji bakal selalu ada dan siap bantu kamu kapan pun"
Mendengar ketulusan itu, dada Lastri makin sesak. Rasa tersentuh berbaur dengan rasa sedih yang kian membakar batinnya. Ia sangat ingin menangis dan menumpahkan segala ketakutannya, namun ancaman bahaya itu memaksa mulutnya terkunci rapat.
Tak ada kata yang sanggup meluncur dari bibirnya selain anggukan pelan dengan mata yang kian berkaca-kaca.
Di tengah suasana penuh haru, cemas dan takut yang menyelimuti mereka, pintu kamar perawatan tiba-tiba terbuka. Seorang perawat melangkah masuk lalu disusul oleh sosok dokter cantik berpenampilan anggun yang menyapa mereka dengan ramah.
"Selamat siang..."
Masih dalam posisi memeluk sahabatnya, Lulu menoleh. Senyumnya terkembang saat melihat Dokter Anna berdiri di sana menatap keakraban mereka berdua dengan tatapan hangat dan penuh empati.
"Siang, Dok..." Sapa Lulu dengan perlahan mengurai pelukannya dan berdiri menyambut sang dokter.
Dokter Anna melangkah mendekat ke sisi ranjang lalu memeriksa papan data medis Lastri sejenak.
"Hari ini saya mau memeriksa kondisi Lastri lagi, ya. Kita mau memastikan proses pemulihannya berjalan baik... supaya kalau semuanya stabil, Lastri bisa segera diizinkan pulang ke rumah"
Kata-kata Dokter Anna bagaikan semi di tengah gurun. Wajah Lulu seketika berbinar cerah dan rasa senang membuncah di dadanya. Ia sudah tidak sabar melihat Lastri benar-benar sembuh dan pulih total, agar sahabat terbaiknya itu bisa kembali berkumpul di rumah dan beraktivitas normal seperti sediakala. Tanpa Lulu tahu bahwa ancaman berbahaya justru telah menanti di luar sana.
Dokter Anna menyelesaikan pemeriksaan fisik Lastri dengan teliti. Setelah memeriksa tekanan darah dan catatan medis di papan jalan, senyum tipis terukir di wajah cantiknya.
"Hasilnya sangat bagus" Ucap Dokter Anna dengan ramah.
"Proses pemulihan Lastri berlangsung cepat sekali. Kalau sampai besok pagi tidak ada kendala atau keluhan lain, Lastri sudah diizinkan pulang"
"Beneran, Dok?!" Lulu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan matanya berbinar gembira. Rasa senang yang meluap-luap membuncah di dadanya. Akhirnya, sahabat terbaiknya bisa kembali bersamanya di indekos dan beraktivitas seperti biasa.
Namun, respons berbeda ditunjukkan oleh Lastri. Wanita itu hanya mampu menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. Di balik raut wajahnya yang berusaha tampak tenang dan pikirannya terus saja terbayang pada pesan ancaman mengerikan yang baru saja ia terima.
Ketakutan itu membayang rapat dan membendung rasa gembira atas kesembuhannya. Sebelum mengakhiri pemeriksaannya, Dokter Anna melirik ke arah Lulu. Ada rasa penasaran yang mendadak membakar dadanya. Ia sangat ingin bertanya mengenai aktivitas Lulu hari ini.
Apakah gadis itu tetap pergi ke kantor? Bagaimana suasana di sana? Dan yang paling utama... bagaimana kabar manajernya, pria yang begitu Anna rindukan dan cintai setengah mati?
Anna sangat ingin menggali informasi tambahan tentang sosok pria itu melalui Lulu. Namun, profesionalismenya lekas menahan dorongan tersebut. Anna tahu betul, jika ia mulai berbincang dan larut dalam obrolan tentang Angga bersama Lulu fokus kerjanya hari ini pasti akan sangat berantakan lagi. Terlebih lagi, daftar pasien yang harus ia periksa hari ini sangat menumpuk. Ia lantas mendorong jauh-jauh gejolak perasaannya, Dokter Anna tersenyum hangat dan menepuk pelan pundak Lastri.
"Istirahat yang cukup ya.... Lastri. Lulu, jaga sahabatmu baik-baik.." Pamit Anna dengan anggun.
"Saya permisi dulu ya.., masih ada beberapa pasien yang harus diperiksa" Ucap Anna kembali.
"Terima kasih banyak, Dok!" Seru Lulu gembira, melambaikan tangan mengiringi langkah Dokter Anna yang berlalu keluar dari ruangan. Lulu benar-benar hanyut dalam rasa bahagianya melihat perkembangan kondisi Lastri tanpa menyadari bayang-bayang bahaya serta rahasia perasaan yang saling bersilangan di sekitar mereka.
ayoo tetap teguhkan dendammu lho ya 😅